BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 41


__ADS_3

Dirumah Mila di sambut dengan keluarga Dani, semua menyambutnya dengan suka cita, apalagi sang Ibu mertua yang tampak terharu melihat kedatangan Mila dengan membawa sang cucu.


Ibu mertua Mila  belum begitu dekat dengannya. Sejak mereka menikah Ibu mertua tak pernah mencampuri urusan rumah tangga anaknya, kecuali Dani yang datang untuk meminta saran padanya. 


Bagi Ibu Dani anaknya sudah cukup dewasa, ia yakin jika anaknya bisa menyelesaikan semua masalah rumah tangga.


"Sini cucu nenek, lucu sekali kamu," ucap Ibu mertua Mila saat mengambil sang cucu dari pelukan Mila.


Dengan senang hati Mila memberikan anaknya untuk di gendong oleh sang Nenek. Mila pun merasa bahagia dengan keluarga barunya. 


Ia senang memiliki mertua yang baik, mertua yang pengertian yang tak pernah ikut campur urusan rumah tangganya. 


Mila diantar Dani ke kamar untuk istirahat pasca operasi sedangkan si bayi mungil sudah di urus si nenek.


Di kamar, Bik Ijah sudah membawakan makanan untuk Mila.


"Selamat ya Non, atas kelahirannya, Bibik bahagia sekali," ucap Bik Ijah sambil meneteskan air mata.


"Semoga Non dan Tuan bahagia."


"Terimakasih Bik, terimakasih juga sudah menemani saya dalam suka dan duka," jawab Mila dan mereka saling berpelukan. 


Bagi Mila Bik Ijah bukan hanya sekedar asisten rumah tangganya, ia sudah menganggap Bik Ijah seperti Ibunya sendiri. 


Saat Mila terpuruk Bik Ijah selalu menguatkannya dan memberi semangat padanya hingga ia mampu menjalani hidup sampai di titik ini. 


****


Di ruang tamu semua rebutan untuk mengasuh si Aldo bayi mungil yang lucu.


Kehadiran Aldo seakan menambah kebahagian keluarga Dani, bayi kecil itu yang masih suka tidur selalu diajak bermain meski ia belum bisa apa-apa. 


"Nek, kenapa dedek bayi tidur terus, kapan mainnya sama Abang?" Tanya Tegar pada sang Nenek yang masih menggendong Aldo.


"Sabar dong sayang! Baru juga lahir dedeknya kok udah di ajak main, nanti tunggu dedeknya besar baru bisa di ajak main kalau sekarang ya kerjaannya tidur."


"Ya sudah main sama Kakek aja gimana!" Ajak sang kakek yang masih sibuk nonton berita di televisi. 


"Mau dong Kek," jawab Tegar kegirangan.

__ADS_1


"Kalau main bola gimana."


"Sudah Kakek duga pasti bola," seru sang Kakek.


Kakek dan Tegar berjalan keluar rumah menuju halaman sambil membawa bola, dengan riang mereka bermain sambil tertawa, apalagi saat melihat sang Kakek terjatuh.


Mila yang melihat dari balik jendela, sangat terharu karena keluarga suaminya begitu menyayangi Tegar, mereka menganggap Tegar seperti cucu mereka sendiri. Kebahagian ini sudah dirasa lebih dari cukup, bagi Mila tak ada kebahagian lebih dari ini.


Mila hanya berharap dengan dijebloskan Amar ke hotel prodeo akan memberi efek jera untuknya kelak tak datang menghancurkan kebahagian keluarga baru mereka. 


Mila juga berharap agar Amar bisa hidup lebih baik lagi nanti setelah keluar dari penjara.


Namun hatinya bingung bagaimana ia akan meleskan pada Tegar soal Ayahnya yang di tahan, Mila takut jika Tegar akan semakin membenci Ayahnya. 


Semoga Tegar bisa mengerti, itu harapan Mila.


****


Di kantor polisi Ibu Amar datang untuk membesuk anaknya, ia masih bingung kenapa putranya bisa berada dibalik jeruji besi, apa yangbia lakukan. 


Amar mendapatkan ijin untuk bertemu Ibunya, hanya sepuluh menit waktu yang diberikan pada Amar dan sang Ibu untuk berbicara. 


