BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM

BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM
21


__ADS_3

Sampai didepan rumah keluarga Bastian ternyata nenek Bastian menunggu diteras untuk menyanbut cucunya.


"Ohh cucuku, nenek merindukanmu." ucap nenek Bastian memeluk cucunya


"Bastian juga rindu sama nenek." jawab Bastian membalas pelukan neneknya


"Halo nenek?" sapa Tania


"Ehh cucu menantu, nenek juga rindu kamu nak." ucap nenek memeluk Tania


"Tania juga nek." jawab Tania balas peluk


"Yaudah yuk masuk, bapak kamu sudah nungguin. Dia juga kangen sama kalian." ucap Nenek menggandeng Tania masuk


"Iya nek." jawab Bastian mengikuti neneknya dibelakang.


Setelah mereka masuk, mereka berbincang-bincang dan saling melepas rindu. Memang Bastian setelah menikahi Tania hanya sekali datang ke rumahnya dan ini kali kedua makanya mereka benar-benar saling rindu. Awalnya nenek Bastian tidak begitu menyukai Tania, bahkan menurut nenek Bastian Cantika lebih baik daripada Tania. Dulu memang nenek Bastian blak-blakan bilang tidak suka dengan Cantika, tapi maksud nenek Bastian itu ingin Cantika lebih berusaha lebih keras menjadi sukses agar bisa mendampingi Bastian dengan layak. Nenek Bastian merasa cucunya sudah terlalu lama kesusahan jadi dia ingin cucunya dapat pendamping yang juga sukses. Tapi Cantika malah menyerah begitu saja. Meski awalnya tidak menyukai Tania, nenek Bastian mengalahkan egonya untuk kebahagiaan cucunya. Dia tahu bagaimana Bastian tersiksa kehilangan Cantika jadi neneknya tidak ingin menghalangi hubungan Bastian dan Tania.


Setelah lama berbincang-bincang, mereka makan siang bersama. Sesekali diselingi obrolan yang membuat mereka tertawa. Tapi tiba-tiba bapak Bastian menanyakan sesuatu yang membuat suasana makan siang tersebut menjadi hening.


"Kapan kalian akan beri bapak cucu? Bapak sudah kepengen gendong cucu." tanya Bapak Bastian

__ADS_1


Tania yang mendengar perkataan bapak Bastian pun terkejut, dia sampai tersedak saat makan. "Uhukk.. Uhukkk." Bastian langsung mengambilkan air untuk Tania


"Kamu gapapa?" tanya Bastian. Tania hanya menggeleng dengan wajah sedihnya


"Bapak jangan nanyain itu dulu, mending kita lanjut makannya." ucap Bastian


"Lohh emangnya kenapa? Bapak kan jujur sama kalian kalo pengen segera gendong cucu. Apa kalian memang belum pengen punya anak?" tanya bapak Bastian


"Iya nih le, nenek juga pengen cepet momong cicit. Nanti keburu nenek gaada loh, cepet-cepet gih gausah ditunda-tunda." imbuh nenek Bastian menggoda


"Nenek juga nih, udah udah kita lanjut aja makannya. Jangan bahas itu lagi." jawab Bastian mengalihkan pembicaraan.


Bastian menghela nafas kasar. Melihat kesedihan yang terpancar diwajah Tania membuat Bastian merasa bersalah. Memang Tania yang meminta Bastian merahasiakan persoalan rahimnya pada keluarga Bastian ataupun keluarga Tania sendiri. Butuh waktu lama Tania menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa hamil lagi. Tapi sekarang tiba-tiba diingatkan dengan perkataan dari keluarga Bastian.


"Ada apa to le? Kog kayanya istrimu lagi sedih?" tanya nenek penasaran


Bastian menghela nafas dengan kasar.


"Nek, pak, maafin Bastian. Kalian ga akan pernah dapet cucu ataupun cicit." ucap Bastian terus terang.


"Loh kenapa?" tanya Bapak terkejut

__ADS_1


"Rahim Tania mengalami masalah dan diharuskan untuk diangkat. Bastian belum bisa mengatakan ini pada kalian karena Tania melarangnya. Tapi sekarang kalian harus tau, jangan menanyakan hal seperti itu lagi. Itu menyakiti Tania." jelas Bastian


"Ya allah le, kog bisa?!" tanya nenek kaget


"Nikah lagi aja kamu Bas! Buat apa nikah kalau ga bisa punya anak? Ga guna! Ceraikan dia dan cari wanita lain yang bisa beri kamu anak." ucap Bapak marah


"Bapak ga boleh ngomong gitu dong! Tania itu istri Bastian, sampai kapanpun Bastian gaakan nyeraiin dia." jawab Bastian ikut marah


"Bener kata bapak kamu le, kamu nikah aja lagi. Gausah diceraiin kamu madu aja dia." imbuh nenek


"Apalagi ini nek? Ahh aku pusing. Sudahlah terserah kalian aku ga peduli lagi." jawab Bastian makin marah


"Bas?!" panggil Tania, Bastian yang kaget langsung menoleh kearah Tania.


"Yuk pulang. Aku kayanya gaenak badan ini." ucap Tania


"Kamu gaenak badan? Yaudah ayo kita pulang. Kami pamit pak, nek." ucap Bastian


Diperjalanan pulang mereka saling diam, Tania hanya memandangi pemandangan luar dari jendela. Sesekali dia mengetuk-ketuk jendela itu.


*Jangan lupa like dan komennya para readers. Klik favorite untuk baca kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2