
Nesya dan Ravindra menghampiri meja Ratu dan Micky. Mereka kembali duduk untuk menikmati pesanan mereka sebelumnya tadi.
"Ehm, ada yang baru rujuk nih. Mana pakai acara bawa bunga sama teddy bear segala lagi. Dapat dari mana kak Nesya? Bukannya kakak dari toilet? Lama benar!" ledek Ratu panjang lebar.
"Queen! Kami bahkan belum menikah! Dan tentu semua ini pemberian dari Ravindra." tegas Nesya.
"Jika kamu mau, kita bisa segera mengurus segala berkasnya dan segera menentukan hari H, Nesya sayang." sergap Ravindra tersenyum menatap Nesya yang terlihat manyun dan melotot.
"Nah, itu bagus bro. Jadi, kami berdua tidak perlu menunggu lama dan bisa segera menyusul kalian berdua ke pelaminan. Lagi pula om Rico tidak memberi restu sebelum kalian yang menikah terlebih dulu." ujar Micky.
"Bagaimana jika pernikahan kita digelar secara bersamaan? Sepertinya akan sangat meriah. Sama halnya double date saat ini, kita juga bisa membuat double marriage suatu saat nanti." imbuh Micky melontarkan keinginannya.
"No!"
"Tidak." jawab Nesya dan Ratu bersahutan. Sementara kedua pria itu hanya mengerutkan dahi dan saling lempar pandang dengan penuh rasa heran.
"Double marriage? Kamu yang benar saja, Ky!" imbuh Nesya yang di angguki Micky.
"Why?" tanya Micky meminta penjelasan.
"Itu tidak akan terjadi, Micky! Setiap wanita menginginkan pernikahan dan hal sakral itu merupakan mimpi terbesar dalam hidup. Dan aku, tidak ingin buru-buru dalam melakukan persiapannya. Karena selain siap mental, kita juga harus siap dengan berbagai macam hal lainnya." jelas Nesya.
"Betul. Aku setuju dengan kak Nesya." Ratu memberikan kedua jempolnya.
"Dan lagi pula aku itu ingin disaat hari pernikahanku nanti menjadi moment paling bahagia dan berkesan seumur hidup ku dan suamiku pastinya. Karena aku hanya ingin hal se-sakral seperti itu terjadi hanya cukup sekali saja dalam hidupku. Aku benar-benar ingin menyiapkan segalanya secara matang dan dengan hati yang benar-benar tepat dan mantap." ucap Nesya menatap dalam manik hitam Ravindra.
"Apa aku tidak tepat untukmu, kamu meragukan perasaanku, Nesya?" Nesya terdiam seribu bahasa.
"Lalu, bagaimana jika setelah kamu jadi istriku aku pergi meninggalkanmu terlebih dulu, Nesya? Apa kamu tidak akan mencari pengganti ku dan menikah untuk yang kedua kalinya?" ucapan Ravindra membuat Nesya menghentikan aktifitas makannya. Ia meletakan sendok diatas piringnya dan memutar tubuhnya menghadap pada Ravindra.
"Apa yang kamu katakan?" ucap Nesya seolah perkataan Ravindra kurang jelas baginya.
"Ravindra! Aku bersungguh-sungguh denganmu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat tiba untuk kita bisa melangsungkan pernikahan." imbuh Nesya menjelaskan.
"Iya. Tapi, umur tidak ada yang tahu, sayang! Dan bagaimana jika sebelum kita menikah aku terlebih dulu pergi? Apa kamu tidak akan menikah?" jawab Ravindra sedikit senyum lalu menarik hidung Nesya pelan.
"Omong kosong! Aku hanya akan menikah denganmu. Dan aku akan terus minta pada Tuhan, supaya Dia mengambilku terlebih dulu sebelum Dia membuatku merasakan kehilangan orang yang aku cinta. Dengan begitu aku tidak akan menghianati mu dengan adanya pernikahan kedua."
"Nesya sayang, lalu apa yang harus aku lakukan jika kamu pergi mendahuluiku? Aku bahkan tak bisa bernafas tanpamu. Itu artinya aku akan mati detik itu juga bersamamu." jelas Ravindra.
"Cukup. Cukup. Kalian berdua ini, bisakah menikmati hidup layaknya air yang mengalir? Ikuti saja arusnya! Belum-belum membahas yang tentu hanya Allah taala yang tau." ucap Micky yang terlihat kesal dengan obrolan kedua makhluk dihadapannya itu.
