
Part 45
"Kamu mau ngomong apa sayang, katakan saja?" Tanya Mila saat menemui Tegar selesai menidurkan Aldo.
"Sebenarnya Tegar …."
"Iya, kenapa Tegar! Kamu mau bilang apa? Bunda gak bisa nebak-nebak kalau kamu gak bicara maunya apa?" Mila mengulangi pertanyaannya.
"Entah kenapa tiba-tiba Tegar teringat sama Nenek Bun? Semalam Tegar mimpiin Nenek Bun, kita jenguk Nenek yuk Bun," ucap Tegar sambil menarik-narik baju Mila.
Deg …
Mata Mila terbelalak saat mendengar yang dikatakan oleh putra sulungnya, jika ia memimpikan mantan mertuanya.
Sebelumnya tidak pernah Tegar seperti ini.
Mila merasa ada sesuatu yang terjadi pada mantan Ibu mertuanya, Mila akan mencari tahunya.
"Hem … kamu kangen sama Nenek?" Tanya Mila sambil mengelus-elus pucuk kepala Tegar.
"Gak tau Bun," jawabnya dengan polos.
"Nanti kita bilang sama Papa dulu yach, tunggu Papa pulang," ucap Mila memberi pengertian karena ia juga tidak tahu dimana mantan Ibu mertua sekarang, terakhir saat ia datang kemari marah-marah, sejak saat itu Mila tidak pernah tahu lagi tentang mantan mertuanya.
"Baik Bun," jawab Tegar dengan malas.
Tegar ingin sekali bertemu dengan sang Nenek, ia pun tidak tahu kenapa ia ingin sekali bertemu dengan sang Nenek.
Tegar berjalan masuk kedalam kamarnya sambil menunggu Dani pulang ia mengerjakan tugas sekolah
Tugas sekolah sudah selesai namun Dani belum juga pulang, hati Tegar begitu gelisah, dalam benaknya selalu memikirkan sang Nenek.
Ia masih ingat saat dalam mimpi ia melihat sang Nenek sedang duduk sendirian menunggu seseorang, itulah yang ada dalam mimpinya.
Bayangan itu selalu saja ada dalam pikiran Tegar, anak seusia Tegar tidak mengerti apa maksud dari mimpi itu sendiri.
Hingga malam menjelang sang Papa pun belum juga pulang kerumah, hati Tegar makin gelisah entah perasaan apa ini ia pun tak mengerti.
"Bun, Papa kok belum pulang? Ini kan sudah malam?" Tanya Tegar menghampiri Mila di dalam kamar.
__ADS_1
"Hem … Bunda juga tidak tahu Sayang! Mungkin Papa sibuk, Papa kan harus kerja cari uang buat kita, memangnya kamu kenapa cariin Papa?" Tanya Mila penuh selidik.
"Bunda lupa dengan apa yang Tegar tadi bilang kalau Tegar mau ketemu sama Nenek Bun …!"
"Oh iya Bunda lupa, maaf yah Nak, nanti kalau Papa sudah pulang biar Bunda yang ngomong sama Papa, sebaiknya sekarang kamu istirahat saja besok kan mau sekolah," titah Mila pada Tegar yang merasa kecewa.
"Baik Bun, tapi Bunda janji yah bilang sama Papa nanti," seru Tegar.
"Iya Bunda janji," ujar Mila sambil tersenyum tipis pada sang putra.
"Bunda jangan lupa ya ngomong sama Papa," serunya sekali lagi mengingatkan sang Bunda sebelum melangkah kembali kekamarnya.
"Iya Bunda janji, sudah sana masuk kamar bobok, jangan lupa berdoa ya," titah Mila.
"Baik Bun, Selamat malam."
"Selamat malam jagoannya Bunda."
Mila menghela nafas panjang saat Tegar sudah masuk kedalam kamarnya, ia merasa sangat bingung kenapa Tegar begitu antusias ingin bertemu Neneknya. Padahal selama ini jangankan untuk bertemu mengingatnya pun tidak.
Malam pun semakin larut tapi Dani juga masih belum pulang, Mila merasa cemas, akhir-akhir ini suaminya sering pulang terlambat tanpa sebab yang jelas. Biasanya jika pulang terlambat Dani akan menelponnya namun kali ini tidak.
