
"Apa susahnya kamu berikan Tegar sama Amar, kan dia juga Ayahnya, kamu itu jangan egois kenapa!"
"Mas Amar memang Ayahnya tapi dia tidak berhak untuk mengasuh Tegar, kenapa sekarang kalian mau merebut anakku."
"Apa Ibu lupa kalau selama ini anak yang sekarang Ibu belain ini pernah meninggalkan Ibu? Apa Ibu lupa dimana dia saat aku harus berjuang sendirian mengurus cucu Ibu."
Mila berteriak pada mantan mertuanya yang egois, tak ada lagi rasa hormatnya pada sang mantan Ibu mertua.
Ia merasa mantan Ibu mertuanya tak sebaik yang ia kira, dulu saat putranya pergi meninggalkan mereka, ia begitu baik tapi sekarang semuanya berbalik.
"Kenapa kalian mengusik kebahagian Aku dan Tegar, tidak cukup kah kalian menyakitiku," Mila terus saja berteriak pada kedua orang tak tahu diri itu.
****
Di belakang Bik Ijah dan Mang Leman ikut merasa ketakutan, mereka bingung harus melakukan apa, ingin membantu majikannya tapi takut.
"Bagaimana ini Mang? Kasihan sama Non Mila, mana lagi hamil lagi, kok tega sih mereka sama Non Mila,"
"Emang mereka itu siapa sih Jah, kok mau ambil Tegar dari Ibu?" Tanya Mang Leman yang juga kebingungan.
"Mang Leman kan orang baru jadi tidak tahu masa lalu yang pernah dihadapi Non, Bibi kasihan sama Non Mila."
"Laki-laki itu mantan suaminya dan Itu mantan mertuanya Non Mila, Mang."
"Maksudnya Ibu pernah menikah sebelum menikah sama Bapak?" Tanya Mang Leman yang ingin tahu kebenarannya.
Bik Ijah hanya mengangguk kan kepalanya, ia masih sibuk memperhatikan Mila dari kejauhan, takut jika terjadi apa-apa pada majikannya. Bik Ijah juga takut jika Tegar akan terbangun mendengar keributan.
Bik Ijah gegas menghubungi Dani, ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada Mila.
Panggilan tersambung tapi tak diangkat oleh Dani, Bik Ijah tahu jika sekarang masih jam kerja jadi mana mungkin telponnya di angkat.
Bik Ijah dan Mang Leman masih terus memperhatikan perdebatan mereka di ruang tamu, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini.
Di dalam kamar, Tegar masih tertidur pulas, meski ia mendengar suara berisik namun ia enggan untuk bangun.
Sesekali Bik Ijah melihat Tegar di dalam kamar, takut ia terbangun dan melihat pertengkaran kedua orang tuanya, bik ijah juga takut jika Tegar bangun ia akan dibawa oleh Ayahnya yang tidak punya perasaan itu.
***
"Saya tidak mau tahu, saat ini juga saya akan membawa Tegar," ucap Amar dengan lantang.
"Saya sebagai Ayahnya juga punya hak atas anak itu dan kamu jangan coba menghalangiku Mila."
"Kamu harus memberikan Tegar pada kami," mantan Ibu mertua Mila pun ikut bersuara.
"Tidak, saya tidak akan memberikan anak saya pada kalian, camkan itu."
Mila tetap bersikeras mempertahankan Tegar
__ADS_1
Ia tidak akan memberikan anak yang sudah susah payah ia besarkan.
"Lebih baik sekarang kalian pergi dari rumah saya sekarang juga," titah Mila.
"Kami tidak akan pergi dari sini sebelum membawa Tegar, kemana dia katakan."
Amar melangkahkan kakinya untuk mencari Tegar yang masih tertidur di kamarnya. Ia terus membuka pintu kamar yang ada di rumah Mila, meski Mila sudah berusaha melarangnya namun ia seakan tak mendengar.
Amar terus berteriak memanggil nama anaknya membuat Tegar terbangun dari tidurnya.
Kret!
Pintu kamar tergar terbuka dan Amar langsung menggendong Tegar yang baru saja membuka matanya.
"Ayah, kenapa Ayah menggendong Tegar, Ayah mau membawa Tegar kemana," ucap Tegar yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Lepas kan Tegar Ayah."
Amar menurunkan Tegar dari gendongannya. Tegar pun berdiri, ia merasa bingung kenapa tiba-tiba Ayahnya ada di dalam kamar dan menggendongnya.
"Nenek," ucap Tegar saat melihat ada sang nenek, mereka berpelukan untuk melepaskan rindu.
