BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 43


__ADS_3

Setelah urusannya selesai, kita akan pindah dari kota ini dan memulai hidup yang baru dimana tak ada orang kita kenal."


"Sekarang kamu istirahat dulu, Mas mau lihat Aldo dulu sudah bangun atau masih tidur."


"Baik Mas."


"Terimakasih Mas, kamu sudah mau menemaniku dan menerimaku apa adanya, terimakasih untuk semuanya Mas," ucap Mila seraya memegang tangan suaminya.


"Iya Sayang, Mas akan lakukan apapun demi kebahagian kamu dan keluarga kecil kita."


"Ya sudah, kamu istirahat ya."


Dani meninggalkan Mila di kamar agar ia bisa lebih tenang.


***


Ibu Amar meninggalkan kontrakan dan pulang ke kampung halamannya untuk menjual rumah mereka.


Sepanjang perjalanan pulang ia masih memikirkan sang putra yang berada di dalam tahanan.


Bus yang di tumpangi Ibu Amar melaju dengan kecepatan tinggi, Namun ia tak menyadari jika Bus yang ditumpangi melaju dengan cepat.


Karena ia masih termenung memikirkan Amar.


Seketika Bus yang di tumpangi Ibu Amar oleng karena sopir mengantuk, semua penumpang menjerit histeris saat Bus menabrak pembatas jalan.


Brak!


Brak!


Siiittt!


Bus menabrak pembatas jalan dan terbalik, kecelakaan pun tak terelakan.


Semua penumpang dilarikan ke rumah sakit terdekat, belum diketahui kondisi semua penumpang. Termasuk Ibu Amar yang berada di dalam Bus, ia duduk di bagian tengah Bus.


Saat identifikasi ternyata Ibu Amar mengalami luka parah, ia koma dan belum sadarkan diri, petugas rumah sakit kebingungan untuk menghubungi keluarganya.


Karena saat ditemukan tak ada nomor yang bisa di hubungi, di dalam tas hanya ditemukan kartu identitas saja dan sejumlah uang.


Terpaksa petugas rumah sakit yang merawat Ibu Amar yang masih mengalami koma dan luka disekujur tubuhnya yang tua rentah.


Pihak dari angkutan bus yang ditumpanginya pun sudah berusaha untuk mencari keluarga Ibu Amar namun nihil.


Petugas dari rumah sakit sudah mendatangi rumah sesuai alamat yang tertera di kartu identitasnya namun tak membuahkan hasil.


Petugas bertanya kepada para tetangga namun tak ada yang bisa memberikan informasi.


Yang mereka tahu anak dari wanita tua itu pergi merantau ke kota dan ia hanya tinggal seorang diri.


Para tetangga pun tak tahu alamat anak sang Ibu karena Ibu Amar tak pernah memberitahu dimana anaknya pergi merantau.


****


Amar merasa gelisah karena Ibunya tak kunjung datang, sedangkan sidang tak lama lagi akan digelar.


Nomor ponsel Ibunya pun tak bisa dihubungi, Amar merasa begitu khawatir, apa yang terjadi pada Ibunya, ia jika tidak tahu harus bertanya pada siapa, begitu banyak tanya dalam benaknya.


Siapa yang bisa membantunya, apa mungkin jika ia meminta bantuan Dani, Dani akan membantu untuk mencari tahu keberadaan Ibunya.

__ADS_1


Hanya Dani harapan satu-satunya,semoga saja Dani mau membantu.


Saat Dani sedang bertugas, Amar meminta bantuan petugas yang sedang berjaga untuk menyampaikan pada Dani jika ia ingin berbicara sebentar saja.


Dani pun datang untuk menemui Amar yang berada dibalik jeruji besi.


"Ada perlu apa?" Tanya Dani pada Amar.


"Aku ingin meminta bantuanmu, aku yakin kamu pasti mau membantuku."


"Percaya diri sekali kamu, kalau aku mau membantumu.


"Kamu orang baik, aku tahu itu, pasti kamu mau membantuku kan?"


"Baiklah, katakan apa maumu?" Tanya Dani dengan ketus.


Melihat Amar begitu memelas bantuannya ia tak tega.


"Aku hanya ingin kau mencari tahu tentang Ibuku, karena sudah berapa hari ia tak memberi kabar."


"Terakhir, Ibu bilang mau pulang kampung dan akan kembali lagi namun sampai sekarang sudah hampir satu minggu Ibu tak kunjung datang ataupun memberi kabar."


"Saya khawatir terjadi sesuatu pada Ibu saya, Nomor teleponnya pun tidak bisa di hubungi."


"Saya sangat butuh bantuanmu, saya mohon." Ucapnya memohon.


"Baiklah, aku akan membantumu, tulis alamat kontrakan dan juga alamat rumah Ibumu di kampung," ucap Dani sedikit sengit sambil memberikan kertas dan pena.


"Terima Kasih," ucap Amar sambil memberikan alamat yang sudah ditulis di kertas yang diberikan Dani.


Dani mengambil secarik kertas yang berisi alamat kontrakan dan juga rumah Ibu Amar di kampung.


Saat pulang kerja nanti ia akan mengecek rumah kontrakan Amar mungkin di sana akan ada petunjuk.


