BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 48


__ADS_3

Part 48


"Kok cuma kangen sedikit sih, Papa malah kangen banyak loh sama kamu," seru Dani membalas senyuman Tegar. 


"Papa sama Bunda dari mana aja sih kok lama banget pulang nya? Tegar dari tadi nungguin Papa?"


"Oh ya … kamu tungguin Papa, tadi itu Bunda mau imunisasi adik Aldo makanya Papa anterin."


"Sekarang Papa gak bakal kemana-mana deh, Papa janji karena hari ini libur jadi seharian ini kamu mau apa bakal Papa turuti."


"Beneran ya Pa! Awas loh bohong," seru Tegar dengan riang. 


"Iya Papa janji tapi kamu bobok siang dulu gimana? Kamu sudah makan belum?" Tanya Dani. 


"Sudah dong, tadi kan Bunda pesan sama Nek Ijah kalau Tegar pulang sekolah disuruh ganti baju dan makan siang."


"Anak Papa pintar, ya sudah sekrang kamu bobok dulu nanti kita main bola," titah Dani saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang. 


"Tapi Pa … hem!"


"Tapi kenapa! Kamu gak mau tidur siang," ucap Dani sambil menaikan kedua bahunya. 


Tegar menggelengkan kepalanya


"Lalu kamu maunya apa?"


"Hem … Tegar mau ngomongin sesuatu penting sama Papa," Tegar berbisik pada Dani.


"Mau ngomongin apa? Seperti ya penting banget atau ini rahasia," ujarnya Dani penuh selidik. 


Ia merasa aneh kenapa tiba-tiba tegar mau bicara sesuatu padanya ada apa sebenarnya yang terjadi, ia merasa curiga.


"Iya Pa penting banget, Ayo ikut Tegar kekamar dulu," ajak Tegar pada sang Papa sambil menarik tangan Dani masuk ke dalam kamarnya.


Mereka duduk di tepi ranjang dengan di tiup angin yang masuk dari sela-sela jendela yang terbuka. 


"Sebenarnya Tegar pengen ketemu Nenek Pa? Waktu itu pas Tegar tidur Tegar mimpiin Nenek jadi Tegar mau ketemu, Papa mau anter Tegar kesana?" Tegar mencoba menjelaskan isi hatinya saat ini. 


"Kamu kangen sama Nenek kamu Sayang!"


"Tegar cuma mau ketemu aja Pa terus kalau sudah ketemu kita langsung pulang," ujarnya menjelaskan. 

__ADS_1


"Baiklah, nanti Papa cari tahu dulu Nenek sekarang tinggal dimana, kalau Papa sudah tahu alamatnya Papa antar kamu ketemu sama Nenek kamu gimana?"


"Makasih Pa, Papa baik deh," ucap Tegar sambil memeluk sang Ayah sambung. 


"Iya, apapun akan Papa lakukan untuk kamu sayang, selagi Papa mampu," seru Dani sambil mengusap lembut rambut Tegar. 


"Ya sudah sekarang waktunya jagoan Papa bobo siang dulu, nanti sore kita main bola di taman," sambil mengusap lembut kepala Tegar dengan senyum lebar. 


Tegar hanya manggut menuruti perintah sang Papa. 


"Mas … Mas sini Mas cepetan sini," tiba-tiba Mila berteriak dari ruang televisi membuat Dani terkejut dan berlari menghampiri sang Istri. 


"Ada apa Bun, kenapa kamu berteriak?" Tanya Dani dengan bola mata membulat penuh.


"Lihat itu ada berita Bus tabrakan beberapa hari yang lalu, dan ada korban yang tak sadarkan diri sedang mencari keluarganya, Mas tahu siapa orang itu," ucap Mila panik.


"Iya, kamu sabar dulu kita dengarkan beritanya, lagian kenapa kamu sampai berteriak begitu cuma dengar berita kecelakan," seru Dani bingung melihat tingkah istrinya.


"Aku sudah dengar beritanya Mas, itu korban yang tak sadarkan diri Mas tahu siapa?"


"Emang siapa?"


"Itu Mas, Ibu … maksudku Ibu Mas Amar Mas! tadi wajahnya tampil di televisi, kasihan sekali Mas," ujar Mila.


"Iya Mas beneran! Lagian ngapain aku bohong sih Mas,  coba Mas cari tau kebenarannya Mas, kan kasihan lihatnya," sebagai manusia hati Mila tersentuh meski ia tidak suka dengan sikap mantan mertua padanya tapi biar bagaimanapun wanita paruh baya itu pernah menemani Mila disaat terpuruk. 


