
Ravindra dan Nesya kini sedang berada didalam mobil untuk menjemput Destia. Malam ini Nesya pergi untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman sekolahnya dulu. Karena jarak cukup jauh dan harus menjemput Destia terlebih dulu maka keduanya berangkat sedikit awal. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam tak ada obrolan hingga akhirnya Destia datang.
"Hay Nesya sayang, hay juga kak Ravindra tampan." sapa Destia pada keduanya sebelum akhirnya masuk mobil dan mendudukkan diri.
"Hei! Apa kalian berdua sedang bertengkar? Kenapa kamu duduk disini, Nesya sayang?" tanya Destia yang mendapati Nesya duduk di jok belakang tak seperti biasanya didepan bersampingan dengan Ravindra.
"Why? Apa ada larangan aku duduk dimana, Destia? Ayo jalan! Apa kita hanya akan diam diri disini?" jawab sinis Nesya karena Ravindra tak segera melajukan kembali mobilnya.
"Kamu menjadikan pacarmu sopir, Nesya? Sungguh keterlaluan kamu ini. Banyaklah bersabar kak Ravindra! Pacarmu yang satu ini memang sedikit egois selain bodoh dan keras kepala juga. Bukan benar begitu?" cibir Destia kala mobil kembali melaju menuju tempat pesta.
"Diam Destia! Dia hanya seorang . . .." ucapan Nesya terhenti kala ponselnya berdering. Nesya melihat lalu mengabaikannya. Hal itu terus terjadi berulang kali, hingga kuping Destia merasa sangat terganggu.
"Kenapa kamu terus saja mengabaikannya, Nesya? Angkatlah atau jika perlu matikan saja ponselmu itu! Berisik sekali! Lagi pula siapa sih yang meneleponmu?" sewot Destia geram. Nesya segera menggeser icon berwarna hijau pada lcd ponselnya.
"Hallo." sapa Nesya malas.
'Mungkinkah si penelpon itu pengendali Nesya?' batin Ravindra bertanya sambil sesekali melirik Nesya dari kaca spion.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku mau Nesya Adriana Faranisa Arora?" jawab orang dibalik ponselnya.
"Iya. Kenapa kau terus saja menelpon dan menggangguku? Aku sedang dalam perjalanan sekarang!"
"Mengganggumu? Don't worry! Aku tak akan meneleponmu hingga berulang kali, jika sedari awal kamu langsung menjawabnya tadi, aku hanya tidak suka diabaikan apalagi olehmu. Dan ingat, aku membiarkan pengawalmu itu tetap disisi-mu saat ini karena keselamatanmu saja, tapi kalau sampai kalian berani berbuat macam-macam lagi seperti halnya tadi siang, aku tak akan mengampuninya dan tak akan pernah membiarkanmu tinggal didekatnya lagi meski hanya sedetik saja. Apa kamu paham maksud dan mauku, Nesya Adriana Faranisa Arora?"
'Apa maksud orang ini? Apa saat aku dan Ravindra di taman belakang tadi? Dia mengetahui moments itu? Bagaimana mungkin?'
"Kamu masih mendengar ku? Ingat baik-baik janjimu padaku saat itu! Atau pengawal sialan itu akan benar-benar lenyap dari muka bumi ini. Selamat bersenang-senang, aku akan segera datang padamu." telpon berakhir. Nesya menatap kosong ke sembarang arah. Ravindra yang melihatnya benar-benar dibuat tak bisa menerka apa yang telah terjadi saat ini.
"Nesya? Telpon dari siapa? Kenapa mendadak kamu jadi tegang begitu?" tanya Destia kepo.
"Calon suami." Destia membelalakkan mata sementara Ravindra mengerem mendadak mobilnya karena merasa syok.
"Apa kamu sudah gila, Ravindra? Kamu mau aku mati muda?" teriak Nesya emosi pada Ravindra.
"Siapa orang yang tadi menelpon nona?" tanya Ravindra tenang meski sebenarnya perasaannya kacau balau.
