
Part 47
"Tapi kenapa Mar! Emang ada yang salah jika kita sholat dan berdoa?" Tanya Syarif bingung.
"Bukan itu maksudku, aku merasa tak pantas meminta apalagi memohon ampunan padaNya, sudah terlalu banyak dosa yang aku perbuat selama ini."
"Justru karena kita banyak salah dan dosa makanya kita memohon ampunan dan mengakui semua kesalahan kita Mar," ujar Syarif memberi pengertian.
"Baiklah, semoga yang Kuasa masih mau mengampuni semua dosa-dosaku ya Rif."
"Entah kapan terakhir aku sholat, aku juga sudah lupa," sungut Amar.
"Yang terpenting kita sudah berani memulainya daripada terlambat," Syarif menasehati seolah-olah ia tak banyak dosa padahal mereka sama pendosa.
Syarif ditahan karena kasus pembunuhan, ia adalah pembunuh bayaran. Demi uang ia rela melakukan apa saja tapi sekarang ia sadar akan kesalahannya.
Amar dan Syarif sholat berjamaah serta berdoa dengan peralatan seadanya, ia menangis memohon ampunan dan berharap bisa bertemu dengan Ibunya lagi, ia juga berharap jika memungkinkan bisa bertemu dengan putra semata wayangnya Tegar, ia benar-benar malu pada dirinya sendiri.
Malu karena selama ini tidak bisa memberi contoh yang baik pada putra semata wayangnya, ia juga malu pada Ibunya karena selalu menyusahkannya hingga saat ini.
Entah apa yang akan ia katakan pada putranya nanti jika Tegar tahu kenapa Ayahnya bisa ditahan. Ia takut jika nanti Tegar akan membencinya.
Air Matanya jatuh, ia menangis sambil memohon ampunan pada sang Khalik.
****
Dirumah saat pulang sekolah Tegar langsung mencari Dani karena tadi saat ia hendak pergi ke sekolah ia melihat jika Papanya masih terlelap tidur maka ia tidak berani untuk membangunkannya, ia putuskan untuk bicara saat pulang sekolah nanti.
"Nek Ijah, Papa kemana? Kok Tegar cariin di dalam kamar gak ada?" Tanya Tegar pada Bik Ijah yang sedang istirahat di dapur.
"Papa tadi keluar sebentar, antar Bunda buat posyandu Aldo, pesan Bunda kalau Tegar sudah pulang, ganti baju lalu makan," Bik Ijah menyampaikan pesan Mila untuk Tegar jika ia sudah pulang.
__ADS_1
"Baik Nek, Tegar ke kamar dulu mau ganti baju nanti kesini lagi buat makan," sambil berjalan ia masuk ke dalam kamar dan melakukan apa yang sudah di katakan oleh Bi Ijah.
Selesai mengganti baju dan makan, Tegar menonton kartun kesukaannya sambil menunggu Papa, Bunda dan Aldo adik lelakinya yang sedang pergi.
Dengan sabar ia menunggu meski hatinya sudah merasa bosan karena menunggu.
"Nek, jam berapa sih Bunda pulang kok lama benar," teriak Tegar sambil menonton televisi.
"Tunggu aja palingan sebentar lagi juga pulang, kamu sabar sedikit, emang ada apa sih kok tumben nyqriin Papa kayaknya penting ya?" Bik Ijah jadi penasaran dengan tingkah laku Tegar.
"Iya, penting sekali Nek, Tegar mau ngomong sesuatu sama Papa, takutnya Bunda lupa sampein sama Papa makanya Tegar mau ngomong langsung Nek."
"Ouh … emang mau ngomng apasih kamu, bikin Nek Ijah penasaraan saja?" Tanya Ijah sambil menemani Tegar nonton televisi.
"Jadi gini Nek, Waktu itu Tegar kan tidur terus tiba-tiba dalam mimpi Tegar lihat Nenek Tegar sedang duduk sendirian kayak menunggu seseorang gitu, makanya Tegar mau ajak Bunda untuk menjenguk Nenek." Ujarnya panjang lebar.
"Hem, jadi ceritanya Tegar kangen sama Nenek."
"Tegar juga gak tau Nek yang pastinya Tegar mau ketemu sama Nenek itu aja, kira-kira dibolehin gak ya sama Papa," seru Tegar sambil tertunduk.
"Iya, Papa itu baik banget dan juga sayang sama Tegar."
"Iya, Bunda gak salah pilih suami seperti Papamu, sudah baik, penyayang, ganteng lagi."
"Ganteng kayak Tegar kan Nek," ujar Tegar dengan percaya diri membuat mereka berdua tertawa lepas.
"Assalamualaikum," Mila memberi salam saat sudah tiba dirumah sambil menggendong Aldo yang tertidur pulas.
"Waalaikumsalam," jawab Bik Ijah dan Tegar yang sedang menonton.
"Bunda … dari mana aja sih! Tegar tungguin dari tadi gak pulang-pulang, Tegar bosan nu ggu dirumah sendirian," gerutunya saat melihat Mila datang.
__ADS_1
"Sendirian … itu ya g ada di samping Tegar siapa?" Tanya Mila sambil tertawa.
"Jadi dari tadi Tegar gak lihat Nek Ijah," sungut Bik Ijah pura-pura marah dengan mulut yang maju.
"Up … maaf! Jangan marah Nek, kalau Nek Ijah marah nanti cepat tua," ledek Tegar sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Habis Nenek di bilang gak ada disini, padahal dari tadi Nenek sudah temani Tegar nonton biar gak sendirian," seru Nek Ijah sambil melipat kedua tangannya.
"Maaf, Maafin Tegar Nek," Tegar memelas agar Ijah mau memaafkannya.
"Iya Nek Ijah maafin tapi janji gak boleh gitu lagi."
"Oke deh, siap." Ujar Tegar mengangkat tangannya seperti orang hormat membuat Mila dan Ijah tertawa melihat kelakuannya.
"Bun, Papa mana kok dari tadi gak masuk-masuk sih?" Tegar bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah luar.
"Mungkin masih di depan, coba kamu lihat sana," titah Mila.
Tegar langsung berlarian keluar rumah untuk melihat Dani yang dari tadi belum masuk ke dalam rumah.
"Papa … papa," teriak Tegar karena saat berada diluar ia tak melihat sosok Dani disana.
"Papa …, Papa dimana?" Tegar terus berteriak sambil mengedarkan pandangannya kearah sekeliling rumah tapi tetap saja tidak menemukan Dani.
"Papa dimana sih," gerutunya sambil menghentakkan satu kaki ke lantai.
"Papa …."
"Apa! Papa disini Nak, kamu kenapa teriak-teriak dari tadi?" Tanya Dani saat mendengar teriakan Tegar yang mencarinya.
"Papa ngapain dari luar? Pantesan dari tadi Tegar gak lihat," seru Tegar saat melihat Dani dengan menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu kangen sama Papa, kayak sudah kama salah gak ketemu Papa, dicariin terus sampe teriak-teriak gitu," ujar Dani sambil merangkul Tegar dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Kangen sih sedikit," jawabnya dengan senyum Lebar.