BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 16


__ADS_3

"Aku Dani, kamu lupa denganku, kita kan satu kampung dan aku teman waktu kecilmu," ucapnya mengingatkanku.


"Rahmadani, apa kabar?" Tanyaku sambil menepuk pundaknya.


"Sekarang kamu makin gagah dan tampan saja Dan," ucapku sambil terkekeh.


"Kamu sekarang pake seragam lagi, wah … sungguh keren kamu Dan, aku bangga sama kamu!"


"Bisa saja jangan bilang begitu, aku jadi malu," ucapnya.


"Ayo duduk disini, kamu sudah pesan kopi?" Tanyaku.


"Iya aku sudah pesan tadi."


Kami berbincang layaknya orang-orang yang berjumpa teman lama. Sudah sangat lama sekali kami tidak berjumpa, apa lagi sekarang Dani sudah menjadi seorang abdi negara, polisi yang gagah, sebagai teman aku bangga padanya.


Entah sudah berapa tahun kami tidak bertemu, sejak lulus SMA kami tidak pernah ketemu lagi.


Dani melanjutkan pendidikannya sedangkan aku lebih memilih menikah muda namun gagal.


"Kamu sendiri Dan! mana istrimu? Sudah berapa anak kamu sekarang?" Tanyaku bertubi-tubi.


"Aku masih jomblo Mil, jomblo akut," ujarnya sambil terkekeh.


"Laki-laki setampan kamu masih jomblo." Akupun tertawa mendengar ucapannya.


"Kamu sendiri! Sudah berapa anakmu? Suami kamu mana Mil?" 


"Anakku laki-laki berusia lima tahun sekarang dan aku single parent," ujarnya sedikit malu.


"Ouh …."


Saat asyik bercerita tiba-tiba Dani di telpon atasannya, dia pun pamit untuk pergi tak lupa kami bertukar nomor telepon siapa tau nanti bisa saling kontak.


Malam kian larut, kami segera pergi ke penginapan terdekat. Besok akan dilanjutkan lagi pencariannya sudah seperti detektif saja mencari orang hilang.


****


Pagi ini diiringi dengan rintik hujan suasana menjadi adem rasanya, aku berjalan pagi sendiri keluar dari penginapan yang lain mungkin masih pada tidur.


Sambil jalan pagi aku mencari sarapan, banyak sekali orang menyajikan makanan di pinggir jalan, makan lontong sayur kayaknya enak ini, gumamku.


Saat sedang berjalan mencari lontong sayur tiba-tiba saja ada anak kecil berlarian menabrakku, rasa ingin marah namun ku urungkan.


"Maaf tante, hani tidak sengaja," ucap anak kecil itu dengan ketakutan.


"Iya, tidak apa-apa! Kamu kenapa berlari kan bisa berjalan saja itu lebih baik," ucapku memberikan nasehat.

__ADS_1


"Ibu Hani  marah-marah tante sambil membawa kayu ingin memukul hani, makanya Hani lari," celotehnya dengan polos.


"Bawa kayu …. Pasti ada sebabnya kan."


"Hei … sini kamu jangan lari, dasar anak tidak tau diri," teriak ibu-ibu yang membuat hani ketakutan dan bersembunyi di belakangku.


"Tolong Hani tante, itu Ibu sedang membawa kayu pasti mau pukul Han," ucapnya sambil gemetar ketakutan. 


" Hei sini kamu!"


"Ayu … kamu Ayu kan?"


"Kamu benar Ayu, kemana saja kamu Yu, aku merindukanmu," ucapku sambil memeluknya dan ia pun membalas pelukan ku.


"Kamu apa kabar Mila?" Tanya Ayu.


"Baik Yu, aku kesini ingin mencari kalian! Kamu kemana saja? Akhirnya aku menemukan kamu."


"Maaf Mil! aku permisi,"ucap Ayu sambil menyeret anak kecil yang bersembunyi dibelakangku.


"Tunggu Yu, kamu mau kemana? Kalian tinggal dimana? Apa aku boleh mampir kerumah kamu?" Tanyaku berhati-hati takut jika ia curiga padaku.


