BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 28


__ADS_3

Amar duduk di sofa ruang tamu, ia merasa senang akan segera bertemu Mila, rasa bahagia yang kurasakan saat ini.


Amar teringat akan masa lalunya dulu saat mereka masih berpacaran, benih-benih cinta seakan tumbuh kembali, Amar tersenyum sendiri mengingat kejadian beberapa tahun silam.


Matanya melirik ke arah jarum jam yang terus berputar, hatinya bertanya-tanya kenapa Mila tak kunjung keluar untuk menemuinya.


****


Mila berjalan perlahan menuju ruang tamu, ia mencoba tetap tenang saat akan bertemu dengan lelaki yang pernah mengkhianatinya itu, meski hatinya terluka namun ia tak pernah dendam pada sang mantan suami.


"Mas"


Mila memanggil Amar saat mereka sama-sama saling bertatap muka.


"Iya Mil, kamu apa kabar?" Tanya Amar sambil mengulurkan tangannya namun uluran tangan Amar hanya di balas senyuman oleh Mila.


Meski Mila tak menyambut uluran tangannya Amar tetap santai.


"Kenapa kamu bisa sampai kemari Mas?"


"Tadi Aku mengantarkan pesanan nasi box Mil ke rumah ini, aku tidak tahu jika ini adalah rumah kamu," ujar Amar sambil sedikit gugup.


"Kamu mengantarkan pesanan nasi box!"


"Iya Mil, sekarang aku bekerja di salah satu rumah makan sebagai kurir untuk menyambung hidup," ucap nya sedikit memelas.


"Kenapa kamu tinggal disini sekarang?"


"Iya, Aku sudah menyesali perbuatanku sekarang aku ingin memulai hidup baru dan melupakan semua masa lalu," Amar sedikit terisak sebagian dari aktingnya agar mendapat simpati dari Mila.


"Syukurlah jika kamu sudah sadar dan menyesali perbuatanmu Mas, aku harap kamu akan mendapatkan keluarga baru nantinya."


"Silahkan kamu lanjutkan berbincang pada Tegar karena Aku lagi banyak urusan."


Mila berjalan meninggalkan Amar dan Tegar untuk menyelesaikan pekerjaannya fi dapur namun Amar mencoba menahannya untuk tetap duduk menemaninya.


"Tunggu Mil, apakah kamu tidak marah jika aku sering mengunjungi Tegar, aku hanya ingin mengembalikan waktu yang hilang dulu bersama anakku Mil," Amar mencoba memelas pada Mila.


"Iya boleh Mas, Tegar kan anak kamu, aku tidak berhak melarang kalian bertemu, itupun jika Tegar tidak keberatan, silahkan saja."


"Terimakasih kalau begitu, sekarang aku Ijin pamit karena masih ada pekerjaan, nanti jika aku libur aku akan main kesini untuk menjemput Tegar," ucapnya.


"Baiklah, terserah kamu," jawab Mila ketus.


Amar Pun beranjak dari kursi ruang tamu Mila untuk pulang sambil mengulas senyum.

__ADS_1


Amar merasa senang karena Mila menyambutnya dengan baik, Amar menyusun rencana, sekarang ia akan mendekatkan diri pada Tegar, karena Tegar akan menjadi senjata yang ampuh untuk menaklukkan hati Mila.


****


Sore hari Dani pulang kerja, sampai dirumah ia disambut wajah cemberut istrinya.


"Kok cemberut sayang! Suaminya pulang bukannya disambut dengan cinta malah disambut dengan muka jutek," ujar Dani pada sang istri yang masih diam.


"Kamu kenapa? Kok aku tanya gak dijawab, kamu sakit?" Tanya Dani.


"Aku sebel sama kamu Mas, seharian gak bisa di hubungi, kemana aja kamu?"


"Kamu tau  gak kalau hari ini, ayahnya Tegar datang kesini!"


"Ngapain, mantan suami kamu kesini, kok dia bisa tau kalau kita tinggal disini sekarang, bukannya kita tidak pernah memberitahu mereka tempat tinggal kita yang baru."


"Tadi Tegar tak sengaja ketemu dia di pinggir jalan, lalu di ajak Tegar buat mampir kerumah, aku harus apa coba Mas."


