BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM

BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM DIAM
18


__ADS_3

Tapi selama Tania mulai bekerja, memang sikap Tania sudah tidak lagi dingin. Dia sering sekali menunjukkan senyumnya. Bastian merasa senang bahwa Tania sudah mau menerima kenyataan pahit dihidupnya. Selama Tania bahagia akan pekerjaannya Bastian berusaha untuk mengerti dan bersabar.


"Sayang hari ini aku lembur lagi, ada banyak sekali pesanan catering." ucap Tania menata barangnya ke dalam tasnya.


"Iya, pulang jam berapa?" tanya Bastian


"Entahla aku juga kurang tau, mungkin jam 9 malam. Kamu tidak perlu menungguku, tidurlah dulu." jawab Tania


"Baiklah, aku mengerti." ucap Bastian menyeruput kopinya


"Kalau nanti mau makan, seperti biasa langsung order DO saja ya. Aku berangkat." pamit Tania mencium pipi Bastian


Bastian hanya mengangguk-anggukan kepalanya, seketika dia memandang langit-langit dan menghela nafas kasar.


"Seandainya kamu yang menjadi istriku, akankah hidup kita bahagia Cantika?" ucapnya lirih


"Aku sangat merindukanmu Cantika." imbuhnya.


Kemudian dia memejamkan matanya sebentar dan langsung beranjak untuk berangkat kerja. Diperjalanan menuju kantornya, pandangan Bastian tertuju pada seseorang. Seketika senyum diwajahnya mengembang. Bastian melihat Cantika beserta anaknya Fira sedang berdiri dipinggir jalan begitu gelisah ingin menyeberang. Karena lalu lintas yang begitu ramai, Bastian menghentikan mobilnya dan turun menghampiri Cantika.


"Hai Can?" panggil Bastian


"Ehh Bastian. Hai juga." sahut Cantika kaget menengok kearah Bastian.

__ADS_1


"Pada mau nyeberang ya?" tanya Bastian tersenyum.


"Ohh iya. Dari tadi pengen nyeberang tapi lalu lintas ramai banget." jawab Cantika


"Yaudah yuk aku seberangin." ajak Bastian.


"Sini om gendong." imbuh Bastian langsung menggendong Fira.


Akhirnya mereka berhasil menyeberang.


"Makasih ya Bas. Tapi kamu ngapain disini? Bukannya kamu harus kerja?" tanya Cantika


"Ahh iya, ini tadi juga perjalanan mau ke kantor. Ga sengaja liat kamu yang lagi bingung disini jadi aku berenti." jawab Bastian


"Jam masuknya masih lama, kamu sudah sarapan sama Fira?" tanya Bastian


"Belum, kami baru pulang dari rumah ibu Danish. Niatnya mau buru-buru pulang sambil jalan-jalan pagi, jadi belum sempat sarapan. Ini niatnya mau sarapan dulu disana." jawab Cantika menunjukan tempat makan


"Ohh gitu, aku ikut ya? Aku juga belum sarapan nih." pinta Bastian memegangi perutnya


"Lahh emang Tania ga masak?" tanya Cantika


"Tania ga pernah masak semenjak kerja. Yuk kesana." jawab Bastian berjalan menuju rumah makan masih menggendong Fira.

__ADS_1


Sampai dirumah makan Cantika memesan dua nasi campur untuknya dan Bastian, dan satu nasi dan telur dadar untuk Fira.


"Bu, yang satu nasi campurnya ga pake ayam ataupun telur ya. Kalau ada ikan pindangnya saja." ucap Cantika.


Bastian alergi akan ayam dan telur ayam, dan Cantika masih mengingatnya makanya Cantik memesan seperti itu pada pelayannya.


"Kamu masih ingat ternyata Can." ucap Bastian tersenyum


"Ya ingatlah, kita kenal ga cuman sebulan dua bulan tapi udah tahun-tahunan. Kalo ga inget ya kebangetan." jawab Cantika


"Iya iya." jawab Bastian


Sebelum makanan sampai, Bastian bermain dengan Fira. Terlihat akrab sekali padahal ini pertama kalinya mereka berkenalan. Bastian terlihat begitu sayang pada Fira, mungkin karena Bastian menginginkan seorang anak. Sesekali mereka bercanda sambil saling menggelitik. Melihat Fira yang begitu bahagia membuat Cantika ikut tersenyum.


Setelah sedikit lama menunggu akhirnya makanan mereka datang. Mereka melanjutan sarapannya. Setelah selesai Cantika dan Bastian pun berpisah.


Sesampainya dirumah Cantika masih kepikiran dengan Bastian. Meskipun tidak ada obrolan yang mengesankan tapi itu sudah membuat pikiran Cantika dipenuhi oleh Bastian. Sesekali Cantika tersenyum, dia merasa bahagia. Karena setelah sekian lama tidak bertemu dengan Bastian dan rindu yang dia pendam selama ini akhirnya bisa sedikit terobati.


Begitupun Bastian, setelah bertemu dengan Cantika raut wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Bahkan teman sekantornya keheranan melihat Bastian tersenyum bahagia seperti itu. Karena memang selama ini Bastian tidak pernah terlihat sebahagia itu. Saat sampai dibangkunya Bastian menghempaskan tubuhnya untuk duduk. Sambil memandangi langit-langit Bastian tersenyum.


"Baru tadi pagi aku memikirkanmu, tiba-tiba kamu datang dihadapanku. Mungkin Tuhan tahu tentang perasaan rindu kita dan masih ingin menjodohkan kita." batin Bastian.


*Jangan lupa like dan komennya readers. Klik favorite untuk baca kelanjutan ceritanya. Berikan vote untuk penulis karena itu sangat berguna.

__ADS_1


__ADS_2