BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 29


__ADS_3

Amar sudah bersiap untuk datang ke rumah Mila, pagi-pagi ia sudah berdandan serapi mungkin.


Amar tersenyum di depan cermin sambil menyisir rambutnya dengan sedikit bernyanyi.


Hatinya senang karena akan bertemu Tegar meski tujuan utamanya adalah Mila, Amar sudah tidak sabar ingin segera merebut hati Mila kembali, ia seakan tak peduli dengan rumah tangga Mila.


Amar melajukan sepeda motornya dengan cepat ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu sang pujaan hati, sebelum sampai dirumah Mila Amar berhenti sejenak untuk membeli makanan.


Kuda besi Amar pun melaju dengan cepat membela jalan raya, sampai di gerbang rumah Mila ia memarkirkan  Kuda besinya.


Saat ia sampai di rumah Mila ternyata Tegar sudah menunggunya di teras rumah.


Kedatangan Amar disambut tawa riang sang putra.


"Ayah, hari ini kita jalan-jalan kemana?"


"Hem, terserah Tegar mau kemana?"


"Bunda kamu mana kok ayah gak lihat?" Amar bertanya pada sang putra karena belum melihat Mila sang pujaan hati.


"Oh, Bunda! Tadi Bunda sudah pergi sama Papa," jawab Tegar polos.


"Pergi kemana? Kok kamu di tinggal."


"Pergi kepasar Yah, ngapain Tegar ikut, kan lagi nungguin Ayah."


"Ayo kita berangkat Yah nanti keburu siang."


"Kita gak nungguin Bunda kamu dulu! kan Ayah harus izin dulu Nak."


"Gak usah, tadi pesan Bunda Tegar pergi aja sama Ayah, pamitnya sama nek Ijah aja cukup kok."


"Tapi"


"Ayo Yah kita pergi," ajak Tegar sambil menarik tangan Ayahnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Amar pergi tanpa bertemu dengan Mila, padahal tujuan utamanya adalah bertemu dengan Mila, ia ingin merebut hati Mila kembali dan hidup bersamanya.


Mereka pergi ke  taman kota, Tegar lebih suka bermain disana ketimbang ke Mall. Baginya yang penting bisa bermain karena Mila sejak dulu selalu mengajaknya main ke taman. mila selalu mengajarkan anaknya kesederhanaan.


****


Mila pulang dari pasar ditemani sang suami, saat sampai dirumah ia merasa sedikit lega karena Tegar sudah di jemput Ayahnya.


Mila sengaja pergi kepasar agar tak bertemu dengan mantan suami, karena baginya bertemu Amar sama seperti membuka luka lama.


"Tegar sudah dijemput Ayahnya Bik?" Tanya Mila pada Bik Ijah sambil membawa barang belanjaan. 


"Iya Non, Tegar sudah pergi setengah jam yang lalu, tadi mereka bilang mau ke taman saja."


"Ya sudah, ini semua sayuran tolong dibersihkan ya bik, aku mau istirahat sebentar."


"Baik Non."


Mila berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membantingkan tubuhnya ke atas kasur.


Sedikit menarik nafas panjang, hari ini ia sedikit bisa bersantai karena Tegar sedang pergi bersama Ayahnya sedangkan Dani suaminya pergi ke rumah mertuanya


Katanya sih hanya sebentar, sebagai istri, Mila hanya nurut dengan ucapan suaminya jika ia memaksa ikut pasti Dani akan marah meski Dani bukan tipe lelaki pemarah.


****


Dani mengunjungi rumah orang tuanya, ia sengaja tak membawa serta Mila karena ingin mengatakan sesuatu dengan Ibunya, jika Mila ikut ia akan sungkan untuk berbicara pada Ibunya.


"Ibu lagi apa?" Tanya Dani saat melihat sang ibu yang sedang membaca koran di taman belakang.


"Eh, kamu Dan! Kok gak telpon dulu kalau mau kesini, Mila sama Tegar kemana kok gak ikut? Tanya Ibu Hasan pada putranya yang langsung duduk di sampingnya.


"Sendirian Bu, Dani mau bicara penting sama Ibu," ujarnya sambil tidur di pangkuan sang Ibu.


"Kamu kenapa? Ribut dengan Mila?" Tanya Ibu Dani sambil mengelus pucuk kepala putranya itu.

__ADS_1


"Dani sedang bingung Bu! Benar-benar bingung harus bersikap seperti apa."


"Coba kamu cerita ada apa sebenarnya? Kamu tidak sedang bertengkar dengan Mila?"


"Tidak bu, kami baik-baik saja, hanya ada sedikit beban yang mengganjal pikiran Dani."


"Beberapa hari yang lalu mantan suami Mila datang dan hari ini ia membawa Tegar untuk jalan-jalan."


"Apa … suami Mila! Maksud Ibu mantan suaminya, terus kamu bilang apa dengan mantan suaminya?" Tanya Ibu Hasan yang terkejut mendengar yang diucapkan putranya.


"Dani belum sempat bertemu Bu, Dani juga lupa bertanya siapa nama mantan suaminya.


"Dani takut jika nanti Dani bertemu dengan mantan suami Mila, Dani harus bersikap seperti apa," lirihnya.


"Ya sudah, kamu yang sabar tidak perlu gegabah, bukannya sudah resiko kamu menikah dengan wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya."


Wanita paruh baya itu menarik nafas panjang, ia memberi nasehat kepada putranya untuk tetap bersikap baik jika nanti bertemu dengan mantan suami Mila.


Selesai mengungkapkan semua unek-unek di dalam hatinya Dani pamit untuk pulang, ia takut jika terlalu lama dirumah Ibunya Mila akan curiga.


****


Dirumah, Mila masih bertanya-tanya kenapa Dani tiba-tiba ingin kerumah Ibunya tanpa mengajaknya ikut serta.


Ia merasa sedikit aneh dengan sikap Dani beberapa hari ini atau karena kedatangan Amar mantan suaminya, Dani jadi berubah.


Jika Dani pulang nanti Mila akan segera bertanya kenapa sikap suaminya berubah.


 


Mila tidak ingin jika kehadiran Amar akan merusak rumah tangga yang baru saja ia bangun.


Bagi Mila, Amar adalah masa lalunya dan ayah dari anaknya, jika Amar ingin merusak kebahagiaannya maka tidak akan ia izinkan Amar berkunjung ke rumahnya lagi.


Mila mondar-mandir di dalam rumah, ia masih merasa belum tenang karena suaminya belum pulang. Apalagi sekarang sudah jam makan siang.

__ADS_1


Mila mencoba menghubungi suaminya namun panggilannya tak dijawab, semakin membuat Mila bertanya-tanya dan khawatir akan suaminya.


"Kemana kamu Mas, kok belum pulang, nelpon dari aku pun gak di jawab, kamu ini memang kebiasaan, susah sekali dihubungi," gerutu Mila.


__ADS_2