BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 18


__ADS_3

"Lastri kamu lagi ngapain disini?" Tanya Amar.


Lastri kaget saat melihat Amar yang sudah ada di belakangnya, sorot matanya yang tajam nampak kebencian itu masih ada.


"Ngapain kamu disini Mas?"


"Tadi aku lagi nemenin Ibu belanja," jawab Amar gugup.


"Lastri." Sapa Ibu pada Lastri.


"Iya Bu," jawab Lastri ketus.


"Kamu dengan siapa disini, dimana anak kamu Las?" Tanya Ibu.


"Kenapa Ibu menanyakan anakku bukannya kalian tidak peduli padaku apalagi dengan anakku."


"Sudah Las, masalalu sebaiknya dilupakan, untuk apa disimpan, biarkan anak kamu tahu siapa ayahnya dan kami tak perlu mencari tahu," ucap Ibu membuat Lastri berpikir keras.


Saat Ibu dan Lastri berbincang tiba-tiba Tegar muncul.


"Nenek, Ayah lagi apa disini? Ini kan tempat permainan anak-anak?" Tanya Tegar yang datang bersama Mila serta Lani.


"Tegar, nenek mau belanja sekalian liat mainan buat kamu."


Melihat kedatangan Tegar dan Lani, Lastri nampak bengong sambil menutup mulutnya.


"Kamu Lani?" Tanya Lastri.


"Kok tante tahu kalau dia bernama Lani, tante kenal sama Lani," ucap Tegar dengan polos.


"Kamu benar Lani?" Tanya Lastri lagi sambil menangis dan memeluk Lani.


Membuat Amar dan Mila binggung, kenapa saat melihat Lani dia menangis dan memeluknya.


"Ibu kenapa peluk anak orang, ini Hani Bu," ucap seorang anak kecil yang memanggil Lastri.


Kami terperangah bukan kepalang saat melihat anak perempuan yang memanggil Lastri Ibu, wajahnya mirip sekali dengan Lani.


"Hani dan Lani, kenapa wajah kalian mirip sekali."


"Lastri bisa kau jelaskan ini Las?" Tanya Amar pada Lastri yang masih memeluk Lani.

__ADS_1


Lastri melepaskan pelukannya pada Lani dan menyeka air matanya walau masih terdengar isakannya.


"Lebih baik kita bicara dirumah saja, tidak enak bicara disini, malu di dengar orang," ucao Ibu menengahi.


"Baiklah," jawab Lastri.


Kami berangkat menuju rumah Ibu mertua, sepanjang jalan aku masih tak percaya jika Lani dan anak perempuan Lastri begitu mirip.


Banyak tanya dalam benakku, rasa tak percaya pun menghantui, seakan masalah di masa lalu tak henti-hentinya menghantui.


****


Kami sudah tiba dan berkumpul di rumah mantan Ibu mertuaku.


Semua masih mengunci mulut masing-masing hanya suara anak-anak yang terdengar sedang bercanda satu sama lain. Mereka akrab sekali.


"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya," ucap Lastri mengawali pembicaraan. 


"Sebenarnya Lani dan Hani mereka bersaudara, mereka saudara kembar tepatnya. Saat itu aku melahirakan anak kembar karena tak memiliki uang aku sengaja menitipkan satu diantara mereka ke panti asuhan. Kelak jika aku sudah punya uang akan aku ambil kembali anakku."


"Namun saat aku ingin mengembalikan ternyata dia sudah pergi dari panti asuhan itu aku berusaha mencarinya dan saat itu aku tahu jika Lani berada di orang yang tepat yaitu Mila. Sejak saat itu aku tak lagi mencarinya karena dia berada di dekat saudara laki-lakinya yang kelak akan selalu menjaganya."


"Aku sering memperhatikan Lani dari kejauhan, aku tahu jika Mila dan anak nya begitu menyayangi Lani," ujar Lastri panjang lebar. Membuat aku makin tak berdaya.


