
Part 49
"Dasar wanita, tadinya nyolot sekarang malah lari gitu aja," gerutu Dani sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Dani berjalan melanjutkan tujuannya tadi untuk melihat korban kecelakaan Bus yang diduga adalah Ibu Amar.
Kret!
Pintu bangsal terbuka Dani terbelalak saat melihat wanita yang terkulai lemah di atas brankar adalah benar wanita yang dicari oleh Amar.
Dani langsung mendekatinya saat sedang diperiksa oleh suster jaga.
"Bagaimana kondisinya Sus?" Tanya Dani pada suster yang sedang memeriksa selang infus.
"Bapak keluarga korban? Kami sudah berusaha mencari keluarga korban namun belum juga ketemu, jika bapak adalah keluarganya kami sangat senang, akhirnya Ibu ini ada yang mengunjungi."
"Jika bapak benar keluarganya harap lapor ke resepsionis pak, agar bisa didata oleh mereka karena sudah bertemu dengan keluarga, terimakasih," suster itu pergi saat selesai memeriksa selang infus.
Dani menarik nafas panjang sambil mengusap lembut wajahnya saat melihat wanita yang dipanggil Ibu oleh Amar.
Dani merasa kasihan melihatnya sendirian terkulai tak berdaya tanpa ada sanak keluarga yang menemani. Bagaimana jika yang terbaring itu adalah Ibu kandungnya.
Selesai melihat Ibunya Amar Dani langsung menuju resepsionis untuk mengatakan jika ia adalah keluarga jauh sang korban, ia juga berjanji akan selalu datang mengunjungi korban hingga ia sadarkan diri.
*****
Selesai menyusui dan menidurkan Aldo, Mila kembali ke ruang televisi untuk melihat berita sambil menunggu suaminya kembali dari rumah sakit.
Jika memang itu adalah mantan Ibu mertuanya betapa kasihannya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Mila lantas beranjak ke arah suara karena ia tahu jika itu suara mobil suaminya, sudah tak sabar menunggu Dani masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Gimana Mas? beneran Itu Ibunya Amar atau Aku salah lihat?" Tanya Mila dengan nafas memburu karena dia sedikit berlari dari dalam rumah.
Dani masih terlihat diam sambil turun dan mengunci pintu mobilnya,ia berjalan menghampiri sang istri yang sudah tak sabar menunggu jawaban darinya.
"Mas! Gimana hasilnya? Kok diam aja sih?" Tanya Mila dengan wajah cemberut.
"Ayo kita masuk dulu, nanti Mas ceritain didalam," ajak Dani sambil menarik tangan Mila.
Mila langsung mengambilkan segelas air untuk Dani yang tampak lelah, terlihat dari wajahnya.
"Ini Mas, minum dulu," Mila menyodorkan segelas air putih saat Dani sudah duduk bersandar di sofa ruang tamu mereka.
Dani langsung menghabiskan air yang diberikan sang istri, sepertinya ia memang benar-benar haus.
"Jadi gimana Mas, kamu ketemu sama Ibunya Amar disana? benar dia jadi korban kecelakaan?" Tanya Mila penuh selidik saat Dani baru saja menghabiskan air minum yang ia berikan.
"Sabar dulu kenapa si, kok kamu jadi gak sabaran gitu, Mas kan baru pulang."
"Aku cuma penasaran aja Mas, lagipula kasihan kan," ujar Mila yang sudah duduk di hadapan suaminya.
"Wanita yang ada di berita siang tadi memang benar Ibunya Amar, ia mengalami koma sampai saat ini belum sadarkan diri, kasihan sekali melihatnya," lirih Dani menjelaskan.
"Jadi itu benar-benar Ibu Mas, kasihan sekali Mas," mata Mila mulai berembun karena biar bagaimanapun wanita itu pernah menjadi bagian dari hidupnya.
"Siapa yang akan merawatnya Mas?" Tanya Mila.
"Kita yang akan membantu untuk merawatnya, Aku kasihan padanya," seru Dani.
"Apa Mas … kita yang akan merawatnya, kamu gak salah bicara Mas, tapi dia kan …."
"Iya, kalau bukan kita siapa lagi yang akan merawatnya," ucap Dani sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan keputusanmu Mas."
"Iya Aku yakin, ini semua demi rasa kemanusian tidak lebih, lagipula dia adalah Neneknya Tegar."
"Aku sudah janji pada Tegar untuk mempertemukan mereka, mungkin inilah kenapa Tegar gelisah dan ingin bertemu dengannya karena mereka sedarah."
"Kamu benar Mas, mungkin karena kejadian ini yang buat Tegar selalu memikirkan Neneknya, kita saja yang kurang paham dengan arti semua ini."
"Iya, benar sekali, kita kurang memperhatikan Tegar makanya kita tidak memahami tingkah lakunya akhir-akhir ini."
"Besok Mas kita akan bawa Tegar untuk melihat Neneknya semoga saja saat mereka dipertemukan akan membuat perubahan untuk kesehatan Neneknya Tegar."
"Baiklah Mas."
*****
Sebelum berangkat kekantor Dani sudah memutuskan untuk mengunjungi Ibu Amar terlebih dahulu, ia juga akan memberikan kabar buruk ini pada Amar yang memang sudah ingin tahu berita tentang sang Ibu.
Mila dan tegar sudah menunggu Dani di dalam mobil, mereka akan berangkat bertiga namun tidak dengan Aldo karena Aldo mereka titipkan. Pada Bi Ijah sementara mereka pergi ke rumah sakit.
"Pa … ayo cepetan, lama banget sih," teriak Tegar dari dalam mobil, ia sudah tidak sabar untuk bertemu sang Nenek karena semalam sudah dijelaskan oleh Dani jika hari ini mereka akan menjenguk sang Nenek.
"Tunggu sebentar Papa lagi cari kunci mobil, lupa tadi simpannya dimana," jawab Dani dari depan teras.
"Kunci mobil kan sudah ada di mobil Pa," seru Tegar sedikit berteriak menjelaskan.
"Ya ampun, maaf Papa lupa," ucap Dani sambil menepuk jidatnya dan tertawa lebar.
Merak bertiga berangkat pagi-pagi agar tak kena macet di jalan raya, di dalam mobil Tegar tak berhenti bercerita membuat perjalanan mereka tak terasa.
Tiba di parkiran rumah sakit Dani menepikan mobilnya di halaman parkir yang sudah disediakan, mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju ruang dimana Nenek Tegar dirawat.
__ADS_1
Saat mereka masuk bangsal ternyata
*******************