BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 46


__ADS_3

Part 46


"Kenapa, kamu ada apa? Kok tiba-tiba bilang begitu?" 


"Sepertinya kamu yang aneh," seru Dani dengan menaikan satu alisnya saat mereka bertatap muka.


"Itu loh Mas, Tegar tiba-tiba mau ketemu sama Neneknya kan aneh, biasanya juga mana pernah dia nyebut Nenek apalagi ingat, apa itu tidak aneh menurut Mas," ucap Mila. 


Dani menarik nafas panjang berkali-kali, ia merasa bingung harus bilang apa pada Mila. 


Apa mungkin ia mengatakan yang sebenarnya jika Ibunya Amar mantan mertua Mila hilang tidak tahu berada dimana saat ini. 


Tapi jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya maka ia merasa bersalah pada istrinya sendiri dan juga Tegar. Dani tampak mengusap mukanya dengan kasar. 


"Hem, Emang Tegar bilang apa sama kamu tentang Neneknya?" 


"Dia bilang kalau dia tiba-tiba merasa ingin ketemu Nenek, dia juga gak tau kenapa tiba-tiba begitu," Mila menceritakan apa yang ia dengar dari Tegar.


"Ya sudah Nanti biar Mas coba nhobrol sama Tegar dulu, kenapa tiba-tiba dia mau ketemu Neneknya."


"Iya Mas, kemana kita akan cari alamat Ibu, nama si Amar kan ada di dalam tahanan," seru Mila sambil menghela nafas berat.


"Apa kita tanya saja Mas sama Amar ada dimana Ibunya sekrang biar bisa kita antar Tegar kesana, gimana!" Seru Mila memberikan ide pada Dani yang masih kebingungan.


"Gimana Mas! Kok kamu diam aja aku nanyain, kamu lagi mikirin apa Mas?" Mila makin curiga dengan sikap suaminya. 


"Hem, Mas cuma capek aja Sayang, Mas boleh istirahat sebentar gak?" Dani meminta ijin untuk istirahat agar bisa mengalihkan perhatian sang istri, ia tahu jika Mila sudah mulai menaruh curiga padanya. 


"Ya sudah, istirahat saja, nanti biar mang Leman yang antar Tegar ke sekolah."


Dani beranjak dari tempat dimana mereka duduk untuk istirahat setelah ia menghabiskan kopi buatan Mila.


Mila memijat keningnya yang terasa pusing karena memikirkan Tegar dan juga suaminya yang bertingkah tak seperti biasa.


"Masalah apalagi ini," gerutu Mila 


******


Sementara di rumah sakit Ibu Amar masih terbaring lemah tak berdaya dan belum juga sadarkan diri. 

__ADS_1


Pihak rumah sakit tetap memberikan perawatan yang terbaik yang ada di rumah sakit mereka. Semua biayanya ditanggung oleh pemilik armada bus yang ditumpangi. 


Meski sampai saat ini pihak keluarga belum ada yang mencari tapi pihak rumah sakit tetap berusaha untuk menemukan Keluarga korban. 


Pihak Bus dan rumah sakit sepakat jika mereka akan membuat berita di media cetak maupun televisi untuk korban yang belum memiliki identitas yang jelas. 


*****


Di dalam hotel prodeo yang ditempati oleh Amar begitu membuatnya sesak ditambah sebentar lagi sidang akan digelar hanya tinggal menunggu hari saja, ia tidak tahu berapa lama ia akan ditahan disini nantinya. 


Apalagi saat ini sang Ibu belum diketahui keberadaannya serta seperti apa kondisinya.


'Ibu ada dimana si Bu,' batin Amar dalam hatinya. 


Semoga Dani akan segera memberikan kabar baik padanya mengenai kondisi sang Ibu


Yang hingga kini entah dimana. 


"Pak, apakah Pak Dani sudah datang?" Tanya Amar pada petugas yang sedang berjaga. 


"Hari ini Pak Dani tidak masuk kerja karena semalam ia ikut berpatroli jadi hari ini dia libur dan akan kembali bertugas besok," jawab penjaga pada Amar yang sudah menempelkan mukanya pada sela-sela jeruji.


"Bisakah Bapak menelponnya sebentar Pak saya mohon, ada yang ingin saya tanyakan Pak," Amar memelas pada penjaga namun tidak ada yang mendengarkannya. 


"Pak … tolong saya Pak," serunya lagi mencoba membujuk para penjaga. 