"Apa kamu tuli? Destia sudah bertanya dan aku sudah menjawabnya dengan jelas tadi!"
"Nesya! Kenapa kamu bicara kasar pada kak Ravindra? Lagi pula siapa calon suamimu itu? Dia pacarmu tentu dia tidak salah jika mempertanyakannya." Nesya enggan menjawab dan lebih memilih diam.
"Nesya, pacarmu itu kan kak Ravindra! Bagaimana penelpon tadi itu bisa jadi calon suamimu? Jika pacarmu saja disini dan tak sedang meneleponmu, Nesya. Kamu bahkan masih mempunyai hutang cerita padaku, hingga sekarang hubungan kalian kandas aku juga belum mendengar sama sekali cerita bagaimana kalian akhirnya bisa jadian dan sekarang tiba-tiba sudah berakhir begitu saja? Semudah dan secepat itukah perasaan kalian berubah?"
"Kamu tidak tahu apapun Destia! Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu."
"Nesya! Kak Ravindra? Apa ini maksudnya? Kalian sungguh telah berakhir? Aku bahkan baru tahu hubungan kalian kemarin bukan?"
"Kenapa kalian berdua bungkam? Sungguh kalian berdua ini pasangan yang paling menyebalkan dan teraneh!" gerutu Destia yang tak dapat respon dari salah satunya.
•••
Sesampainya di Hotel yang merupakan tempat digelarnya pesta itu. Ketiganya turun dari mobil dan masuk kedalam. Yah, sayang sekali pesta telah dimulai dan mereka terlambat.
"Hallo Nesya, Destia!"
"Hay Nadira, happy birthday to you. Makin cantik aja." ucap Nesya.
"Hay Nad, happy birthday."
__ADS_1
"Thank you. Kalian berdua juga makin cantik dan kompak saja. Wait, and. Who is this handsome man? Dia pacar atau suami siapa? Nesya or Destia?" ucapnya menatap ketiganya bergantian.
"Nadira kenalkan dia Ravindra dan Ravindra ini Nadira salah satu teman SMA kita dulu. Dan dia ini baru kembali dari London belum lama ini." jawab Destia. Keduanya saling menjabat tangan memperkenalkan diri.
"Handsome man. Masih singel?" tanya Nadia tak malu-malu.
"Ya. Tunangan ku baru saja memutuskan hubungan tanpa sebab dan alasan yang jelas dan tepat. Itu tentu sangat buruk bukan?" jawab Ravindra melirik wajah Nesya.
"Okay, aku bisa menggantikan tunangan mu itu jika berkenan. Apa dia lebih cantik dariku?"
"Dia selalu terlihat cantik dimataku dan paling cantik diantara wanita manapun, tapi kamu juga cantik Nadira."
"Baiklah. Tentu aku ini cantik, aku wanita. Mari kita berbincang sembari menikmati hidangan!" ajak Nadira.
"Dasar laki-laki! Tidak bisa melihat yang bening sedikit lewat begitu saja. Laki-laki semua sama bukan? Mulut bilang A tapi yang lain, lain lagi. Bilang aku yang paling cantik tapi lihat dia mengabaikan dan meninggalkanku begitu saja." gerutu Nesya tak jelas saat melihat Ravindra dan Nadira telah melangkah mendahuluinya.
"Ayolah Nesya!" seru Destia yang melihat Nesya tak mengikuti langkahnya.
"Aku malas berdiri, aku akan duduk disana saja." ucap Nesya menunjuk pada meja bartender.
"Seriosly? Kamu tidak berniat untuk minum alkohol bukan?" tanya Destia tak percaya.
"Jika butuh kenapa tidak?" jawab Nesya segera melangkah dan duduk menyendiri ditempat itu.
"Ada apa dengannya? Dan Ravindra? Kenapa dia malah memilih mengikuti Nadira?" gumam Destia yang tak lama mengikuti jejak Nesya. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Nesya.
