
Akhirnya Mila melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Dani begitu bahagia hingga meneteskan air mata, ia begitu terharu saat melihat bayi mungil.
Semua keluarga begitu senang menyambut kelahiran bayi tampan yang belum memiliki nama itu.
Proses operasi telah selesai, Mila sudah berada di ruangannya semua keluarga berkumpul memberikan ucapan selamat pada Dani hanya orang tua Mila yang tidak datang karena ayahnya sakit.
Tegar begitu gembira karena adik yang ia tunggu sudah lahir, adik laki-laki yang ia harapkan selama ini.
****
Amar yang baru tahu jika Mila telah melahirkan seorang bayi laki-laki semakin terobsesi ingin menculik si bayi, karena ia tidak rela melihat mantan istri yang pernah ia sia-sia kan dahulu berbahagia.
Jika ia tidak bisa hidup bahagia maka Dani pun tidak boleh bahagia sama seperti dirinya.
Di dalam kamar yang berantakan ia duduk termenung memikirkan cara agar bisa menculik bayi Mila.
Kret!
Kret!
Pintu kamar Amar terbuka, ibunya masuk dan sibuk membersihkan kamarnya yang entah sudah berapa lama tidak pernah dibersihkan.
Kedatangan Ibunya ke dalam kamar membuat lamunannya buyar kemana-mana, ia merasa kesal dan pergi meninggalkan Ibunya yang masih sibuk membersihkan kamar.
"Bagaimana perkembangan Mila sekarang Mar?" Tanya sang Ibu saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Entahlah Bu, Amar pusing!"
" Pusing! Kenapa? Harusnya kamu cari jalan keluar dong biar bisa kembali sama Mila seperti dulu."
"Kamu lihat tidak, sekarang kan Mila sudah jadi orang kaya, rumahnya besar, nanti kalau kamu menikah lagi dengannya, Ibu kan bisa tinggal di rumah mewah Mila," tutur Ibu Amar santai.
Amar menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepala melihat tingkah wanita yang melahirkannya lalu kembali duduk di tepi ranjang yang sudah rapi.
"Amar sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa Bu! Amar sudah ingin menyerah saja."
"Apa … menyerah! Jangan g*l* kamu, kamu harus terus berusaha supaya bisa kembali hidup bersama dengan Mila."
"Ibu tidak mau tahu, kamu harus bisa mendapatkan Mila kembali dan buat Mila berpisah dari suaminya titik," ucap Ibu Amar dengan tegas dan berlalu meninggalkan kamar yang belum sempat ia sapu.
Ibu Amar berjalan ke dapur, sambil menggerutu tak jelas.
"Dasar anak tidak berguna, disuruh begitu saja sudah mau menyerah," gerutu Ibu Amar sendiri di dapur.
"Kalau Amar menyerah bisa gagal dong aku tinggal di rumah mewah itu," ucapnya sendiri sambil membersihkan meja makan.
__ADS_1
Ibu Amar berkhayal tinggal di rumah mewah Mila dengan banyak pembantu disana, ia senyum-senyum sendiri hingga tersadar saat cangkir di atas meja terjatuh.
Saat menyadari jika yang terjadi barusan hanyalah khayalan semata membuatnya sedikit kesal.
Ibu Amar ikut memikirkan cara agar anaknya bisa kembali rujuk dengan Mila ia pun tak rela jika mantan menantunya itu hidup bahagia sementara anak lelakinya menderita.
Sambil mengerjakan pekerjaan rumah wanita paruh baya itu berpikir apa yang akan ia lakukan untuk membantu melancarkan aksi sang putra.
****
Lengkap sudah kebahagian keluarga Dani saat ini, dengan hadirnya sang buah hati tak menyurutkan rasa sayangnya pada Tegar anak sambungnya.
Sejak awal ia menikahi Mila ia sudah berjanji akan selalu menyayangi Tegar meski ia sudah punya anak sendiri.
"Bunda … kapan kita bisa bawa dedek bayinya pulang?" Tanya Tegar sambil mengelus-elus pipi sang adik.
"Sabar dong! Kan Bunda belum sehat, nnati kita juga akan pulang," Dani menjawab saat anak sambungnya itu berbicara pada Ibunya.
