
"Kamu …."
"Sayang, sejak kapan kamu berdiri disana?" Tanya Mas Amar.
"Sudah lama, kenapa! Kamu masih mau mengelak Mas?" Tanyaku.
Mas Amar menggaruk kepalanya yang tak gatal itu dan langsung mematikan sambungan telepon. Dia gelagapan saat kepergok sedang video call sama wanita lain.
Kulemparkan gelas berisi air yang kuambil dari dapur ke muka suamiku.
"Talak aku sekarang Mas!" Teriakku.
"Kau harus memilih Aku dan calon anak kita atau perempuan itu Mas?" Tanyaku.
"Tidak, Aku tidak akan melakukanya, paham kamu!" Gertaknya. Sambil berlalu pergi meninggalkanku.
Entah kemana dia pergi dengan mobilnya melaju dengan cepat tanpa sempat aku menghentikannya. Kamu sungguh manusia tak punya hati Mas, harusnya kau pikirkan lagi sebelum kau melakukan ini.
***
Adzan subuh berkumandang, Lekas aku bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan menunaikan 2 rakaat, aku bersimpuh di hadapan-Nya memohon ampunan, menangisi semua yang terjadi hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.
Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, semoga aku mampu melewati semua ini demi anak yang ada di kandunganku.
Hingga pagi menjelang tidak kudapati suamiku di rumah ini, ternyata dia tidak pulang semalaman, kemana dia pergi Hati betanya-tanya.
Apa mungkin dia menginap di rumah perempuan itu atau kerumah Ibu mertua, entahlah.
Daripada aku stress dirumah memikirkan suami tak tau diri itu, sebaikanya aku menghubungi Ayu, sudah berapa hari ini aku melupakan temanku itu.
[ Hai, kamu lagi ngapain sih, kok gak ada kabar] pesan ku kirim ke Ayu, centang dua biru itu artinya Ayu sudah membaca pesanku.
__ADS_1
[ Hai juga, maaf aku lagi di luar kota sekarang Mil, sore ini pulang kok, kamu baik-baik saja kan] pesan balasan dari Ayu.
[ Aku sedang tidak baik-baik saja Yu]
[Kamu kenapa Mil? Oke setelah aku pulang, aku langsung kerumah kamu ya]
***
Mentari telah kembali ke peraduannya maalm pun tiba namun suamiku tak kunjung pulang dan tak memberi kabar, ingin mencoba menghubunginya tapi ku urungkan niatku atau sebaiknya aku pergi kerumah ibu mertuaku saja. Dengan kondisi saat ini tidak mungkin aku kesana.
Lebih baik aku menunggu dirumah saja.
"Non, apakah Non membutuhkan sesuatu?" Tanya Bik Ijah.
"Tidak bik," jawabku.
"Baiklah, jika butuh sesuatu panggil bibik yah Non," ucapnya.
Aku masih duduk di sofa menunggu suamiku yang entah kemana, sudah semalam tak ada kabarnya.
Aku mencoba menghubunginya namun nomornya tidak aktif, hati ini gunda gulana di buatnya.
Ada rasa kecewa dan benci tapi ada rasa rindu yang menyelinap.
****
Hari-hari berlalu tak terasa satu minggu berlalu dan Mas Amar juga masih belum pulang kerumah, begitu juga Ayu yang entah kemana.
Disaat seperti ini semua orang tidak ada, Aku hanya ditemani Bik Ijah. Ibu dan Bapakku di kampung, tidak mungkin aku memberi tahu mereka kondisiku sekarang. Pasti mereka akan sedih.
Malam itu perut ku terasa sakit, aku merasakan kontraksi hebat, benar-benar sakit yang luar biasa. Aku yang hanya ditemani bik Ijah pergi ke rumah sakit, dokter mengatakan aku akan segera melahirkan.
__ADS_1
Oek … oek!
Tangis bayi itu terdengar jelas di telingaku, saat aku membuka mata semua orang sudah ramai.
Semua keluarga ada disini begitupun suamiku, entah siapa yang memberitahunya begitupun dengan Ayu dia juga datang.
"Kamu sudah siuman sayang?" Tanya Mas Amar.
Kualihkan pandanganku ke arah bayiku karena aku sedang tidak ingin bicara dengannya.
"Selamat ya Nduk! bayimu perempuan, cantik seperti ibunya," ucap Ibuku memberi selamat.
"Iya Bu," balasku.
Bahagia tak terhingga aku rasakan saat ini, tak sia-sia perjuanganku bertaruh nyawa saat melahirkannya tadi. Air mata bahagia jatuh dari pelupuk mata.
Ibu ku dan ibu mertua begitu tampak bahagia dengan kehadiran cucu mereka, andai aku bisa mengatakan yang sebenarnya tentang kelakuan anak dan menantu mereka. Ku urungkan niat itu karena tidak ingin merusak momen bahagia ini.
Tiga hari sudah aku dirawat pasca melahirkan dan aku sudah boleh pulang.
****
Sesampainya dirumah semua menyambut putri kecilku, Ayu membuat dekorasi penyambutan, aku bahagia sekali.
"Tara … selamat datang Ibu dan baby," ucapnya sambil memelukku.
"Makasih, kamu udah repot-repot mempersiapkan semua ini," balasku sambil tersenyum.
Rumah ini begitu ramai, semua keluarga berkumpul untuk menyambut kelahiran putriku.
Andai kebahagian ini akan terus ada, namun semua itu akan sirna. Dengan mata berkaca-kaca aku mencoba untuk tetap tenang.
__ADS_1