"Tau? Harusnya kalian berdua itu membayangkan keindahan hidup setelah pernikahan! Dimana kalian akan pergi honeymoon? Lalu, menikmati waktu berdua setiap saat, setelah itu memberikan nama yang indah untuk anak-anak kalian kelak dan membesarkan mereka penuh rasa cinta." ucap Ratu yang menatap kosong pada suatu sudut dengan pikiran yang jauh didepan matanya.
"Queen?" ucap Nesya menggeleng tak percaya bahwa saudaranya bisa berfikir sejauh itu, hal yang bahkan tidak pernah Nesya bayangkan, mimpikan, apalagi sekedar lewat di otak dan pikirannya selama ini.
"Aku tidak salah pilih pendamping. Meski kadang sangat menyebalkan dan kekanakan, tapi kamu cukup dewasa, Ra." puji Micky.
"Aku memang sudah dewasa, sayang. Bahkan jika kamu berbicara sama seperti kak Ken tadi, aku pastikan akan langsung menerimanya." ucap Ratu menatap sinis Nesya.
"Sudahlah. Pernikahan itu satu hal sakral, bukan hal yang main-main. Jadi, aku paham dan tidak akan pernah memaksamu. Aku akan menunggumu hingga kamu benar-benar siap dan memantapkan hatimu padaku, Nesya." ucap Ravindra tak ingin Nesya termakan sindiran Ratu.
"Lupakan! Kita sedang kencan sekarang. Ayolah! Nikmati kembali makanannya dan pikirkan kemana kita akan pergi setalah ini!" ucap Micky semangat.
•••
Mobil melaju menuju sebuah Mall. Mereka memutuskan untuk nonton bioskop. Ravindra membeli tiket dan Micky mengantri membeli minum dan camilan. Sementara kedua gadis cantik itu pamit ke toilet.
"Kenapa mereka lama dan tak segera kembali?" ucap Ravindra merasa khawatir.
"Tenang bro. Mereka sudah dewasa dan tidak akan tersesat meski di Mall sebesar ini sekalipun." sahut Micky yang mulai mendekat dengan membawa dua minuman dan dua pop corn ditangannya. Ravindra mengambil masing-masing satu dari tangan Micky.
"Aku tahu. Hanya saja mendadak aku merasa tidak enak."
"Kau sakit? Aku akan menghubungi Ratu atau Nesya kalau begitu." Micky segera meraih ponselnya, namun dengan sigap Ravindra menahan lengannya.
"Aku tidak sakit, Ky. Tapi mendadak perasaanku tidak enak, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Apa yang kamu takutkan? Lihatlah mereka berdua bahkan baik-baik saja!" ucap Micky yang telah melihat kedatangan Ratu dan Nesya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua masih berdiri disini? Filmnya akan diputar segara!" Ratu dan Nesya menarik pasangan masing-masing hingga saling duduk berdampingan di kursi sesuai momor.
Kali ini film bergenre horor yang menjadi pilihan kedua pasang kekasih itu. Mereka memperhatikan layar dan tak banyak bicara.
"Menyeramkan." bisik Nesya sedikit mendekat wajah Ravindra.
"Tutup saja matamu!" jawab Ravindra dengan mata tetap fokus pada layar dan jemarinya kembali mencomot pop corn.
"Kamu tidak memperhatikanku dan terus saja menatap layar. Aku tidak suka film horor." Nesya mengambil ponsel dan memainkannya. Seketika Ravindra menghentikan aktifitasnya dan cepat merengkuh tubuh Nesya di pelukannya, lalu mencium bibir Nesya singkat.
Klotek!
"Kenapa?" tanya Ravindra saat Nesya mencoba membebaskan diri.
__ADS_1
"Ponselku terjatuh." jawab Nesya pelan mulai menunduk menengok kebawah.
"Biar aku carikan." Ravindra ikut menunduk dan tangannya meraba bawah kursi disekitar kaki mereka hingga cukup lama.
"Dapat?" tanya Nesya.
"Belum."