"Ya udah Mas pergi dulu ke rumah sakit, Nanti Mas kabarin kalau memang benar, kamu baik-baik dirumah ya."


"Hati-hati ya Mas," ucap Mila dengan perasaan cemas.


Mila mencoba memencet tombol yang ada di remot televisi untuk mencari berita kecelakaan itu, ia hanya ingin memastikan kebenarannya sekali lagi. 


Jika memang benar mantan mertuanya adalah korban kecelakaan betapa sedih nasibnya, hati Mila seakan merasa pilu memikirkannya. 


"Non, Aldo bangun dikamar," ucap Bik Ijah yang datang menghampirinya.


"Eh, Bibi! Tolong bawa kesini aja Bi," titah Mila meminta bantuan Bi Ijah untuk membawa Aldo kepangkuannya.


"Baik Non," jawab Bi Ijah dengan cepat berjalan untuk menggendong Aldo yang sedang menangis di dalam kamar. 


"Ini Non, Aldo sepertinya demam, Badannya panas," ujar Bi Ijah sambil memberikan Aldo ke pangguan Mila yang masih fokus pada layar televisi.

__ADS_1


"Panas Bi, mungkin karena habis di imunisasi ya Bi, tadi baik-baik aja kok," Mila menempelkan punggung tangannya ke wajah Aldo yang masih merengek untuk memastikan jika anak nya baik-baik saja. 


"Iya Bi, Aldo demam, tolong ambilkan obat Bi, tadi sudah aku siapkan di atas meja untuk jaga-jaga karena kata dokter biasanya kalau habis di imunisasi anak-anak akan demam."


"Aduh, ganteng Bunda demam ya! Cup … cup," seru Mila sambil menggendong Aldo dan melupakan berita yang ada di televisi. 


Karena ini bukan anak pertama jadi Mila sudah tak begitu kewalahan jika anaknya mengalami demam setelah di imunisasi. 


Tidak seperti waktu Tegar sakit ia begitu panik dan kebingungan.


*******


Sementara Dani dengan cepat menuju rumah sakit tempat dimana Ibu Amar dirawat, ia ingin memastikan apakah benar itu wanita yang dicari Amar selama ini, jika memang itu adalah Ibu Amar alangkah kasihannya.


Mobil yang ia kendarai melaju membelah jalan raya yang penuh aktivitas masyarakat di tambah kemacetan membuat Dani makin gelisah karena ingin segera mengetahui kebenaran yang terjadi di rumah sakit. 


Satu jam berlalu akhirnya Dani sampai di parkiran rumah sakit, ia langsung menuju bangsal dimakan korban kecelakaan bus di rawat, satu-satu korban di lihat disana namun belum ia temukan Ibu Amar.


"Maaf Sus, apakah benar ada korban kecelakaan bus yang belum sadarkan diri sampai sekarang?" Tanya Dani dengan wajah panik. 


"Benar Pak, Ibunya ada di bangsal di depan Pak, kami menempatkannya terpisah dari korban lainnya," ucap Suster sambil menunjukan ke arah tempat dimana korban dirawat.


"Baik, terimakasih ya sus."


"Sama-sama Pak."


Gegas Amar berjalan ke ruang perawatan yang ditunjuk oleh salah satu suster jaga, langkah kakinya ia percepat hingga ia menabrak seorang wanita seumuran Mila istrinya.


Bruk!


"Auw … kalau jalan lihat-lihat dong," teriak wanita itu pada Dani. 


"Ma … maaf Mbak, saya tidak sengaja, sekali lagi Maaf ya Mbak," ucap Dani terbata memohon pada wanita yang tak sengaja ia tabrak.


"Maaf … maaf, enak aja kamu bilang Maaf, makanya kalau jalan itu yang benar jangan asal nyelonong aja," sungut wanita itu yang bernama Ayu.


"Loh, kok Mbak jadi nyolot gitu sih, Aku kan udah minta Maaf, jangan mentang-mentang Aku ngomong baik-baik kamu jadi seenaknya saja, dasar perempuan dikasih hati minta ampela," ucap Dani sedikit menaikan suaranya membuat wanita yang bernama Ayu melotot menatapnya dengan tajam. 


"Ah, ya sudah lah," ujar Ayu berlalu meninggalkan Dani yang masih berdiri di hadapannya. 


"Tunggu dulu Mbak, urusan kita belum selesai jangan langsung pergi aja," teriak Dani namun tak digubris oleh Ayu.

__ADS_1


"Mbak, hei … tunggu! 


"Mbak …


__ADS_2