
"Ini foto waktu aku menikah dengan …."
"Dengan siapa Mas?" Tanyaku sedikit membentaknya, geram sekali melihat tingkah lakunya yang bertele-tele.
"Ini foto aku dengan lastri teman satu kantor," jawab Mas Amar dengan pelan namun jelas.
"Apa kamu bilang Mas! Lastri teman kantor kamu?" Tanyaku dengan penuh penekanan.
"I … iya," jawabnya terbata-bata.
"Kenapa harus Lastri Mas! Tidakkah ada wanita lain selain dia Mas?" Tanyaku nyalang.
Dada bergemuruh hebat, rasanya ingin menjerit dan ku pukul wajah Mas Amar.
Lastri adalah adiknya nya Ayu sahabatku, apa ini ada hubungannya dengan hilangnya Ayu? Penuh tanya dalam benakku.
Ya Rabb, apa lagi ini! Sekarang semuanya sudah terungkap, jadi Lastri di balik semua ini tapi kenapa Ayu tidak memberitahuku dan kenapa dia menghilang, aku terduduk lemas tak berdaya mendengar semua kenyataan ini.
Air mata yang sedari tadi berusaha kutahan kini sudah tak bisa kubendung lagi, tanpa disuruh air mata ini sudah tumpah ruah memenuhi wajah.
****
Kuusap air mata, untuk apa aku mennagis lelaji penghianat sepertinya, aku harus kuat menerima kenyataan ini walau aku tak mengira jika teman satu kantor suamiku itu adalah Lastri adiknya Ayu yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri.
"Sekarang dimana Lastri Mas? Kenapa kamu meninggalkannya dan ingin menikahi wanita ini?" Tanyaku sambil melirik wanita disebelah Mas Amar yang sedari tadi hanya diam saja.
"Lastri sudah tiada saat melahirkan anak kami Mil," ucapnya dengan rasa bersalah.
"Sekarang dimana anak yang dilahirkan Lastri Mas? Kenapa tidak kamu ajak anak itu?" Tanyaku.
"Anak yang dilahirkan oleh Lastri begitu cantik dan lucu, tadinya aku yang merawatnya sendiri hingga ia berusia satu tahun," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Namun saat usianya satu tahun dia sering sakit, mungkin karena aku jarang memberikan susu formula dia sering aku kasih air putih," lirih Mas Mas diiringi air matanya yang sudah bercucuran.
"Aku ingin membawanya kerumah ini namun aku takut kalian akan membenci anak itu seperti kalian membenciku," isak Mas Amar.
__ADS_1
"Saat itu aku menghubungi Ayu, aku memberitahunya kalau Lastri telah tiada saat melahirkan anak kami, aku menjelaskan semua kondisi kami saat itu, aku meminta bantuannya, tadinya Ayu menolak karena dia merasa kecewa pada kami," tutur Mas Amar dengan penuh penyesalan.
"Namun sudah berhari-hari sejak aku menghubungi Ayu, ia tak kunjung datang, aku tidak tahu apakah Ayu menolak untuk membantu kami tapi kenapa dia bilang akan datang, hingga saat ini aku tak menemukan jawabannya."
"Aku mencoba menghubunginya lagi tapi nomornya sudah tidak bisa di hubungi, aku mencoba menelpon Alvin namun. Dia sedang berada di luar kota saat itu," ucap Mas Amar panjang lebar.
Aku mendengarkan dengan seksama ceritanya tanpa terlewatkan, begitu sedih dan malangnya nasib kalian selama ini, tidak seperti yang ku bayangkan.
Aku kira kalian hidup bahagia setelah meninggalkan kami Mas, ternyata Allah maha adil, secepat itukah balasan yang kalian terima, aku sedikit lega walaupun ikut sedih, setidaknya kalian merasakan sakit yang aku rasakan bahkan lebih dari itu.
Kutinggalkan rumah Ibu mertua, sudah cukup penjelasan yang aku dapatkan sekarang aku sudah tau siapa telah menghancurkan rumah tanggaku.
