BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 22


__ADS_3

Amar masih sibuk mencari Mila, dalam hatinya ada rasa bersalah yang menghantui. Di saat ia ingin merajut kembali cintanya pada Mila namun Mila telah pergi.


Ada rasa sesal dalam hati, air matanya jatuh tanpa permisi. Berkali-kali ia memukul dadanya serta menarik rambutnya.


Ingin berteriak namun takut banyak orang yang akan mendengar.


Amar terduduk lemas tak berdaya di tepi jalan. Ia beristirahat dibawah pohon beringin dari teriknya matahari yang membakar kulitnya.


Kini ia benar-benar sendiri, Mila istri yang selama ini dia sia-sia kan telah pergi jauh entah kemana. Lastri wanita yang pernah membuatnya tergila-gila pun meninggalkannya. 


Amar merasa ini hukuman yang harus ia terima karena telah menelantarkan istri dan anak-anaknya.


Namun Amar tak putus asa dia terus mencari keberadaan Mila.


****


Bagaimana Mar! Sudah ada kabar tentang Mila?" Tanya Ibu yang melihat Amar yang baru pulang.


"Belum Bu," jawab Amar sambil duduk di sofa. Dia baru saja pulang mencari Mila. Rasanya sudah putus asa, entah harus kemana lagi mencari keberadaan Mila dan Tegar.


Ibu seakan pasrah mendengar Amar belum menemukan Mila yang pergi tanpa pamit padanya.


Mila adalah menantu yang baik bagi Ibu Amar, meski anaknya sudah berpisah namun tak sedikitpun dia beranggapan jika Mila mantan menantunya.


Baginya Mila tetap menantu.


"Kemana Amar harus mencari Mila bu?" Mila seakan tak meninggalkan jejak.


"Ibu juga tidak tahu."


"Jika sejak awal kau tak meninggalkan mereka, mungkin kalian sudah hidup bahagia," ujar Ibu Amar penuh sesal dan berlalu meninggalkan Amar sendiri di ruang tamu. 


Raut kekecewaan tampak terlihat di wajah keriputnya, matanya pun berkaca-kaca menahan air mata.


****


"Rumahnya bagus sekali Bu," ucap Tegar yang baru saja sampai kerumah baru mereka.


"Iya, rumah ini om Dani yang beli dan kita semua nanti akan tinggal disini," ujar Mila pada Tegar.


"Iya Bunda, makasih ya oom," ucap Tegar sambil memeluk Dani, Tegar sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Dani.


Kami semua membereskan barang-barang yang sudah dibawa, Bik ijah tampak sibuk memasak untuk makan malam. Semua peralatan dapur sudah lengkap termasuk bahan makanan semua sudah dibeli oleh Dani.


Sungguh aku bahagia sekali akan menjadi istrinya. Semoga ini pilihan terbaik.


Bik Ijah sudah selesai memasak kami pun menyantap makanan di rumah baru, suasana baru pun tercipta. Tegar nampak senang sekali dengan Ayam gorengnya.

__ADS_1


Kami makan dalam diam, semua menikmati masakan Bik Ijah. 


Selesai makan malam Dani pamit pulang, karena kami belum sah jadi tak mungkin dia menginap dirumah ini.


"Aku pulang dulu ya," ucap Dani pada Mila sambil mengulas senyum.


"Iya, kamu hati-hati dan terimakasih buat semuanya," jawab Mila saat mengantarkan Dani ke depan rumah.


"Terimakasih buat apa? Sebentar lagi kita kan akan menikah dan kamu akan menyambut kepulanganku nanti," ucap Dani yang membuat Mila tersipu malu.


Dani pun pulang dari rumah itu. Mila masih berdiri di depan pintu melihat mobil Dani melaju keluar perumahan. 


****


Pagi-pagi mereka sudah sibuk beberes barang-barang yang mereka bawa dan merapikan rumah.


Mila dan Bik Ijah saling berbagi tugas begitupun Tegar ikut andil. Sambil sesekali mereka tertawa saat membersihkan rumah.


Hari ini Dani tidak datang berkunjung ke rumah baru mereka, Dani harus Tugas untuk beberapa minggu kedepan. Pekerjaannya sebagai abdi negara membuatnya harus terpisah dengan keluarga 


Saat Mila sedang sibuk berbenah rumah baru, ada pesan masuk dari Dani.


