Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Keep Loving


__ADS_3

Ravindra dan papa Rico begitu terhanyut saat mendengar pengakuan Nesya. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat dan saling memandang random antara satu dengan yang lain.


Setelah merasa membuang waktu cukup lama dalam diam, Nesya melangkah perlahan mendekati papa Rico, mendudukkan diri disampingnya dan memberanikan diri untuk kembali angkat suara. "Apa yang bisa Nesya lakukan sekarang, pa? Selain mengorbankan diri dan membuat diri ini terlihat egois dimata kalian? Pria gila itu berhasil mengancamku dan aku sungguh dibuat tak berdaya oleh ancamannya itu. Papa, katakan sesuatu padaku! Aku harus bagaimana untuk menyelamatkan nyawa separuh jiwaku yang juga merupakan kehidupanku itu? Katakan papa! Bukankah papa juga sangat menyanginya bukan? Bahkan lebih dari aku, mungkin. Putri kandung papa sendiri. Lakukanlah sesuatu untuknya, pa! Nesya mohon!" ucap Nesya merengek di pelukan sang papa yang dibalas dengan usapan lembut yang membuatnya merasa tenang. Sedangkan kedua pria diruang itu hanya saling melempar pandangan.


"Tenanglah Nesya! Kamu adalah putriku satu-satunya, harta yang paling berharga yang papa dan mama punya. Kami sangat menyangimu karena sebab itu papa selalu keras dalam mendidikmu, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya nak. Apa yang kamu lakukan itu tidak salah, juga tidak sepenuhnya benar."


"Lalu bagaimana yang benar, pa? Pria gila itu tidak akan tinggal diam melihatku bahagia bersama pria selain dia, tak terkecuali dengan Ravindra, yang papa sangat inginkan jadi mantu papa."


"Nesya." panggil Ravindra dengan segala keraguannya. Sementara gadis itu hanya menoleh dan kembali membuang wajah asal, tak menatap Ravindra.


"Kamu tidak bisa berbuat apapun untuk masalah ini bukan?" tanya Nesya meremehkan Ravindra.


"Aku bisa dan akan menghadapi mereka semua yang berani mengusik hidupmu, Nesya." jawab Ravindra tegas membuat sosok seorang Jendral Rico dan Nesya menoleh kaget dengan ucapannya itu.


"Bukan aku. Tapi, lebih tepatnya kita. Ya kita, aku, kamu, papa, mama, Ratu dan Destia juga seluruh orang dirumah ini jika perlu, terutama wanita penghianat itu. Kita akan melawannya bersama, sayang." imbuh Ravindra.


"Tidak Ravindra! Apa kamu juga sudah mulai gila? Kamu akan melibatkan semua orang dirumah ini? Mereka akan ikut celaka nanti dan aku tak ingin itu sampai terjadi. Papa, tolonglah katakan padanya jangan libatkan orang-orang yang aku sayang, aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya dan semua orang dirumah ini."


"Nesya sayang, dengar! Kita akan melawannya dengan cara halus sehingga pria gila itu tidak akan menyadarinya. Dengar aku baik-baik Nesya, papa!"


Ravindra mulai menjelaskan pada Nesya dan juga papa Rico tentang rencana yang telah ia siapkan. Keduanya terlihat menganggukkan kepala, tanda bahwa keduanya setuju dengan perkataan Ravindra tersebut. Namun, ada kalanya juga keduanya menggelengkan kepala tanda tak yakin dengan rencana itu. Dan Ravindra tentu bisa meyakinkan keduanya dengan sangat mudah.


"Baiklah, apa konfensi meja bundar telah berakhir? Jadi, kalian akan kembali bersama bukan?" tanya papa Rico mesem.