•••
Ravindra terlihat berdiri jauh dari Nesya, ia dikerumuni begitu banyak gadis juga Nadira disampingnya. Namun, pandangannya tetap tertuju pada sosok Nesya yang tengah duduk dimeja bartender dan beberapa kali meneguk alkohol.
"Ravindra? Apa pekerjaanmu? Dan bagaimana kamu bisa mengenal Nesya dan Destia? Setahuku mereka tidak pernah membiarkan lelaki menjadi teman dekat sepertimu saat ini." tanya Nadira dengan rasa keingintahuannya.
"Aku bodyguard Nesya. Tentu aku dekat dengan keduanya." jawab Ravindra memaksakan senyumannya.
"Sungguh? Kamu bodyguard Nesya? Ya Tuhan, aku kira kamu pacarnya. Sungguh kamu seorang bodyguard? Kenapa rasanya tidak mungkin ya."
"Kenapa? Ada yang salah denganku?"
"Tentu tidak. Kamu sangat kelewat tampan untuk jadi seorang bodyguard. Apa kamu tidak ingin jadi businessman? Aku bisa membantumu jika kamu ingin."
"Aku tidak tertarik untuk itu. Aku lebih suka pekerjaanku sekarang ini. Mengawasi gadis bodoh yang mungkin akan membuat kekacauan dipestamu malam ini." jawab Ravindra tak lepas dari sosok Nesya.
"Apa kamu memiliki perasaan untuk gadis bodoh itu?" tanya Nadira berbisik di telinganya saat menyadari kemana arah pandangan Ravindra.
Ravindra tersenyum. "Hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu. Maaf, aku permisi." pamit Ravindra.
"Pria yang menarik." ucap Nadira tertarik.
•••
Destia ngeri melihat Nesya yang telah banyak minum. Ya, meski kesadarannya masih dibatas normal, Destia cukup mengkhawatirkannya. "Nesya cukup! Aku tidak ingin melihatmu mabuk! Ini sama sekali bukan dirimu." cegah Destia saat Nesya kembali meneguk bir untuk yang kesekian kalinya.
"Aku masih waras Destia." jawab Nesya tertawa.
__ADS_1
"Okay. Tetaplah disini! Aku angkat telpon dulu." pamit Destia yang mulai melangkah pergi, menjauh dari Nesya.
"Hei. Kamu Nesya bukan?" tanya seorang pria yang duduk disampingnya dan menatap tajam wajahnya.
"Ya." jawab Nesya mengangguk tak begitu tertarik dengan pria disampingnya itu.
"Kamu hanya sendiri Nesya? Dimana temanmu? Mau dansa denganku?" tanyanya saat alunan musik dansa menghias ruang tersebut. Nesya malas meladeni pria yang entah siapa dia tak tahu dengan jelas. Yang pasti Nadira tidak mungkin mengundang sembarang orang bukan?
"Tentu dia bersama kekasihnya disini. Kamu mengajaknya berdansa? Tapi, maaf dia hanya akan melakukannya denganku." ucap Ravindra yang tiba-tiba berdiri di samping Nesya dan merangkul pundaknya.
"Dia sungguh kekasihmu, Nesya? Maaf, aku akan pergi." ucap pria itu bangkit dan berlalu.
"Kamu bukan lagi kekasihku, Ravindra!"
"Ya. Aku tahu itu. Tapi, aku tidak akan membiarkan sembarang orang menyentuhmu. Ayo, kita pulang!"
"Pulang?"
"Ya. Lihatlah dirimu! Kamu sudah sangat kacau Nesya."
"Tidak bodyguard ku. Bukannya tadi kamu bilang akan berdansa denganku? Ayo, ajak aku dansa denganmu!" Nesya beranjak dari kursinya menarik pergelangan Ravindra menuju lantai dansa dan meninggalkan minumannya.
Nesya meletakkan kedua telak tangan Ravindra di pinggangnya. Kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Ravindra dan mulai melangkah kecil ke kakan dan ke kiri secara teratur dan beriringan dengan langkah Ravindra, mengikuti alunan musik yang begitu tenang, cukup menenangkan hatinya.