[Kami lagi apa sayang?]


[Jangan capek-capek yah calon istriku]


[Kok kamu tau kalau aku lagi beberes]


[Kamu ngintip yah, hahaha]


[Tau dong, aku kan calon suami kamu]


[Ya sudah kamu baik-baik dirumah yah, aku kerja dulu]


Mila hanya membaca pesan balasan dari Dani, karena tidak ingin mengganggu pekerjaannya. Lagi pula dia masih sibuk untuk berbenah rumah. 


Seharian membersihkan rumah membuat mereka kelelahan, capek namun menyenangkan bagi mereka.


Mila begitu menikmati hari-harinya, ditambah tidak lama lagi pernikahan mereka akan digelar.


Bulan depan akan diadakan pertemuan keluarga dan memutuskan tanggal pernikahan mereka.


Orang tua Mila akan datang dari kampung bulan depan, sejak melahirkan Tegar kedua orang tua Mila tak pernah berkunjung karena mereka sudah tua jadi susah untuk menempuh perjalanan jauh.


****


Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu tiba. Sambil berbenah rumah baru Mila mendaftarakan Tegar kesekolah yang baru di ujung jalan perumahan. 

__ADS_1


Sengaja memilih sekolah di dekat rumah mereka  agar tak terlalu jauh untuk mengantarkan Tegar sekolah.


Semua surat menyurat sudah lengkap. Minggu depan Tegar sudah bisa masuk ke sekolah yang baru.


Tegar senang sekali bisa sekolah. Sudah beberapa hari sejak kami pindah dia selalu berdiam diri dirumah karena belum memiliki teman.


****


Dani merasa sedih karena berjauhan dari calon istrinya, ternyata rindu itu berat gumamnya  senyum-senyum sendiri sambil memandangi foto sang pujaan hati.


Dia tidak menyangka akan segera menikah dengan Mila, sudah sejak lama Dani menyukai Mila namun belum tersampaikan. Namun jodoh siapa yang tahu.


Pernikahan yang sudah semakin dekat membuatnya lebih bersemangat bekerja, Dani sudah berjanji tidak akan menyakiti hati Mila, tidak ingin Mila terluka seperti yang dilakukan Amar.


****


Hari yang ditunggu pun tiba, hari ini semua keluarga akan bertemu di sebuah restoran mewah.


Ibu Dani sudah mempersiapkan semuanya. Pertemuan dua keluarga di gelar. 


Mila yang sama sekali belum pernah bertemu keluarga Dani sejak mereka merajut kasih merasa gugup. Dulu waktu masih sekolah Mila pernah bertemu namun tak begitu akrab, Dulu mereka masih kecil.


Wajar jika sekarang merasa gugup. Jantungnya berdegup kencang serasa mau copot.


Mila menarik nafas panjang.


****


Semua keluarga sudah berkumpul. 


Mila hanya membawa Tegar dan kedua orangtuanya. Begitupun Dani hanya membawa kedua orang tuanya.  Karena semua saudaranya berada di pulau sebrang jadi tak bisa datang. 


"Baiklah langsung saja mari kita makan semua menu yang sudah disediakan," ucap pak Hadi ayah Dani.


Kami semua hanya menganggukan kepala tanda setuju. Sambil menyantap makan malam yang sudah disediakan. 


Selesai makan kami pun berbincang. Mereka bertanya tentang kehidupan Mila.


"Apakah kalian benar-benar ingin menikah?" Tanya Pak Hasan ayah Dani.


"Benar, kami ingin segera menikah tolong restui kami," ujar Dani sambil menggenggam tangan Mila yang duduk di sampingnya.


"Bunda sama Om Dani mau menikah," tiba-tiba Tegar bersuara dengan riang sambil bertepuk tangan. Sontak membuat pak Hasan kaget.


"Bunda kamu bilang! Kamu anak siapa?" Tanya pak Hasan sambil menyeruput kopi.


"Siapa anak kecil ini Dan?" Tanya Pak Hasan pada Dani.

__ADS_1


"Dia …."


__ADS_2