Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Bucin?


__ADS_3

Pagi harinya, usai mandi Nesya berdiri di balkon kamarnya untuk menikmati udara pagi dan pemandangan disekitar rumahnya. Ketukan pintu terdengar keras dari luar kamar dan tak lama kemudian masuklah mama Renata yang kini mulai mendekatinya.


"Mama." ucap Nesya setelah memutar pandangannya. Nesya dengan cepat meraih dan memeluk tubuhnya penuh kasih sayang lalu melepaskannya perlahan.


"Nesya kangen saat setiap pagi mama datang untuk membangunkan dan memeluk Nesya seperti saat ini." imbuhnya.


"Nesya? Apa kamu dan Ravindra . . .?" Nesya menghentikan ucapan mama Renata melalui sorot mata yang dengan mudah terbaca oleh mama Renata.


"Baik katakanlah, nak!" ucapnya kembali.


"Mama, kemarin siang sebenarnya Ravindra mengajakku pergi ke suatu tempat."


"Kemana? Apa dia melakukan hal buruk padamu?" tanya mama Renata dengan begitu khawatirnya.


"Tidak mama. Tapi, Ravindra hanya telah melamar Nesya saja." ucap Nesya sembari mengangakat tangannya, memperlihatkan cincin yang menghiasi jari manisnya pada sang mama.


"Jadi, Kalian berdua sungguh? Ternyata ini yang membuat papa dan putri mama terlihat begitu bahagia? Ravindra berhasil memenangkan hatimu, Nesya. Tapi, apa kamu benar sungguh-sungguh mencintainya, nak?"


"Papa bahagia? Tentu papa akan bahagia, dia mungkin juga yang paling bahagia saat ini karena memang hanya Ravindra yang papa yakin dan inginkan untuk Nesya selama ini. Mama tidak perlu cemas, Nesya bahagia dan Nesya benar-benar telah mencintainya, ma. Entah sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh? Nesya sendiri tak tahu, tapi yang pasti Nesya tahu saat ini adalah kenyataan bahwa Nesya telah mencintainya, ma. Mama tidak keberatan kan jika memiliki menantu seperti Ravindra yang hanya seorang bodyguard?"


"Jika papamu saja tidak keberatan, lalu kenapa? Dan mengapa mama harus berberat hati? Lagipula mama juga tahu dia type orang yang baik dan bertanggung jawab, dan dia pasti juga sangat mencintai putri mama yang cantik ini." ucap mama Renata memandang manik mata sang putri, seolah mencari kebenaran dari matanya yang memang terlihat sangat meyakinkan. Keduanya kembali berpelukan.


"Baiklah, lalu kapan putri mama ini akan menikah?" pertanyaan mama Renata seketika membuat Nesya segera melepas pelukannya.


"Mama? Usia Nesya baru 23 tahun dan mama sudah meminta Nesya segera menikah?" jawab Nesya cemberut.


"Sayang, banyak gadis seumuran kamu bahkan telah menikah dan memiliki anak satu atau dua tahun di luaran sana. Menikah muda itu kan suatu hal yang membahagiakan. Kalian bisa mewujudkan mimpi kalian bersama dan jika nanti cucu mama lahir, kalian akan tetap terlihat masih muda. Dan yang pasti ketika anak kalian punya anak nanti, kalian masih bisa melihatnya. Dan lagi Ravindra sudah sangat cukup dewasa untuk anak mama ini."


"Apa mama dulu juga menikah muda?" Kali ini Nesya kembali memeluk sang mama tercinta.


"Tidak sayang, kamu tahu jelas berapa usia mama dan berapa usia pernikahan kami sekarang, kan? Mama hanya ingin melihatmu menikah dan memberi cucu sebelum mama pergi."


"Mama! Mama selalu saja berbicara begitu kalau sudah menyangkut umur. Apa mama tahu? Mama itu masih terlihat sangat muda dari umur mama dan tetap terlihat cantik. Bahkan orang yang tidak tahu akan mengira jika mama adalah kakakku. Dan masalah cucu? Nesya bisa berdiskusi dengan Ravindra nanti. Mama tidak perlu berpikir yang tidak perlu untuk dipikirkan terutama umur. Umur itu sangat misterius ma, yang sakit sakitan lama belum tentu meninggal dan yang sehat seperti Nesya ini bisa saja dengan tiba-tiba jatuh sakit atau langsung meninggal! Mama paham itu? Nesya sayang mama. Sangat. Sangat. Sangat." ucap Nesya mempererat pelukannya. Nesya tentu tahu bahwa mama Renata memang sudah pantas menimang cucu mengingat usianya yang sudah hampir 51 tahun. Tapi, kalau soal fisik dan penampilan beliau sangat jauh dari kata tua.



