
Sejak pergi dari rumah, Dani tidak melirik gawainya sekalipun, ia sibuk dalam pikirannya sendiri, meski sudah berbicara pada Ibunya belum cukup membuat hatinya lega.
Dani takut kehadiran mantan suami Mila akan membuat rumah tangganya berantakan, ia takut jika nanti Mila akan berpaling padanya.
Dani berusaha tetap tenang agar Mila tak menaruh curiga jika hatinya sedang kacau.
Sampai dirumah ia langsung menemui sang istri yang berada di kamar. Ia tau jika Mila lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar mereka.
Kret!
Dani membuka pintu kamar, namun tak ia dapati istrinya disana, kemana istrinya pergi jika tidak ada di kamar! bukannya tadi ia menyuruh Mila untuk tetap dirumah saja saat ia pergi kerumah Ibunya.
Dani berjalan keluar kamar mencari istrinya, ia panik, karena tak mendapati istrinya di rumah. Tiap ruangan ia mencari namun tak juga menemukan istrinya.
Lantas ia berjalan ke arah belakang, ternyata Mila ada disana sedang mengurus tanamannya bersama Mang Leman. Dani merasa lega saat melihat istrinya ada dirumah.
Karena pikirannya sedang kacau balau saat ini jadi ia mudah panik.
"Kamu lagi ngapain Sayang? Mas cariin di kamar gak ada?" Tanya Dani pada Mila yang sedang bermain dengan tanah dan pupuk miliknya.
"Eh Mas, udah pulang! Kok lama sih Mas, katanya tadi bentar."
"Iya, Mas kelamaan ya, maaf ya."
"Ya udah, sini Mas bantuin kamu boleh kan?"
"Boleh dong, sini Mas cangkul disana karena bunganya mau dipindah ke tanah saja gak usah di dalam pot," titah Mila pada suaminya yang baru saja pulang.
"Mamang bisa istirahat sekarang, biar kerjaan Mamang di lanjutin sama Dani aja," ujar Mila pada Mang Leman yang sudah lelah membantunya mencangkul.
"Baik, Bu, saya permisi istirahat dulu."
Dani membantu istrinya memindahkan semua tanaman, mereka nampak senang melakukannya berdua, meski keduanya sedang gunda dengan perasaan masing-masing namun bisa mereka tutupi.
****
Tegar begitu menikmati liburan hari ini bersama Ayahnya, ia senang bisa bermain ditemani sang Ayah, sudah lama ia menginginkan hari ini namun sejak kecil Ayahnya sudah tak peduli padanya hingga sekarang ia sudah berumur tujuh tahun.
Meski sekarang ia sudah memiliki Ayah sambung yang di panggilnya Papa tetap saja berbeda, ia tahu Papanya sangat menyayangi dirinya, tapi ia juga ingin diperlakukan oleh Ayah kandungnya sendiri.
Selesai bermain mereka duduk dibawah pohon beringin di tepi taman, sambil menikmati makan siang yang sudah dibeli oleh Amar.
"Gimana kamu suka liburannya Nak?" Tanya Amar pada putranya yang sedang menikmati makan siangnya.
Tegar hanya menjawab dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Nanti kalau Ayah libur lagi kita main lagi kesini kamu mau kan?"
"Iya Ayah, Tegar mau kok."
"Lain kali kita ajak Bunda gimana? Kita Jalan bertiga gitu,"
"Ajak Bunda!"
__ADS_1
"Iya kita jalan bertiga, Ayah Tegar dan Bunda, gimana?"
"Tapi …."
"Tapi kenapa, kita kan keluaraga, emang gak boleh?"
"Boleh saja Yah, tapi … apa Bunda mau Yah?"
"Kamu bujuk dong Bunda biar mau ikut sama kita."
"Hmm … Iya deh nanti Tegar coba ngomong dulu sama Bunda." Tegar sedikit bingung apa mungkin Bundanya mau ikut jalan-jalan bertiga.
Tegar tahu betul Bundanya seperti apa, karena sejak kecil ia tahu penderitaan yang dialami Bundanya.
Tapi Tegar juga tidak ingin mengecewakan Ayahnya karena ia sudah lama sekali bisa bersama Ayah kandungnya.
Amar mencoba meracuni pikiran Tegar karena hanya dengan lewat Tegar ia bisa mendekati Mila kembali.
"Kalau kamu sudah selesai makannya kita pulang yuk, kayaknya mau turun hujan, lihat ikannya sudah menghitam," ucap Amar pada Tegar sambil melihat ke arah langit yang mulai gelap.
"Iya Yah, ayo kita pulang."
