BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 31


__ADS_3

"Ya sudah kamu istirahat saja dulu, nanti kita bicarakan lagi, Bunda masih banyak kerjaan," ucap Mila mengalihkan pembicaraan.


"Baik Bun."


Sengaja Mila tak menjawab pertanyaan yang diajukan putranya, Mila bingung harus bilang apa, lebih baik jika ia alihkan pembicaraan ini.


****


Huek … Huek


Pagi-pagi Mila merasa mual ingin muntah, ia berlari ke kamar mandi, Dani bingung mendengar Mila muntah-muntah, ia pun ikut berlari mengikuti istrinya.


Huek … Huek


"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit? Kita ke dokter ya sekarang."


Dani khawatir melihat istrinya tiba-tiba muntah, takut terjadi apa-apa terhadap istrinya, ia lantas mengajak Mila untuk memeriksakan diri ke dokter.


"Gak tau Mas, kenapa tiba-tiba aku merasa mual, rasanya gak enak gitu," ucap Mila saat keluar dari kamar mandi.


"Ya sudah kita ke dokter saja yuk," ajak Dani.


"Tidak perlu Mas, minum obat juga sembuh, mending kamu siap-siap aja, kan mau kerja, biar aku siapkan sarapan dulu."


Mila berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan suaminya meski ia merasa sedang tidak enak badan. Namun diikuti oleh suaminya dari belakang.


"Tapi kamu kan sedang tidak enak badan Sayang, biar aku temenin ke dokter ya."


"Sudah Mas, aku bilang tidak apa-apa cuma masuk angin saja, nanti habis kerokan minum obat tiduran bentar, sembuh kok."


"Ya sudah kalau begitu, Mas siap-siap dulu."


Dani kembali ke kamar untuk bersiap-siap pergi bekerja.


Selesai menikmati sarapan buatan Mila, Dani berangkat kerja sekalian ia mengantarkan Tegar ke sekolah.


Dalam perjalanan ke sekolah Tegar bercerita kegiatannya kemarin jalan-jalan dengan ayahnya. Dani hanya mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Tegar.


"Pa, kemarin Papa tau gak kalau Tegar mainan hujan, enak banget Pa," ujar Tegar dengan riang.


"Oh ya … kok Papa gak di ajak sih maianan hujannya."


"Kemarin waktu Tegar Pulang jalan-jalan sama Ayah kami kehujanan, nanti kalau turun hujan kita mandi hujan bareng ya Pa."


"Oke deh jagoan Papa."


Selesai mengantarkan Tegar kesekolah , Dani langsung tancap gas menuju tempat kerjanya, hari ini ia sedikit terlambat karena Mila muntah-muntah.

__ADS_1


Dani masih kepikiran dengan sang istri yang sedang tidak enak badan, ia takut terjadi apa-apa sama istri tercintanya.


Waktu istirahat tiba sambil menunggu  makan siang datang Dani mencoba untuk menghubungi istrinya, apakah istrinya sudah baikan atau masih sakit.


Namun nomor Mila sedang tidak aktif, mungkin sengaja dimatikan pikirnya.


Dani melanjutkan istirahat siangnya.


****


Di kamar Mila masih tiduran, seharian ia merasa badannya lemas karena muntah-muntah. 


Mila merasa aneh kenapa tiba-tiba ia tidak enak badan bukannya kemarin ia baik-baik  saja.


Nafsu makan pun hilang, maunya tiduran aja di kamar hingga Tegar pulang sekolah pun tak dihiraukan karena ia sibuk mengurung diri di kamar.


Mila ingin sekali makan yang asem, menurutnya enak kalau makan yang asem-asem, tapi kemana ia mencari buah yang asem saat ini sedangkan suaminya belum pulang kerja.


Mila menahan keinginannya itu hingga suaminya pulang kerja, Mila tidak ingin mengganggu suaminya.


Selama Dani belum pulang kerja Mila tiduran karena badannya sangat lemas sekali.


Senja mulai menghampiri namun Mila masih terlelap hingga suaminya kembali dari aktivitasnya.


Sampai di rumah Dani langsung menuju kamar untuk mencari istrinya, Dani merasa khawatir karena sejak siang ia belum mendengar suara istri tercinta.


