
"Sebenarnya …."
"Sebenarnya apa Mar?" Tanya Alvin yang sudah tak sabar lagi mendengarkan cerita Amar.
"Begini Vin, awalnya aku menjalin hubungan dengan Lastri lalu berpisah dengan Mila, aku lebih memilih Lastri karena dia sedang mengandung anakku, Ayu memaksaku untuk menikahi Lastri dan meninggalkan Mila, setelah menikah kami pindah keluar kota ternyata hidup kami tak seindah harapan," tutur Amar.
"Ayu berjanji untuk membiaya hidup kami, awalnya semua baik-baik saja namun entah kenapa Lastri dan Ayu bertengkar di telepon, aku pikir itu hanya masalah sepele ternyata sejak pertengkaran itu Ayu tak pernah menghubungi dan mengirim kan uang lagi. Sejak itu hidup kami terlunta-lunta dimana perut Lastri kian membesar," ungkap Amar sambil terisak menceritakan semuanya Pada Alvin.
Aku yang mendengar percakapan mereka, tak menyangka kalau Ayu ikut berperan penting dalam masalah laluku.
Sahabat yang sudah kuanggap lebih dari saudara tega ikut menghianatiku, sakit sekali hati ini mendengar penuturan mas Amar.
"Sekarang dimana mereka? Kenapa tiba-tiba kamu sudah mau menikah lagi ha …."
"Sejak Ayu tak mengirimi kami uang hidup kami makin susah, kami sering bertengkar. Suatu hari kami bertengkar hebat aku lebih memilih pergi dan meninggalkan Lastri sendirian di kontrakan. Sejak saat itu aku tidak tahu lagi kabarnya hingga sekarang," tutur Amar penuh air mata.
Sontak aku terbelalak mendengar penuturannya, jadi yang dikatakan Mas Amar kemarin padaku bahwa Lastri sudah tiada hanya kebohongan belaka.
"Jadi kamu berbohong Mas! Kamu bilang Lastri sudah tiada saat melahirkan anak kalian," bentakku dengan lantang.
Mereka terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba tanpa mereka sadari aku sudah mendengar semuanya.
"Kamu benar-benar lelaki yang kejam Mas! Tega sekali kamu menyakiti wanita," ucapku yang masih menahan air mata.
"Mila, sejak kapan kamu ada disini?" Tanya Mas Amar sambil menatapku.
"Sejak awal kalian datang kesini aku sudah memperhatikan kalian," ucapku.
"Kamu memang laki-laki tak bertanggung jawab Mas, tidak salah jika kita berpisah karena laki-laki sepertimu tidak pantas untuk dicintai dan dihormati."
"Berapa banyak wanita pun tak akan cukup untuk kamu Mas!"
"Kamu sibuk untuk menikah lagi sedangkan istri dan anakmu entah dimana kamu pun tidak tahu," cerocosku yang ikut menjadi emosi.
****
Suasana kian memanas mendengar penuturan dari Mas Amar. Aku dan Alvin pun kaget bukan kepalang ternyata hilangnya Ayu hanya akal-akalan saja.
Tapi dimana mereka saat ini? atau jangan-jangan Lastri dan Ayu yang telah mengirimkan paket foto pernikahan itu! Tapi kenapa mereka menerorku. Apa salahku bukannya mereka yang telah menyakitiku.
Begitu banyak tanya dalam benakku, terlalu banyak misteri yang belum terungkap. Kemana harus mencari mereka sekarang.
"Kemarin aku mendapatkan paket foto pernikahan Lastri dengan Amar," ujarku pada Alvin.
__ADS_1
"Aku tidak tahu siapa yang mengirimkannya."
"Mungkin kah Ayu dan Lastri yang memgirimkannya Mil," ucap Alvin.
"Entahlah Mas, tapi mengapa mereka mengirimkannya padaku, mereka harusnya malu karena telah menghianatiku, bukan!"
"Sebaiknya kita cari mereka bagaimana," usul Alvin pada kami.
"Baiklah kita akan mencari mereka," jawabku.
Setelah berembuk dan menentukan kapan kami akan berangkat ke luar kota dimana dulu mas Amar meninggalkan Lastri, kami putuskan jika lusa kami akan berangkat kesana.
