
"Kamu Mas! Ngapain kamu datang kemari?" Tanyaku.
"Maafkan aku Bu, Mil. Aku benar-benar minta maaf telah menyakiti kalian!" Ucap mas Mas Amar sambil bersimpuh di kaki Ibu.
Tangis Ibu pun pecah tak terbendung lagi, mereka saling melepaskan rindu. Tapi aku tak lantas percaya begitu saja
Apa Mas Amar sungguh menyadari kesalahannya tapi aku tak melihat kesungguhan dimatanya.
Permainan apalagi ini Mas, Aku tak akan bisa kau bohongi, mungkin ibu bisa untuk di bohongi tapi aku tidak.
Ibu lantas menyuruh anak lelakinya masuk dan beristirahat di ruang tamu. Aku hanya diam memperhatikan mereka berdua.
***
"Nek, mana mainan Mobil-mobilan punya Tegar yang di atas lemari?" Tanya Tegar pada Neneknya yang sedang bicara pada mantan suamiku. Yah dia ayahnya Tegar.
"Siapa oom ini Nek? Kenapa Nenek bicara pada orang asing?" Tanya Dia lagi pada Neneknya.
Kulihat Ibu tampak kebingungan untuk menjawab semua pertanyan cucunya itu, Ibu menoleh padaku, mungkin ingin memberi isyarat apa yang harus Ibu lakukan.
"Siapa dia Bu?" Mas Amar Pun bertanya. Semakin membuat Ibu bingung.
"Dia … dia."
"Aku Tegar om," anakku langsung menimpali belum sempat Ibu menjelaskan.
"Kamu Tegar! Anakku?"
"Kamaria Nak! Aku ayahmu," ucap Mas Amar.
"Ayah! Tidak aku sudah tidak punya Ayah," teriaknya pada Mas Amar.
"Apa yang sudah kau tanamkan pada anakku Mila," bentak Mas Amar padaku.
"Kenapa dia sangat membenciku, kau menanamkan kebenciannya kepadaku hah!" Teriaknya lagi.
"Aku tidak pernah menanamkan kebencian padanya Mas, tapi aku menceritakan semua yang terjadi dan semua yang kau lakukan pada kami," ucap ku pada Mas Amar penuh penegasan.
"Kemana kamu selama lima tahun ini? Kenapa kamu baru kembali setelah sekian lama hilang," ucapku lantang.
Enak saja dia memfitnahku menanamkan hal yang tidak baik pada anaknya, apa dia pernah mengajarkan kebaikan pada Tegar selama ini.
Sejak Tegar hingga sekarang hanya aku yang selalu ada disampingnya menemani suka dukanya.
"Menguatkan di saat dia terpuruk diejek oleh temannya karena tak punya Ayah," ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Kemana hati nuranimu Mas," betakku dengan tatapan tajam kerahnya.
"Maaf, Aku emosi maafkan Aku Mil," ujarnya.
Aku hanya diam sambil menangis dan memeluk Tegar, hanya dia yang membuat Aku kuat hingga saat ini.
Sejak berpisah dengan Ayahnya Tegar tak sedikitpun terbesit untuk menikah lagi. Yang ku pikirkan hanyalah membesarkan anakku.
Tak peduli gunjingan tetangga padaku karena aku seorang janda, tak peduli dengan status sosial.
***
__ADS_1
"Bunda, mari kita pulang, Tegar tidak main kesini lagi," ucapnya sambil menarik tanganku.
"Tunggu," ucap Mas Amar.
"Tidakkah kau merindukan Ayahmu Nak?"
"Tidak," jawab Tegar dengan lantang, di tepiskannya tangan saat Ayahnya hendak memeluknya.
"Peluk Ayahmu sekali saja," pinta Ibu mertua.
"Tidak Nek, Tegar tidak mau, Ayah tidak pernah menyayangiku," ucapnya penuh penekanan.
Tak sedikitpun ada airmata di sudut matanya, begitu tegar anakku sama seperti namanya.
Biar kau tau Mas betapa dia membenci Ayahnya sendiri.
Ini semua karena kau yang menanamkan rasa benci itu, andai kau bisa menyayanginya meskipun kita berpisah aku kira tak kan sebenci ini dia padamu.
Aku menarik nafas panjang.
Biar kau rasakan kesedihan yang selama ini kami rasakan bertahun sudah.