"Ketemu." imbuh Ravindra beberapa saat, ia memberikan ponsel yang sempat jatuh pada Nesya. Ravindra kembali bersandar, namun ia merasa sangat tidak nyaman. Ia membelalakkan mata tatkala melihat sebuah pisau lipat tertancap sempurna di sandaran kursinya. Ia menatap kursi dibelakangnya dan melihat sosok pemilik kursi yang duduk dibelakangnya itu pergi dengan langkah cepat dan terburu-buru. Ranvindra mencabut pisau dengan paksa hingga meninggalkan Nesya tanpa sepatah kata.
"Sayang, mau kemana? Ranvindra!" tanya Nesya yang telah melihat Ravindra berlalu.
"Nesya, ada apa?" tanya Micky yang diikuti tatapan Ratu mengarah padanya.
"Entah, aku akan mencarinya keluar." Nesya segera berlalu.
"Ayo, Ra!" ajak Micky menarik lengan sang kekasih dan segera meng-ekori Nesya.
"Eh, ada apa ini? Mau kemana kita? Itu, filmnya belum habis!" bingung Ratu.
•••
Ravindra terus berlari kencang mengejar sosok didepannya. Ia bahkan sampai mengabaikan teriakan Nesya dan lainnya yang juga terus memanggilnya, berusaha untuk menghentikannya.
"Berhenti!" teriak Ravindra yang kini telah keluar Mall.
"Ravindra!" kini Nesya telah berdiri didepannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu mengejar orang itu? Siapa dia?" tanya Nesya kembali berucap. Ravindra menunjukan pisau lipat kepada Nesya.
"Orang itu berusaha melenyapkan ku dengan benda ini." Nesya dan yang lain terkejut bukan main. Tiba-tiba Nesya meneteskan air mata.
"Nesya, percayalah tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Aku harus menemukannya dan Micky tolong kalian semua kembali ke rumah! Aku akan segera menyusul kalian. Maafkan aku harus pergi sekarang!" Ravindra kembali berlari meninggalkan ketiganya.
"Nesya, ayo kita pulang!" ajak Micky.
"Kak Nesya ayolah!" Ratu geram melihat Nesya yang sama sekali tak bergerak.
"Queen? Bahkan bukan hanya nyawaku yang kini terancam. Ravindra terlibat karena aku selalu disisinya. Jika ujung pisau runcing tadi sampai tertancap ditubuhnya apa dia akan selamat untuk yang kesekian kalinya? Aku bahkan tidak pernah melihat pisau yang merobek perutnya dulu. Aku takut kehilangan Ravindra setiap kali hal seperti ini terjadi. Aku tidak bisa melihatnya terluka lagi dan lagi." tutur Nesya tetap menatap tempat terakhir dimana Ravindra tak terlihat lagi.
"Benar kata kak Micky. Sekarang ayo pulang kak Nesya, atau kak Ken akan marah nanti karena kakak tidak menuruti perkataannya." bujuk Ratu.
'Aku hanya duri yang akan melukaimu setiap saat. Aku harus menjauh darimu, aku tidak ingin kamu terluka lagi, meski aku harus membuatmu sangat terluka kali ini. Tapi, setidaknya ini merupakan akhir dari segalanya dan kamu tak akan merasakan luka lagi, lagi, dan lagi dikemudian hari. Ya, aku harus segera mengakhiri semua ini!' batin Nesya.
•••
Ravindra kehilangan jejak orang itu. Ia frustasi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memutar bola matanya mengedarkan pandangan, namun tak juga melihat sosok yang dicarinya.
"Stubby! Terjunkan team kemari, SEGERA! Aku akan mengirimkan lokasinya." tanpa menunggu jawaban Ravindra menutup ponselnya.
"Aku yakin orang itu masih berada disekitar sini! Sial! Kenapa aku tidak menyadari jika seseorang telah mengawasiku?" gerutu Ravindra tak terlalu keras dan kurang jelas untuk didengar.
Beberapa menit kemudian
Terlihat beberapa orang lelaki mendekati Ravindra. Memberi hormat dengan sikap siap dan tegap.
"Cari orang itu sampai ketemu! Aku yakin orang itu bersembunyi disekitar sini."
"Siap. Captain." jawab kelimanya bersamaan dan segera membubarkan diri, berplencar mencari orang itu.
•••
Micky, Ratu, dan Nesya telah sampai kediaman Jendral Rico. Ketiganya keluar mobil dan hendak masuk, namun mendadak Nesya menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi kak Nesya?"
"Mobil papa?" tanya Nesya yang sudah pasti tau jawabannya.
"Papa pasti akan mempertanyakan keberadaan Ravindra, Queen." imbuh Nesya takut.
