BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 50


__ADS_3

Part 50


Ternyata ruangan yang mereka datangi sudah kosong, hanya ada petugas kebersihan saja, Dani bingung kenapa tidak ada penghuninya padahal jelas kemarin ia melihat Ibunya Amar ada disana. 


"Maaf Mbak mau tanya dimana Ibu-ibu yang dirawat disini kemarin ya?" Tanya Dani pada seorang perempuan yang bertugas sedang merapikan ruangan.


"Hmm, tadi pagi sudah dipindahkan ke ruang sebelah Pak, silahkan Bapak cek saja di sal sebelah sana," jelas petugas itu memberi arahan pada Dani. 


"Terimakasih Mbak,"ucap Dani dan langsung pergi menuju tempat yang di tunjuk olehnya. 


"Kenapa bisa dipindah-pindah begitu sih," gerutu Mila sambil berjalan dan menggandeng Tegar, Tegar hanya diam mengikuti kedua orangtuanya. 


"Kita lihat saja disana,ayo kita kesana,"ajak Dani. 


Saat mereka hendak menuju sal dimana Nenek Tegar dirawat tak sengaja Tegar melihat seseorang yang ia kenal namun ia lupa siapa nama orang itu, sepanjang perjalanan ia hanya bengong menatap tajam orang itu. 


Dengan berpikir keras Tegar untuk berusaha mengingatnya namun belum juga mampu untuk mengingatnya, ingin bertanya pada sang Ibu pun rasanya percuma karena orang yang ia lihat tapi sudah menghilang dari pandangan. 


Tegar terus berjalan mengiringi Ibunya tapi pikirannya masih pada seseorang yang ia lihat tadi, ia merasa tidak asing dengan orang yang ia lihat tapi siapa dan dimana ia pernah melihatnya. 


"Kamu mikirin apa Nak?" Tanya Mila pada Tegar yang berjalan sambil bengong.


"Hm, itu Bun, tadi Tegar lihat seorang anak perempuan berjalan di seberang sana, ia tersenyum denganku tapi aku lupa siapa dia!" Seru Tegar.


"Mungkin teman satu sekolah," ucap Mila.


"Entahlah Bun, ayo Bun kita lihat Nenek," ajak Tegar sambil berjalan menyusul Papanya.


Kreit … pintu Bangsal terbuka dan benar saja Ibunya Amar sudah berada di ruang yang ditunjuk oleh perawat, kini keadaannya sudah sedikit ada perubahan, jarinya sudah mulai bergerak meski pelan. 


Melihat kondisi mantan Ibu mertuanya yang terbaring lemah, Mila seakan merasa bersalah karena terakhir kali mereka bertemu keduanya bertengkar, tanpa terasa air mata Mila jatuh membasahi pipinya. 


Tegar Pun langsung memeluk sang Nenek, ia sandarkan kepalanya pada dada sang Nenek, mendengar isakan Tegar sang Nenek menggerakkan jarinya  dan membuka mata dengan perlahan membuat mereka semua terkejut  melihat Pemandangan itu dan gegas memanggil suster jaga untuk segera melihat kondisinya. 


"Kalian tenang dulu, kami akan memanggil dokter untuk segera memeriksa pasien, Kalian silahkan tunggu saja di luar sebentar," ujar Suster.


"Baik Sus."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dokter pun keluar setelah selesai memeriksa kondisi wanita tua rentah yang masih terbaring lemah. 


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Mila dengan gugup. 


"Kalian keluarganya?" Tanya sang Dokter.


"Iya Dok, kami keluarganya, bagaimana keadaannya Dok?" Mata Mila membulat saat bertanya pada dokter.


"Iya, saat ini keadaannya masih lemah dan masih butuh istirahat, apalagi Ibu kalian habis sadar dari koma yang cukup lama. Jadi masih butuh perawatan," ujar sang dokter memberikan penjelasan. 


Mendengarkan penjelasan dari Dokter Mila dan Dani saling menatap penuh rasa cemas. 


"Baik Dok, terima kasih."


Dokter Pun pergi setelah selesai memeriksa keadaan Ibunya Amar. 


"Bagaimana ini Mas? Siapa yang akan merawat dan menjaga Ibu?" Tanya Mila penuh selidik pada suaminya. 


"Kita yang akan merawatnya hingga sembuh, jika bukan kita siapa lagi," ucap Amar dengan sedikit gusar.