"Mas, kamu kapan pulang? Kok gak banguni aku sih," ucap Mila sambil bangkit dari tempat tidur.


"Mas baru saja pulang, maaf aku ganggu istirahat kamu ya! Yaudah kamu istirahat saja, Mas mau mandi dulu."


Dani berjalan menuju  kamar mandi untuk membersihkan diri dari aktivitas seharian.


Mila berusaha bangit dari tempat tidur ingin membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.


Saat berjalan ke arah dapur tiba-tiba penglihatan Mila gelap, ia sempoyongan.


Bruk!


Tar!


Mila jatuh pingsan dan cangkirnya pun ikut jatuh pecah berhamburan. Dani yang baru selesai mandi terkejut mendengar suara benda terjatuh.


Ia berlari untuk melihat keluar ternyata Mila istrinya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan tumpahan bubuk kopi, beruntung kopi yang ia buat belum dituang air panas, jika tidak mungkin sekujur tubuhnya sudah melepuh.


"Sayang, kamu kenapa?"


Dani mencoba membangunkan istrinya, ia menggoyang-goyangkan tubuh Mila namun tak juga direspon. 

__ADS_1


Dani segera menggendong Mila masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat, Dani panik karena Mila tiba-tiba pingsan.


Sepanjang perjalanan ia mencoba menghubungi Ibu dan Ayahnya untuk segera datang ke rumah sakit karena Mila tiba-tiba jatuh pingsan.


Mobil Pun melaju dengan cepat membelah jalan raya, Dani semakin panik melihat keadaan istrinya.


Sesampai di rumah sakit Dani memarkirkan mobilnya dan menggendong Mila ke ruang IGD.


"Tolong … tolong istri saya Sus," teriak Dani pada suster yang berjaga.


Suster Pun dengan sigap membantu Dani.


"Bapak tenang dulu, kami akan mengurus istri Bapak, sebaiknya Bapak urus administrasinya sekarang biar istri Bapak ditangani oleh Dokter," ucap salah satu Suster.


Dani berjalan ke bagian administrasi untuk mengurus semua administrasinya dan menunggu kedatangan kedua orang tuanya, pikiran melayang kemana-mana.


Dani berjalan mondar mandir menunggu kabar dari Dokter yang sedang berada di ruang IGD bersama istrinya.


Ia mengusap wajah dan menghela nafas panjang.


Hidupnya seakan dipenuhi rasa takut, ia takut terjadi apa-apa dengan sang istri, takut kehilangan Mila, namun ia tetap mencoba untuk tenang meski ia tidak bisa.


Kedua orang tua Dani datang membawa Tegar dan bik Ijah ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Mila?" Tanya Bu Hasan pada putranya.


"Kenapa bisa pingsan Dan?" Pak Hasan Pun bertanya.


"Dani tidak tahu Bu, Yah."


"Tadi Dani sedang berada dikamar dan Mila di dapur, sepertinya ingin membuat kopi namun tiba-tiba ia jatuh pingsan."


"Tadi Pagi Mila muntah-muntah, Dani sudah mau ajak ke Dokter namun Mila tidak mau, katanya istirahat dan minum obat sudah cukup," ujar Dani menceritakan pada kedua orang tuanya.


"Ya sudah kita tunggu saja apa kata dokter nanti," ucap Ibunya mencoba menenangkan sang putra.


"Iya Bu, Dani takut terjadi sesuatu sama istri Dani Bu." Dani menangis di pangkuan Ibunya seperti anak kecil.


"Papa, Bunda kenapa Pa? Bunda sakit apa Pa?" Tiba-tiba Tegar menghampiri Dani bertanya keadaan ibunya.


"Papa juga tidak tahu Nak, Tegar yang sabar ya! Tegar doakan Bunda cepat sembuh," ucap Dani pada anak sambungnya.


Dani bingung, ia panik akan keadaan istrinya namun di satu sisi ia harus tenang di depan anak sambungnya. Karena tidak mungkin ia menampakan kesedihannya di depan Tegar.


Dokter pun keluar dari ruangan, Dani dan keluarganya segera menghampiri sang Dokter untuk bertanya keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Dani.

__ADS_1


"Sakit apa istri saya? Kenapa tadi ia bisa tiba-tiba pingsan Dok?" 


__ADS_2