Ponselnya pun tidak bisa dihubungi membuat Mila makin cemas.
Saat Dani sampai di rumah dan hendak masuk ke dalam kamar secara diam-diam takut jika Mila dan Aldo terbangun ia malah terkejut melihat Mila tertidur di atas sofa dalam kamar mereka.
Dani merasa bersalah telah membuat Mila tertidur diatas sofa, pasti Mila tertidur disana karena menunggu dirinya semalaman ini.
Dani lupa untuk mengabari Mila jika ia harus ikut berpatroli malam ini.
"Maafkan Mas ya," ucap Dani sambil mecium pucuk kepala sang istri membuat Mila terkejut lalu terbangun.
"Mas, kamu sudah pulang?" Tanya Mila pelan. Ia tak ingin langsung bertanya kenapa suaminya pulang terlambat karena waktunya tidak tepat.
"Iya, maafkan Mas ya karena lupa memberi kabar kalau malam ini Mas ikut patroli, Mas mau menelpon tapi ponsel Mas baterainya sudah habis, sekali lagi maafin Mas ya Sayang," ujar Dani mengulangi ucapannya sambil kembali mengecup pucuk kepala Mila.
"Iya Mas, gak apa-apa," jawabnya Mila dengan lembut saat bangkit dari sofa dimana ia tertidur karena menunggu Dani semalaman.
"Aku buatkan kopi dulu, kamu mandi sana sebentar lagi kan subuh," ucap Mila berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya.
__ADS_1
"Iya, Mas mandi dulu, nanti kita bicara lagi."
Mila hanya menganggukakn kepalanya tanda setuju dan berjalan menuju dapur untuk mebuat secangkir kopi kesukaan Dani.
Saat ia tiba di dapur ternyata Bik Ijah sudah berkutat di dapur dengan berbagai pekerjaan rutinnya.
"Non mau apa?" Tanya Bi Ijah.
"Mau bikin kopi Bik, Dani baru saja pulang," ucap Mila pada Bik Ijah yang sedang berselancar dengan air dan piring kotor.
"Iya Bik Ijah yang bukakan pintu tadi buat Tuan," ujar Bik Ijah masih dengan sabun di tangannya.
"Oh Bibik sudah bangun tadi saat Dani pulang?" Tanya Mila sambil menuangkan air panas kedalam cangkir yang sudah diisi gula dan kopi.
"Iya Non, Bibi sudah bangun."
"Bi, hari ini kita buat sarapan apa?" Tanya Mila sambil mengaduk kopi yang sudah ia tuang air panas.
"Bibik mau buat martabak kuah Non, kemarin baru belajar karena nonton youtube di ponsel nya Mang Leman, hehehe," ucap Bi Ijah sambil tertawa lepas, Mila Pun ikut tertawa melihat tingkah wanita paruh bayah.
"Wah, sekarang Bibi sudah ikutan nonton youtube."
"Iya Non, kemarin liat si Mamang lagi nonton orang lagi masak-masak terus Bibi belajar deh sekalian, itung-itung tambah ilmu Non," ujarnya.
"Iya sudah, nanti Mila cobain masakan terbaru Bibi, Mila mau antar kopi dulu ke kamar," pamit Mila pada Bik Ijah yang baru menyelesaikan cucian piringnya.
"Ah siap Non hahaha." Mereka Pun tertawa lepas.
Sambil tersenyum melihat kelakuan Bik ijah membuat Mila senyum-senyum sendiri sambil membawa secangkir kopi yang ia buat tadi untuk Dani.
"Kok senyum-senyum sendiri sih Bun? Tanya Dani saat keluar dari kamar.
"Biasa sih Bibi," jawab Mila dengan memberikan kopi hangat pada Dani..
"Mas …."
"Hem."
"Aku kok akhir-akhir ini merasa aneh ya Mas," seru Mila mengeluarkan unek dalam hatinya.
__ADS_1
"Aneh kenapa Sayang?" Tanya Dani penuh selidik sambil menyeruput kopi buatan Mila.
"Aneh aja Mas."