"Kita tinggal menjawabnya. Apa sulitnya?" kata Micky dengan santainya.
"Kak Micky, ini tak semudah yang kakak katakan!" ucap Ratu.
"Baik. Aku yang akan mengatakannya nanti."
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan bicara pada papaku. Ayo Queen! Micky maaf, lebih baik kamu pulang sekarang!"
"Tapi, Nes?"
__ADS_1
"Besok datanglah kembali!"
"Sayang aku pulang." pamit Micky pada Ratu. Ia segera masuk mobil dan meninggalkan kediaman Jendral Rico.
"Ayo kak Nesya!" ajak Ratu setelah menatap kepergian Micky.
"Kalian sudah pulang? Dimana Ravindra? Apa dia sudah pergi? Harusnya dia melihat mobil papa kan? Tumben tidak masuk dulu menemui papa."
"papa?" Nesya memeluk papanya dengan manja. Entah mulai kapan ia jadi sedekat ini dengan sang ayah.
"Om, kak Nesya, Ratu pamit keatas dulu." keduanya mengangguk, Ratu segera meninggalkan keduanya.
"Papa dimana mama?"
"Ada dikamar. Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi?" Nesya segera menggelengkan kepala.
"Nesya, kamu belum menjawab pertanyaan papa." ucapnya lagi.
"Apa pa?"
"Ravindra, dimana dia?"
"Papa, anak papa disini kenapa malah mencari Ravindra?" jawab Nesya dengan nada kesal.
"Pa."
"Iya. Ada ada?"
"Nesya ingin bodyguard baru."
"Kenapa? Itu artinya kamu akan kehilangan Ravindra, Nesya! Kalian berdua bertengkar?"
Nesya menggeleng. "Pa, Nesya dan papa sama-sama menyukai Ravindra. Justru karena itu Nesya ingin Ravindra berhenti jadi bodyguad, karena Nesya tidak ingin dia terus-terusan terluka dan terkena masalah."
"Itu sudah tugas dan tanggung jawabnya, Nesya."
"Pa, Nesya tidak bisa jika harus melihatnya terluka lagi. Nesya mohon! Papa mau kan?"
"Nesya, sekalipun Ravindra tidak menjadi bodyguardmu lagi, tetap saja dia akan berhadapan dengan bahaya lain yang bisa mengancam nyawanya setiap saat."
"Makasud papa apa? Dia bisa bekerja seperti Edo dan Dodi kan? Lagi pula dia akan aman jika dipekerjakan dirumah."
"Nesya, suatu saat nanti kamu akan tahu."
"Tahu apa pa?"
"Pa, Nesya berfikir untuk mengakhiri semua ini." ucap Nesya dengan sangat berat hati.
"Mengakhiri apa?"
"Mengakhiri semuanya. Hubunganku dengan Ravindra sebagai bodyguard maupun pacar atau calon istri dan apapun itu sebutannya."
"Nesya, berpikirlah yang jernih! Bicarakan terlebih dulu dengan Ravindra!"
"Tapi, . . .?"
"Nesya, Ravindra orang baik. Papa memang sangat menginginkannya jadi mantu papa. Tapi, jika memang kalian tidak berjodoh papa bisa apa? Papa tidak pernah memaksa siapapun. Begitu juga sebaliknya, jika kalian berdua jodoh, sesulit apapun kamu berusaha menjauh maka dia akan kembali padamu."
"Pergilah dan bersihkan dirimu! Setelah itu pikirkan kembali keputusanmu! Terkadang mengakhiri suatu hubungan bukanlah solusi satu-satunya yang terbaik, dan itu justru hanya akan berdampak semakin buruk hingga akhirnya menciptakan sebuah penyesalan." jelas papa Rico sebelum bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
Nesya melangkah menaiki setiap anak tangga. Ia mencerna setiap ucapan papa Rico padanya. Sesampainya dikamar Nesya membanting tasnya dikasur dan masuk kamar mandi. Ia berendam di bathtup yang telah dipenuhi dengan busa dan kembali terniang setiap kata sang ayah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ravindra? Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak ingin kamu terluka atau bahkan jika sampai benar-benar pergi sangat jauh dari kehidupan ini dan juga diriku. Aku bingung antara mengakhiri atau mempertahankan kamu untuk tetap berada disisiku selalu?" ucap Nesya bermonolog.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1