BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 14


__ADS_3

"Lani anak …."


"Bun Ayo kita pulang," ucap Tegar dengan datang tiba-tiba saat aku masih berbincang dengan Ibu-ibu.


"Ayo," jawabku.


Belum sempat aku bilang dengan para Ibu-ibu tentang masalah Lani, lebih baik aku langsung pulang biar saja nanti mereka juga akan tahu siapa sebenarnya Lani, gumamku.


Aku pamit pulang dengan para Ibu-ibu yang sudah sibuk dengan anak-anak mereka.


Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan ucapan para ibu-ibu tadi, apa benar Lani mirip dengan Mas Amar? Tapi tidak mungkin Mas Amar menelantarkan anak kandungnya sendiri.


Tapi jika benar, Lani anak mereka apa yang harus aku lakukan.


Kutarik nafas yang terasa sesak di dada.


Aku akan segera mengungkap latar belakang Lani, aku akan bicara pelan-pelan pada Lani dimana panti tempat ia dititipkan waktu itu, karena itu bisa jadi petunjuk.


Sebelum pulang kerumah kami mampir dulu ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan anak-anak, Tegar dan Lani begitu senang saat tahu akan membeli cemilan buat mereka.


"Tegar, mau beli apa?" Tanya seseorang 6ang samar terdengar olehku.


"Ayah," jawab Tegar.


"Ayah ngapain sih disini?" Tanya Tegar pada Ayahnya, sengaja aku tak ikut bicara, aku hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.


Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Tegar jika bertemu dengan ayahnya, semoga Tegar bisa menjaga sikapnya.


"Kamu sama siapa datang kesini Nak? Mana Bunda?" Tanya Mas Amar pada tegar.


"Sama bunda dan Lani," jawab Tegas dengan ketus, nampak sekali jika dia tidak suka pada ayahnya.


"Lani siapa Nak?" 


"Ini namanya Lani ayah, teman Tegar dan sekarang dia tinggal bersama Tegar dan Bunda di rumah," ucap Tegar memberi penjelasan pada ayahnya.


"Hai om, aku Lani!" Sapa Lani sambil memberi salam pada Mas Amar.


"Kamu Lani! kamu siapa? Kenapa bisa tinggal dirumah bersama anakku?" Tanya Mas amar bertubi-tubi membuat Lani bingung.


"Dia masih keluarga jauh ku dari kampung dan sekarang dia ikut tinggal bersama," ucapku tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Keluarga dari kampung, anaknya siapa?".


"Kamu tidak perlu tau Mas, lagian bukan urusanmu, lebih baik kau urus saja diri kamu sendiri dan calon istri kamu,"ucapku dengan menatap tajam ke arah Mas Amar.


"Aku kan cuma tanya Mil, kenapa kamu jadi marah denganku, ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya mantan suamiku itu.


"Iya, kamu salah dan kamu tidak berhak bertanya yang bukan urusanmu paham."


"Sudahlah Mas lebih baik kita urus diri kita masin-masing, maaf permisi,"ucapku yang langsung membawa Lani dan Tegar keluar dari mini market.

__ADS_1


Walau kami belum sempat membeli apa-apa, lebih baik pergi dari sana malas berurusan mereka.


Sepertinya Mas Amar tidak mengenali Lani, buktinya dia begitu banyak tanya tentang Lani tadi,dugaan Ibu-ibu di sekolah tadi ternyata salah, jika Lani adalah anak Mas Amar pasti dia mengenali Lani bukan.


"Bun, kenapa gak jadi beli cemilannya? Kita kan tadi mau beli cemilan," gerutu Tegar dengan mulutnya yang sedikit maju satu senti.


"Bunda tidak suka karena Ayah tadi disana, kamu kan tahu ayah banyak bicara tadi," ucapku.


"Baiklah, kita pulang saja kalau begitu," ucapnya dengan perasaan kecewa karena kami tidak jadi membeli cemilan. 


****


Sesampai dirumah aku langsung kekamar, anak-anak aku minta bantuan bik Ijah untuk mengurus mereka.


Rasanya lelah sekali hari ini, ku rebahkan badan ini di atas tempat tidur sejenak untuk melepas lelah.


Kenapa begitu banyak masalah yang datang akhir-akhir ini. Membuat kepala ini terasa sakit. Belum selesai masalah hilangnya Ayu, sudah muncul masalah Lani.


