
Part 44
Mentari pagi sudah bersinar, keluarga kecil Mila menikmati nasi goreng buatan Bik Ijah, seperti biasa selesai sarapan Dani mengantarkan Tegar ke sekolah dan ia pun langsung berangkat kerja.
Hari ini Dani akan menemui Amar, ingin mengatakan jika ia tidak menemukan Ibunya, di kontrakan hanya ada sebuah ponsel.
****
"Belajar yang baik ya jagoan Ayah! Jangan Nakal di sekolah," ucap Dani pada Tegar.
"Tentu dong Yah," jawabnya penuh semangat sambil mencium punggung tangan sang Ayah.
Tegar merasa senang karena diantar oleh Dani sang papa, lelaki yang selalu mengajarkannya akan kebaikan dan cara untuk menghargai dan melindungi seorang wanita, selesai mengantarkan Tegar, Dani langsung berangkat ke kantor untuk menemui Amar, ia juga akan menghubungi temannya yang sudah ia minta tolong mencari Ibu Amar di kampung.
Karena Dani ingin semua cepat selesai, ia takut jika nanti Mila tahu kalau ia sibuk membantu Amar.
Dani hanya ingin menjaga perasaan wanita halalnya namun ia juga harus membantu Amar karena rasa kemanusian.
****
"Bagaimana kamu sudah menemukan Ibu?" Tanya Amar saat melihat Dani datang.
"Tidak! Ibumu tidak ada disana, Aku hanya menemukan ini," ucap Dani sambil menunjukan sebuah ponsel yang ia temukan di rumah kontrakan Amar kemarin.
"Apa …! Ibu tidak ada, tapi kemana Ibu? Apa Ibu pulang ke kampung dan lupa membawa ponselnya?" Tanya Dani pada dirinya sendiri.
"Apa kau sudah pergi ke kampungku? Tolong … tolonglah Aku sekali lagi. Datang la kerumah Ibu di kampung Dan! Hanya kau yang bisa membantuku saat ini Aku tidak bisa meminta bantuan pada orang lain, Aku mohon tolonglah," Amar memelas pada Dani untuk membantunya menemukan Ibu.
"Kamu tidak usah khawatir karena Aku sudah meminta bantuan seorang teman yang sedang bertugas di kampung Ibumu, tunggu saja nanti akan Aku kabari," ucap Dani sambil berlalu meninggalkan Amar.
"Baiklah, terima kasih," ucap Amar.
"Sudahlah, tidak perlu sungkan, sudah tugasku untuk membantu," seru Dani.
Amar terduduk lemas, ia merasa bingung kenapa Ibunya tidak membawa ponsel. Hati nya bertanya-tanya.
Kemana perginya Ibu jika tidak ke kampung halaman mereka karena mereka tidak memiliki saudara di luar kampung.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ibu?" Tanya Amar pada dirinya sendiri penuh khawatir.
Hatinya benar-benar tidak bisa tenang sebelum tahu tentang keadaan Ibunya, semoga cepat ada kabar mengenai kondisi sang Ibu.
****
__ADS_1
Dirumah Mila selalu disibukan dengan tangisan dan rengekan Aldo, Mila hampir melupakan kejadian kemarin saat Suaminya pulang terlambat.
Sebenarnya Mila merasa ada yang aneh pada suaminya, tidak biasanya Dani pulang terlambat, meskipun terlambat ia pasti akan memberi kabar terlebih dahulu.
Rasa curiga dan cemburu campur jadi satu, ada ketakutan tersendiri dirasakan Mila.
Karena memiliki pengalaman yang tak baik dimasa lalu, ia menjadi lebih waspada.
Mila takut jika Dani akan mengkhianatinya sama seperti yang dilakukan oleh Amar dulu, ia tidak akan bisa bertahan jika akan diperlakukan sama seperti yang terjadi di masa lalu untuk kedua kalinya.
Meski Mila yakin jika suaminya tidak akan menyakiti hatinya namun ia tetap harus waspada apalagi sekarang sudah ada Aldo buah cinta mereka.
****
Siang ini Ibu mertua Mila datang berkunjung untuk menemui sang cucu pastinya.
"Apa kabar cucu nenek?" Tanya Ibu Dani seakan mengajak sang cucu berbicara sambil tersenyum pada Aldo yang ada dalam pelukan Mila.
"Eh, ada nenek," jawab Mila seakan menjawab pertanyaan Ibu mertuanya yang baru saaja datang berkunjung.
"Sini biar Ibu yang gendong, hari ini kamu santai-santai saja, biar Ibu yang jaga Aldo sampai sore," ucap Ibu mertua Mila sambil mengambil Aldo dari dekapan Ibunya.