"Nenek kapan datang?"
"Baru saja, Nenek kesini mau ajak Tegar tinggal sama Ayah, Tegar mau kan?"
"Tapi … Tegar tidak mau ikut Nek, Tegar mau ikut Bunda, sebentar lagi Bunda mau punya dedek bayi dan Tegar harus jagain Bunda."
"Kalau adik kamu sudah lahir, kamu itu gak bakal di sayang lagi, Bunda akan sayang sama adik baru saja," ucap Wanita paruh bayah.
"Tidak, Tegar tidak mau ikut Ayah, Tegar akan tinggal di sini saja," lirihnya.
"Kamu ini jadi anak harus nurut sama orang tua, pokoknya Ayah tidak mau tahu kamu harus ikut Ayah sama Nenek sekarang."
"Tidak Mau …."
Tegar berteriak dan memeluk ibunya dengan erat.
Amar terus menarik tangan Tegar yang memeluk Mila dengan erat dan terus berusaha melepaskan nya dari pelukan Mila.
Mila pun tetap berusaha untuk mempertahankan anaknya walau bagaimanapun ia tidak rela jika Tegar direbut oleh Amar mantan suaminya.
"Sudah Aku bilang, kalian pergi dari rumah ini," usir Mila pada Amar.
"Kamu tidak berhak atas anakku Mas, tidak sedikitpun," ucap Mila sambil mengangkat tangannya.
"Aku ini Ayahnya Mil! Kenapa.aku tidak ada atas anakku sendiri?"
"Hak kamu bilang Mas! kemana saja kamu selama ini Mas? Kenapa baru sekarang kamu bilang soal hak."
__ADS_1
"Kemana hakku dan anakku dulu yang kau telantarkan, dan sekarang kamu tanya soal hak," Mila berteriak pada Amar dan menatapnya dengan tatapan penuh amarah, keringatnya bercucuran begitu pula dengan air matanya.
Mila tetap berusaha untuk tenang meski emosinya telah berada di ubun-ubun, Amar seakan membuka luka lama yang telah Mila kubur dalam-dalam.
Amar tetap tidak peduli dengan ucapan Mila, ia tetap bersikeras merebut Tegar dengan paksa.
Amar menyeret tangan Tegar dan menggendongnya.
"Lepas kan Tegar Ayah, lepaskan," teriak Tegar dengan menggoyangkan badannya agar bisa lepas dari gendongan sang Ayah.
"Kenapa kalian memaksa Tegar, kenapa?"
Tegar terus saja berteriak namun Amar tak peduli sedikitpun.
"Lepaskan Tegar, Mas!"
Bik Ijah dan mang Leman hanya bisa menyaksikan peristiwa itu tanpa bisa berbuat apapun. Bik Ijah hanya bisa berdoa dalam hati, ia tahu kesedihan yang sedang dirasakan Mila.
Amar berjalan hendak keluar rumah Mila sambil membawa Tegar dalam gendongannya.
Mila terus berteriak agar mereka tak membawa Tegar.
Tiba-tiba Dani datang melihat semua yang terjadi di rumahnya,Amar masih berdiri hendak keluar namun ia terkejut melihat kedatangan Dani.
"Berani sekali kamu datang kerumah saya dan membawa anak saya hah …." Serga Dabi pada Amar yang sontak menurunkan Tegar.
Tegar langsung berlari memeluk Dani sambil menangis.
"Saya datang hanya ingin mengambil hak saya saja Pak," ucap Amar pada Dani.
"Hak kamu bilang!"
"Saya adalah Ayahnya kamu tau itu kan."
"Saya tahu kamu adalah Ayahnya."
"Tapi kamu tidak berhak atas anak kamu."
"Kenapa tidak, kamu yang tidak ada hak atas anak itu, kamu hanya Ayah sambungnya saja, tidak usah ikut campur dengan urusan kami," ucap Ibu Amar pada Dani.
"Jika kalian mau bertanya soal hak lebih baik kita selesaikan semua ini di pengadilan saja, dan silahkan kalian pergi dari rumah saya, jika kalian terus memaksa saya akan seret kalian ke kantor polisi bagaimana?"
"Kamu …."
"Kenapa? Kalian tinggal pilih saja yang mana kalian suka."
Amar tampak ketakutan akan diseret ke kantor polisi, jika dia masuk penjara maka semua rencananya akan gagal, tanpa pikir panjang ia langsung mengajak Ibunya meninggalkan rumah Mila.
"Tunggu saja pembalasanku," gumamnya.
__ADS_1