BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 2


__ADS_3

" Siapa yang telpon?" Tanyaku


" Hem … hem"


" Bukan siapa-siapa kok sayang, sudah ayo kita istirahat," ajaknya.


" Kamu gak boleh mikir yang aneh-aneh, kasian sama dedek bayi kita," cerocosnya


Aku mencoba berdamai dengan hati demi bayi yang sedang aku kandung.


***


Mentari telah menampakkan sinarnya di iringi suara burung bersahut-sahutan.


Aku beranjak dari tempat tidur, dengan perut buncit Aku berjalan terseok-seok.


Rasanya lelah sekali, tapi kata Bik ijah begitulah orang hamil. Dinikmati saja setiap prosesnya.


Bik Ijah selalu menyemangatiku.


Aku berjalan menuju kamar, kulihat suamiku masih terlelap.


Kejadian semalam membuat Aku enggan membangunkannya. Lebih aku menyiram tanaman di belakang rumah, itu lebih menyenangkan.


Saat asyik ngobrol dengan Bik Ijah sambil menyiram tanaman, tiba-tiba aku dikejutkan Mas Amar dari belakang.


" Selamat pagi cintaku," rayunya.


" Sudah bangun kamu Mas?" Tanyaku


" Iya," jawabnya


" Sayang, besok Mas mau ke Bali selama tiga hari, ada rapat dewan Direksi kamu dirumah di jagain sama bibi yah," ucapanya.


" Kok, mendadak Mas?" Tanyaku penuh selidik.


" Iya, Mas baru dapat telpon dari Pak Roy ," timpalnya.


****


Pagi-pagi Mas Amar sudah siap dengan kopernya. 


" Mas pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah, jagain calon anak kita," ucapnya


Ku anggukkan kepala tanpa menjawabnya, entahlah ada rasa curiga menyelimuti hati ini.


Aku merasa kalau suamiku telah berbohong.


Kuantar Mas Amar hingga ke teras sampai mobil yang ia kendarai menghilang dari pandangan.


Aku kembali ke kamar setelah mengantar Mas Amar, membereskan tempat tidur yang masih berantakan.


Sengaja aku tak menyuruh Bik Ijah membereskannya.


Ting!


Ting!


Gawaiku berbunyi, pesan dari siapa lagi ini, dengan terseret aku berjalan mengambil gawai di atas nakas.


Glegar!


Bagai disambar petir siang bolong, betapa terkejutnya aku saat melihat isi pesan yang dikirimkan oleh orang yang tak dikenal.


Orang itu mengirimkan sebuah foto mesra suami dan seorang perempuan, air mata menetes begitu saja tanpa aku sadari.


Badanku terkulai lemas, aku duduk bersandar di tepian ranjang, menangisi nasib yang tak berpihak padaku.


 

__ADS_1


Ternyata kecurigaanku benar, Mas Amar berkhianat. Tega sekali kamu Mas! Batinku


Apakah kau tak memikirkan anak yang sedang aku kandung, ratapmu.


Aku harus membalas pengkhianatan ini, akan aku buat perhitungan Mas!  kamu akan menyesal karena menyakitiku.


Ting!


Pesan dari si pengirim tadi, dia mengirimkan foto-foto mesra suamiku dan wanita itu, aku makin penasaran dibuatnya.


Siapa sebenarnya orang yang mengirimkan foto-foto itu dan apa motifnya. Aku mencoba menghubunginya namun panggilan ku tidak dijawab.


Aaahg!


Aku berteriak sekeras mungkin, hatiku benar-benar hancur saat ini, dalam keadaan hamil besar begini. Tiba-tiba Bik Ijah datang menghampiriku.


"Kenapa Non?" Tanya Bik Ijah, bibik dengar non teriak-teriak.


"Mas Amar, dia menghianatiku Bik!" Ratapku pada Bik Ijah.


"Sudahlah Non! Tidak usah menangis, Non harus kuat demi bayi  ini," ucap Bik Ijah sambil mengelus lembut perut ku.


Bik Ijah menguatkanku karena beliau juga pernah mengalami nasib yang sama seperti Aku alami saat ini.


Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan bik Ijah yang sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri, rasa tenang menyelimuti berada dalam pelukannya.


***


Ting!


Pesan dari suamiku.


[ Sayang, kamu lagi apa sekarang, sudah makan belum]


[ Sepertinya Mas masih harus nginep disini beberapa hari, minggu depan baru pulang]


[ Kamu jaga diri baik-baik dan calon anak kita]


Lebih baik aku istirahat saja daripada memikirkan suami tidak tahu diri.


