BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 40


__ADS_3

Dani dan Tegar sudah kembali ke ruangan Mila, saat mereka datang Mila masih terlelap, tak ingin mengganggu Mila yang sedang tertidur mereka berdua berjalan begitu pelan nyaris tak ada suara. 


Dani dan Tegar begitu kompak, tak terlihat jarak di antara mereka meski mereka tak sedarah. 


Suster datang membawa bayi Mila, ia meminta Mila untuk segera menyusui anaknya. Saat mendengar tangis bayinya Mila terbangun dan segera memberikan ASI.


Tegar begitu senang melihat adik bayi yang hingga sekarang belum diberikan nama oleh Dani.


"Pa, siapa nama dedek bayi?" 


"Menurut Abang siapa?" Dani balik bertanya.


"Hem …."


"Gimana kalau Ronaldo."


Dani menaikan alisnya saat mendengar nama Ronaldo sambil tersenyum tipis.


"Kenapa Ronaldo?"


"Biar sama kayak pemain sepakbola," ucap Tegar dengan polos membuat Dani dan Mila saling menatap dan tertawa.


"Ya sudah jika itu mau kamu, baiklah kita kasih nama Ronaldo, panggil aja Aldo gimana?"


"Hore …."


Tegar langsung lompat kegirangan mendengar jika adiknya diberi nama Ronalda seperti pemain sepak bola. 


"Masih ya Pa, Bun."


"Iya, sama-sama," jawab mereka berbarengan. 


Suster kembali keruangan untuk mengatakan jika besok Mila sudah di ijinkan pulang.


Mereka pun langsung bersiap membereskan semua barang agar besok pagi-pagi sudah bisa sampai di rumah. 


Keluarga dirumah sudah diberitahu oleh Dani untuk menyiapkan penyambutan Istri dan anaknya. 


****


Malam tiba,ternyata Amar masih berada di rumah sakit, ia sudah tahu dimana ruangan Mila.


Malam ini ia akan melancarkan aksinya saat semua orang terlelap, iya juga sudah memberitahu Ibunya jika malam ini akan menculik bayi Mila.


Ibunya Pun setuju dengan apa yang akan dilakukan anak nya, demi bisa hidup di rumah mewah apapun akan ia lakukan.


Sambil senyum-senyum memikirkan rumah mewah Mila yang sebentar lagi akan menjadi rumahnya juga. 


Amar sudah bersiap di sekitar ruangan Mila, begitupun dengan Ibunya sudah siap, jika nanti Amar berhasil mengambil bayi Mila maka akan segera diberikan kepada Ibunya. 

__ADS_1


Maka saat itu tugas Ibunya yang akan membuang bayi Mila sejauh mungkin.


Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari, semua penghuni rumah sakit sudah tertidur, kecuali suster yang berjaga.


Pelan-pelan Amar melihat kearah suster jaga, saat mereka lengah Amar akan langsung masuk ke ruangan Mila. 


Situasi di rasa aman oleh Amar, ia langsung masuk menyelinap keruangan Mila, di lihatnya bayi Mila tertidur di dalam box bayi, ia juga melihat Dani dan Tegar yang terlelap di atas sofa.


Dengan wajah sinis ia melihat Dani yang terlelap, dengan cepat Amar mengeluarkan bayi mungil tak berdosa itu dari dalam box. 


Saat hendak menggendong ternyata si bayi langsung menangis, sontak membuat Mila terbangun.


Menyadari jika bayinya digendong orang tak dikenal karena Amar menutupi wajahnya menggunakan masker, Mila langsung berteriak agar suaminya terbangun. 


"Maling …."


Mila berteriak sekeras mungkin hingga suster jaga pun mendengar teriakannya, begitupun dengan Dani yang langsung terbangun mendengar teriakan sang istri. 


"Siapa kamu?"


Amar yang merasa jika kondisinya tidak aman, langsung berlari sambil menggendong si bayi.


Dani yang dengan sigap langsung mengambil tindakan untuk memberi pelajaran pada orang yang berani menculik bayinya.


Rencana Amar pun gagal, security dan suster sudah mengepungnya di depan pintu, ia tak sempat melarikan diri. 


