BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 23


__ADS_3

"Dia Tegar  anaknya Mila Ayah," jawab Dani pada pak Hasan. Sontak membuat pak Hasan dan Ibunya kaget karena selama ini mereka tidak tahu jika Mila seorang janda yang sudah memiliki anak.


"Apa kamu bilang! Anak Mila."


"Kenapa tidak bilang jika Mila sudah pernah gagal berumah tangga Dan?" Mata pak Hasan melotot ke arah Mila yang ikut merasa gugup.


Mila bingung kenapa dia sampai lupa bertanya pada Dani, apakah keluarga Dani sudah tau semua tentang masa lalunya atau tidak.


"Maaf Ayah, Bukan kah Ayah dan Ibu setuju siapapun wanita pilihan Dani, jadi tidak masalah bukan jika Dani menikah dengan seorang janda."


"Maaf pak Hasan jika kalian tidak setuju anak saja menikah  dengan anak Bapak tidak masalah. Seharusnya kamu bilang dulu pada keluarga kamu Dani sebelum mengundang kami kesini," ucap Ayah Mila dengan lantang.


Mila tak menduga jika Ayahnya yang pendiam bisa berbicara seperti itu.


"Saya tidak terima jika kalian menghina anak perempuan saya. Seorang ayah akan melindungi anaknya apapun yang terjadi."


"Berdosakah jika dia seorang janda? menjadi seorang janda  bukalah aib bukan pula kehendaknya," ujar ayah Mila.


"Suaminya telah menyia-nyiakan hidupnya dan memilih pergi bersama wanita lain. Ini semua bukan kehendaknya namun takdir yang membawanya."


Mila terharu dengan semua yang diucapkan Ayahnya, suasana pun menjadi hening. Kenapa status sosial selalu jadi masalah. Kenapa Dani tidak jujur pada kedua orang tuanya.


Hati ini rasanya tidak karuan, aku bingung harus bilang apa sementara mulut Dani seakan terkunci rapat.


"Saya memang seorang janda dan beranak satu Pak Bu, maaf jika kalian tidak tahu, saya tidak bermaksud membohongi kalian tapi dari awal kami menjalin hubungan, Dani sudah tau status saya, jika kalian keberatan saya mohon pamit," ucap Mila yang langsung berdiri dari meja makan.


 


"Tunggu Mil, maafkan aku! Maaf jika aku belum berterus terang pada kedua orang tuaku," lirih Dani sambil memegang tangan Mila.


Dani takut Mila akan meninggalkannya karena Dani begitu mencintai Mila. Dani juga takut jika kedua orangtuanya tidak akan menerima Mila sebagai menantu mereka.


"Ayah Ibu ini semua bukan salah Mila, Dani yang tidak berterus terang pada kalian, Dani harap kalian merestui kami," pinta Dani pada orang tuanya.


"Bukan kami tidak memberi restu pada kalian tapi kenapa kalian tidak berkata jujur dari awal."


"Jadi bagaimana keputusan Ayah dan Ibu sekarang?" Tanya Dani pada Ayahnya.


Ibu Hasan tampak menarik nafas panjang, bibirnya kelu tak bersuara seakan terkunci rapat. Ada kekecewaan di wajahnya.


"Kami saling mencintai kenapa kami boleh bersama,"ucap Dani kedua orang tuanya.


"Kami tidak melarang kalian untuk tidak saling mencintai, tapi kami hanya kecewa dengan ketidak jujuran kalian itu saja," ujar pak Hasan menjelaskan.


"Seharusnya kalian bicara sejujurnya apa yang terjadi agar tidak membuat kami terkejut seperti sekarang."

__ADS_1


"Dani mengerti Ayah, sekali lagi Dani minta maaf dengan Ayah dan Ibu juga kedua orang tua Mila, maaf kan Saya," ucap Dani dengan rasa sedih.


Dani menyesal kenapa sejak awal tidak bilang jika Mila seorang janda beranak satu kepada kedua orang tuanya.


Dani sudah membuat semua orang kecewa termasuk Mila, terpancar dari wajah Mila jika dia begitu kecewa dengan semua yang terjadi.


"Sekarang bagaimana Ayah?" Tanya Dani pada ayahnya yang kelihat sudah mulai tenang.