Aku sedikit memijat kepala yang terasa sedikit pusing, rasanya sudah mau pecah saja kepala ini.


Ting!


Ting!


Suara notifikasi dari aplikasi hijau, kuraih gawai yang masih ada di dalam tas, kubuka pesan hijau, ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal.


[Sebaiknya kau jauhi Amar]


[Tinggalkan saja dia bukannya selama ini kau sudah dikhianati, kenapa masih ingin kembali]


[Ingat baik-baik pesan saya ini]


[Tinggalkan Amar, paham]


Aku kaget bukan kepalang membaca pesan yang entah siapa pengirimnya, apalagi ini! keluhku.


Aku mencoba menghubungi nomor pengirimnya ternyata nomor nya sudah tidak aktif.


Kuhela nafas panjang, rasanya begitu sesak. Begitu banyak hal yang membuat aku bingung.


Kenapa orang itu bilang kalau aku ingin kembali sama mantan suamiku, melihatnya saja aku sudah tidak sudi apalagi harus kembali.


****


Pagi menjelang tanpa sadar ternyata sejak pulang kemarin aku tak keluar kamar ternyata aku ketiduran hingga pagi. 


Selesai mengantar anak sekolah aku gegas ke Toko, lebih baik aku mengecek usahaku yang sudah beberapa minggu tak aku kunjungi.


Tiba di toko, kulihat sedikit ramai. Sambil mengecek laporan tak lupa juga aku mengecek stok barang ternyata masih aman.


Tak salah memang aku mempercayakannya pada semua karyawanku disini. Kami bekerja penuh rasa kekeluargaan. 

__ADS_1


Saat sedang melihat stok barang, nampak Mas Alvin dan istrinya datang ke Toko kami, aku hanya memperhatikan mereka dari kejauhan saja, takut jika nanti istrinya curiga.


Mereka tidak tahu jika aku pemilik toko, tak lama berselang Mas Amar dan calon istrinya pun datang seperti sudah direncanakan atau hanya kebetulan. Mereka bisa datang dengan bersamaan.


Aku hanya melihat mereka dari kejauhan tak berani untuk keluar, takut memperkeruh suasana. Biar saja mereka berbelanja.


***"


"Alvin! Kamu Alvin kan?" Tanya Amar sambil menunjuk Alvin. 


"Amar, kamu apa kabar? Kemana saja selama ini? Tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi?" Amar diberondong begitu banyak pertanyaan oleh Alvin. 


"Wanita ini siapa?" Tanya Alvin menunjuk ke arah Wanita yang berada di samping Amar.


"Lah kamu juga ini bawak siapa?" Amar balik bertanya.


"Ini istri saya," ucap Alvin.


"Memangnya Ayu kamu sudah pisah sama Ayu Vin, bukannya kalian pasangan serasi, kok bisa pisah?" Tanya Amar.


"Panjang ceritanya nanti aku ceritakan," jawan Alvin meyakinkan Amar.


"Kamu sendiri  bawa siapa ini?" Tanya Alvin. 


"Oh, ini calon istriku Vin," jawab Amar.


"Bukannya istri kamu itu Mila, waktu itu aku sempat bertemu Mila tapi dia tidak bilang jika sudah pisah sama kamu," ucap Alvin panjang lebar.


"Emang Ayu tidak cerita sama kamu Vin?" Tanya Amar.


"Tidak."


"Cerita apa Mar?" Tanya Alvin sambil mengernyitkan dahinya.


"Cerita kalau …."


"Maksud kamu cerita apa Mar?" Tanya Alvin dengan tegas.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku! Apa yang sebenarnya terjadi Mar?" Tanya Alvin bertubi-tubi.


"Coba kamu jelaskan padaku Mar, apa yang terjadi antara kalian!" 


"Sabar dulu Vin, kenapa kamu jadi emosian begini," ucap Amar yang ketakutan melihat Alvin yang mulai terbawa emosi.


"Lebih baik kita cari tempat untuk berbicara agar lebih santai," ajak Amar pada Alvin yang mulai tersulut emosi.


"Tidak perlu! kau katakan saja sekarang apa yang terjadi sebenarnya cepat," bentak Alvin.


"Iya akan aku ceritakan."


"Sebenarnya ….

__ADS_1


__ADS_2