
Bastian dan dokter langsung menuju laboraturium untuk melakukan pemeriksaan pencocokan ginjal terhadap Tania. Sekitar satu jam pemeriksaan, Bastian akhirnya keluar. Dia kembali menuju kamar Tania, dia melihat Tania yang sedang terlelap dalam tidurnya. Bastian menatap wajah Tania dengan penuh rasa kasihan, dia membelai lembut rambut Tania dan menyisihkan beberapa rambut yang menutupi wajah Tania. Tapi ternyata itu membangunkan Tania.
"Bastian? Kamu baru balik?" tanya Tania
"Ahh maaf sudah membangunkanmu." jawab Bastian
"Kenapa lama sekali? Apa aku belum diperbolehkan untuk pulang?" tanya Tania mengerutkan keningnya
"Boleh sayang, hari ini kamu boleh pulang. Tapi kamu harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Baru nanti kita pulang." jawab Bastian tersenyum
"Beneran? Wahh akhirnya aku bisa menikmati udara diluar rumah sakit." ucap Tania senang
Bastian yang melihat kesenangan diwajah Tania itupun ikut tersenyum.
Tiga jam berlalu, Tania sudah melakukan beberapa pemeriksaan. Dan setelah dinyatakan bahwa kondisi Tania sudah cukup stabil, Tania diperbolehkan untuk pulang. Saat Tania dan Bastian bersiap-siap merapikan barangnya untuk pulang, tiba-tiba suster mendatangi mereka dan mengatakan bahwa Bastian ditunggu diruangan dokter. Bastian meninggalkan Tania dan langsung bergegas menuju ruang dokter.
"Bagaimana dok hasilnya?" tanya Bastian
__ADS_1
"Maaf pak, ginjal anda tidak cocok dengan bu Tania." jawab dokter
Bastian menghela nafasnya kasar.
"Baiklah dok, saya akan segera mendapatkan pendonor untuk Tania." ucap Bastian
"Iya pak." jawab dokter
Sesampainya dirumah Bastian mengajak Tania duduk di sofa. Bastian mengatakan semua kebenaran yang dikatakan dokter tentang kondisi ginjal Tania pada istrinya. Bastian mencoba menguatkan istrinya dengan segala dukungan batin. Tania yang mendengarkan kenyataan bahwa kondisi ginjalnya sudah memburuk menangis sedih. Dia tidak tahu bagaimana lagi caranya hidup jika satu-satunya ginjal yang dia andalkan juga sudah mulai memburuk.
Tania hanya menggangguk dengan menyeka air matanya.
"Aku akan selalu disampingmu, kamu tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Bastian mengusap air mata Tania
"Makasih ya Bas, aku udah jahat sama kamu tapi kamu masih mau nerima aku yang kaya gini. Maaf sudah merepotkanmu dengan kondisiku yang sakit-sakitan ini." ucap Tania
"Hushh, aku ini suamimu. Meskipun aku belum sepenuhnya mencintaimu tapi aku sebagai suami akan menerima semua kekuranganmu, aku akan selalu ada untukmu saat kamu senang ataupun sedih, saat kamu sehat ataupun sakit. Jadi jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu." tutur Bastian
__ADS_1
Tania tersenyum mendengar penuturan Bastian, dia tidak menyangka Bastian akan begitu baik padanya. Dulu saat Bastian bersama Cantika dia begitu kasar, Tania tahu semua perlakuan Bastian pada Cantika. Tapi entah kenapa setelah kehilangan Cantika sikap Bastian benar-benar berubah. Dia menjadi laki-laki lembut, tidak pemarah seperti dulu. Dia bisa menahan emosinya dalam situasi apapun. Padahal seharusnya sekarang Bastian marah terhadapnya karena kejadian tempo hari saat Tania mengaku akan niatnya menyakiti Cantika. Tapi Bastian malah bersikap baik padanya, dengan selalu disampingnya saat dia sakit. Mungkin Bastian hanya melakukan tugas seorang suami, tapi itu benar-benar membuat hati Tania tersentuh. Namun dengan sikap Bastian seperti itu membuat Tania benar-benar enggan melepaskannya, meskipun tidak mencintainya Tania bersyukur memiliki suami seperti Bastian.
Seminggu berlalu, Bastian selalu menjaga Tania. Tentang pola makan dan minum obat selalu Bastian ingatkan. Makanan yang dimakan Tania juga harus mendapat persetujuan Bastian. Bahkan untuk berberes-beres rumah itu Bastian yang lakukan sepulang kerja. Bastian tidak ingin membuat Tania kecapekan karena itu bisa memicu dropping kesehatan Tania.
"Tan, kamu makan apa ini?" tanya Bastian sedikit marah yang sedang membereskan piring kotor.
"Emm itu tadi temen aku main kesini trus makan seblak. Aku ga ikut makan kog, beneran." jawab Tania berbohong.
Memang tanpa sepengetahuan Bastian, Tania sering makan-makanan pedas dirumah saat Bastian kerja. Biasanya dia langsung mencuci piring atau bekas tempat makan-makanan pedas itu. Tapi hari itu Tania kelupaan karena keburu dapat telepon Bastian. Selama ini Bastian memantau Tania melalui video call, setiap kali ada waktu luang Bastian selalu melakukan video call untuk melihat sedang apa atau sedang makan apa Tania.
"Awas ya kamu kalo ketahuan makan-makanan pedas kaya gini!" ancam Bastian
"Enggaklah, kan aku juga sayang sama diri aku sendiri." ucap Tania senyum
Sudah hampir satu bulan Bastian melalui hidup seperti ini. Pagi hari sebelum berangkat kerja dia menyiapkan sarapan, lalu berangkat kerja, disaat waktu luang dia mencari-cari pendonor ginjal diberbagai situs-situs online, kadang kala dia menelponi teman-temannya atau orang yang dia kenal untuk mencari pendonor ginjal untuk Tania, setelah pulang kerja dia langsung disibukkan dengan pekerjaan berberes rumah.
*Jangan lupa like dan komennya readers. Klik favorite untuk baca kelanjutan ceritanya.
__ADS_1