Tok!


Tok!


Bik Ijah mengetuk pintu.


"Masuk saja Bik," teriakku dari dalam kamar


"Diminum dulu susunya Non! Seharian ini Non belum makan apa-apa,"ucap Bik Ijah sambil menyodorkan segelas susu hangat.


"Masalah tadi tak perlu dipikirkan Non, lebih baik istirahat saja," pintanya


Kuanggukan kepala, setelah minum susu aku kembali berbaring, aku merasa sangat lelah habis menangis seharian. 


Ingin menelpon Ayu tapi hari sudah malam, sebaiknya aku tidur, sambil mengelus perut buncitku dan sesekali aku mengajaknya berbicara.


Bagaimana? Nasib anakku ini nantinya kalau suamiku memilih pergi dariku! Aku harus kuat aku pasti bisa melewati semua cobaan ini.


****


Satu minggu berlalu 


Tok!


Tok!


Bik ija berlari untuk membuka pintu, ternyata suamiku pulang.


"Hallo sayang, Mas pulang! Kamu lagi apa? Tanya Mas Amar.

__ADS_1


"Pulang juga kamu Mas! Aku kira kamu sudah lupa jalan pulang!?"


"Maksud kamu apa? Kok ngomong begitu! Suami pulang bukannya disambut malah diomelin," gerutunya.


"Aku ngomong bener kan," selidikku


"Kamu pikir Aku perempuan bodoh Mas!" Teriakku.


Lalu ku tunjukan foto yang kemarin dikirim seseorang pada ku.


Dengan mata terbelalak Mas Amar melihat semua foto-foto mesranya.


"Semua itu editan Sayang! Biasalah ada orang yang gak suka sama Mas!" Ucapnya mencoba memberi penjelasan. 


"Baiklah, kalau menurutmu ini jebakan! Tapi ingat Mas kalau ini benar!" Ancamku.


Dengan gelagapan Mas Amar berlalu meninggalkanku.


Kamu akan sangat menyesal.


***


Kulihat Mas Amar sedang asyik memainkan gawainya ditemani secangkir kopi berserta sedikit cemilan. 


"Mas, temenin aku ke dokter yuk!" Ajakku


"Kamu kenapa? Sudah mau melahirkan?" Tanya nya.


"Entahlah Mas, perutku sakit," ucapku.


****


"Ibu Mila hanya kontraksi palsu saja, kondisi janinnya sehat," ucap Bu dokter.


"Syukurlah kalau begitu Dok! Terimakasih, ucapku.


"Sama-sama"


Dalam perjalanan pulang aku hanya diam tanpa berbicara, aku hanya mengelus-elus perut buncitku.


"Kamu kenapa diam saja Sayang? Kamu masih marah sama Mas?" Cerocosnya.


"Aku capek Mas,"jawabku.


Mobil yang kami kendarai terus melaju membelah jalan raya, sepanjang perjalan hingga sampai dirumah aku hanya diam saja.


Sampai di rumah kulihat Bik Ijah sudah menunggu di teras rumah, dia membantuku turun dari mobil hingga ke kamar.


"Apa kata dokter Non? Bagaimana kandungan Non?" Tanya bibik.


"Hanya kontraksi palsu Bik," timpalku.


"Syukurlah kalau begitu, Non istirahat saja."


***


Dikamar aku hanya berbaring, hendak tidur namun mata ini enggan terpejam, rasanya begah. Kuatur posisi tidur senyaman mungkin agar aku bisa tidur. Tetap saja aku tak bisa tidur.


Aku keluar kamar hendak mengambil air, karena tenggorokan terasa kering seperti padang pasir.


Kulangkahkan kaki perlahan menuju dapur, kulihat rumah begitu sepi, mungkin Bik Ijah sudah tidur pikirku. Tapi kemana suamiku sejak pulang dari dokter aku belum melihat batang hidungnya.


Biasanya malam-malam begini dia suka duduk di teras sambil menikmati rokok dan kopi.


Sambil membawa air aku mencari-cari keberadaanya. 


Betapa terkejutnya aku saat kudapati suamiku di teras rumah, ternyata diam-diam dia …."


"Mas … kamu ngapain ha!?"

__ADS_1


"Kamu bener-benar yah Mas!"


"Kamu ...


__ADS_2