BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 37


__ADS_3

Setelah kepergian Ibu dan anak yang tidak tahu diri, Dani langsung memeluk Istri dan anak sambungnya.


Dani mencoba menenangkan Mila yang nampak shock, terlihat wajah cantik Mila yang penuh dengan peluh bercucuran dan mata yang mulai membengkak karena terlalu lama menangis.


Bik Ijah dan Mang Leman segera menghampiri majikan mereka dengan membawa air minum.


"Diminum dulu Non airnya mungkin bisa sedikit lebih tenang," ujar Bik Ijah sambil menyodorkan segelas air putih yang ia bawah dari dapur.


"Terima Kasih Bik," Mila menghabiskan air yang diberikan oleh Bik Ijah. 


"Terimakasih Bik," Mila meraih gelas berisi air putih dan menghabiskannya tanpa sisa.


Dani membopong Mila masuk kedalam kamar untuk beristirahat, begitu juga Tegar yang sudah di urus oleh Bik Ijah.


Begitu banyak tanya dalam benak Dani pada istrinya mengenai kejadian di rumah barusan namun ia belum bisa mengajukan pertanyaan pada sang istri, melihat kondisinya saat ini tidak mungkin untuk bertanya.


Mila berbaring di atas tempat tidur dalam dekapan sang suami membuatnya lebih tenang, meski hatinya masih dihantui rasa takut.


Ia takut jika Amar akan membawa anaknya pergi dari hidupnya, ia tidak akan bisa hidup tanpa Tegar, karena Tegar lah yang membuat Mila bertahan menjalani semua ini.


****


Pikiran Dani melayang kemana-mana, ia tak mampu berpikir secara jernih untuk saat ini, hatinya bingung dan kacau, ia merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpah Mila.


Ia merasa tak mampu menjaga istri dan anak nya, meski Tegar bukan anak kandung nya tapi baginya Tegar lebih dari sekedar anak kandung. 


Dani tahu betul perjalanan hidup istrinya sejak dicampakkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab itu tapi kenapa sekarang ia kembali dan mengganggu rumah tangganya.


Melihat Mila sudah tertidur ia bergegas untuk membersihkan diri karena sepulang kerja tadi belum sempat mandi,kaos kaki pun masih melekat.


Selesai mandi Dani duduk teras belakang sambil menghisap sebatang rokok dan secangkir kopi, malam ini ia meminum kopi buatan Bik Ijah, biasanya Mila yang akan membuatkannya kopi. Sejak menikah Mila yang selalu mengurus semua kebutuhannya termasuk membuatkan kopi.


****


Ayam jago sudah mulai berkokok malam pun berganti siang, hari ini Dani sengaja ijin dari kantor karena tidak tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar.


Dani ingin membawa istrinya ke dokter kandungan hanya ingin memastikan jika anak dalam kandungannya baik-baik saja karena kejadian kemarin membuat Mila ketakutan.

__ADS_1


Mila sudah rapi dengan baju hijau dan tas putih begitupun dengan Dani ia hanya mengenakan celana pendek dan sendal jepit baginya mengenakan celana pendek dan sandal jepit itu nyaman sekali.


Tegar sudah berangkat diantar oleh mang Leman ke sekolah tadinya Dani melarang Tegar untuk ke sekolah namun Tegar tetap ingin berangkat kesekolah karena hari ini adalah pelajaran olahraga, pelajaran yang sangat digemari oleh Tegar.


Sepulang dari dokter kandungan Dani akan menjemput Tegar di sekolah, sudah lama ia tak menjemput putra kesayangannya itu.


***


Pukul sembilan pagi mereka berangkat ke dokter kandungan yang sudah mereka pesan melalui ponsel agar tidak begitu lama antri.


Mobil melaju membelah jalan raya, Mila sudah sedikit lebih tenang dari kemarin, Dani berencana akan membawa anak dan istrinya untuk berlibur, ia akan mengajukan cuti untuk beberapa hari.


Namun Dani masih bingung kemana mereka akan berlibur, sepertinya jalan-jalan ke pantai lebih menyenangkan. Udaranya Pun segar.


