BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM

BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM
34


__ADS_3

Sesampainya dirumah Cantika masih memikirkan ide dari Aditya untuk buka usaha sendiri. Cantika berusaha mencari-cari ide untuk usaha apa yang akan dia jalani, setelah bergulat dengan pikirannya Cantika terlelap karena kelelahan.


Saat Cantika membuka mata, ternyata sinar matahari sudah memenuhi kamarnya. Dia mengusap matanya dan mulai beranjak dari tempat tidur. Saat dia sedang membasuh wajahnya tiba-tiba dia teringat dengan ide tentang membuka usaha. Cantika langsung berlari menuju arah dapur untuk menemui mamanya.


"Ma? Mama?" panggil Cantika sambil berlari


"Ada apa sih Can? Kaya anak kecil aja lari-larian kaya gitu. Inget udah punya anak juga masih lari-larian." jawab Mama Cantika


"Hehe, maaf. Cantika lagi punya ide bagus ma, jadi harus cepet-cepet kasih tahu mama." ucap Cantika tertawa


"Apa? Ide apa?" tanya Mama


"Cantika pengen buka usaha sendiri ma. Cantika capek nyari kerja sana sini ga ada yang diterima. Ga mungkin juga kan kalo Cantika sepanjang waktu kerja jadi penyanyi kafe. Jadi Cantika kepikiran untuk buat usaha sendiri. Gimana menurut mama?" ucap Cantika senang penuh harap.


"Kalau kamu mau buka usaha sendiri mama sih ngedukung Can. Tapi jangan lupa, buka usaha itu juga butuh modal. Modal dana dan modal mental yang kuat. Emang kamu mau buka usaha apa?" tanya Mama


"Belum kepikiran ma, mama punya ide?" jawab Cantika


"Aduh Can Can, mau buat usaha tapi belum tahu usaha apa. Udah sana pikirin dulu usaha apa yang mau kamu buat. Ngerecokin mama masak aja kamu ini." ucap mama geleng-geleng


"Iya-iya nanti Cantika pikirin." jawab Cantika tersenyum dan langsung pergi meninggalkan dapur.


Cantika langsung balik ke kamarnya, dia membaringkan diri diatas kasurnya.


"Usaha apa ya yang kira-kira bisa bikin sukses dan pastinya simple." gumam Cantika


Sekilas Cantika teringat oleh Bastian, dia tersenyum mengingat kenangan itu. Bayangan Bastian yang sedang duduk di taman bersamanya sambil memakan camilan makaroni pedas kesukaanya sambil bercanda tawa dan seketika Cantika merasa bahwa makanan kesukaan Bastian dan dia itu ide yang cemerlang untuk dibuat usaha. Cantika browsing-browsing cara pembuatannya, dan ternyata sangat mudah membuat Cantika semakin yakin akan ide usaha tentang camilan tersebut. Cantika melihat-lihat barang apa saja yang ia butuhkan untuk menjalankan usahanya. Setelah selesai browsing, Cantika mulai mencatat semua yang dia perlukan.


Setelah Cantika selesai sarapan, dia mengatakan pada mamanya tentang ide yang didapatkannya tadi pagi. Dia meminta izin untuk pergi mencari barang-barang yang sudah dia catat.


Dengan hati yang gembira Cantika berbelanja. Dia fokus memilih-milih barang sesuai catatannya. Karena dia menggunakan earphone jadi dia tidak mendengar sekitarnya. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk bahunya.

__ADS_1


"Cantika?" panggil Bastian menepuk bahu Cantika


"Ehh Bastian." sahut Cantika menoleh melepaskan earphonenya.


Cantika sedikit terkejut melihat Bastian yang ada didepannya. Bagaimana tidak, baru tadi pagi dia memikirkan Bastian tiba-tiba laki-laki itu sudah berdiri didepannya.