"Tentu saja pa. Aku akan tetap menjadi SUAMI SIAGA untuk putri tercinta papa, ya meski tanpa harus sepengetahuan pria gila itu." jelas Ravindra bahagia. Nesya melotot pada Ravindra dan membuang muka, menatap wajah bahagia papanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Papa harus ingat, pria dewasa didepan papa ini masih berstatus pengawal yang juga CALON SUAMI dari putri papa yang cantik ini. Jadi, papa bisa katakan padanya agar menjaga sikap, dihadapan papa terutama." ucap Nesya manja.


Papa Rico mengangguk dan tersenyum kecil. "Ravindra, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan putriku barusan, kan?" Ravindra mengangguk.


"Ok. Karena masalah kalian berdua telah mendapat titik terang, jadi boleh papa pergi ke Kantor sekarang juga?" keduanya mengangguk kompak. Tanpa berniat menunggu lebih lama lagi, papa Rico segera berlalu pergi, setelah berhasil kembali memeluk dan mencium kening sang putri tercintanya.


Hening


"Hari ini nona Nesya punya jadwal pemotretan dan syuting iklan. Jadi, jam berapa nona Nesya akan pergi?" ucap Ravindra menggoda gadis didepannya.


"Kenapa memanggilku begitu disini? Haruskah?"


"Ya. Aku ini bodyguardmu nona, apa kamu lupa akan hal itu? Aku harus membiasakan lidahku, sayang. Beda denganmu yang sudah terbiasa. Dan lagi, sebelum penghianat itu keluar dari rumah ini, aku rasa hal itu sangat diperlukan. Dan, coba kemarilah sebentar saja!" Nesya tak segera beranjak dari duduknya. Ia malah menatap jauh ke sembarang arah. Ravindra mengalah dan beranjak dari duduknya. Ia meraih kedua tangan Nesya dan melepas cincin pemberiannya dari jari manis gadisnya itu. Nesya tersentak kaget.


"Apa yang kamu akan lakukan dengan cincinku ini?" Nesya merampasnya paksa dan memakainya kembali.


Ravindra membuang nafas perlahan. "Sayang, untuk sementara cincin ini harus lepas dari jari manismu itu."


"Aku bisa memakainya di jari yang lain." protes Nesya ngotot dan memakainya dijari lainnya. "Kenapa tidak pas di jari yang lain?" gerutu Nesya kesal.

__ADS_1


"Tentu saja! Cincin ini kuberikan khusus hanya untuk jari manismu." ucap Ravindra merebut cincin itu kembali sambil merogoh dengan tangan yang lain, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas yang dikenakannya. "Tenang, jangan cemberut begitu makin imut tahu, kamu akan tetap memakai cincin dariku, sayang. Tapi, tidak untuk di jari-jari kecilmu melainkan disini!" ucap Ravindra mengaitkan benda yang melingkar dileher jenjang Nesya.


Nesya meraba dan menemukan kalung emas putih menghiasi lehernya, dimana juga terdapat cincin pemberian Ravindra yang telah tergantung indah disana. "Apa ini emas sungguhan atau hanya kalung imitasi?" ejek Nesya bercanda.


"Apa kamu sedang menghinaku, sayang? Aku tidak mungkin memberi barang imitasi pada calon istriku terutama untuk seorang model terkenal Nesya Adriana Faranisa Arora putri semata wayang dari Jendral Besar Rico Putra Arora. Semua yang aku beri untukmu asli dan murni 100%, termasuk dengan cintaku ke kamu." jelas Ravindra sungguh-sungguh.


"Maafkan aku Ravindra!" ucap Nesya dengan nada penyesalan.


"Untuk?"


"Semuanya. Semua yang telah aku lakukan padamu dan juga luka yang selalu ku beri untukmu."


Ravindra menganggukkan kepala. "Lalu?"


"Lalu? Apa?" Nesya bingung. Ia berfikir telah berbuat salah dan telah meminta maaf, lalu apa lagi? pikirnya.


"Lupakan dan ayo bersiap untuk pergi kerja!" ucap Ravindra bangkit dan mulai melangkah pergi, tak ingin menunggu Nesya yang terlihat masih berpikir.


