BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 26


__ADS_3

Ternyata Mila dan keluarganya tidak ada dirumah. Entah kemana mereka pergi, Amar merasa sangat kesal karena tidak bisa bertemu sang pujaan hati.


Dengan perasaan kecewa Amar meninggalkan rumah Mila, namun Amar tidak akan menyerah begitu saja.karena ia akan kembali lagi kesini dan bertemu Mila juga Tegar.


Amar mengendarai sepeda motornya keluar dari komplek perumahan, sesekali menoleh kebelakang berharap ada Mila di rumah itu.


****


Di Belahan bumi yang lain Dani dan Mila memadu kasih merayakan hari bahagia mereka. Dani begitu bahagia bisa menikahi Mila.


"Kamu bahagia sayang?" Ucap Dani pada istrinya saat mereka masih dalam satu selimut.


"Sangat bahagia, terimakasih kamu mau menerima aku apa adanya."


"Kamu tidak boleh bilang begitu, aku tulus mencintai kamu. Semoga rumah tangga kita langgeng sampai ajal yang memisahkan." 


"Aamiin." 


Pagi ini mereka akan segera terbang kembali ke rumah, liburan satu minggu telah usai. Begitu banyak barang serta oleh-oleh dibeli oleh Mila.


****


Disudut ruang kamar Tegar masih tertidur, kelelahan karena seharian bermain bola kaki, permainan yang baru ia sukai. 


"Tegar, ayo bangun sudah siang, sebentar lagi Bunda dan Papa kamu akan segera sampai, kalau mereka lihat kamu masih tidur nek Ijah akan dimarahi, ayo bangun."


Bik Ijah mencoba membangunkan Tegar yang masih tertidur pulas.


"Iya Nek, Tegar akan bangun," ujar nya sambil menggeliat di atas kasur.


Hoam … Hoam


"Tegar ini masih ngantuk Nek," sambil berjalan ke kamar mandi.


"Sudah cepat mandi sana! Nenek tunggu diluar ya." Sambil berlalu meninggalkan Tegar yang masih di dalam kamarnya.


"Baik Nek."


Selesai mandi Tegar sarapan dan duduk di sofa sambil main game. Sudah tidak sabar Tegar menunggu kepulangan Ibunya. Meski baru satu minggu berpisah.


"Jam berapa Bunda pulang? Kok belum sampai juga?" 


"Sabar, sebentar lagi juga sampai kok," ucap pak Hasan yang tiba-tiba datang menghampiri Tegar.


"Iya Kek, tapi lama sekali! Tegar kan sudah kangen sama Bunda dan Papa," rengek Tegar pada pak Hasan yang dipanggilnya kakek.


"Siapa yang kangen sama Papa dan Bunda. Hayo?" Dani Dan Mila baru saja sampai.


Mendengar ada suara Dani, Tegar langsung menoleh ke arah sumber suara. Tegar pun berteriak memanggil Dani.


"Papa …."

__ADS_1


"Bunda …."


Tegar beriak dan segera berlari menghampiri Dani yang disambut dengan pelukan. Mereka melepaskan rindu.


"Papa aja yang dipeluk, kok Bunda enggak?" 


"Gantian dong Bun, sini Tegar peluk," ujar Tegar, mereka semua tertawa melihat tingkah Tegar.


"Papa bawa apa  Untuk Tegar?" Saat mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Kamu mau apa coba?" Tanya Dani pada Tegar yang masih duduk di atas pangkuannya.


"Apa saja Pa! Apapun yang Papa bawa pasti Tegar senang."


"Ini Papa bawain bola buat kamu, katanya sekarang kamu suka main bola kaki ya?" 


"Wah … Kok Papa tahu kalau sekarang Tegar lagi suka main bola kaki. Seru lho Pa, main bola  kapan-kapan Papa ikut Tegar main sama anak-anak yang lain ya." Ujara Tegar pada Dani.


"Sekarang anak Papa sudah punya teman ni ceritanya," ledek Dani pada anak sambungnya.


"Iya dong! Siapa dulu, Tegar."


"Jadi kita tinggal disini aja dong! Gak usah balik ke rumah Bunda?"


"Balik ke rumah Bunda la! Seminggu sekali kita main kesini, boleh kan Kek?" Tanya Tegar pada pak Hasan.