"Baiklah anak cantik dan pintar, kesayangannya mama. Sekarang, ayo kita pergi sarapan dulu! Papa dan Ratu pasti sudah menunggu kita dibawah." Nesya meng-angguki ajakan mama Renata dan ke-duannya melangkah keluar kamar.


•••


Di lantai bawah, papa Rico dan Ratu memang telah duduk dan sedang menunggu istri juga anaknya itu dimeja makan. Ratu hanya terus menunduk dan memainkan jarinya. Bukan apa-apa, dia hanya merasa canggung saat berhadapan dengan papa Rico hanya seorang diri.


Hening


Sunyi


Sepi


"Ratu!" suara papa Rico tiba-tiba memecahkan gendang telinga. Ratu menatapnya dan kembali menunduk.


"Apa Micky masih berada di Jakarta?" imbuhnya bertanya.

__ADS_1


"AAAH . . .. Iya om." jawab Ratu.


"Jika sedang tidak sibuk suruh dia datang kemari besok sore!"


"Ada apa om?" tanya Ratu.


"Baik om. Ratu akan bicara padanya nanti ditelpon." imbuh Ratu tersenyum.


"Bagus. Ayo lekas makan!" Ratu meng-anggukinya dan segera meraih piringnya untuk mengambil nasi.


"Ada apa ini? Tumben seisi rumah tersenyum bahagia hari ini. Tapi, mama lebih sangat bahagia melihatnya." ujar mama Renata yang telah duduk di kursinya. Tentunya berdekatan dengan kursi sang suami.


"Tidak ma, hanya pengen dekat saja dengan para calon mantu kita."


"Lhah? Memangnya calon mantu papa ada berapa banyak hingga harus pakai kata 'para' segala?"


"Lho. Kan lebih dari satu, ma. Benar begitu bukan, Ratu? Nesya? Benar kan kata papa?" Nesya dan Ratu mengangguk pelan.


"Ya. Ya. Ya. Papa benar sekali. Bisa kita mulai sarapannya?" ucap Nesya menghentikan kedua orangtuanya.


"Tentu." papa Rico mengangguk dan mama Renata mulai mengambilkan nasi di piring sang suami. Mereka menikmati menu sarapan pagi yang telah tersaji. Selesai makan Nesya dan Ratu duduk diruang tengah.


'Kenapa Ravindra belum kemari? Biasanya pagi sebelum sarapan dia sudah datang?' umpat Nesya dalam hati.


"Kak Nesya! Kapan mau pergi traktir akunya? Jalan-jalan, makan, atau shopping?" tanya Ratu yang tetap fokus pada layar tv.


"Nanti kalau tidak sedang sibuk!" jawab Nesya santai.


"Sibuk pacaran lah mau apa lagi coba?" jawab Nesya kembali santai.


"Dasar bucin!"


"Apa itu bucin?"


"Astaga, kak Nesya! Bucin is budak cinta. Kak Nesya parah banget sih gak tau arti kata bucin!"


"Kakak mah masa bodoh! Ini kenapa Ravindra lama banget datangnya?"


"Kakak Nesya-ku sayang, ini masih jam tujuh lebih sedikit. Lupakan! Mungkin dia tidak akan datang dan akan pergi dengan yang lain." ucap Ratu menjahili Nesya.


"Mana mungkin? Ravindra bukan orang yang seperti itu!" Nesya meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang, namun meski sudah berulang kali ia mencoba tetap saja tak kunjung mendapat jawaban darinya.


"Tidak dijawab?" Nesya tak menghiraukan pertanyaan Ratu.


"Sabar kak Nesya, mungkin kak Ken sedang dijalan atau sedang sibuk. Aku pergi ke kamar dulu. Kak Micky pasti senang mendengar kabar hubungan kalian berdua. Dah, bucin!" ucap Ratu meninggalkan Nesya yang masih terus mencoba menghubungi Ravindra.


•••


Pukul 06.30 WIB, Ravindra sudah sampai di markas. Ia berniat menemui pria pengecut yang merupakan tangan kanan James. Sampai saat ini ia belum bisa meyakinkan pria itu.


"Selamat pagi, Capt."

__ADS_1


"Selamat pagi, Capt."


"..."


"..."


"..."


"..."


"Selamat pagi, Capt." ucap semua orang yang berpapasan dengannya, memberi salam dan hormat.


"Selamat pagi, Captain Ravindra!" ucap seseorang yang telah membuka pintu suatu ruangan. Ravindra melepas jasnya dan memberikannya pada anak buahnya. Ia segera melangkah masuk menemui pria itu diikuti Tiger dan Rabbit di belakangnya.


"Mayor Nando Setiawan, nama yang bagus. Anda juga sangat setia terhadap sahabat anda James! Apa anda ingin benar-benar tahu kejadian yang sesungguhnya?" tanya Ravindra tenang. Tiger dan Rabbit berdiri diantara Nando.


"Brigadir!" jelasnya.


