Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Mempesona


__ADS_3

Ratu merebahkan tubuhnya diatas kasur Nesya. Nesya yang baru saja keluar dari kamar mandi sontak berteriak kepadanya.


"Kenapa kemari, Queen? Pergilah ke kamarmu, Queen! Kakak mau istirahat!"


"Kak Nesya sayang, kenapa sih snewen saja kerjaannya?"


"Ini sudah malam ya Queen sayang, kakak mau bobok, Queen kembali dulu ke kamar gih!" bujuk Nesya lemah lembut.


drtttt drtttt drttttt


"Tunggu kakakku sayang, biar aku bicara dengannya sebentar." ucap Ratu menunjukkan ponselnya.


"Hallo sayang, ada apa menelpon malam-malam? Aku sudah mau pergi tidur!"


". . .."


"What? Yang benar saja, sejak kapan kamu di Jakarta?


". . .."


"Tidak-tidak. Kita akan bertemu diluar saja, aku akan mengajak kakakku yang cantik menemuimu besok! Bye." ucap Ratu menutup telpon.


"Siapa? Kenapa membawa namaku dalam urusanmu?" tanya Nesya penasaran.


"Kakak, sekarang Ratu akan kembali ke kamar, tapi kakak harus janji mau menemaniku besok!" ucap Ratu yang telah pergi meninggalkan kamar Nesya setelah selesai berkata.


"Aneh sekali, sudah seperti papa saja mengaturku semaunya."


•••


Dirumah, Ravindra sangat merasa lelah namun dia harus tetap mengerjakan pekerjaannya. Duduk di sofa kamarnya sembari memangku laptopnya.


"Apa benar dia orangnya? Aku harus segera memberitahu pak Rico mengenai masalah ini." ucap Ravindra kaget, lalu mengambil benda pipih yang ada diatas meja.

__ADS_1


"Halo pa."


"Ravindra? Ada apa menelpon papa malam-malam begini?"


"Besok sebelum papa berangkat kekantor tunggu Ravindra datang! Ada yang ingin Ravindra sampaikan."


"Baiklah. Sekarang tidurlah, nak!"


•••


Keesokan paginya Ravindra datang setelah keluarga Nesya selesai sarapan. Dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu yang rapi membuatnya terlihat semakin mempesona.



'Tampan, berkarisma, sexy . . ..Owh Nesya, apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan menatapnya atau jantungmu akan berhenti berdetak!' gerutu Nesya dalam hati.


"Kak Ken! Kenapa terlambat, kami baru saja selesai sarapan." ucap Ratu manja, penuh penyesalan.


"Ada apalagi dengan mereka berdua?" umpat Nesya.


"Nesya, mungkin urusan itu menyangkut masalah di kantor papa, kamu jangan berfikir buruk terus sama mereka berdua."


"Kak Nesya, bukankah kak Ken terlihat sangat mempesona." goda Ratu.


'Mempesona? Memang.' jawab Nesya didalam hati terdalam, hingga mama Renata dan Ratu tak bisa mendengarnya.


•••


Setelah sampai di ruang kerja, Jenderal Rico duduk di kursi kerjanya sedangkan Ravindra masih berdiri tegak dihadapannya.


"Duduklah, nak Ravindra! Katakan ada masalah apa?"


"Pak ini menyangkut kejadian di New York beberapa hari yang lalu."

__ADS_1


"Iya benar, kita hampir saja melupakan masalah besar ini. Lalu apa yang kamu ketahui, nak?"


FLASHBACK ON


New York City


Hari ini mereka selesai jalan-jalan dan memutuskan pulang saat menyadari hari mulai larut dan Ravindra segera menuju parkiran untuk mengambil mobil, sementara Nesya dan Destia telah menunggu di depan.


"Kemana Destia?" tanya Ravindra pada Nesya yang celingukan dipinggir jalan sendiri saja.


"Dia di toko seberang sana, aku akan menyusulnya!" jawab Nesya lalu mulai menyebrang, namun saat Ravindra memperhatikan dari arah depan ada sosok misterius yang menggunakan jaket tebal serta saputangan lalu menutup wajahnya dengan masker dan topi yang semuanya serba warna hitam. Satu tangannya tersembunyi dibalik saku jaketnya.


Mencurigakan!


"Nesya!" teriak Ravindra memanggil Nesya namun tak di dengar. Langkah sosok misterius itu semakin cepat mendekati Nesya, akhirnya Ravindra lari saat lampu merah masih menyala, ia menarik pinggang dan memutar tubuh Nesya lalu membawanya kedalam pelukan Ravindra.


"Ravindra, kamu! Apa yang sedang kamu lakukan ditengah jalan seperti ini?" kaget Nesya memberontak namun Ravindra mempertahankannya dan mendekapnya semakin erat, Ravindra merasa jika perutnya ditusuk pisau. Ia memejamkan kedua mata, menahan rasa sakit saat pisau yang tertancap tadi ditarik paksa oleh si tersangka. Ravindra bungkam meski mulut ingin berteriak kesakitan, ia tidak ingin jika Nesya sampai tahu dan membuatnya panik kala melihat kejadian ini. Ravindra menahan lukanya dengan satu tangannya agar darah segarnya tak banyak terbuang.


"Tetaplah seperti ini untuk beberapa menit saja! Kumohon, Nesya!" ucap Ravindra mengeratkan lagi pelukannya dan menahan rasa sakit diperutnya. Setelah merasa aman Ravindra membawa Nesya menuju mobil dengan tangan sebelah masih menekan perutnya, Ravindra menggandengnya dengan tangan yang satu.


"Maaf lama." ucap Destia mendekati mobil mereka.


"Tidak apa-apa Des, sekarang kalian segera pulang! Aku ada keperluan mendadak, kalian bisa pulang berdua kan?"


"Bisa." jawab Destia semangat.


"Kamu mau kemana, Rav? Apa kita ikut denganmu saja?" tanya Nesya.


"Tidak Nesya! Aku hanya ada perlu sebentar, setelah itu aku akan menemui kalian di Hotel! Cepat pulanglah dan jangan mampir-mampir, hati-hati dijalan! Jangan kemana-mana sampai aku kembali! Tetaplah berada didalam Hotel! Apapun yang terjadi." ucap Ravindra memaksa keduanya masuk mobil dan minta Destia untuk segera melajukan mobil meninggalkannya.


"Aku harus ke Rumah Sakit segera, beruntung hari sudah gelap dan Nesya juga memakai pakaian gelap, dia tidak akan menyadari kalau ada noda darah di pakaiannya." ucap Ravindra saat melihat telapak tangannya yang telah penuh dengan darah segar.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2