
Pak kurir ini maksa sekali aku harus menerima kiriman paket yang sama sekali aku tidak tahu apa isi di dalam nya.
Sudah aku jelaskan padanya tidak mungkin aku terima paket yang tidak begini.
"Maaf pak saya tidak bisa terima barang ini dan sebaiknya Bapak bawa kembali terimakasih," ucapku lalu meninggalkannya yang masih berdiri di luar rumah.
Brak!
Kututup pintu tanpa peduli pada pak kurir itu, bukannya aku kejam atau tidak kasihan padanya namun bagaimana aku bisa menerima barang yang tidak jelas begitu.
Aku kembali kekamar untuk menyelesaikan tugasku memeriksa laporan Toko daripada mikirin kurir tidak jelas.
Hingga senja menjelang pekerjaanku baru selesai, rasanya lelah sekali. Aku bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar bisa beristirahat.
Selesai mandi, perut terasa keroncongan lebih baik keluar untuk makan malam lagipula dari tadi aku belum melihat anak-anak, kemana mereka yang membuat aku semakin bingung.
Berjalan perlahan menuju ruang makan namun kulihat ada sebuah kardus di atas meja ruang tamu, kardus apa itu yang membuat aku beralih ke ruang tamu.
Kulihat disana tertera nama Mila, yah untuk aku tapi tidak ada nama pengirim, apa jangan-jangan ini paket yang tadi siang aku tolak. Pikiranku melayang kemana-mana.
****
Lebih baik aku mencari Bik Ijah dan bertanya siapa yang mengirim paket itu.
Saat di ruang makan tidak ada siapa-siapa, aneh sekali sejak siang tidak ada orang dirumah ini, pada kemana mereka.
"Tegar, Lani, Bibi dimana kalian," teriakku sambil berjalan mencari keberadaan mereka.
"Tegar …."
Kemana mereka, aku masih berjalan mengitari rumah mencari mereka. Ternyata mereka tertidur di kamar Bik Ijah.
Yaudah, aku biarkan saja mereka mereka bertiga tertidur kasian jika harus membangunkan Tegar untuk pindah ke kamar.
****
Selesai makan malam aku langsung mengambil membawa paket yang bertuliskan namaku itu. Jadi penasaran siapa yang mengirimkan paket itu.
Dengan rasa takut aku membuka sampul kardus itu, saat ingin membukanya tiba-tiba gawaiku bergetar, ada notifikasi dari aplikasi hijau tanpa nama.
[Apakah anda sudah membuka kardus itu?]
[Aku harap kamu tidak terkejut saat membukanya nanti]
[Maaf jika saya mengganggu waktumu]
[Tidak perlu kamu balas pesan ini]
[Tugas kamu hanya membuka dan melihat isi dalam kardus itu saja]
[Selamat malam]
__ADS_1
Isi pesan yang dikirimkan padaku, membuat aku menjadi semakin bingung.
Ku tekan tombol panggilan namun nomornya sudah tidak aktif, benar-benar membuat aku semakin bingung saja, lebih baik lihat saja apa isinya.
Perlahan kubuka ternyata isinya foto pernikahan Mas Amar dengan seorang wanita, dan juga foto seorang bayi yang aku tidak tahu berjenis kelamin apa.
Namun di foto itu wanitanya tanpa kepala, siapa perempuan yang dinikahi Mas Amar itu, kenapa kepalanya di gunting.
Apa maksud dari semua ini, bikin aku makin pusing saja, anak yang foto itu siapa, apa itu anak mantan suamiku dengan wanita itu.
Dadaku bergemuruh hebat, jantung berpacu dengan kecepatan tinggi, membuat Luka yang telah lama ku balut kini menganga kembali, kenapa ya Robb, kenapa harus aku.
Air mata jatuh tanpa permisi dengan begitu deras tanpa bisa kutahan.
Sungguh rasanya aku tidak sanggup lagi menjalani ini semua, kenapa.disaat aku telah melupakan semuanya dan ingin memulai hidup baru, dia datang kembali dan sekarang aku di teror dengan foto-foto kemesraan mereka.
Walau foto wanitanya tidak bisa aku kenali, apa motif dari semua ini. Apa Mas Amar meninggalkan wanita ini makanya dia mengirimkan foto-foto itu.
Rasanya ingin berteriak namun takut akan banyak yang mendengar, sungguh ini sangat menyiksa sekali.