Apa yang harus lakukan? Kenapa di saat aku sudah begitu menyayangi Lani aku harus mengetahui kebenaran ini.


Anak yang tak berdosa korban kedua orangtua, sungguh malang nasibnya.


"Ini semua karena ulahmu Mas, gara-gara kamu ketiga anakmu tak satupun dari mereka merasakan kasih sayang seorang Ayah."


Seketika Mas Amar tertunduk lemas mendengar semua yang dikatakan Lastri, entahlah dia sungguh-sungguh menyesal atau pura-pura.


"Aku sungguh minta maaf kepada kalian, tolong maafkan lah Aku," lirih Amar sambil menarik rambut.


"Aku sudah berusaha memaafkan kalian walau luka yang kalian torehkan begitu dalam, ujarku.


Sesak terasa di dalam dada mengetahui semua ini, kenapa dia saat aku mencoba keluar dari masa laluku semua kembali lagi dan Lani yang sudah kuanggap adikku ku sendiri ternyata anak mantan suamiku. Dengan terpaksa akan ku kembalikan Lani pada Lastri.


Air mata luruh tanpa kompromi, dengan suara serak aku mengatakan jika Lani akan aku kembalikan karena aku tidak sanggup untuk merawatnya lagi.


Ku tarik nafas yang tersengal-sengal sambil menghapus jejak air mata.

__ADS_1


"Lastri ini Lani aku kembalikan pada kalian, tolong rawat dia baik-baik,ujarku terisak sambil menarik tangan Lani dan memberikannya pada Lastri.


"Lani, dia adalah ibu kandung Lani yang selama ini Lani cari dan sekarang Lani sudah menemukannya, ucapku tanpa bisa menahan tangis.


"Sekarang Lani boleh ikut mereka, bukannya tante sudah memenuhi janji tante untuk menemukan kedua orang tua Lani kan."


Lani hanya menganggukan kepala tanda mengerti semua yang aku katakan, dengan polos dia langsung memeluk Lastri dan saudara kembarnya.


Nampak kebahagian di wajah Lani, itu sudah cukup membuatku sedikit lega. Biarkan semuanya selesai sampai disini.


Semoga kalian berbahagia dan aku akan menemukan kebahagiaan.


"Maaf, aku permisi dan kalian bisa selesaikan masalah kalian karena tugasku disini sudah selesai," aku pamit pulang.


"Ayo Tegar kita pulang," ajak ku pada Tegar yang masih bingung dengan kejadian yang ia lihat.


"Lani ayo kita pulang," Tegar memanggil Lani untuk mengajaknya pulang.


"Tidak Tegar, sekarang ini adalah Ibuku dan aku akan ikut Ibu sekarang, da … da Tegar," ucap Lani dengan polos.


"Bun, kenapa Lani tidak ikut kita pulang, lalu Tegar dengan siapa nanti mainnya," lirih anak semata wayangku.


"Lani sudah menemukan Ibu nya dan kalian itu bersaudara karena ayah Tegar juga ayah Lani dan Hani," ucap ku memberi penjelasan. Aku harap mereka semua mengerti.


"Apa! Bunda bilang apa tadi, ayah Tegar, Lani dan Hani sama."


"Iya sayang."


"Kenapa ayah kami sama Bunda?"


"Kenapa Bun …


Bagaimana aku menjelaskannya lagi ini, sebaiknya Mas Amar yang harus menjelaskan semua pertanyaan anak lelakinya.


"Mas, coba jelaskan semuanya pada Tegar," ujarku.


"Kenapa harus aku Mil, aku harus bilang apa …."


"Terserah Mas, berikanlah jawaban yang bijak."


"Nak, kalian semua adalah anak ayah, kalian semua bersaudara tapi beda ibu."

__ADS_1


"Tapi kenapa Yah?" 


__ADS_2