Ayu hanya menganggukan kepalanya, itu artinya dia setuju jika aku singgah di rumahnya. Aku berjalan di belakang Ayu dan tak lupa aku mengirimkan pesan pada mas Alvin untuk segera datang, takut jika nanti ia kabur lagi.


Sampai di rumah Ayu yang sederhana, ia menyuruhku masuk dan duduk di sofa. Aku mendaratkan punggungku di sofa sambil menunggu Ayu yang sedang mengambilkan air di dalam. 


"Terima Kasih."


Kami diam sejenak, aku bingung ingin memulai pertanyaan dari mana, benar-benar seperti orang asing, dulu kami begitu dekat tanpa sela kini seperti orang lain yang baru kenal.


Tak lama kemudian Mas Alvin dan yang lainnya tiba dirumah Ayu.


Ayu kelihatan kaget saat Mas Alvin datang.


"Kamu Mas, kenapa bisa sampai disini?" Tanya Ayu.


"Aku yang memberitahunya Yu, kami sengaja datang ke kota ini untuk mencari kamu, kami ingin penjelasan darimu? Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan Yu?" Tanyaku bertubi-tubi padanya.


Matanya mulai berembun, nampak kesedihan yang terpancar di wajahnya yang ayu sama seperti namanya.


"Sebenarnya …."


"Maafkan aku Mas, aku salah, aku minta maaf," tiba-tiba Ayu bersimpuh bawah kaki Mas Alvin.


Tangisnya Pun pecah, air matanya mengalir tanpa henti, akupun ikut terbawa suasana.


"Aku sudah memaafkanmu." 

__ADS_1


"Sekarang kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kami, jangan ada lagi kebohongan," ujar Mas Alvin.


"Iya, katakan yang sebenarnya Yu, kita juga sudah dewasa tidak perlu lagi menghindar seperti ini," ucapku sambil mengelus pundaknya. Kelihatan jika Ayu sedang menanggung beban yang berat.


"Kenapa semua ini bisa terjadi diantara kita! Kenapa harus aku! Kenapa yu," lirihku berurai air mata.


Rasanya tidak sanggup hati ini menerima kenyataan pahit, kenapa semuanya harus kembali. Disaat aku sudah mulai melupakan.


"Dimana Lastri saat ini? Anak siapa yang kau kejar-kejar tadi Yu," banyak pertanyaan yang dilontarkan pada Ayu. 


"Lastri … Lastri!"


"Dimana Lastri?" Tanya Amar.


"Apakah anak itu adalah anakku?" Tanya Amar. Yang membuat Ayu kebingungan mana yang harus ia jawab dahulu.


 


"Katakan semuanya Yu, kami butuh penjelasanmu dimana Lastri dan anaknya?"


"Kenapa baru sekarang kau tanyakan itu Mar, dimana kau bertahun-tahun? Sekarang kau mencari kami, kau memang lelaki yang memalukan," ucap Ayu dengan lantang sambil melotot ke arah Amar.


"Bertahun-tahun kau menelantarkan kami, sekarang kau bertanya, apa hakmu."


"Sekarang aku kembali Yu, aku ingin minta maaf kepada kalian, tolong maafkan aku," pinta Amar.


"Maaf … gampang sekali kau meminta maaf."


"Aku kan sudah minta maaf, masih saja kau keras kepala, dasar wanita …."


"Amar, berani sekali kau membentak Ayu," ucap Alvin.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kenapa kau marah Vin, Ayu sekarang bukan istrimu lagi kenapa masih membelanya, ingat di sampingmu itu sekarang," ucap Amar mengejek sambil melirik ke arah wanita di samping Alvin. 


"Jaga ucapanmu Mar," bentak Alvin.


Suasana makin panas, Amar dan Alvin adu argumen dan hampir saling pukul.


Disaat Mereka hendak adu jotos karena tersulut emosi, ada seseorang yang datang dan menghentikan mereka.


"Hentikan semua ini, apa yang kalian lakukan ha!" Bentak seseorang.


Kami Pun terkejut mendengarnya dan mencari sumber suara itu, ternyata …


Semua mata tertuju ke arahnya, semua terkejut melihat kedatangannya.


"Kamu …."

__ADS_1


__ADS_2