"Tunggu! Ravindra, thank you." ucapnya setengah berteriak.


"For?" tanya Ravindra tanpa menoleh.


Nesya tak langsung menjawab. Ia beranjak dari sofa empuknya dan melangkah perlahan mendekati Ravindra, berdiri dihadapan pria tampan yang merupakan bodyguard juga calon suaminya itu. Ia mendekatkan wajahnya pada Ravindra, membuat pria itu menutup mata dan berfikir jika gadis itu akan menciumnya barangkali. Tapi, sayangnya bukan itu yang terjadi. Nesya hanya membisikkan sebuah kalimat di telinganya. "Thanks. For, keep loving your stupid girl (Terimakasih. Untuk, tetap mencintai gadis bodohmu ini)." ucapnya berbisik pelan dengan nada sexy nan menggoda. Ia segera keluar dari ruangan itu setelahnya. Meninggalkan Ravindra yang masih dibawah sadar. Mungkin.


•••


Pukul 09.00 WIB


Nesya dan Ravindra dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan. Mereka tidak menjemput Destia karena wanita itu berangkat lebih dulu ke sana.


"Siap untuk bermain?" tanya Ravindra pada Nesya.


"Kamu anggap ini permainan? Aku akan melukaimu Ravindra."


"Hei, kamu harus bermain dengan baik dan benar. Ok? Ingat, jangan biarkan dia menyentuhmu dan sampai kamu menyentuhnya!"


"Kamu juga mengancamku sekarang?" tanya Nesya memelas.


"Tentu tidak. Kamu milikku. Aku harap kamu tidak melupakan itu."


"Bagaimana aku akan melupakannya? Kamu selalu hadir dan tinggal di mataku, otakku dan hatiku." Ravindra mengusap rambut Nesya lalu meraih tangannya dan mencium punggung tangannya yang kecil itu.


"Apa kamu bahagia bersamaku?" Nesya mengangguk.


"Apa kamu tidak bisa menjawabnya dengan kalimat yang sexy?" tanya Ravindra menggoda Nesya. Meletakkan jemari kecil itu pada wajah Ravindra dan memberi usapan lembut diwajahnya itu.

__ADS_1


"Sayang, fokuslah menyetir!" ucap Nesya menarik paksa tangannya.


"Aku selalu bahagia saat bersamamu. Tapi, aku rasa tidak denganmu!" imbuh Nesya.


"Tidak. Aku sama bahagianya saat bersamamu."


"Tapi, di pesta Nadira kemarin. Kamu senang diciumnya?"


"Apa maksudmu?"


"Dasar semua pria pada dasarnya sama, tidak akan menolak jika diberi ikan seperti kucing."


"Hei, kapan temanmu itu menciumku?"


"Aku rasa kamu tidak lupa rasa ciumannya."


Ravindra mengingat kapan Nadira menciumnya? Tidak, wanita itu tidak mencium tapi hanya berbisik. Mungkin Nesya melihatnya seperti sedang menciumnya. "Ya, dia menciumku dihadapan temanmu yang lainnya. Kenapa? Kamu cemburu? Pasti." ledek Ravindra.


"Tidak untuk apa?"


"Lalu untuk apa kamu minum banyak alkohol jika bukan karena cemburu melihatku dicium wanita lain?"


"Dia sungguh menciummu? Tapi, aku tidak mabuk karena itu. Kenapa lama sekali sampai lokasinya?" ucap Nesya mengalihkan pembicaraan. Ravindra tersenyum lalu memutar tuas menambah kecepatan laju mobil.


"Wusssh!"


.


.


.


.


.


.


OK.


Sekian dulu dari thor happy reading.


Episode selanjutnya ketemu sama pria gila, ya?


Jangan lupa tekan ❤👍💬 dan vote jika berkenan dan beri rate bintang 5, ya? THX.

__ADS_1


__ADS_2