Sekarang semuanya sudah jelas, aku harus kuat jalani ini semua, biarlah Mas Amar menikah lagi dan menjalani hidupnya. Bukankah aku pun harus hidup bahagia bersama anakku dan juga Lani.
****
Semua proses surat-surat untuk Lani sudah selesai dan aku sudah bisa mendaftarkannya sekolah bersama Tegar.
Hari ini Lani sudah bisa mulai sekolah, semua keperluannya sudah aku siapkan pasti dia senang sekali, aku tersenyum.
"Lani sudah siap berangkat belum?" Tanyaku yang melihatnya sudah rapi.
"Asik sekarang Tegar ada teman baru disekolah," teriak Tegar kegirangan sambil bertepuk tangan dan kami pun tertawa bersama.
"Ayo kita berangkat nanti kesiangan lagi," ajakku pada mereka yang masih tertawa riang.
"Nek Ijah jagain rumah yah," ucap Tegar pada Bik Ijah yang hanya mengangguk tersenyum.
Kulajukan mobil membela jalan raya, sengaja pagi-pagi kami sudah berangkat takut terkena macet dan akan terlambat.
Selama perjalanan ke sekolah aku memperhatikan mereka yang sedari tadi bernyanyi bersama, melihat mereka bahagia aku pun senang.
Sampai di sekolah kami pun turun dan masuk kelas, aku mengantarkan mereka sampai ke dalam kelas dan menitipkan kepada wali kelas mereka.
Aku keluar kelas dan menunggu mereka di taman sekolah, hari ini aku tidak ada kegiatan lebih baik aku menunggu sampai mereka pulang.
__ADS_1
Sambil menunggu dengan orangtua anak-anak yang lain kami pun ghibah, biasakan kalau emak-emak udah ngumpul pasti ghibah.
"Eh, tumben bu Mila nungguin biasanya langsung pergi terus nanti baru jemput," ucap bu Ratna.
"Iya tumben," timpal bu Sifa.
"Lagi gak sibuk," jawabku sambil tersenyum.
"Bu, tadi aku lihat bu Mila bawa anak perempuan siapa?" Tanya bu Ira.
"Itu anak …."
"Apa jangan-jangan anak mantan suaminya Bu," seru bu Ratna sambil tertawa mengejek.
"Yang bener Bu," ucap Ibu-ibu yang lain membuat aku terkejut melihat ekspresi mereka.
"Jangan mau Bu, enak aja dia yang selingkuh kita yang urus anaknya," ucap Bu Sifa.
"Kalau saya, sudah tak buang ke laut itu anak," Celetuk Bu Ira.
Kenapa mereka berpikir kalau Lani anaknya mas Amar, belum sempat aku menjawab mereka sudah punya jawaban sendiri dasar Ibu-ibu.
"Bukan Bu, Lani bukan anak ma Amar," jawabku pada mereka yang membuat mereka jadi malu sendiri. Lagian nyerocos aja emak-emak.
"Kirain dia anaknya mantan suami Bu Mila, habis mirip suaminya Bu," ucap Ibu-ibu sambil tersipu malu.
Apa benar Lani mirip Mas Amar, kenapa aku tak memperhatikannya, pikiranku mulai berputar-putar dengan ucapan Ibu-ibu tadi.
Aku harus mencari tahu latar belakang Lani yang sebenarnya, siapa orang tua Lani? Apa benar Mas Amar dan Lastri orang tua? Begitu banyak tanya dalam hatiku.
Jika Lani anak mereka tidak mungkin aku merawatnya, kutepis pikiran itu, mudah-mudahan salah.
"Maaf lho Bu, kalau kami salah, kami tidak bermaksud apa-apa," ucap bu Sifa mewakili ibu-ibu yang lain.
"Tidak apa-apa Bu," jawabku.
__ADS_1
"Lantas anak perempuan itu anak siapa Bu?" Tanya Bu Ratna.
"Lani anaknya …."