
Setelah selesai dengan pekerjaannya Cantika pun pulang diantar oleh Aditya. Mereka juga tidak lupa saling bertukar nomor telepon. Aditya memang sudah jatuh hati pada Cantika saat pertemuan pertamanya di kafe. Melihat Cantika begitu menghayati lagunya membuat Aditya terpesona. Meskipun begitu Aditya tidak ingin buru-buru mengungkapkan perasaanya. Dia ingin dekat dulu dengan Cantika sambil mengenal satu sama laih lebih dalam lagi.
Cantika dari awal sudah mengerti maksud dari Aditya mendekatinya. Dia tidak mempermasalahkan bahwa Aditya menyukainya. Menurut Cantika tidak ada salahnya jika dia berkenalan dan berteman dengan Aditya, karena memang Cantika juga membutuhkan seorang teman. Toh hanya berteman, Cantika juga tidak bermaksud memberikan harapan lebih padanya.
Seiring berjalannya waktu mereka dua semakin dekat. Seperti sudah kenal sejak lama, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sesekali mereka berdua jalan-jalan bersama putrinya Cantika, Fira. Jika orang lain melihatnya mungkin mereka mengira bahwa Aditya itu adalah ayahnya Fira. Tapi menurut Cantika, dia hanya menganggap Aditya sebatas teman saja. Aditya selalu datang ke kafe tempat kerja Cantika. Setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk mengantar Cantika pulang.
Enam bulan sudah Cantika bekerja di kafe, sampai suatu hari Aditya datang ke kafe bersama dengan Bastian dan Tania. Ya Aditya adalah sepupu jauh dari Bastian. Aditya sebenarnya orang Lampung yang merantau di Jakarta. Di Jakarta keluarganya adalah Bastian, selama ini memang Aditya tinggal dirumah Bastian.
Aditya sering menceritakan tentang wanita yang dia sukai pada Bastian. Bastian tidak tahu bahwa wanita yang disukai sepupunya itu adalah wanita yang selama ini dia cintai.
"Mana Dit cewek yang lo ceritain sama gue itu? Kog belum dateng." tanya Bastian
"Iya iya bentar lagi pasti datang. Dia kerja disini kog, tunggulah pasti datang." jawab Aditya melihat arah pintu masuk
"Tuh dia akhirnya datang juga." ucap Aditya melihat Cantika masuk ke kafe
"Cantika?" panggil Aditya melambaikan tangannya.
Sontak Bastian dan Tania pun terkejut mendengar nama yang disebutkan Aditya.
"Hei Dit?" sahut Cantika menghampiri Aditya
"Hei, ini aku kenalin kamu sama sepupu aku dan istrinya." ucap Aditya mengenalkan seraya merangkul Cantika
"Bastian? Tania?" ucap Cantika kaget melihat dua orang yang diperkenalkan Aditya
"Loh kamu sudah kenal?" tanya Aditya melihat Cantika
"He.em, mereka teman lama aku. Gimana kabar kalian?" jawab Cantika tersenyum menormalkan ekspresinya
"Baik." jawab Bastian
Tania hanya diam, wajahnya menyorotkan ekspresi kesal dan rasa tidak sukanya melihat Cantika di depannya.
__ADS_1
"Emm Dit, aku harus buru-buru siap-siap nih. Maaf aku duluan ya?" pamit Cantika meninggalkan meja mereka
"Jadi wanita yang kamu bilang janda anak satu itu si Cantika Dit?" tanya Bastian
"Iya Bas," jawab Aditya mengangguk
"Sejak kapan dia bercerai dengan Danish?" tanya Bastian lagi
"Lumayan sudah lama, udah ada 8 bulanan kalo ga salah." jawab Aditya
"Sial! Kenapa aku sampai ga tahu!" ucap Bastian kesal
"Kalo kamu tahu kamu mau apa hah?" tanya Tania
Bastian hanya terdiam dengan raut wajah kesal mendengar ucapan Tania.
"Udah ahh aku mau pulang." ucap Tania kesal
Saat Tania mau beranjak tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar Cantika bernyanyi.
(Memang ini bukan jalannya, aku dan dirimu sudah bukan jodohnya)
Tak tompo kanti ikhlas atiku, kowe medot tresno mergo ati sing liyo
(Ku terima dengan ikhlas hatiku, kamu putuskan cinta karena hati yang lain)
Kadung jeru nendes atiku, tresno sing tak roso kanggo sliramu
(Terlanjur dalam menindas hatiku, cinta yang ku rasa untuk dirimu)
Padang langit iki malih dadi mego mendung, tangise ati ra biso ketulung
(Cerah langit ini berubah jadi sangat mendung, tangisnya hati tidak bisa ketolong)
__ADS_1
Ilang wis ilang kari kenangan, we medot tresnoku demi dek'e sing mok sayang
(Hilang sudah hilang jadi kenangan, kau putuskan cintaku demi dia yang kau sayang)
Mung siji panjalokku kowe ojo sampek lali
(Cuman satu permintaanku kamu jangan sampai lupa)
Karo aku sing tau bahagia ro dirimu
(Sama aku yang pernah bahagia bersamamu)
Tapi perjuanganku ora mok regani
(Tapi perjuanganku tidak kau hargai)
Tunggunen karmamu yang menanti saat nanti
(Tunggulah karmamu yang menanti saat nanti)
Netes iluh ning pipiku sing deres mili iki
(Tetes air mata di pipiku yang deras mengalir ini)
Mergo atimu wis digawe ayem karo wong liyo
(Karena hatimu sudah dibuat nyaman sama orang lain)
Sing tak karepake mugo kowe biso bahagia karo dek'e
(Yang ku harapkan semoga kamu bisa bahagia sama dia*) }
***Ati Sing Liyo (Hati Yang Lain) - Happy Asmara
__ADS_1
*Jangan lupa like dan komennya readers. Klik favorite untuk baca kelanjutan ceritanya**.