"Ayo Bun, kita pulang!"
"Tegar tidak mau melihat orang ini lagi Bunda," ucapnya sambil menarik tanganku.
"Sebelum pulang, peluklah Ayah dulu Nak," ucap Mas Amar sambil membentangkan tangannya penuh harap.
"Tegar bilang tidak ya tidak! Jangan memaksa, dulu saat aku butuh Ayah ada dimana!" Teriaknya.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika anak seusia Tegar mampu berkata seperti itu.
"Maafkan Ayah Nak, sungguh Ayah minta Maaf," lirih Mas Amar sambil meneteskan air mata.
"Maafkan Tegar juga karena mau memeluk Ayah," ucapnya.
Mas Amar tertunduk lesu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Anak lelaki nya itu.
Begitupun dengan Ibu mertua.
Aku hanya diam tanpa mampu berkata, Aku Pun sangat terkejut mendengar ucapannya.
Namun aku bisa apa!
***
Kembali dari rumah Ibu, membuat Tegar menjadi murung. Dia mengurung diri dalam kamarnya tanpa mau di ganggu.
Diusia yang masih begitu kecil namun pikirannya seperti orang dewasa.
Keadaan yang membuat anakku menjadi lebih dewasa. Aku merasa bersalah karena kesalahan orang tua anak jadi korban.
"Sayang, makan dulu yuk!" Ajakku pada Tegar yang masih mengurung diri di kamar.
"Tegar belum lapar Bu!" Jawabnya.
"Tapi Buda lapar sayang, temenin Bunda," bujukku.
__ADS_1
Kret!
Kret!
Pintu kamar terbuka, dengan wajah murung dia tetap keluar untuk menemani ku makan, padahal aku pun tak merasa lapar hanya ingin mengajaknya keluar dari kamar.
Kami berjalan ke ruang makan, kulihat Bik Ijah sudah menyiapkan semua di atas meja, seperti biasa kami selalu makan bertiga karena Bik Ijah sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri.
"Hem, ada ayam goreng!" Celetukku.
"Nek Ijah pasti.masak khusus buat Tegar ya Nek," ucapku memberi isyarat pada Bik Ijah.
" Tentu dong, Kalau bukan buat Tegar buat siapa lagi Nenek masak ayam goreng," rayu Bik Ijah pada anak lelaki.
Senyum Pun mengembang dari sudut bibirnya, senang bisa melihatnya kembali tersenyum.
"Ayo dihabiskan makannya sayang," ucapku.
"Iya Bun."
Selesai makan kami duduk di teras sambil bercanda bertiga begitulah keseharian kami, Bik Ijah selalu memberi semangat padaku.
Bila tidak ada Bik Ijah mungkin aku sudah putus asa kala itu, hanya dia yang menguatkanku.
Kedua orangtuaku jauh di kampung tak mungkin aku menyusahkan mereka meskipun awalnya mereka meragukanku saat aku ingin tetap di rumah ini setelah perceraian.
***
Perceraian membuat anak tidak mendapatkan kasih sayang orang tua utuh. Ini yang membuat Aku sedih.
Tegar anak lelakiku tumbuh menjadi anak yang kepala, meski dia tetap mau menuruti ucapanku.
Angin malam ditemani rembulan dan bintang-bintang di langit kami bercengkrama tertawa riang bersama.
Saat sedang asyik bersenda gurau, aku melihat ada seseorang di balik pagar sedang memperhatikan kami.
Siapa dia, batinku.
Baru kali ini ada yang memperhatikan kami dari kejauhan, aku mencoba bangkit untuk melihat siapa orang disana.
Ku tinggalkan Tegar dan Bik Ijah yang masih asyik bermain monopoli.
Ku perhatikan dengan seksama, sepertinya seorang lelaki. Tapi siapa?
Ada rasa ketakutan dalam hati atau jangan-jangan dia mau mencuri di rumahku.
Tapi sudah hampir delapan tahun aku tinggal disini semua aman-aman saja.
Karena ini perumahan yang ada penjaganya di depan gerbang. Tidak bisa sembarangan orang bisa masuk ke perumahan ini.
Dag … dig … rasa dalam hati ini.
Ku ambil balok yang ada di sudut pintu pagar untuk memukul orang itu.
Pelan-pelan ku berjalan agar tidak ketahuan.
__ADS_1