Ibu Amar masih tak menyangka akan menemui anaknnya di tempat menyeramkan seperti ini. Baginya sel tahanan adalah tempat menyeramkan. Mungkin faktanya tak seseram itu.


"Semalam saat Aku ingin menculik bayi Mila, Aku ketahuan Bu," ucap Amar penuh sesal.


"Dasar kamu … begitu saja tidak bisa." 


"Ibu kemana semalam saat Aku di tangkap, apa Ibu sudah pulang?" Tanya Amar pada Ibunya.


"Ibu ketiduran, kelamaan menunggu kamu, pas Ibu bangun hari sudah siang," jawab Ibu Amar.


"Terus gimana sekarang nasibku Bu?"


"Mana Ibu tau lah, Ibu mau pulang kampung ajalah dari pada disini bikin pusing, gagal deh tinggal dirumah mewah," gerutu Ibu Amar sambil ngomel panjang lebar.


"Ibu tega ninggalin Aku sendirian disini! Disini aku kelaparan, makanannya tidak enak Bu," rengek Amar tanpa dosa. 


"Ibu ke rumah Mila, bilang sam Mila untuk mencabut laporannya Bu, biar Amar bisa bebas, kalau tidak Amar akan di penjara bertahun-tahun Bu, entah berapa lama Amar akan tinggal di tempat menyeramkan itu Bu, tolong Amar Bu," rengeknya lagi membuat Ibunya kebingungan. 

__ADS_1


"Ibu tidak mau nemuin Mila, malu dong! Kamu ini ada-ada saja."


"Lalu siapa yang akan membebaskanku  dari sini Ibu, siapa?"


"Iya … iya nanti Ibu usahakan datang kerumah Mila."


"Sekarang Bu, lebih cepat lebih bagus."


Amar berusaha membujuk Ibunya untuk menemui Mila karena ia sangat yakin jika Ibunya yang bilang pasti akan dipenuhi oleh Mila.


Karena dulu saat jadi menantu, Mila selalu nurut pada Ibunya tidak menutup kemungkinan sekarangpun masih sama.


Waktu berkunjung sudah habis, Amar kembali masuk kedalam hotel prodeo, penginapan gratis namun tak membuatnya nyaman malah membuatnya seperti di neraka.


Ini pengalaman pertama baginya tinggal di tempat yang tak pernah ada dalam benaknya tapi sekarang ia harus tinggal disini entah sampai kapan. 


Amar bingung bagaimana jika Mila tidak mau mencabut laporan atas dirinya, berapa tahun ia akan menjalani hukuman di sini.


Amar menarik nafas panjang, baru satu hari ia tinggal di sini namun terasa sudah satu bulan, waktu begitu lambat berjalan. 


Ada sedikit sesal dalam dirinya karena telah berniat menculik bayi Mila harusnya ia tak melakukan itu. 


"Andai aku tidak gegabah melakukan penculikan itu, harusnya aku bisa lebih pintar memikirkan strategi penculikan," ucapnya dalam hati.


Seakan tak ada penyesalan dalam diri Amar meski ia sudah berada dibalik jeruji besi saat ini. 


****


Ibu Amar keluar dari kantor polisi, ia berjalan menyusuri jalanan dengan terik matahari, ia bingung harus kemana.


Ia merasa malu pada Mila dan Tegar karena kelakuan Amar yang sudah ketahuan. 


Ingin ia kembali ke rumahnya di kampung dan meninggalkan Amar di dalam tahanan. 


Di dalam kebingungan ia terus berjalan tak terasa ia berjalan begitu jauh melewati trotoar.


Tenggorokan terasa kering begitupun dengan perutnya yang sudah mulai keroncongan. Ia memutuskan untuk membeli sebungkus nasi dan membawanya ke kontrakan, lebih baik makan dirumah saja bisa langsung beristirahat.


Urusan ke rumah Mila bisa ia pikirkan nanti setelah perut terisi, karena jika perut masih kosong otak pun tak bisa berpikir dengan baik. 

__ADS_1


Sampai di kontrakan ia langsung menyantap nasi bungkus yang sudah dibeli di warung pinggir jalan, semua ia lahap tanpa tersisa karena perut sudah begitu lapar. 


Selesai makan ia beristirahat dan tertidur, ia lupa jika Amar menyuruhnya untuk menemui Mila.


__ADS_2