"Brigadir James? Maaf, maksudku adalah James. Mantan perwira TNI yang kehilangan jabatan secara tidak hormat karena telah menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja."


"Itu semua bohong! Jendral Rico lah yang telah membunuhnya lalu ia mengkambinghitamkan Brigadir James yang juga sahabatnya sendiri! Ingat, kamu hanya anak kemarin sore, pak. Dan yang tak tahu apapun soal masalah ini!"


Bugh


Bugh


Tinjuan Tiger melayang keras pada wajahnya sementara Rabbit melempari wajahnya dengan garam yang pasti membuat pria itu merasa sangat perih. Ravindra mengangkat tangan yang merupakan kode agar kedua anak buahnya berhenti.


"Arghhh!"


"Mencintai wanita yang sudah bersuami dan mencoba mencelakai janinnya saat dia tahu Nita-nya tengah mengandung anak dari Putra, sang suami yang merupakan rival? Bukan rival tapi penghalang. Putra tidak ingin orang yang sangat dicintai dan mencintainya terluka atau sampai kehilangan buah cinta keduanya hanya karena kegilaan James. Ia rela mengorbankan nyawanya untuk istri dan benih cinta mereka! Jendral Rico saat itu tepat berada dihadapan mereka dan menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana pria gila itu menghancurkan hidup Nita, kakak dari sang istri. Dan membuat calon anaknya lahir tanpa memiliki ayah! Meski dia memiliki ayah yang bahkan telah rela menukar nyawanya sebelum sempat dia melihatnya terlahir di dunia! Anda seorang ayah bukan?"


Suasana hening semua bungkam.


"Jendral Rico tentu sangat marah dan kecewa pada sahabatnya itu. Ia bisa saja melenyapkan kep***t itu dari muka bumi ini saat itu juga! Tapi, dia masih manusia biasa yang beruntung karena memiliki jiwa nasionalisme tinggi, dia ingat bahwa seorang perwira tidak boleh sampai hilang kendali apalagi melanggar sumpah TNI dan aturan lainnya. Dia hanya melumpuhkan sahabat sekaligus musuhnya saat itu."


"Anda seorang ayah dan juga seorang anak. Anda bisa merasakan kedua hal itu dengan sempurna hingga saat ini. Dicintai anak dan pendapat perhatian kedua orang tua anda. Sedangkan anak malang itu? Dia harus terlahir tanpa pernah tahu siapa ayahnya. Tekad kalian yang terlalu kuat dan memaksakan diri yang membuat kalian secara tidak hormat kehilangan jabatan kalian! Bayangkan jika anda terus mendukung pria gila itu untuk menghabisi seluruh keluarga Jendral Rico. Bahkan jika putrinya yang tidak tahu apapun itu menjadi korban kegilaannya, apa kamu pernah berpikir jika hal itu terjadi pada anak-anakmu? Dan apa yang akan kalian peroleh jika telah menghancurkan keluarga itu? Tidak ada bukan? Karena kalian hanya orang bodoh yang mau dijadikan tangan kanannya untuk melancarkan ke gilannya itu! Bahkan wanitanya itu kini telah meninggal. Untuk apa yang kalian lakukan terhadap Jendral Rico? Balas dendam tidak akan merubah apapun! Apalagi kepada orang yang tidak bersalah."


"Dengar! Aku tidak akan menjebloskan anda ke dalam jeruji besi jika anda bersedia membantuku dan mengakhiri kegilaan yang diperbuat James. Ingat! Seorang ayah tidak akan mungkin membunuh seorang anak, bukan? Jika itu sampai terjadi mungkin orang itu sudah tidak waras atau memang telah buta mata dan tak punya hati!" Ravindra mengajak kedua anak buahnya segera keluar.


"Kapten, aku rasa dia mulai gusar." ucap Rabbit.


"Biarkan dia berpikir! Hanya dia yang bisa membantu kita menemukan James."


"Captain Ravindra, ponsel anda terus saja berdering." ucap seorang memberikan jas yang memang milik Ravindra.


"Captain, lebih baik jika anda langsung pergi menemuinya saja atau seluruh orang akan menertawakan anda kembali nanti." ucap Rabbit.


"Kalian? Fokuslah pada tugas kalian!" ucap Ravindra segera berlalu.


"Robbi, kamu tahu benar senyum kapten kita itu sangatlah mahal harganya tidak mungkin dia akan tertawa hanya dengan menatap ponsel pintarnya itu! Aku penasaran siapa gerangan yang telah membuatnya lumer?" jelas Tiger.

__ADS_1


"Diam lah! Kapten Ravindra itu akan selalu ramah dengan siapapun saat diluar jam kerja apalagi jika itu orang spesialnya? Tentu akan sangat istimewa." tutur Rabbit yang mulai melangkah meninggalkan Tiger.


__ADS_2