BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 4


__ADS_3

Sungguh malang nasibmu Nak, lirihku sambil terisak menatapnya yang masih begitu kecil sudah harus hidup tanpa ayah.


Demi perempuan yang tak tau diri itu Mas Amar tega meninggalkan anak dan istrinya.


Apa yang aku takutkan sungguh benar terjadi, kini anak yang masih belum mengerti apapun harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah.


***


"Kenapa kamu masih berada dirumah ini Mas?" Tanyaku.


"Silakan kamu pergi dan jangan pernah kembali lagi," usirku pada Mas Amar.


"Aku ingin memberi tawaran sekali lagi padamu, siapa tahu kau mau merubah keputusanmu," ucapnya sambil menaikan satu sudut bibirnya.


"Aku lebih baik hidup sendiri daripada harus kau Madu Mas!" Ucapku.


"Baiklah kalau begitu jangan salahkan Aku," ucapnya sambil berlalu bergi meninggalkan rumah ini.


Tidak ada rasa bersalah kah pada dirinya saat melakukan pengkhianatan ini, sungguh lelaki yang tak punya hati.


Kecewa sudah pasti aku rasakan bak tertusuk sembilu, sakit, perih namun tak berdarah. Baru satu minggu usia Tegar dia sudah melupakan kehadiran putra kami.


Dulu saat kami masih bersama-sama berusaha saling menguatkan karena belum memiliki anak, sekarang di saat anak itu sudah berada dalam pangkuan ku di meninggalkanku.


Aku menangisi dan meratapi hidup yang akan aku jalani kedepan. Aku harus kuat demi anak lelaki ku.


***


Oek … oek!


Suara tangis Tegar membangunkaku, mata ini sulit sekali untuk membuka seperti ada di sudut mata ini.


Kutepis rasa kantuk yang melanda demi sang buah hati, ku berikan ASI pada tegas.


Anakku begitu tampan, ku tatap lekat wajah mungilnya yang menggemaskan itu sungguh bahagia memilikimu Nak.


Setelah kuberikan ASI pada putraku, ku timang Teagar kembali terlelap dalam pangkuanku, sungguh ini nikmat luar biasa menjadi seotang Ibu.


Ku kuat hati, aku harus bangkit untuk bisa hidup bagia bersama anakku.


***


"Mana Tegar?" Tanya ibu mertuaku.


"Ibu, kapan datang?" Tanyaku sambil mencium punggung tangannya yang sudah sepuh


"Ibu darimana? Pagi-pagi begini?" Tanyaku lagi.


"Dari Rumah, sengaja ibu kesini ingin melihat cucu kesayangan ibu."


"Tegar masih tidur Bu," ucapku.


"Dimana suamimu Mil? Apa sudah berangkat ke kantor?" Selidik Ibu.


"Maksud Ibu! Mas Amar?" Tanyaku.

__ADS_1


Apa Ibu tidak tahi jika anak lelakinya sudah meninggalkan kami sejak beberapa hari yang lalu.


"Anak lelaki Ibu sudah pergi meninggalkan kami, demi wanita lain," ucapku.


"Apa!"


"Ibu akan cari Amar, kurang ajar dia berani sekali menyakiti istri yang baru saja melahirkan anaknya," repet Ibu. 


Terlihat ada kekecewaan di wajahnya dan penuh amarah yang bergelora.


"Baiklah!  kamu tenang saja sayang nenek akan membawa Ayahmu pulang," ucap ibu sambil mencium Tegar.


"Ibu pamit dulu."


"Iya Bu," balasku.


Ada rasa senang karena memiliki mertua yang mau membelaku, sejak dulu Ibu memang baik tidak seperti mertua yang ain yang lebih berpihak pada anaknya meskipun anaknya itu salah.


Tapi Ibu mertuaku selalu membela siapa yang benar menurutnya. Sekalipun itu anak kandungnya tetap akan dia salahkan.


***


Hari-hari berlalu Tegar makin menggemaskan, membuatku selalu bersemangat menjalani hari-hari kami.


Sejak kepergian Mas Amar, dia tak sekalipun menjenguk anak lelakiku itu, entahlah mungkin hatinya telah menjadi batu.


Ibu sudah berusaha menasehatinya tapi tak sekalipun didengar olehnya.