"Mas yakin jika kita yang akan yang akan merawatnya?" 


"Bagaimana bisa kita menelantarkannya begitu saja dalam kondisinya yang masih begitu lemah, kita sudah susah payah menemukannya lalu sekarang kita akan menelantarkannya begitu saja!" 


"Lupakan sejenak persoalan masa lalu yang mungkin masih menyakitkan hati tapi ini rasa kemanusian."


Mendengar ucapan Dani membuat Mila begitu bahagia dan bangga memiliki suami yang begitu perhatian dan juga pengertian. Ia tak menyangka jika Dani suaminya akan bersikap sangat bijaksana. 


"Kamu mau kan merawat mantan ibu mertuamu?" Tanya Dani.


"Iya Mas, Aku mau merawat Ibu jika Mas mengizinkannya."


"Ya sudah sekarang lebih baik Mas antar kalian pulang dan besok kita akan kembali kesini lagi."


Mila hanya menganggukan kepalanya tanda setuju, begitupun dengan Tegar. Setelah bertemu dengan sang Nenek membuatnya sedikit lebih baik. 


Dalam perjalanan pulang Mila dan Dani hanya diam tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Di dalam mobil Mila dan Dani sama-sama berselancar dalam pikiran masing-masing. 


"Bun, kita makan dulu yuk? Tegar lapar Bun," ucap Tegar mencairkan suasana yang hening. 


"Kamu lapar Nak? Bukannya tadi sudah makan?" Tanya Mila karen ia tahu jika itu hanya alasan Tegar saja ingin membuat suasana lebih nyaman. 


"Iya Bun, ngapain juga Tegar bohong, yuk kita makan bakso dulu yang ada di pinggir jalan aja kan enak tu," ajak Tegar. 


"Baik Bos, supir siap mengantarkan ke tempat tujuan," seru Dani membuat Mila dan Tegar tertawa. 


Saat di dalam kedai bakso mereka memesan tiga mangkuk bakso dan tiga es kelapa muda. Ketika mereka sedang menikmati bakso tiba-tiba Mila mendengar seseorang yang juga memesan bakso. 


Mata Mila membulat, ia juga menghentikan Makan dan meletakkan sendok serta garpu yang tadi masih berada di tangannya. 


Seketika Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah sumber suara yang ia dengar meski Dani dan Tegar tidak melihat kelakuan Mila yang begitu terkejut mendengar suara yang tak asing baginya. 


Karena ia sangat kenal betul dengan suara itu, suara yang selama ini dekat dengannya. 


"Bunda kenapa seperti orang kaget gitu?" Tanya Tegar saat melihat tingkah aneh sang Ibu. 


"Hmm. Nggak Bunda hanya ingin ke toilet sebentar, kamu makan aja duluan sama Papa," titah Mila sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet. 


Saat ia berjalan menuju toilet tak lupa ia edarkan pandangannya pada pengunjung kedai bakso karena ia yakin dengan orang yang memiliki suara itu. 


Namun hingga sampai di toiletpun tak ada seorangpun yang memiliki suara yang ia dengar tadi, apa itu hanya halusinasinya saja karena ia merindukan sosok yang memiliki suara yang ia dengar barusan. 


"Kok nggak ada sih, padahal tapi jelas-jelas aku dengar suara itu tapi kenapa tiba-tiba suaranya hilang," gerutu Mila sambil bercermin di toilet. 


"Masak iya sih aku salah dengar tapi gak mungkin aku salah," Mila masih bergumam. 


"Ya sudahlah mungkin emang aku salah dengar."


Mila keluar dari toilet kedai bakso, ia tak berniat untuk melanjutkan makan karena selera makannya sudah hilang. Apalagi ia melihat jika Tegar dansuaminya sudah selesai menikmati bakso. 


"Pulang yuk! Kan udah abis tu bakso kalian, Bunda mau ketemu adek, takutnya rewel karena kelamaan di tinggal," ujar Mila mengalihkan karena takut jika anak dan suaminya curiga jika ia tak menghabiskan makanan karena bakso adalah salah satu makanan kesukaannya. 


"Oke deh," jawab Tegar. 

__ADS_1


Ketika hendak masuk ke dalam mobil benar saja Mila melihat sosok yang ia cari tadi ternyata ia benar jika orang yang ia dengar tadi.


__ADS_2