
Bruk!
Bruk!
Kupukul badan lelaki yang sedari tadi mengintip-intip dari pagar rumahku.
"Siapa kau ha? Apa mau mu disini?" Tanyaku sambil memukulnya.
"Ampun … ampun, sudah Mil! Ini Mas, awu … sakit," rintihnya.
"Mas, Amar!"
"Apa yang kau lakukan disini Mas?" Tanyaku.
"Bagaimana kalau Tegar melihatmu Mas?" Tanyaku lagi.
"Aku hanya ingin melihat kalian Mil, Aku merindukan Tegar," ucapnya.
"Bukan begini caranya Mas! kutarik nafas pelan. Kau bisa menemuinya kapanpun kau mau, ujarku.
"Aku tidak akan melarangmu, tapi bersabarlah, semua butuh waktu," timpalku.
"Sekarang lebih baik kamu pulang Mas," usirku.
"Tapi Mil!"
"Pulanglah, tenangkan dirimu, Tegar Pun masih terguncang dengan kejadian tadi siang, aku harap kamu bisa mengerti," ucapku pelan.
"Bun, Bunda sedang apa disana," teriak anakku yang sedang bermain.
"Tidak, Bunda tidak bicara dengan siapa-siapa, Bunda ingin mengunci pintu pagar saja Nak," ucapku.
Mendengar teriakan Tegar, mantan suamiku langsung berlari menjauhi rumah kami.
Untung hanya ku pukul pakai kayu kalau kusiram dengan air panas, sudah kupastikan melepuh badannya.
Ada-ada saja mas ulahmu.
Dulu kau ngotot ingin berpisah dariku dan menikahi perempuan yang sampai saat ini tak pernah ku jumpai.
Seberapa menarik dia hingga kau berpaling dariku. Sekarang kau ingin mencari perhatian kami lagi.
***
Ayam berkokok di atas pohon, jam dinding pun berdenting perlahan. Pertanda hari sudah siang.
Anak lelakiku sudah siap berangkat kesekolah dengan semangat.
Aku pun sudah siap untuk mengantarkannya sekolah.
Mobil melaju menyusuri jalan raya yang sudah ramai orang lalu lalang.
Setelah aku mengantarkan Tegar aku langsung ke Toko baju milikku. Sudah lama aku tak melihat tokoku.
Sejak bercerai dengan Mas Amar, aku membuka Toko baju yang sekarang sudah dikelola orang kepercayaanku, jadi aku tak perlu setiap hari datang ke Toko.
__ADS_1
Waktuku lebih banyak dirumah bersama Tegar, setiap hatinya aku hanya akan menerima laporan dari wirda orang kepercayaanku.
Saat aku melihat Toko baju, aku jadi teringat akan Ayu sahabatku, sejak aku melahirkan dan bercerai dengan suamiku, dia bak hilang ditelan bumi.
Semua kontaknya tak ada yang bisa ku hubungi, akun sosial medianya nya pun sudah tutup akun. Entah apa kabarnya sekarang.
Saat aku terpuruk Ayu menghilang, tak kudengar lagi kabar darinya. Aku merindukannya.
Hidup penuh teka teki yang sulit diartikan.
Sekarang Kita bahagia besok lusa kita dilanda kesusahan.
***
Setelah selesai aku mengecek Toko baju, langsung aku ke sekolahnya Tegar sudah waktunya dia pulang sekolah.
Tiba disekolah kulihat semua anak-anak sudah tidak ada lagi termasuk Tegar, kemana dia harusnya dia tetap menungguku.
"Maaf Pak, mau tanya apakah Bapak melihat Tegar anak saya?" Tanyaku pada pak penjaga sekolah.
"Sudah pulang Bu, tadi dijemput Neneknya," ujar pak penjaga.
" Terimakasih Pak," ucapku.
Kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, kenapa Ibu menjemput Tegar tanpa meminta Izin dulu dariku.
Tiba dirumah Ibu kudengar suara gaduh, siapa yang sedang ribut di dalam rumah Ibu.
Gegas ku langkah kaki dengan cepat.
Ternyata Tegar sedang tantrum dan sulit untuk diam.
"Bunda! Teriaknya sambil berjalan ke arahku.
"Kamu kenapa Sayang? kenapa menangis?" Tanyaku lagi.
"Orang itu Bun!" Sambil menunjuk kearah Mas Amar.