"Aku ketakutan tau, tapi kamu gak bisa dihubungi kan bikin aku stress."


"Untung Laki-laki itu hanya ingin bertemu anaknya, tapi tetap saja aku takut Mas," ujar Mila pada suaminya yang dengan sabar menyimak ceritanya.


"Ya sudah, Mas minta maaf, sekarang ayo kita makan, Mas sudah lapar sekali," ucapnya yang membuat Mila tersenyum.


"Pa, tadi ada Ayah lho kesini," ucap Tegar dengan mulut yang masih penuh dengan nasi dan ayam gorengnya.


"Oh iya! Kok gak di kenalin sama Papa, " jawab Dani santai.


"Tadi mau Tegar kenalin tapi Papa belum pulang! Papa kemana aja sih kok pulangnya lama hari ini?" 


"Udah makan dulu, habiskan nasinya nanti sudah makan baru ngobrol lagi," Ucap Mila menimpali obrolan mereka. 


"Iya Bun."


Mereka menikmati makan malam tanpa obrolan karena Mila melarang berbicara saat  sedang makan. 


Selesai makan, Tegar langsung mengajak Papanya duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi dan melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus di meja makan.


"Papa, nanti kalau Ayah libur kerja boleh kan Ayah main kerumah kita," ujar Tegar pada Dani.


"Tadi Ayah bilang kalau libur kerja mau jemput Tegar Pa."


"Iya, boleh dong! Mana mungkin Papa ngelarang anak kesayangan Papa ketemu sama Ayahnya, asal jangan lupa aja sama Papanya ini." 


"Mana mungkin lah Tegar lupa sama Papa, Tegar kan dayang sama Papa," ucapnya sambil memeluk Dani dengan erat, Mila hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan suaminya.

__ADS_1


Mila merasa bahagia melihat kedekatan antara Dani dan Tegar meski mereka tak ada hubungan darah.


Mila hanya takut jika nanti Amar sering mengunjungi Tegar akan membuat hubungan Dani dan Tegar merenggang namun rasa takut itu segera ditepis oleh Mila.


Semoga saja kehadiran Amar tidak merusak kebahagiaannya, karena Mila merasakan hal yang aneh dengan sikap Amar yang tiba-tiba perhatian pada Tegar.


Semoga Amar benar-benar sudah menyesali perbuatannya, Mila juga harus tetap waspada karena tidak ingin kehadiran Amar akan merusak rumah tangga yang baru saja ia bangun.


Mila termenung memikirkan Amar yang tiba-tiba kembali di saat ia sudah memulai kehidupan yang baru. 


Mila tidak menyadari jika suaminya sedari tadi memperhatikan nya, Dani tau jika Mila sedang gelisah.


"Kamu kenapa Sayang, sejak tadi Mas perhatiin kok gelisah, kamu sedang mikirin apa?" 


"Aku takut Mas."


"Takut apa? Kenapa?"


"Entahlah Mas, Aku merasa takut saja."


"Apa yng sedang kamu takutkan, katakan sama Mas, jangan di simpan sendiri, Mas ini kan syami kamu, cerita dong."


Mila menarik nafas pelan, binggung ingin berkata apa pada suaminya, ketakutannya mungkin tak beralasan tapi ia benar-benar merasakan itu.


"Aku takut jika nanti Ayah Tegar sering kesini akan merusak kebahagian kita Mas," ucap Mila.


"Kamu tidak boleh berpikiran seperti itu, mungjin saja Ayah Tegar sudah menyesali semua perbuatannya dulu, sekarang ia ingin menebus semua kesalahannya pada anaknya.


"Kamu tenang saja disini kan ada Mas."


Dani mencoba menenangkan kegelisahan hati istrinya meski sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.


Ia juga takut jika mantan suami istrinya akan membawa hal yang tidak baik.


Tapi ia berusaha tenang.


"Tapi Mas?"


"Sudah, lebih baik kita buat adik untuk Tegar yuk!" Dani meledek istrinya dan Mila Pun kembali tersenyum.


"Kamu ini, Tegar aja belum tidur."


"Kita tunggu dia bobok dulu, kamu mau kan?" Goda Dani pada Mila.


Mila mengulum senyum mendengar ucapan lelaki halalnya.

__ADS_1


__ADS_2