
"Ayu … menghilang Mil," ucap Mas Alvin lemas.
"Apa!" Dengan mata melotot hendak keluar aku menatap tajam kearah Mas Alvin.
"Maksud Mas apa bicara seperti itu?" Tanyaku.
"Mas juga tidak tahu kemana perginya Ayu," lirih Mas Alvin yang nampak menahan isak.
"Waktu itu dia pamit mau ke kampung menemui Ibu dan saat itu aku lagi ada tugas keluar kota, jadi dia berangkat sendirian dengan angkutan umum karena aku tidak bisa mengantarkannya," ucap Mas Alvin menjelaskan.
"Ternyata sampai berapa hari dia tidak kunjung pulang dan aku sudah dirumah, saat aku telpon nomornya tidak bisa di hubungi lagi."
"Ku Hubungi nomor Ibu ternyata Ayu tidak pernah datang ke kampung dan sejak saat itu dia entah dimana," lirihnya sambil menahan tangis.
"Aku sudah bersusah payah mencari Ayu namun tak membuahkan hasil, hingga aku putuskan untuk melupakannya," ucapnya.
Membuat aku tak percaya.
Pantas saja selama ini Ayu tidak ada kabar tapi kemana dia? Kenapa menghilang? Kemana perginya Ayu?" Banyak tanya dalam hati ku.
Bertahun-tahun dia menghilang tanpa kabar kemana kamu Yu, tangisku pun pecah mendengar semua cerita dari Mas Alvin.
"Ayu juga sedang mengandung anakku waktu itu Mil, mungkin sekarang dia sudah tumbuh besar Mil," lirih Mas Alvin dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang aku sudah memulai hidup baru Mil, aku sudah menikah lagi dan kami sudah memiliki anak yang berusia dua tahun," ucapnya.
Artinya wanita dan anak yang kulihat bersama Mas Alvin waktu itu adalah istri dan anaknya.
Mendengarkan semua cerita Mas Alvin membuat aku tak bisa menahan tangis, sedih dan juga bingung, kemana perginya Ayu.
Apa dia ada masalah hingga tiba-tiba pergi dan menghilang tanpa jejak.
Semoga Mas Alvin kaget.
"Maksud kamu apa Mil bilang begitu! Kamu menuduh aku," ucapnya.
__ADS_1
"Aku tidak menuduhmu Mas! Aku hanya bertanya?"
"Tidak Mil, kami tidak bertengkar, hubungan kami baik-baik saja, aku juga heran kenapa Ayu meninggalkanku," tutur Alvin.
Suasana menjadi hening sejenak, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Akhirnya Mas Alvin pamit pulang karena istrinya menelpon. Tak lupa juga kami bertukar nomor telepon siapa tahu nanti ada kabar mengenai Ayu.
****
Aku masih bingung dengan semua kejadian-kejadian ini, apa yang sebenarnya terjadi. Begitu rumitkah perjalanan hidup.
Semoga saja Ayu bisa secepatnya ditemukan, banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
Karena bertemu Mas Alvin, aku jadi lupa kalau ingin ke rumah Ibu, gegas aku berangkat menuju rumahnya mudah-mudahan mereka sudah pulang.
Sampai di rumah Ibu aku langsung turun dari mobil berjalan tergesa-gesa.
Kulihat ada sepeda motor terparkir di sana, artinya mereka sudah pulang.
Saat aku hendak mengetuk pintu ternyata ada suara perempuan di dalam rumah Ibu.
Samar-samar terdengar suara mereka sedang berdebat, namun apa yang mereka perdebatkan.
Membuat aku jadi penasaraan saja.
"Bu, aku ingin menikah lagi," pinta Mas Amar pada ibu.
"Apa kamu sudah tidak waras, bukannya kamu bilang ingin kembali dengan Mila," ucap Ibu.
"Tadinya begitu Bu, tapi untuk apa bukannya Mila tidak mau denganku lagi," jawab Amar.
"Ibu sudah bilang kan kamu harus usaha biar hati Mila luluh lagi, buat dia jatuh cinta sama kamu seperti dulu apa susahnya sih," cerocos Ibu.
"Aku tidak sudi mengemis cinta Mila Bu, jadi jangan paksa aku, bukannya kami sudah lama berpisah jadi untuk apa lagi, aku tidak mencintai Mila Bu," ucap Amar dengan lantang pada ibunya.
__ADS_1
Dengan seksama kudengar percakapan mereka, ternyata Ibu masih menginginkan kami bersama tapi anaknya tak pernah berubah sedikitpun.
Aku pikir setelah kejadian itu dan meminta maaf pada ku dia akan berubah, ternyata aku salah menilainya.
Kamu tidak pernah bisa berubah Mas, sungguh aku benar-benar membencimu saat ini.
"Terserah Ibu mau merestui aku atau tidak dengan hana, kami akan tetap menikah minggu depan," ucapnya lantang.
Drugs!
Pintu kudorong tanpa permisi, mereka semua terkejut melihat kedatanganku, apalagi Mas Amar yang melotot tajam ke arahku.
"Kenapa kalian diam?" Tanyaku.
"Aku tidak habis pikir Mas, jadi selama ini kamu hanya pura-pura baik dan pura-pura menyesali perbuatanmu." Ucapku dengan tatapan nyalang.
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin mengganggu Mil, aku ingin melihat kau bahagia bersama anak kita," lirihnya sambil tertunduk.
"Lantas sandiwara apalagi ini Mas dan siapa wanita ini?" Tanyaku sambil melihat ke arah wanita yang sedari tadi diam saja.
"Dia Hana calon istriku Mil, dia cantika kan?" Tanya Mas Amar sambil nyengir tak karuan.
"Lalu dimana wanita yang dulu kamu dinikahi sampai kamu rela meninggalkanku Mas? Apa dia sudah kamu campakan dan tinggalkan begitu saja?" Tanyaku bertubi-tubi.
"Sekarang kamu ingin menikahi wanita yang lain, dimana akalmu Mas! Bagaimana jika nanti kamu mempunyai anak perempuan, dan mempunyai nasib sama dengan wanita yang kau campak kan," ucapku.
Dasar laki-laki seenak nya saja meninggalkan wanita jika sudah tidak dibutuhkan, rasanya ingin maki lelaki ini.
"Apa kamu tau apa maksud dari foto-foto ini Mas?" Tanyaku sambil menunjukan foto-foto yang dikirimkan kepadaku kemarin.
"Ini …. Kamu dapat dari semua ini Mil?" Tanya Mas Amar.
"Aku juga tidak tahu, ada seseorang mengirimkannya ke alamat rumahku."
"Bisakah kamu jelaskan ini semua Mas?" Pintaku.
__ADS_1
"Siapa wanita dan juga anak yang ada di foto itu, aku harap kamu bisa menjelaskannya,"ucapku.
"Ini foto waktu aku menikah dengan ...