
Ratu masuk kekamar Nesya untuk memanggilnya karena dibawah Destia telah menunggu.
"Kak Nesya! Kak Nesya bangun, kak!" teriak Ratu membangunkan Nesya dari tidurnya yang terus saja berteriak memanggil Ravindra.
"Queen? Apa aku hanya bermimpi? Apa ini di kamarku?"
"Tentu ini kamar kak Nesya. Kak Nesya mimpi buruk? Ada apa? Kenapa berteriak memanggil kak Ken?"
"Queen, kak Nesya takut Ravindra tak akan pernah kembali. Apa perlu kakak menghentikannya, memintanya untuk tetap tinggal disini?"
"Mimpi hanyalah bunga tidur saja, kak Nesya. Kakak jangan panik. Ayo bangun dan pergilah mandi! Kak Destia telah menunggumu dibawah. Dan lihatlah! Aku telah siap menemanimu pemotretan sore ini." Nesya bangkit dan segera pergi ke kamar mandi.
•••
Kini Nesya, Destia, dan Ratu sedang menuju lokasi pemotretan dengan ditemani kedua bodyguard barunya. Mereka tak banyak bicara, seperti merasa canggung satu sama lain. Begitu sampai lokasi, Nesya segera turun dan ingin cepat melakukan pekerjaannya.
"Ada apa dengannya?" tanya Destia pada Ratu.
"Entahlah kak Destia. Tadi, dalam tidurnya ia terus saja meneriakkan nama kak Ken."
"Ratu? Apa mungkin Nesya telah jatuh cinta pada bodyguard tampannya itu?"
"Kelihatannya memang seperti itu. Tapi kak Nesya belum menyadarinya saja."
"Lalu kita harus berbuat apa untuknya?" Keduanya terus saja mengobrol. Nesya telah selesai make up dan mulai melakukan pekerjaannya seperti biasa. Seperti tidak ada beban dibenaknya. Membuat kedua gadis yang bersamanya itu heran melihatnya.
"Lihat! Dia bahkan bisa tersenyum seperti itu sekarang." keluh Ratu.
"Mungkin Nesya hanya sedang fokus pada tanggung jawabnya." jawab Destia.
__ADS_1
Setelah selesai kedua wanita itu menghampiri Nesya dan mengajaknya pulang. Sesampainya di mobil mereka masuk dan mobil mulai berjalan.Nesya terlihat murung, beda saat sedang melakukan pemotretan tadi.
"Kalian berdua! Bawa kami pada atasan kalian!" perintah Ratu.
"Queen? Ke rumah Ravindra? Untuk apa? Tidak! Kita kembali ke rumah saja!"
"Kak Nesya harus bertemu dan membicarakan apa yang perlu kak Nesya ungkapkan padanya." papar Ratu.
"Nes, ada benarnya yang dibilang Ratu. Kamu perlu bertemu dan berbicara padanya!"
'Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi, aku tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Aku tidak ingin Ravindra marah padaku.' ucap Nesya dalam hati. Destia yang melihatnya melamun segera menyikutnya.
"Kenapa malah melamun?" Nesya hanya meresponnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Bawa kami pulang ke rumah, aku sangat lelah!"
"Baik nona Nesya." Ratu dan Destia pasrah, mereka tidak ingin memaksa Nesya dan menghargai keputusannya.
•••
Mama Renata dan papa Rico terlihat sedang menikmati makan malam mereka. Mereka tidak menunggu kedua putrinya karena setahu mereka, keduanya akan makan malam diluar.
"Kalian sudah kembali? Sudah makan malam?" ucap mama Renata pada ketiga gadis yang baru saja datang. Ketiganya mendudukkan diri dimeja makan tak terkecuali Destia.
"Om Rico, mami Renata, malam ini boleh Destia menginap disini menemani Nesya?" ucap Destia sembari tersenyum menyapa orangtua Nesya.
"Tentu boleh nak. Mami sangat senang kalau Nesya banyak teman dirumah."
"Asik, Ratu boleh juga menemani kak Nesya?"
"Boleh. Ayo kalian makan malam dulu!" ujar mama Renata.
__ADS_1
"Terimakasih mami." ucap Destia tersenyum.
"Papa? Nesya ingin berbicara dengan papa! Nesya tunggu di ruang kerja papa." ucap Nesya berlalu.
"Ada apa dengan putri kita, pa?" tanya mama Renata terlihat cemas.
"Kalian lanjutkan makan malamnya, aku akan bicara padanya." Setelah pamit Jendral Rico menemui putrinya, yang terlihat menangis memandang luar jendela.
"Ada apa lagi Nesya? Kenapa bersedih hati?" Nesya memutar tubuhnya dan berhadapan dengan papa Rico.
"Papa mengirim Ravindra keluar negeri? Untuk apa? Papa tidak bisa melihat Nesya sedikit bahagia? Saat Nesya mulai merasa nyaman dengan kehadirannya, papa menyingkirkannya dariku? Apa mau papa?"
"Nesya kamu berpikir negatif tetang papa? Papa sangat menyangi putri papa. Papa harus sedikit keras kepadamu karena papa memang tidak ingin putri papa ini salah pergaulan. Mengenai Ravindra, dia hanya akan pergi beberapa waktu dan papa yakin dia akan dengan segera mungkin menyelesaikan tugasnya di sana dan segera kembali padamu."
"Tugas apa? Dimana? Kenapa mendadak? Dia telah memilikiku sebagai pekerjaannya."
"Nesya. Kamu harus paham, Ravindra memiliki tanggung jawab besar selain menjagamu. Lagi pula dia telah mengirim orang pilihannya untukmu dan kamu harus menerimanya."
"Dia siapa? Sehingga terlihat seperti orang terpenting di bumi ini? Apa tidak ada pengawal handal selain Ravindra?"
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya, tapi tidak untuk sekarang." Jendral Rico meninggalkan putrinya yang sedikit terlihat tenang dari sebelumnya.
'Apa maksud papa?' gumam Nesya dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.