
Akhirnya jadwal operasi Tania sudah diputuskan, semenjak dokter mengatakan bahwa Tania sudah tidak bisa hamil Tania terus berdiam diri. Bastian masih bingung kenapa istrinya memakai pil kontrasepsi, meskipun dulu dia tau tentang masa lalu Tania yang pernah bersama laki-laki lain dan sempat mengandung dan menggugurkannya. Tapi Bastian hanya mengetahui satu laki-laki saja di masa lalu Tania, itupun sudah lama tidak berhubungan. Jadi Bastian bingung tentang alasan Tania memakai pil tersebut. Karena keadaan Tania yang masih terguncang dengan kenyataan bahwa rahimnya harus diangkat, Bastian menahan diri untuk tidak menanyakan hal tersebut.
Tania selalu saja melamun, dan setiap Bastian mengajaknya berbicara dia hanya diam saja. Sesekali dia mengangguk atau menggeleng untuk menjawab pertanyaan Bastian.
Setelah operasi Tania dilakukan, Tania semakin sering melamun. Kadang emosinya tidak stabil. Sering marah-marah tidak jelas. Bastian yang selalu kena, setiap kali emosi Tania meluap Bastian selalu dilempari barang-barang oleh Tania. Kadang pula Bastian dipukulinya. Tania semakin sering menangis, Bastian sudah berusaha untuk menghiburnya. Mengatakan bahwa dia menerima Tania apa adanya. Tapi Tania tetap belum bisa menerima kenyataannya.
Dua bulan berlalu, Tania mulai membaik sudah menjalani kehidupannya seperti biasanya tapi sifat Tania menjadi seorang pemarah. Kadang apa yang lakukan Bastian selalu dianggap salah. Selalu mencurigai setiap tindakan Bastian. Kesalahan kecil Bastian selalu dibesar-besarkan. Bastian cukup bersabar menghadapi Tania, Bastian mengerti keadaan Tania. Dulu Tania yang ada disampingnya saat Bastian terpuruk jadi sekarang Bastian juga akan melakukan hal yang sama.
Suatu hati Bastian mengajak Tania makan diluar. Saat itu Tania merasa senang, tapi saat sedang makan di seberang mejanya mereka melihat Cantika dan keluarganya. Cantika yang melihat merekapun tersenyum kearah Bastian dan Tania. Tania marah, dia menggebrak mejanya dengan sendok ditangannya.
"Ayo pulang!" ajak Tania
"Kan makanannya belum habis sayang?" tanya Bastian lembut
"Ohh kamu mau lihat-lihatan sama Cantika? Mau saling melepas rindu gitu? Yaudah sana temuin dia." ucap Tania meledak-ledak
"Bukan gitu sayang. Yaudah ayo pulang." jawab Bastian menggandeng tangan Tania.
Cantika yang melihat mereka dari jauh terlihat bingung. Melihat raut wajah Tania yang sedang marah membuat Cantika bergerak menghampiri mereka.
"Yah, bunda ke kamar mandi dulu ya?" izin Cantika pada Danish
"Iya bun," jawab Danish tanpa curiga.
__ADS_1
Cantika langsung bergegas menyusul Tania dan Bastian, secepatnya dia berjalan menghampiri mereka.
"Tan?" panggil Cantika menghentikan Tania
"Ehh Cantika." sahut Tania berpura-pura tenang
"Kalian disini? Sudah mau pulangkah?" tanya Cantika
"Ahh iya, kami mau pulang. Kami sudah selesai makan." jawab Tania
"Kamu kenapa Tan?" tanya Cantika melihat wajah Tania yang sedang kesal.
"Aku gapapa, aku cuman capek aja pengen pulang." jawab Tania
"Iya, yaudah yok yank kita pulang." ajak Tania menggandeng Bastian
Melihat sikap Tania begitu membuat hati Cantika seperti teriris. Sahabat yang dulunya saling sayang malah menjadi seperti musuh saja. Bahkan Tania tidak menyembunyikan sedikitpun rasa kesalnya. Tania begitu enggan melihat wajah Cantika, bahkan sedikit tersenyum saja tidak ada.
Cantika mendengar kabar dari kak Retno bahwa Tania harus melakukan operasi pengangkatan rahim. Awalnya Cantika mendatangi Tania hanya untuk mencoba menghiburnya. Belum juga niat itu terlaksana Tania sudah enggan berbicara dengannya.
Akhirnya Cantika kembali ke meja makannya.
"Lama banget nda, darimana?" tanya Danish
__ADS_1
"Ahh tadi ketemu Tania didepan." jawab Cantika jujur
"Sama Bastian?" tanya Danish menatap Cantika
"Iyalah, kan dia suaminya." jawab Cantika
"Ngapain ketemu mereka?" tanya Danish
"Ketemu sahabat lama ya pasti mau menyapa lah yah, niatnya mau ngajak makan bersama tapi ternyata mereka baru selesai makan." jawab Cantika tenang
"Ohh mau reunian sama masa lalu." ucap Danish
"Kamu apaan sih yah?" jawab Cantika kesal
"Ya kan ketemu sama mantan pasti mau nostalgia." ucap Danish menyindir.
"Yah jangan ajak ribut bunda deh, kasian kan Fira dianggurin." jawab Cantika mengalihkan pembicaraan
"Iya iya." jawab Danish mengunyah makanan
Mereka menyelesaikan makan siangnya, sesekali Cantika dan Danish bergantian menyuapi Fira. Meskipun Danish sedikit merasa cemburu tapi Danish masih bisa mengontrolnya. Apalagi Cantika juga sudah berkata jujur kepadanya. Sekarang mereka juga sudah saling percaya satu sama lain. Mereka juga dering menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama. Benar-benar sudah menjadi keluarga yang berbahagia.
*Jangan lupa like dan komennya para readers. Klik Favorite untuk baca kelanjutannya. Berikan vote untuk penulis, karena itu sangat berguna untuk penulis.
__ADS_1