Dengan rasa bersalah Dani memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya meski ada rasa takut dalam benak jika hubungannya dengan Mila akan berakhir.


****


Mila sudah pasrah dengan sang Ilahi, apapun yang terjadi akan ia terima jika memang Dani bukan jodohnya.


Meski jauh di dalam hatinya penuh harap bisa hidup bersama sang kekasih seperti impian mereka.


Rumah baru sudah mereka beli jika pernikahan tak terjadi untuk apa rumah itu? Sungguh rumit.


Sang calon mertua masih diam seribu bahasa, ingin bertanya namun segan tapi membuat rasa penasaran.


"Kenapa semua orang diam?" Tanya Tegar yang memecah keheningan. 


"Kapan om Dani dan Bunda akan menikah Kakek?" Tegar bertanya pada pak Hasan.


"Memangnya Tegar mau kalau om Dani menjadi Ayah Tegar ?" Tanya pak Hasan sambil tersenyum.


"Mau dong, om Dani kan orangnya baik, sayang lagi sama Tegar, iya kan Om."


"Kalau Om Dani tidak jadi menikah sama Bunda, Tegar bakalan sedih sekali," liriknya membuat akupun ikut sedih mendengar ucapannya.


"Beneran Tegar sayang sama om Dani? Terus nanti kalau om Dani sudah menikah dengan Bunda, Tegar panggil apa dong sama omnya?" 


"Tegar bakal panggil Papa Dani," ucap Tegar dengan lantang membuat kami tertawa.


"Baiklah kalau Tegar memang ingin Om Dani menikah sama Bunda, kakek akan ijinkan," ucap Pak Hasan yang membuat hatiku lega rasanya.


Akhirnya hubungan ini direstui,semoga pernikahan kami nanti berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.


Kami semua tersenyum mendengar penuturan pak Hasan yang memberi restu padaku dan juga Dani.


"Terimakasih pak,Bu," ucapku.


"Iya, sama-sama kami hanya ingin kalian berkata jujur dan jangan bohongi kami."


Kedua orang tua kami telah memilih dan menentukan hari yang tepat untuk pernikahan sebagai anak kami hanya menurut saja.

__ADS_1


****


Sejak pertemuan dua keluarga sudah di tentukan satu bulan kedepan pernikahan akan digelar di hotel berbintang.


Tadinya aku hanya ingin menikah seadanya saja namun kedua orang tua Dani memaksa jika pernikahan kami harus mewah.


Tidak ingin mengecewakan mereka kami hanya bisa menurut saja. 


Semua sudah diatur oleh calon Ibu mertuaku, jadi aku hanya terima beres saja.


Undangan sudah disebar ke semua teman dan sanak saudara.


Hari yang ditunggu sudah didepan mata, kebahagian pun akan segera dimulai.


****


Amar masih termenung di sudut kamar yang berantakan, setiap hari kerjanya hanya melamun memikirkan Mila.


Kemana lagi dia harus mencari keberadaan Mila, berat badannya sudah mulai berkurang, ***** makannya pun hilang.


Hari-harinya hanya dihantui dengan rasa penyesalan. 


Ibunya pun sekarang sudah mulai sakit-sakitan.


"Mau sampai kapan kamu menangisi Mila," ucap Ibu Amar.


"Ini semua bisa terjadi karena ulahmu sendiri, sebaiknya lupakan mereka tak perlu kau berdiam diri seperti ini Mar."


Amar hanya diam membisu tak ada satu katapun keluar dari bibirnya, semua yang dikatakan Ibunya benar.


"Lebih baik kau tata hidupmu kembali dan lupakan Mila." 


"Tapi Bu …."


"Tapi kenapa! Apa lagi yang ada di pikiranmu itu?"


"Semua sudah terlambat, menyesal pun percuma tak ada gunanya semua sudah terjadi. Ini sudah takdir."


"Kenapa Ibu bilang seperti itu, aku yakin akan menemukan Mila Bu!"


"Bagaimana bisa kau temukan Mila jika kerjamu setiap hari hanya termenung di sudut kamar saja."


Benar yang dikatakan Ibu aku harus bangkit, aku akan menemukan Mila dan juga Tegar.


"Baik Bu , aku akan mencari dan menemukan Mila juga Tegar anakku," ucap Amar seolah memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2