"Kamu suka dansa? Aku sangat menyukainya." tanya Nesya yang dijawabnya sendiri.
"Kamu tahu cinta itu butuh pengorbanan bukan? Aku rela berkorban melakukan apapun itu untuk orang yang aku sayang dan cintai. Jangankan hatiku jika perlu nyawaku sekalipun aku akan memberikannya. Dan itu yang selalu bodyguardku katakan." ocehan Nesya kembali. Ravindra menyadari mungkinkah Nesya sudah terpengaruh alkohol.
"Apa kamu sedang mengorbankan diri sendiri untuk cintamu?" tanya Ravindra pada Nesya yang kini memandang lekat wajahnya.
"Aku tak yakin kamu tidak mengetahuinya, bodyguard. Apa aku salah jika aku melakukan hal sama?" Ravindra meraih tangan Nesya yang melingkar dileher menuntun berhenti di bahunya. Ia mengangkat tubuh ramping gadis itu, memutar tubuhnya dengan indah dan sempurna. Setelah beberapa detik menurunkan dan memutar tubuh sang gadis lalu memeluknya dari belakang, tangan kiri beralih mendekap leher dan tangan kanannya telah sampai pinggang.
"Aku tahu apapun yang kamu lakukan. Aku berharap saat-saat seperti itu segera berakhir. Aku tidak ingin melihatmu menderita dan tersiksa karena kebodohanmu sendiri. Aku lebih suka jika kamu menyakiti diriku saja, cukup aku saja Nesya." Nesya tak menjawab ia menyandarkan kepala di dada bidang Ravindra. Membiarkan kenyamanan ini terus dapat ia rasakan. Tak butuh waktu lama Ravindra kembali memutar tubuh Nesya menghadap dan menatapnya. Sedetik kemudian Ravindra berhasil mengangkat tubuh gadisnya kembali, berputar perlahan hingga beberapa kali putaran. Sementara Nesya memejamkan mata dan kedua tangannya lurus menumpu pada bahu Ravindra sementara kedua kaki ditekuk diatas udara. Menikmati setiap kenyamanan yang diberikan Ravindra padanya.
'Aku tahu kamu akan mengertikan aku Ravindra. Aku bahagia untuk cinta kita ini. Aku akan mengatasi akar masalah kita bersamamu, kita bisa melaluinya berdua. Aku akan membiarkanmu terus hidup tanpa harus aku mengorbankan dirimu, melukaimu dan mengkhianatimu. Aku akan selalu mencintaimu, hingga sampai kita kembali bertemu lagi di kehidupan setelah di dunia.'
Musik berhenti, Ravindra menurunkan tubuh Nesya perlahan dan secara beriringan Nesya membuka kedua matanya dan memindahkan kedua tangannya dari bahu Ravindra untuk menangkap wajah tampan didepannya itu.
"Terimakasih. Aku suka dansa ku malam ini. Lebih indah dari dansaku yang sebelum-sebelumnya." ucap Nesya setelah mendengar tepuk tangan meriah dan sorakan gemuruh dari para tamu undangan yang lain. Ya, mereka jadi tontonan memukau selama mereka dansa tadi.
"Sungguh dansa yang sangat indah. Dapet banget feel-nya." puji Destia yang menghampirinya dan berdiri di samping keduanya.
"Aku akan kembali ke meja- . . .." ucap Nesya terpotong saat Ravindra menahan lengannya.
"Kita akan pulang. Kamu sudah terlalu banyak minum dan tak kan aku biarkan kamu mabuk malam ini. Ayo Destia ajak artismu itu pulang!"
Ketiganya berpamitan terlebih dulu pada tuan rumah yang memiliki acara. Ravindra berencana mengantar kembali Destia kerumahnya baru membawa pulang Nesya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bang Ravindra mau bawa pulang neng Nesya kemana, abang?