"Hei, kau ini berisik sekali, jika kau ingin bicara padanya tunggu saja besok saat ia datang bertugas, paham," teriak penjaga yang membuat Amar terdiam. 


"Jika kau masih saja berisik dan membuat kekacauan akan aku pindahkan kau ke sel di ujung sana," ancam penjaga pada Amar yang masih berdiri di balik jeruji. 


"Maaf kan saya Pak, Maaf! Saya hanya ingin menanyakan keadaan Ibu saya Pak," Amar mencoba memelas agar penjaga merasa kasihan namun tidak berhasil para penjaga malah tak peduli dengan apa yang diucapkannya. 


Amar merasa semua yang dilakukannya sia-sia, ia akan tetap sabar menunggu hari esok saat Dani masuk kerja.


Meski ia sudah tidak bisa bersabar tapi apa yang bisa ia lakukan kecuali menunggu. 


"Hei, kamu kenapa?" Tanya Syarif teman satu sel Amar, saat ia melihat Amar duduk termenung.


"Aku hanya kepikiran dengan Ibuku Rif, terakhir dia mengunjungiku dan ia bilang mau pulang kerumah kami di kampung tapi kenyataannya Ibu tidak ada di kampung dan juga di rumah kontrakanku disini," Amar menjelaskan keluhannya pada Syarif. 

__ADS_1


"Terus …."


"Entahlah, Aku sudah meminta bantuan pada suami mantan Istriku yang bertugas disini untuk mencari informasi mengenai Ibu, hanya dia harapanku satu-satunya,semoga ia bisa membantuku," ucap Dani penuh harap.


"Suami mantan Istri mu! Kau tidak salah Mar, apa kau yakin jika dia mau membantumu," seru Syarif meragukan. 


"Mau bagaimana, hanya dia harapanku, siapa lagi yang mau membantuku jika bukan dia meski aku tidak begitu yakin karena aku sudah menyakiti keluarga mereka," ucap Amar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. 


"Tapi Aku tidak yakin Mar, jika suami mantan Istri kau  mau membantu untuk mencari Ibumu, aku kira itu tidak mungkin, dimana ada orang yang mau membantu setelah mereka kau sakiti Mar! Ada-ada saja kau ini," seru Syarif yang membuat keraguan pada Amar. 


"Kenapa kau bilang begitu," ucap Amar pada Syarif dengan tatapan tajam.


"Ya mau bilang apa lagi Aku," ujarnya santai sambil mengangkat kedua pundaknya. 


"Lalu siapa yang bisa membantuku Rif?" Tanya Amar penuh penekanan. 


"Hem …."


"Asal ada uang semua bisa kita lakukan Mar! Apa kau punya uang?" Tanya Syarif sambil tersenyum penuh kemenangan seolah ingin memanfaatkan keadaan. 


"Uang … uang dari mana Aku Rif, satu senpun aku tidak punya, Ibuku bilang ia akan kekampung untuk menjual rumah peni ggalan Bapak dan akan membebaskanku."


"Tapi faktanya Ibu menghilang," ucap Amar sambil memijat keningnya yang tidak terasa pusing hanya beban pikiranlah yang mengganggunya. 


"Jangan-jangan Ada yang menculik Ibumu Mar!"


"Di culik … tidak mungkin, siapa yang mau menculik Ibuku, kau jangan mengada-ngada," seru Amar yang tersulut emosi karena mendengar ucapan Syarif teman satu tahanan. 


"Aku kan cuma bilang siapa tahu Ibumu di culik, Aku gak bilang kalau Ibumu sudah di culik, hanya bilang siapa tahu," ucap Syarif penuh penegasan. 


"Sudahlah, kau ini bukannya memberikan solusi padaku malah bikin Aku tambah emosi saja," sungut Amar sambil sedikit menjambak rambutnya.


"Ya maaf kalau begitu, Aku tidak bermaksud bikin kamu jadi galau begitu, Aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam hatiku saja," kilahnya membela diri.


"Sebaiknya Kamu berdoa agar Ibumu cepat ditemukan dalam keadaannya sehat," ucap Syarif mengingatkan. 


"Iya Rif, Aku ini selalu menyusahkan Ibu dan juga mantan Istriku, Aku telah menyakiti mereka semoga Ibuku cepat ditemukan dalam keadaan sehat ya Rif, kamu bantu doa ya."


"Iya, sebaiknya kita sholat sekarang dan meminta pertolongan kepadaNya agar Ibumu segera ditemukan."

__ADS_1


"Tapi Rif …


__ADS_2