"Iya boleh dong, ngenep disini juga boleh."


"Kapanpun Tegar mau kerumah Kakek sama Nenek, pasti boleh."


Satu persatu oleh-oleh di bagi ke penghuni rumah, semua orang mendapatkan bagiannya.


Sore hari mereka langsung kembali ke rumah, niatnya mau nginep satu malam lagi tapi mereka urungkan karena rumah mereka sudah terlalu lama ditinggal pasti sudah sangat kotor.


Sampai dirumah, benar saja rumah mereka sudah berdebu dan kotor. Daun-daun kering berserakan di halaman rumah.


Mereka membagi tugas untuk membersihkan rumah, Mila membersihkan  ruangan dalam rumah, Dani dan Tegar menyapu halaman dan Bik Ijah bagian dapur.


Rumah sudah selesai dibersihkan dan makan malam pun sudah siap terhidang di atas meja. Mereka makan bersama sambil berbincang.


****


Amar masih memikirkan cara yang tepat untuk berkunjung ke rumah Mila, dalam benaknya ia harus mendapatkan Mila kembali apapun caranya.


Meski dengan memisahkan Mila dan suami barunya. 


Siang ini Amar akan mengantarkan pesanan makan siang ke kantor Dani, itu artinya Dani sudah mulai bekerja. 


Rencana pun sudah bersarang di otak Amar. 


Dani memesan begitu banyak nasi box hari ini membuat Amar kerepotan mengantarkannya karena sebagian nasi box di antar ke alamat rumah Dani.

__ADS_1


Namun meski kerepotan Amar senang melakukan pekerjaannya, akhirnya ia akan bertemu Mila dengan alasan mengantarkan pesanan.


Dengan hati riang Amar mengantarkan pesanan Dani.


Tiba didepan pintu gerbang rumah Mila dengan hati dag dig dug. Rasa tidak percaya ia akan bertemu dengan Mila. 


Ting … tong!


Amar memencet bel, beberapa menit kemudian keluar seorang laki-laki paruh baya menghampiri Amar.


"Ada perlu apa Pak..?" Tanya lelaki paruh baya itu yang ternyata penjaga rumah bernama pak Leman.


"Ini saya disuruh pak Dani mengantarkan nasi box untuk bu Mila, apa ibu Mila ada dirumah?" 


"Bisa saya bertemu dengan beliau," ucap Amar pada penjaga.


"Ibu Mila ada di dalam, kalau hanya ingin mengantarkan pesanan bisa titip sama saya saja Pak."


"Oh begitu, baiklah." Dengan berat hati Amar memberikan nasi box pada penjaga rumah, niat hati ingin bertemu Mila namun gagal lagi.


"Siapa Mang yang datang?" Tanya Mila dari depan pintu.


"Pesanan nasi Bu, dari Bapak."


"Dibawa kedalam ya Mang," titah Mila.


"Mari Pak! saya bantuin bawa pesanannya ke dalam rumah." Ucap Amar pada mang Leman.


Mereka membawa semua nasi ke dalam rumah, saat di dalam rumah Amar nampak bingung melihat isi rumah Mila.


Disana tampak foto pernikahan Dani dan Mila, membuat darah Amar naik turun. Amar tidak suka melihat foto pernikahan mereka. Sesekali Amar mengepalkan tangannya.


Amar masih berdiri mematung melihat sekeliling ruang tamu rumah Mila. Rumah yang begitu asri nan indah. 


"Pak Amar!"


Seseorang memanggil dari dalam, sontak membuat Amar terkejut. 


Ingin menoleh ke arah suara namun ia merasa takut. Siapa yang memanggilnya.


"Pak Amar, ayo bawa kemari nasinya, kenapa berdiri saja disitu," ucap mang Leman.


Amar menarik nafas panjang, jantungnya rasa mau copot, dia pikir ada yang mengenalinya,


Mukanya merah padam.


"Iya mang," jawab Amar dengan gugup.


"Pak Amar kenapa? Kok gugup begitu?" Tanya mang Leman dengan polos.


"Tidak apa-apa Mang! Cuma …."

__ADS_1


"Cuma apa?" 


"Pak Amar kenapa?"


__ADS_2