"Kamu sedang apa disini?" tanya Cantika menormalkan ekspresinya


"Belanja." jawab Bastian mengangkat tas kresek ditangannya


"Ohh.. Iya ya. Ini kan supermarket." ucap Cantika menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kamu belanja banyak untuk apa?" tanya Bastian melihat keranjang belanjaan Cantika


"Ohh ini, aku mau coba buat beberapa makanan camilan sendiri. Jadi ini bahan-bahan yang diperlukan buat makanannya, ini juga untuk belajar dulu. Pengen buat usaha sendiri sih aku, kalo sudah bener-bener bisa buat camilannya baru deh nanti buka usaha sendiri." jelas Cantika


"Ohh gitu. Aku pengen ngobrol sama kamu boleh?" tanya Bastian


"Ya ngobrol sih, tapi maksud aku tuh nyari tempat duduk buat ngobrol lebih banyak lagi." jawab Bastian


"Gimana ya, yaudah deh kita ke kafe depan. Tapi aku bayar ini dulu." jawab Cantika menunjuk keranjang belanjaannya.


"Oke, aku tunggu di depan." ucap Bastian meninggalkan Cantika.


Setelah Cantika membayar belanjaannya merekapun pergi ke kafe depan supermarket.


"Can?" panggil Bastian


"Hemm." sahut Cantika sambil menyeruput minumannya


"Jelasin ke aku, kenapa kamu cerai sama Danish." ucap Bastian

__ADS_1


"Uhukk uhukk" Cantika tersedak mendengar pertanyaan Bastian.


"Buat apa Bas?" tanya Cantika


"Kamu tahu kan, aku sudah berkorban merelakan kamu untuk dia. Tapi apa ini, bukannya membahagiakanmu tapi kalian malah menceraikanmu." ucap Bastian marah


"Aku yang menceraikannya bukan dia." jawab Cantika


"Sama saja intinya kalian itu bercerai!" ucap Bastian tegas


"Bas, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kamu cukup memikirkan kehidupmu sendiri saja, berbahagialah dengan Tania. Kamu ga perlu memikirkan aku, dan kamu ga perlu ikut campur dalam hidupku." jelas Cantika


"Kenapa Can? Kenapa dulu kamu milih dia jika akhirnya seperti ini." ucap Bastian dengan mata yang penuh kesedihan.


"Bas, ini semua keputusanku. Aku yang memilihnya, aku juga yang menanggungnya. Kamu ga perlu merasa bersalah seperti ini." ucap Cantika menenangkan Bastian


"Kalau dulu aku yang menikahimu, pasti hidup kita akan bahagia." ucap Bastian menggenggam tangan Cantika


"Tidak ada lagi kalau, semua sudah terlanjur terjadi. Dan sekarang hanya ada kamu dan Tania. Jangan lagi memikirkan aku Bas. Lupakan aku." jawab Cantika melepaskan genggaman Bastian


"Selama ini aku sudah mencoba melupakanmu Can. Tapi perasaan ini memang tidak bisa dibohongi lagi, aku masih sangat mencintaimu. Aku sudah berusaha mencintai Tania, tapi tetap tidak bisa." jelas Bastian


"Maaf Bas, lupakan aku. Pendam rasa cintamu untukku. Jangan sekali-kali kamu menyakiti Tania hanya karena aku!" ucap Cantika marah dan langsung beranjak dari tempat duduknya.


Saat Cantika melangkahkan kaki, Bastian menghentikannya dengan menggenggam tangannya lagi.


"Apa cinta kita harus diuji terus seperti ini? Apa kita tidak akan pernah bisa bersama Cantika?" ucap Bastian dengan raut wajah yang sedih.


Cantika tidak menjawab, dia melepaskan genggaman Bastian dan langsung pergi meninggalkan Bastian. Air mata Cantika jatuh bercucuran. Tangis yang ia pendam dari tadi akhirnya tak terbendung lagi. Sejujurnya Cantika juga ingin bilang bahwa dia juga masih mencintai Bastian. Tapi dia tidak ingin melukai hati sahabatnya sendiri. Meskipun sikap Tania yang sudah acuh pada Cantika, tapi Cantika masih berusaha untuk menjaga hati Tania. Karena menurut Cantika, selamanya Tania itu sahabatnya.


*Jangan lupa like dan komennya readers. Klik favorite untuk baca kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2