"Nanti kita kehujanan lagi, makanya Ayah nanti beli mobil biar gak kehujanan," ucapnya polos.
"Iy, nanti kalu uang Ayah sudah ada, Ayah beli mobil."
"Hore … Ayah mau beli mobil."
Mereka turun dari sepeda motor dan berteduh sejenak di depan warung di pinggir jalan, hujan semakin lebat membuat mereka tak bisa pulang.
Selama menunggu hujan reda Tegar asyik bermain air hujan dengan riang, ia merasa begitu senang bisa mandi hujan.
****
Dirumah, Mila sedang kebingungan karena Tegar belum kembali, apalagi melihat cuaca hujan dengan lebat membuat Mila makin khawatir.
Mila takut nanti Tegar sakit karena hujan-hujanan, ia bingung mau menghubungi siapa karna Tegar tidak membawa telepon, ingin menghubungi mantan suaminya tapi ia tidak ada nomornya.
Hatinya makin bingung, melihat kearah jendela, hujan bukannya reda namun semakin lebat.
Dani yang melihat istrinya berdiri di tepi jendela menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Kamu kenapa? Mikirin apa sih disini?"
"Tegar, Mas! Belum pulang mana hujan lebat lagi, nanti kalau dia sakit gimana?" Ucap Mila khawatir.
"Sudah, kamu tidak usah khawatir, kan Tegar sama ayahnya, pasti aman, kamu tidak boleh berlebihan begitu, kamu harus percaya sama Ayahnya Tegar."
"Tapi Mas."
"Sudah, daripada kamu bingung, mending kita kekamar aja yuk, mumpung lagi sepi dan hujan," rayu Dani pada istrinya.
Mila Pun tersenyum melihat kelakuan suaminya, Dani menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mereka sambil tertawa ria.
__ADS_1
****
Hujan sudah mulai reda, Amar dan Tegar melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.
Tegar kedinginan karena sejak tadi ia bermain air hujan.
Sesampainya mereka di rumah, langsung disambut oleh Mila yang sejak tadi sudah menunggu mereka.
"Tegar kamu kok basah begitu, ayo cepat mandi lalu ganti baju, nanti Bunda buatkan susu hangat." Titah Mila pada putranya.
"Maafkan aku Mil, tadi kami kehujanan, maklum naik sepeda motor."
"Iya sudah tidak apa-apa, makasih ya Mas, kamu sudah mengajak Tegar jalan-jalani hari ini."
Amar yang masih berdiri di teras rumah Mila berharap jika sang pujaan mau mempersilahkannya masuk, namun Mila seakan tak peduli jika Amar basah kuyup.
"Ya sudah, sebaiknya kamu cepat pulang Mas, lihat badan kamu sudah basah semua," ujar Mila yang membuat Amar menatap tajam ke arahnya.
"Baiklah kalau begitu, Aku permisi dulu," ucap Amar pamit pada Mila.
Amar pulang dengan basah kuyup karena kehujanan. Ia juga sedikit kecewa dengan perlakuan Mila padanya, ia pikir jika mereka pulang basah-basah Mila akan berbaik hati padanya namun ia salah, Hati Mila tak sedikitpun bergerak.
Amar harus mencari cara lain agar bisa meluluhkan hati Mila kembali.
****
Sedangkan Dani masih tertidur setelah tadi mereka bertempur, ia kelelahan saat selesai menunaikan tugasnya sebagai suami. Sedangkan Mila sibuk mengurus Tegar yang pulang dengan kebasahan.
"Kamu kok hujan-hujanan sih Nak, emang tadi gak berteduh dulu gitu?" Tanya Mila pada putranya yang baru selesai mandi.
"Berteduh si Bun, tapi Tegar tadi mainan hujan kata Ayah boleh kok kalu sesekali mainan hujan itu sehat Bun."
"Ya sudah, kamu minum susunya terus istirahat."
"Iy bun."
"Bunda, nanti kalau Tegar pergi lagi sama Ayah Bunda mau gak ikut kita?" Tanya Tegar dengan polos.
"Maksud kamu Apa sih."
"Kita perginya bertiga Bun, Tegar Ayah sama Bunda, Bunda mau gak?"
Mila diam sejenak, kenapa tiba-tiba Tegar ingin jika ia ikut pergi bersama Ayahnya, itu hal yang tidak mungkin.
Pikiran Mila mulai kacau kembali, bingung harus menjawab apa.
Jika menolak ia takut Tegar kecewa tapi jika ia setuju itu sama saja menyakiti hati suaminya.
"Bunda kenapa diam?"
"Bunda mau apa gak?"
"Bunda …."
__ADS_1