"Baik Bu, Mila senang jika Ibu disini," ucapnya sambil tertawa riang karena akan ada yang membantu mengurus Aldo.
"Kalau begitu Mila istirahat dulu."
"Iya," jawab mertua Mila yang sibuk mengajak Aldo berbicara.
Mila beranjak dari tempat dimana tadi Aldo dan neneknya sedang bercengkrama, Mila merasa sedikit bisa bersantai menikmati secangkir coklat dingin sambil berselancar di akun sosial media milik nya, aplikasi biru dan hijau.
Sejak melahirkan Aldo dia jarang sekali membuka aplikasi itu karena kesibukannya mengurus dua orang anak, membuatnya tak begitu peduli dengan dunia maya, ia lebih menikmati perannya sebagai seorang Ibu fan juga seorang Istri.
Satu jam waktu yang cukup bagi Mila berselancar di aplikasi biru, dia mengupload foto keluarga kecilnya. Banyak yang berkomentar di postingan Mila, padahal baru saja ia mengupload foto mereka.
Selesai merebahkan diri dan berselancar di dunia maya, Mila kembali menghampiri nenek dan cucu yang masih bermain bersama melepaskan rindu.
"Cepat sekali istirahatnya Mil? Ibu belum puas main sama Aldo kamu udah datang aja," ucap sang Ibu mertua.
"Mila takut Aldo rewel Bu," jawab Mila lembut sambil duduk di samping Ibu mertuanya.
"Enggak lah, cucu ganteng kesayangan nenek mana ada bikin repot malah bikin senang."
"Tegar juga cucu kesayangan nenek kan?" Tanya Tegar yang datang tiba-tiba membuat mereka berdua kaget dan menoleh arah suara.
__ADS_1
Mila tersenyum melihat putra sulungnya yang baru saja pulang sekolah.
"Tentu saja, kalian berdua cucu ganteng kesayangan nenek," jawab mertua Mila sambil mencium Tegar yang sudah ada di hadapannya.
Mendengar jawaban sang mertua membuat Mila benar-benar bahagia karena tidak ada yang membedakan Tegar. Meski Tegar bukan darah daging mereka namun mereka begitu menyayanginya.
Tidak seperti Ayah maupun nenek kandungnya yang tidak pernah tulus sayang pada Tegar.
Mata Mila berkaca-kaca namun ia tetap tenang, ia tidak ingin mertuanya tahu jika ia merasa sedih mengingat masa lalunya yang begitu kelam.
"Kamu kenapa Mil? Kamu sakit? Kenapa matamu merah begitu?" Tanya Mertua Mila penuh selidik dengan menaikan satu alisnya membuat Mila terkejut karena di perhatikan oleh mertuanya.
"Tidak Bu … Mila baik kok, Mila sehat-sehat saja," jawab Mila dengan terbata-bata.
"Ibu kira kamu sakit, kalau sakit kita periksa ke dokter, jangan ditahan-tahan dulu apalagi kamu sedang menyusui, Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama kalian," ujar mertua Mila penuh perhatian.
"Ibu tenang saja, Mila tidak apa-apa kok, tadi mata Mila hanya kelilipan saja," ucap Mila dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu, ini Aldo Ibu mau pulang dulu, besok Ibu kesini lagi," ujar sang mertua sambil memberikan bayi Aldo ke pangkuan Ibunya.
"Baik Bu, Ibu hati-hati di jalan."
Setelah mengantarkan mertuanya sampai kedepan pintu Mila masuk kedalam kamar sambil menggendong Aldo yang sudah terlelap.
Saat ia hendak masuk ke kamar tiba-tiba Tegar datang menghampirinya.
"Bun …." Panggil Tegar pada Mila yang hendak masuk kedalam kamar.
"Iya Sayang, ada apa?" Tanya Mila sambil mengangkat satu alisnya.
"Hem, itu Bun … Tegar."
"Kamu kenapa! Bilang saja Bunda gak bakal marah kok," ucap Mila.
"Sebenarnya Tegar mau bilang sesuatu ke Bunda tapi Tegar takut nanti Bunda marah atau tidak suka," ucapnya dengan sedikit takut.
"Kamu mau ngomong apa? Bilang saja terus terang kenapa seperti orang ketakutan begitu."
"Tunggu sebentar yah, Bunda mau nidurin Aldo sebentar nanti kita bicara lagi," ujar Mila langsung masuk kedalam kamar meninggalkan Tegar yang masih berdiri di depan kamar.
Tegar merasa takut dengan apa yang akan dia katakan pada sang Bunda, ia takut jika nanti Bunda akan memarahi dirinya.
Sebenarnya
__ADS_1