
Bab 78 Mengambil Mutiara Air.
Meski banyak Sisik perisai Bion yang hilang menghadapi serangan monster-monster ini. Perisai Bion masih tetap teguh utuh mempertahankan kecepatannya tebang menuju Benteng monster yang berkerumun ini.
Terkejut dengan serangan mereka yang dapat di tangkis dengan mudah.
Monster-monster ini sekali lagi mulai menyerang musuh yang ada di hadapan mereka dengan sekuat tenaga. Dan tanpa ditahan-tahan, monster-monster ini dengan gila mengeluarkan berbagai senjata tersembunyi yang telah mereka simpan.
Boom... Boom...
Boom...
Booommmm....
....
Namun dengan cepat, monster-monster itu mulai merasakan apa arti kata keputusasaan itu.
Karena musuh mereka yang hanya mereka anggap sebagai cacing kecil.
Dengan berlalunya serangan mereka.
Telah cepat berubah dari rentan dan lusuh menjadi sebuah perisai kuat, mengkilap, bersih dan baru.
Arrrrggggg......!
Dalam kemarahan, kebingungan, dan keterkejutannya.
Monster-monster itu mulai menyerang Perisai Bion dengan lebih brutal dan gila. Mereka sepertinya telah meminum obat kuat dan kerasukan hantu jahat, yang berakibat bangkitlah darah buas hewan sejati mereka.
Karena kekejaman telah menjadi asal mereka.
Monster-monster itu tidak perduli lagi dengan apa itu perintah komandan dan organisasi pasukan.
__ADS_1
Saat ini.
Pikiran monster itu hanya memiliki ide untuk menghancurkan musuh yang ada di depan mereka.
Namun imajinasi dan kenyataannya sungguhlah sangat kejam.
Di depan mereka.
Hanya ada sebuah perisai yang semakin indah dan kuat, yang dengan cepat terbang mendekati benteng monster mereka.
...
Sesaat, tanpa menunggu mencapai benteng monster, untuk mendapatkan mutiara air.
Bion mulai memerintahkan banyak Jarum Jiwa yang telah bersembunyi di kedalaman perisai untuk mulai menyebarkan dengan liar, menghancurkan monster-monster yang telah dengan gila menyerang Perisai miliknya.
)ノ*.✧*´`。*゚+,`✧→
Menyisakan mutiara air yang dengan tenang melanyang di kekosongan, di tengah-tengah benteng mantan monster-monster ini.
Melihat dengan bantuan jarum jiwa.
Bion bisa melihat bahwa mutiara air yang melayang di kekosongan ini memiliki lapisan kabut putih dengan berbagai cahaya pelangi indah yang menyelimuti seluruh mutiara air itu.
Mengambil mutiara air dengan cepat menggunakan Jarum Jiwa sebagai penghubung ke Cincin Putih di jari tangannya.
Seaaat.
Bion melihat sekelilingnya, mendapati bahwa jarum jiwa miliknya telah mulai menyapu membersihkan sisa-sisa monster yang terlihat sangat berguna di seluruh benteng.
...
Dan saat ini.
__ADS_1
Bion yang jauh di sana di tengah Pilar Petir dan di tengah-tengah serangan berbagai monster yang masih mengepungnya dari berbagai arah.
Bion saat ini mulai sedikit menurunkan kepalanya dan mulai terdiam merenungkan sesuatu.
Merenungkan tingkah lakunya tadi.
Berpikir-pikir bahwa ia selalu merasa semakin dan semakin menjadi seperti kura-kura ninja yang sangat ahli dalam permainan strategi dan perintah dari jarak jauh.
" Uh, lihat saja."
" Dengan aku yang santai berada di tempat."
" Hanya dengan sekali perintah yang sederhana. "
" Dalam sekejap. "
" Semua hal yang telah aku perintahkan."
" Tanpa tahu kapan."
" Sudah langsung selesai, begitu saja. "
୧(^ ︶ ^)୨
" Tanpa aku perlu repot-repot lagi. Hehehe..."
Bion mulai dengan sombong mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.
(Penulis Novel Memutar mata dan menepuk kepala: "Oh, Se_ekor Ikan Asin yang malas.")
Bion mengabaikan Penulis Novel yang telah gagal ini. Dan hanya terus memfokuskan pandangannya ke arah mutiara air yang telah ada di kedalaman Cincin Putih, tempat penyimpanannya.
(Selesai)
__ADS_1