***


Di rumah sakit Ibu Amar masih terbaring lemah dan belum juga sadarkan diri, suster jaga bergantian mengurus Ibu Amar.


Mereka sangat sedih melihat kondisi Ibu Amar yang masih dalam keadaan koma namun tak satu keluarga pun yang mengurusnya, bagai sebatang kara.


Kecelakaan Bus yang sudah membuat wanita paruh baya itu terbaring tak sadarkan diri.


****


Hari mulai sore jam kerjapun telah selesai waktu ya untuk pulang kerja.


Dani langsung pergi menuju kontrakan Amar, dengan mengendarai mobil ia langsung menuju alamat yang sudah diberikan Amar padanya.


Sepanjang perjalanan ia berdoa semoga ada petunjuk dan kabar dari mantan mertua istrinya.


Dani mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena jika ia ngebut alamat yang ia cari tak akan ketemu. 


Setelah berkeliling selamat tiga puluh menit, akhirnya ia menemukan alamat yang ia cari, sampai di kontrakan ia memberi salam dan memanggil Ibu Amar namun tak ada jawaban dari dalam.


Dani mencoba melihat dari balik jendela tapi ia tak melihat ada orang di dalamnya. Saat ia hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu langsung terbuka.


Melihat rumah kontrakan yang terbuka membuat Dani penasaran, ia masuk perlahan sambil mengucap salam. 


Rumah kontrakan yang kecil dan tak ada barang berharga apapun di dalamnya, namun Dani melihat ada sebuah ponsel tergeletak di lantai.

__ADS_1


Ponsel milik Ibu Amar yang tertinggal saat ia buru pergi ke rumah Mila, karena ia ketiduran saat ia bangun ia gegas ke rumah Mila ternyata ponselnya tertinggal hingga ia pergi ke kampung.


Ponsel yang ditemukan Dani ternyata mati mungkin baterainya sudah habis dan lupa untuk di charger.


Dani mengambil ponsel yang ia temukan untuk diperlihatkan pada Amar, siapa tahu itu benar milik Ibunya.


Karena tak membuahkan hasil, Dani pun langsung pulang karena hari sudah semakin sore takutnya Mila curiga nanti. 


Dani tidak mau jika Mila tahu kalau ia sedang membantu Amar mencari keberadaan Ibunya, ia tak ingin melukai hati istrinya.


Nanti ia akan meminta bantuan temannya untuk mencari tahu tentang keberadaan Ibu Amar di kampung karena jika Dani yang pergi kesana pasti Mila akan marah. 


Meski Dani hanya berniat untuk membantu Amar pasti Mila tidak setuju.


****


"Kok telat Mas pulangnya dari mana kamu? Jam segini baru pulang," tanya Mila saat Dani baru saja memasuki rumah.


"Hmm … itu tadi ban mobil kita pecah jadi Mas tambal dulu makanya Mas pulang terlambat, maaf ya," jawab Dani sambil mengecup pucuk rambut Mila. 


"Ya udah, Mas mandi dulu terus kita makan, Mila tunggu di meja makan ya Mas."


"Baik Sayang, Mas mandi dulu, nanti Mas langsung ke meja makan. 


Dani menarik nafas lega, ia merasa beruntung karena Mila tak mencarinya karena pulang terlambat.


Jika ia tahu kalau suaminya pulang terlambat karena membantu Amar pasti Mila akan marah besar.


****


Mila sudah siap duduk di meja makan menunggu suaminya yang belum juga keluar dari kamar.


Mila sedikit bingung kenapa Amar pulang terlambat, meski suaminya sudah bilang jika ia mengalami insiden pecah ban tapi tetap saja membuat Mila tak percaya begitu saja.


Biasanya jika ia pulang telat pasti akan memberi kabar namun tidak untuk hari ini, Mila menepis rasa curiga yang akan mengganggu pikirannya. 


Dani keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan, mereka pun menikmati makan malam berdua karena semua anggota keluarga sudah makan malam, hanya Mila yang tidak ikut karena menunggu suaminya pulang. 


Selesai makan malam mereka berdua masuk ke dalam kamar, mereka bercerita tentang kegiatan mereka satu hari ini.


Saat mereka sedang asyik bercerita tiba-tiba Bik Ijah memanggil Mila dan memberikan Aldo tuk disusui.


"Non," panggil Bik Ijah sambil menggendong Aldo.


"Kenapa Bik," tanya Mila sambil membuka pintu kamar mereka. 


"Ini non, Aldo sepertinya mau nyusu dan tidur," jawab Bik Ijah sambil memberikan Aldo pada Mila.


Mila mengambil Aldo dari gendongan Bik Ijah dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Saat Mila membawa Aldo masuk langsung disambut oleh Dani.


"Gantengnya Papa mau mimik susu nih, cium Papa dulu dong bentar."


Dani mencium Aldo meski bayi mungil itu sudah menangis ingin mimik susu. 


Mila  menyusui Aldo hingga terlelap, Dani pun membiarkannya tak ingin membangunkan sang istri.


Dani lebih memilih duduk di teras menikmati hembusan angin malam. 

__ADS_1


__ADS_2