Selama di perjalanan Mila hanya diam, pandangannya kosong ke arah jalan raya, entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya saat ini, Dani hanya meliriknya sekilas sambil menyetir.


Ia tahu istrinya sedang kurang baik, Dani hanya memilih untuk bernyanyi kecil agar istrinya sedikit terhibur mendengar suaranya yang fals.


Suara Dani memecahkan lamunan Mila, ia pun langsung tersenyum mendengar lagu yang dinyanyikan sang suami.


"Masak sih suara Mas jelek, hahaha." Dani tertawa mendengar ucapan Mila yang mengatakan jika suaranya jelek.


"Mas kan cuma ingin menghibur kamu, dari tadi Mas perhatikan kamu diam saja, suaminya dicuekin kayak pak supir yang mau mengantarkan majikannya," ledek Dani pada Mila membuat Mila tertawa. 


"Mas, kok bilang gitu sih."


"Lihat kamu bisa tertawa Mas jadi senang, kan cantik daripada kayak tadi cemberut aja istri Mas ini."


Tak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah sakit, Dani memilih memarkirkan mobilnya di pojokan samping rumah sakit.


Mereka Pun turun dari mobil, Dani menggandeng sang istri berjalan di sampingnya menuju ruang tunggu karena mereka sudah mendaftarkan diri sebelum berangkat jadi langsung duduk di ruang tunggu.


Di ruang tunggu begitu banyak Ibu-ibu hamil yang ingin memeriksakan kandungan mereka ditemani para suami. 


Tiga Puluh menit kemudian Mila dipanggil oleh suster untuk segera masuk ke ruang pemeriksaan. 


Mereka berjalan memasuki ruangan yang berwarna serba putih meski ada pernak pernik berwarna pink dan poster ibu dan anak memenuhi ruangan. 

__ADS_1


"Silahkan masuk Bu," ucap suster.


Sekitar dua puluh menit Mila di periksa dokter kandungan, menurut Bu dokter kandungannya baik-baik saja Mika hanya kecapean dan butuh istirahat serta tak boleh banyak pikiran agar tidak stres.


Karena menurut Bu dokter Ibu seorang ibu harus bahagia jika ia bahagia maka anak yang di dalam kandunganpun ikut bahagia dan tumbuh sehat.


Mengingat tidak lama lagi Mila akan melahirkan maka ia harus santai dengan hati yang gembira tidak boleh banyak beban pikiran.


Dokter memberikan vitamin untuk Mika agar bayi tetap sehat. Selesai pemeriksaan mereka segera pulang karena hari sudah siang.


Sebelum pulang kerumah mereka menjemput Tegar dulu di sekolah karena tadi pagi Dani sudah berjanji akan menjemput Tegar.


Mereka menunggu di pinggir jalan depan gerbang sekolah Tegar, mereka menunggu di dalam mobil.


Sambil menunggu Tegar keluar dari gerbang sekolah Mila membuka kaca mobil. Sepuluh menit kemudian barulah Tegar keluar dari gerbang sekolah menuju mobil.


****


Tegar berjalan keluar dari kelas, ia sangat gembira karena hari ini Papa dan Bunda yang akan menjemputnya.


Karena sejak Bundanya mengandung ia selalu di jemput oleh mang Leman. 


Saat ia akan keluar dari gerbang ia melihat seseorang yang sudah menunggunya di ujung jalan. Tegar tahu betul siapa orang yang duduk di tepi jalan. 


Namun Tegar memilih berlari menuju mobil Bundanya yang sudah ada di depan gerbang sekolah.


Dani terkejut melihat Tegar ngos ngosan berlalu menuju mobil.


"Kamu kenapa Nak? Kok lari-lari?" Tanya Dani pada Tegar yang langsung masuk mobil.


"Itu … Pa, itu ada …."


"Ada siapa?" Mila pun ikut bertanya karena sama herannya dengan Dani melihat tingkah anak mereka.


"Kamu tarik nafas dulu, baru bicara."


"Itu Bun …."

__ADS_1


__ADS_2