Dani merebut anaknya yang masih dalam gendongan Amar. 


"Amar … kamu sungguh keterlaluan, kamu berani melakukan ini," Mila berteriak.


"Iya, kenapa!"


Tanpa rasa bersalah Amar menjawab tak ada sesal sedikitpun di wajah Amar.


"Dasar, kamu laki-laki pengecut," ucap Dani yang sudah menelpon kantor dimana ia bertugas. 


"Seret dia keluar Pak," titah Dani.


Tak berselang waktu lama teman-teman Dani kantor polisi datang untuk membawanya ke sel tahananan. Karena Dani masih cuti jadi ia hanya menyuruh temannya yang bertugas untuk memberikan pelajaran pada Amar.


Mila masih histeris karena kejadian yang baru saja menimpa bayinya yang masih berapa hari. 


Air Matanya jatuh tumpah ruah sambil mencium dan memeluk putra kecilnya.


Dani mencoba menenangkan sang istri meski ia sendiri tak bisa tenang.


Setelah Amar dibawa kekantor polisi dan semua orang pun sudah bubar, Tegar terbangun. 


"Bun! Tadi kayaknya rame, Tegar dengar berisik sekali, ada apa?" Tanya Tegar sambil mengucek matanya karena mengantuk. 

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, si Aldo cuma haus, mau mimik susu dulu," jawab Mila bohong karena tidak mungkin ia mengatakan jika Ayahnya ditangkap polisi karena ingin menculik adik bayi.


Biar bagaimanapun Tegar tidak boleh tau kelakuan Ayah kandungnya yang tidak baik. 


Mila tidak ingin Tegar membenci Ayahnya sendiri.


"Ya sudah kamu tidur lagi, Bunda juga mau tidur."


Mila jadi takut untuk terlelap meski matanya ingin sekali terlelap. Ia takut jika akan ada orang lain yang akan  menculik anaknya.


Hingga pagi menjelang ia tak tidur begitupun dengan Dani yang sibuk mengurus laporan ke kantor untuk menjebloskan mantan suami istrinya ke dalam hotel prodeo.


****


Ibu Amar ternyata tertidur di balik tembok tempat bersembunyi hingga matahari menyilaukan matanya. 


Menyadari jika hari sudah siang ia bangkit dan melihat suasana rumah sakit sudah ramai tak seperti semalam  yang tampak sepi.


Saat hendak bangkit untuk pulang ia melihat Mila dan Tegar beserta Dani dan juga bayinya berjalan keluar dari rumah sakit.


Ibu Amar bingung kenapa bayi Mila masih ada bukannya semalam Amar ingin menculiknya lalu dimana Amar kenapa tidak datang. 


Ibu Amar kembali kerumah namun dirumah ia tak menemukan Amar, lalu kemana Amar pikirnya.


Ibu Amar beristirahat sambil menunggu kepulangan anak lelakinya, ia tidak tahu jika anaknya sudah berada di hotel prodeo.


Hingga sore hari Amar belum juga kembali membuat sang Ibu panik, kemana putranya pergi.


Ia mencoba menghubungi ponsel Amar namun nomornya tidak bisa dihubungi membuat sang Ibu makin panik. 


Rencana yang sudah mereka buat akhirnya gagal ditambah keberadaan anaknya pun entah dimana. Kemana ia harus mencari putranya.


Saat ia sedang berbaring diatas kasur Amar ada panggilan dari nomor tak dikenal.


Dret!


Dret!


[Selamat sore, apa benar ini Ibunya saudara Amar?] 


[Iya benar, ini siapa?]


[Kami dari kepolisian ingin memberitahukan jika anak Ibu yang bernama Amar sekarang berada di kantor polisi]


[Terimakasih]


Tut … tut …


Panggilan telepon terputus membuat Ibu Amar makin panik, kenapa bisa-bisanya Amar ditahan di kantor  polisi.

__ADS_1


"Bikin ulah apa kamu ini Mar," gerutu wanita paruh baya itu.


"Apa jangan-jangan Amar tertangkap saat sedang menculik bayi Mila," Ibu Amar berbicara sendiri.


__ADS_2