Akan aku tanyakan semua ini pada Mas Amar besok, dia harus memberikan penjelasan tentang kejadian ini.
Amarahku sudah di ubun-ubun sekarang, emosi sudah tidak bisa dibendung,
***
Aku sudah siap untuk ke rumah Mas Amar setelah mengantarkan Tegar ke sekolah aku akan langsung meminta penjelasan padanya.
Berjalan belahan seperti tidak ada orang, ku ketuk pintu dan mengucapkan salam namun tak juga ada sahutan.
Aku mencoba mengetuk sekali lagi siapa tahu ibu tidak mendengar panggilanku.
Tiga kali aku memanggil dan mengetuk pintu tak juga ada sahutan. Mungkin Ibu sedang ke pasar.
Lebih baik aku tunggu saja sebentar siapa tahu
Tidak lama karena aku sudah sangat tidak sabar ingin segara memberitahu Ibu dan juga Mas Amar.
Sudah satu jam aku duduk di teras menunggu Ibu namun tak juga kembali, sebentar lagi Tegar akan pulang sekolah, lebih baik aku menjemput Tegar dulu di sekolah nanti kembali lagi kesini.
****
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang membela jalan raya sambil terus dihantui rasa penasaran dengan foto-foto yang aku dapatkan kemarin, tiba di sekolah langsung aku jemput Tegar dan mengantarkannya pulang kerumah.
Aku tidak ingin Tegar melihat jika ada pertengkaran antara aku dan ayahnya.
Setelah mengantarkannya pulang. Kulajukan mobil kembali ke rumah Ibu mantan mertuaku.
Di Dalam perjalan ke rumah Ibu tak sengaja aku melihat Alvin yang sedang berdiri di depan minimarket, sepertinya dia sedang sendirian.
__ADS_1
Kuhentikan mobil lalu menghampirinya.
"Mas Alvin," sapaku.
"Mila, kamu apa kabar?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.
" Baik Mas, kamu lagi apa disini?" Aku balik bertanya.
"Aku sedang ingin membeli sedikit camilan," jawabnya sambil tersenyum.
"Mas, dimana Ayu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang Mas? Kalian sekarang tinggal dimana?" Tanyaku bertubi-tubi.
"Apakah kalian sudah memiliki anak? Sudah berapa anak kalian sekarang?" Kembali aku bertanya walau Mas Alvin belum.sempat menjawabnya.
"Aku sangat merindukan Ayu Mas? Kenapa dia menghilang dan tidak bisa dihubungi? Apa salahku Mas?" Tanyaku lagi dan Mas Alvin masih saja membisu tanpa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Kulihat Mas Alvin menarik nafas panjang, berusaha untuk tenang.
"Kenapa Mas diam saja, jawab aku dong Mas!"
"Jawab."
"Bagaimana aku mau menjawab semua pertanyaanmu Mila, sedang kau dari tadi hanya bicara saja tanpa henti," ucap Mas Alvin yang membuat aku jadi malu.
"Maaf kan aku Mas, aku hanya tidak sabar ingin mengetahui semuanya," jawabku.
"Lebih baik kita duduk dulu disana, Mas akan jelaskan semuanya," ajak Mas Alvin.
Jantungku berdebar kencang, rasa tidak sabar ingin mendengar cerita.
Kami duduk di cafe samping mini market dan Mas Alvin memesan minuman untuk kami.
"Ayo Mas, cepetan cerita aku sudah tidak sabar," ucapku sambil mengaduk-aduk minuman yang sudah di pesan.
"Kamu tidak sabaran sekali," ucap Mas Alvin terkekeh. Bisa-bisanya meledekku.
"Kabar kamu gimana? Apa kabar anak kamu sekarang pasti sudah besar?" Tanya Mas Alvin.
Membuat aku jadi kesal saja.
"Kok malah nanyain anakku sih Mas, kita kan mau cerita tentang Ayu," ucapku sambil cemberut.
"Memangnya tidak boleh Mas tanya tentang anak kamu Mil!"
"Bukannya gak boleh Mas, nanti kan bisa nanya nya sekarang fokus ke cerita Ayu dulu Mas," ucapku sedikit kesal.
"Ayu itu sahabatku Mas, aku berhak tahu tentang kondisi dia sekarang, cepetan Mas ceritakan," ucapku lagi.
"Sebenarnya Ayu …."
"Ayu kenapa Mas!"
__ADS_1
"Ayu …."