Kesepakatan telah ditentukan mereka pun pulang. Kami akan bertemu di Toko saja agar mempermudah.
Tanpa sadar ternyata keributan tadi menarik perhatian pengunjung Toko. Aku jadi malu karena mereka menyaksikan keributan di Toko ku.
****
Hari yang ditentukan pun tiba, aku bersiap untuk berangkat, anak-anak sudah aku titipkan pada Bik Ijah.
Tidak mungkin aku membawa mereka untuk ikut denganku karena akan banyak drama yang terjadi nanti disana.
Setelah pamit dengan anak-anak dan juga bik Ijah, aku langsung berangkat menuju Toko dimana kami sudah sepakat bertemu disana.
Aku pun turun dari mobil, dan menyapa mereka yang sudah berdiri di depan Toko.
"Bagaimana sudah siap," tanyaku pada mereka.
"Siap." Jawab mereka dengan serentak.
"Kita satu mobil atau bagaimana?" Tanya Mas Alvin.
"Aku mengendarai mobilku sendiri saja Mas, kamu ajak Mas Amar dan calon istrinya, tidak mungkin mereka naik motor kan? Biar motornya parkir disini saja," ucapku pada Mas Alvin.
"Baik lah kalau begitu, ayo kita berangkat biar kita cepat sampai ke lokasi," ujar Mas Alvin.
****
Kamipun berangkat untuk menemukan Lastri dan Ayu serta anaknya Mas Amar, semoga mereka segera kami temukan.
Kulajukan mobil mengiringi mobil Mas Alvin, karena disana ada Mas Amar yang memberi petunjuk jalan.
Dua jam perjalanan kami tempuh dan akhirnya sampai di kota tujuan. Mobil melaju mengitari perumahan sederhana yang padat penduduk.
__ADS_1
Mobil terhenti didepan sebuah kontrakan kecil, susananya begitu sepi seperti tak berpenghuni.
Kami turun dan mengetuk pintu namun tak kunjung ada yang membuka.
Mas Amar bertanya pada tetangga sekitar ternyata Lastri sudah pindah beberapa tahun yang lalu, merekapun tidak tahu Lastri pindah kemana.
Hari makin siang pencarianpun belum membuahkan hasil, perut sudah mulai keroncongan minta di isi. Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat makan siang di sebuah restoran sederhana.
Tak ada perbincangan saat makan siang mungkin mereka sudah lapar jadi hanya fokus pada nasi yang dihidangkan.
Selesai makan siang kami melanjutkan pencarian, karena takut kemalaman. Semua tempat sudah kami datangi tak juga membuahkan hasil.
"Bagaimana ini Mas?" Tanyaku pada Mas Alvin.
"Apa kita akan pulang dengan tangan kosong tanpa hasil," ucapku.
"Bagaimana jika kita menginap semalam disini, besok pagi kita pulang," ujar Mas alvin.
"Kita cari penginapan terdekat, sambil mencari siapa tahu ada petunjuk," ujarnya.
"Baiklah."
****
Pencarian Pun masih dilakukan sepanjang malam, rasanya lelah sekali. Kami Pun singgah di sebuah cafe untuk minum kopi dan beristirahat sejenak.
"Mbak, kami pesan kopi dan brownies nya ya," ucapku pada pelayan cafe.
Sambil menunggu pesanan datang, aku memainkan gawaiku. Kulihat Mas Amar dan Alvin sedang berbincang dengan pasangan mereka masing-masing.
Ada rasa sedih dan juga iri melihat kebahagian mereka, sejak berpisah dari mas Amar tak sedikitpun aku terpikir untuk menikah lagi.
Aku hanya fokus pada anakku ketimbang urusan pribadiku sendiri, luka yang ditorehkan Mas Amar begitu dalam membuat aku butuh waktu lama mengobatinya.
Pesanan Pun tiba, sambil menyeruput kopi dan menyantap brownies tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang, sontak aku menoleh melihat siapa yang menepuk pundakku.
"Kamu Mila kan?"
"Iya, saya Mila, kamu siapa?" Tanyaku basa-basi.
Siapa lagi ini, kenapa dia mengenal ku sedangkan aku merasa tidak mengenalnya.
"Kalau boleh saya tahu kamu siapa ya …?"
__ADS_1