"Tegar sudah gak sabaran Pa mau main sama dedek bayi," celotehnya dengan polos.
"Dedeknya masih bayi belum bisa diajak main Bang."
"Kok Abang!"
"Hem …."
"Tegar kan sudah punya Adik jadi dipanggil Abang la sekarang."
"Iya deh," jawabnya yang membuat Dani dan Mila tertawa melihat tingkah laku Tegar.
"Nama dedek bayi siapa Pa?"
"Nanti kita cari bareng-bareng dirumah, tunggu Bunda sudah sehat."
"Oke, siap Pak," ucap Tegar sambil memberi hormat pada Dani.
Dani tertawa melihat kelakuan putra sambungnya.
****
Mila ikut tertidur saat bayinya tidur sedangkan Dani dan Tegar pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Keluarga Dani sudah pulang untuk mempersiapkan penyambutan Mila saat pulang dari rumah sakit nanti.
Amar sudah berada di parkiran rumah sakit, ia sudah siap untuk melakukan penculikan bayi Mila.
__ADS_1
Ia berjalan menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencari Mila karena ia ingin mencari waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
Sebelum ia menjalankan misinya ia ingin melihat situasi sekitar jika semua aman maka ia akan langsung mengambil bayi Mila.
Amar berjalan perlahan meniti ruangan demi ruangan, dengan berpakaian rapi wajahnya yang tertutup oleh masker serta topi yang sudah menutupi kepalanya dan kacamata hitam. Tak akan ada orang yang mengenalnya dengan penampilannya yang sangat tertutup.
Ia terus berjalan mencari ruangan Mila, serta bertanya kepada beberapa orang yang ada di sekitar ruangan.
Dengan membuka sedikit kacamatanya.
Saat hendak menuju ruang bersalin yang diberitahu Ibu-ibu ia tak sengaja melihat Dani dan Tegar berjalan keluar dari kantin rumah sakit.
Secepat kilat Amar bersembunyi di balik tembok takut Tegar akan mengenalinya.
Padahal penampilannya sudah tertutup namun ia tetap khawatir jika akan ada yang mengenali dirinya.
Ia berjalan perlahan mengekor dari belakang saat Dani dan Tegar sudah keluar dari kantin.
Karena ia tahu jika mereka akan keruangan Mila.
Amar terus berjalan sambil menundukan kepalanya karena Tegar menoleh ke arahnya namun Tegar tak mengenali jika yang ada di belakang mereka itu Ayahnya.
Tak sengaja Amar menabrak Ibu-ibu yang sedang berjalan membawa pakaian dan semua barang bawaan ibu itu jatuh berantakan.
Brak!
"Eh, maaf Bu! Saya tidak sengaja," ucap Amar pada Ibu yang ia tabrak.
"Gimana sih Pak, kalau jalan itu lihat-lihat dong! Jangan main nyelonong aja, makanya gak usah sok-sok an pake kacamata hitam segala," gerutu ibu itu sambil memunguti pakaian yang sudah berserak dimana-mana.
Amar pun ikut membantu ibu yang tak sengaja ia tabrak, selesai membantu memunguti pakaian dan meminta maaf ia langsung berjalan dengan cepat karena Dani sudah hilang dari pandangannya.
Amar kehilangan jejak Dani dan Tegar gara-gara kelalaiannya sendiri namun ia tak putus asa ia tetap berjalan mana tau masih ada jejak Dani.
Ia terus berputar-putar mengelilingi rumah sakit namun Dabi dan Tegar seolah menghilang tanpa jejak.
Amar menarik nafas panjang dan beristirahat di pojok rumah sakit, ia merasa lelah berjalan mengelilingi rumah sakit, kakinya kelu.
Ia duduk sejenak sambil melepaskan topi dan mengipaskan ke tubuhnya, ia merasa haus dan ia putuskan untuk ke kantin.
Di kantin ia memesan segelas es teh manis dan semangkuk mie instan untuk mengganjal perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Selesai makan Amar kembali mencari ruangan dimana Mila di rawat karena jika ia gagal maka Ibunya akan memarahinya.
__ADS_1