Dia lebih memilih tinggal bersama wanita itu yang aku ketahui rekan kerja kantornya.


Kini mereka sudah pindah ke luar kota demi menjauhi kami, sungguh benar-benar sudah mabuk kepayang kamu Mas.


Lelah aku meratapi semua ini, saatnya aku harus bangkit dari keterpurukan demi anakku


***


Lima tahun sudah aku membesarkan Tegar sendirian di bantu Bik Ijah yang selalu setia menemaniku.


Ibu mertua sering mengunjungi kami dan membantu biaya Tegar. 


Hari ini hari dimana Tegar anakku mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Aku bersiap mengantarkannya sekolah pagi ini.


"Bunda," panggil putraku.


"Iya sayang!"


" Hari ini Tegar sekolah kan?" Celotehnya.


"Iya dong, ayo kita berangkat!" Ajakku.


"Nek Ijah jaga rumah, Tegar berangkat sekolah dulu," celotehnya pada Bik Ijah.


"Iya, Nek Ijah akan masak dirumah," balas Bik Ijah pada Tegar yang sudah ada dalam mobil.


Aku melajukan mobil  dengan kecepatan sedang, membela jalan raya yang sudah mulai ramai dengan aktivitas.

__ADS_1


Di dalam mobil, Tegar mulai bernyanyi lagu-lagu yang sudah diajarkan di rumah, dengan senyum mengembang di wajahnya.


***


"Bagaimana hari pertama disekolah?" Tanyaku.


"Senang sekali Bunda, Tegar punya banyak teman dan mereka semua baik pada Tegar," ucapnya sambil tertawa riang.


"Wah! Anak bunda  sekarang sudah banyak teman, Bunda akan dilupakan," kataku sambil tersenyum.


"Bunda akan selalu ada di hati Tegar," jawabnya sambil menciumku penuh cinta.


Andai kau ada disini Mas, pasti bahagia sekali kamu melihat kelucuan anak kita yang tumbuh sehat serta pintar, tiba-tiba aku mengingat mantan suamiku yang entah dimana sekarang.


Kulajukan mobil ke arah jalan pulang, saat mobil yang aku kendarai melaju  dengan kecepatan sedang. 


Sebelum. Pulang kerumah kami mampir kerumah Ibu mertua sebentar karena sudah lama Tefas tak menjenguk Neneknya.


Ibu mertua sedang sakit, sejak kepergian anak lelaki satu-satunya sejak itu mertuaku jadi sering jatuh sakit. Mungkin terlalu banyak pikiran atau beban. 


"Assalamualaikum, Nenek buka pintunya Nek!" Teriak Tegar dari sela-sela jendela memanggil Neneknya.


Ibu tinggal sendirian karena saat aku menawarkan diri u tuk tinggal bersama kami dia tidak mau, takut merepotkan katanya.


"Waalaikumsalam, tunggu sebentar!" Jawab ibu dari dalam.


Krek!


Krek!


Pintu terbuka, senyum mengembang tampak di wajah Ibu bila bertemu dengan cucunya, karena Tegas adalah cucu satu-satunya.


Mereka berpelukan saling melepas rasa rindu, begitulah mereka saat berjumpa.


"Ayo masuk," ajak Ibu.


" Nek, Tegar sudah mulai sekolah , coba Nenek lihat baju sekolah Tegas bagus kan Nek," ucapnya.


"Cucu Nenek sekarang sudah besar makin tampan lagi seperti Ayah," ucap Ibu pelan namun masih terdengar.


Aku menoleh ke arah Ibu dan menatapnya lekat, Aku tersenyum padanya.


Aku tahu ada rindu yang membara di matanya pada Mas Amar yang telah bertahun-tahun meninggalkan kami.


Ibunya pun tak sekali di jenguk oleh Mas Amar, entah pengaruh apa yang dibuat wanita itu hingga mantan suamiku melupakan anak dan Ibu kandungnya sendiri.


***


"Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam."


Sepertinya ada tamu, gegas Ibu berjalan untuk membukakan pintu. Siapa yang datang mungkin tetangga atau teman penggajian Ibu pikirku.


Pintu terbuka betapa terkejutnya Ibu melihat irang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu … ini beneran Ibu tidak mimpikan." 


"Mila … Mila," teriak Ibu yang membuat ku bingung.


__ADS_2