"Kamu apakan anakku Mas? Kenapa kalian menjemputny tidak bilang padaku dulu, la cang sekali kamu," teriakku.
"Maaf kan Aku, tidak bermaksud untuk membuatmu marah Mil," seru mantan suamiku.
"Ibu juga, kenapa Ibu berubah, biasa Ibu selalu meminta izin ku dulu jika ingin membawa Tegar, apa selama ini aku memberi batasan pada Ibu," ucap ku.
"Bu … bukan seperti itu Mil! Ibu hanya menuruti perintah Amar, dia ingin bertemu Tegar," ucap Ibu terbata-bata dengan rasa bersalah.
Kutatap nyalang penuh amarah ke arah mantan suamiku itu, benar-benar sudah di luar batas kesabaranku.
"Apa maumu sebenarnya Mas?" Tanyaku penuh amarah yang membara ingin segera meledak.
"Dulu kau tinggalkan kami, kau pergi bertahun-tahun tanpa kabar dan sekarang kau datang ingin merampas segala dariku!" Lirihku sambil terisak.
Begitu terasa sesak dada ini, bagaimana bisa dia ingin merebut Tegar begitu saja, kemana kau selama ini saat aku membutuhkannya. Berjuang sendirian membesarkan seorang anak sendirian tanpa suami.
"Maafkan aku, sungguh aku benar-benar menyesal Mila," ucapnya bersimpuh di hadapanku.
__ADS_1
"Maukah kalian menerimaku kembali? Dan kita hidup bersama lagi memulai semua dari awal Mila," ujarnya memohon.
"Maaf, Aku belum bisa Mas!"
"Kau perbaikilah tingkah lakumu itu Mas," ujarku.
"Tolong jangan ganggu kebahagiaan aku mas!"
"Biarkan Aku menjalani hidup dengan tenang."
"Jika Kau ingin menemui tegar, Kau bisa datang baik-baik kerumah kita dulu," ucapku.
"Tak perlu kau diam-diam menjemputnya di sekolah karena itu akan membuat Aku murka terhadapmu," ucapku penuh penekanan.
"Permisi."
Kutinggalkan rumah Ibu mertua, sungguh Aku benar-benar tidak percaya mereka bisa melakukan hal yang membuatku murka.
***
Kulihat Tegar sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Kamu sudah lebih baik, Sayang?" Tanyaku.
"Iya Bun, kenapa orang itu jahat Bun," ucapnya.
"Dia adalah Ayahmu Nak," jawabku mencoba menjelaskan.
"Tegar tidak suka Bun, apalagi Nenek sekarang tidak seperti dulu yang sayang sama Tegar Bun," ujarnya.
Kuhela nafas yang tidak sesak ini, Aku benar-benar tidak percaya dengan perubahan sikap mantan Ibu mertuaku.
Selama ini aku masih menganggapnya Ibu mertua walaupun Aku dan Mas Amar sudah berpisah.
Tapi sekarang sejak mantan suamiku kembali seakan semuanya berubah total.
Pengaruh apa yang sudah diberikan Mas pada Ibu. Benar-benar membuat Aku pusing.
Sebelum pulang kerumah kami mampir dulu untuk membeli ayam goreng kesukaan Tegar dan juga es krim.
Semoga suasana hatinya akan membaik dan kembali ceria lagi.
***
Mobil ku parkiran di halaman taman komplek, kami singgah dulu ke Taman untuk bermain sejenak sambil makan es krim yang sudah aku beli.
Ada keceriaan terlihat di wajah anak lelaki ku, Tegar mencoba semua permainan yang ada di Taman.
Hingga senja datang kami pun pulang kerumah. Suasana hati anakku sudah kembali lagi. Sungguh ada rasa takut yang melanda, aku takut kalau nanti mentalnya terguncang karena ulah orang tuanya.
Aku sangat menyesali perbuatan mantan suamiku itu. Kau menorehkan luka di tempat yang sama Mas, kau buka kembali luka yang sudah mulai memudar itu, sungguh perih hati ini.
Aku menangis sejadi-jadinya, bersimpuh memohon ampunan kepada-Nya.
Semoga aku mampu melewati semua cobaan ini.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku menerimanya kembali, namun luka yang ia goreskan dulu belum sembuh. Sungguh aku dilema dengan keadaan ini.