
Nesya kini terlihat sedang menikmati senja dengan warna eloknya diatas permukaan air laut. Ia menatap pada langit yang tinggi nan indah dipandang itu.
"Ku titip rindu, pada langit yang kau tatap. Ravindra, disaat seperti ini aku baru bisa merasakan betapa pentingnya kehadiran dirimu di sisiku. Kamu selalu memberiku kenyamanan dan ketenangan tanpa aku sadari itu. Aku ingin tersenyum bahagia bersamamu seperti saat itu. Aku rindu marah dan kesalmu saat aku terlihat bodoh tak pernah mau menurut denganmu." ucap Nesya memegang gelang kaki yang kini terletak ditelapak tangannya.
"Jika kamu telah kembali nanti, aku tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dari sisiku. Di manapun kini dirimu berada, kemana saja tujuanmu sekarang? Semoga kamu selalu baik-baik saja, Ravindra." ucap Nesya monolog.
"Nesya kamu disini? Aku mencarimu sedari tadi!" ucap Destia mendekati Nesya yang baru selesai memasang gelang dikakinya kembali.
"Untuk apa mencariku? Aku lebih senang saat sedang sendiri saja. Orang di sekitarku selalu mempermainkanku sesuka hati mereka. Aku tidak suka itu. Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu!" jawab Nesya tanpa memperhatikan siapa yang sedang berbicara padanya.
"Nesya, aku tahu kamu marah dengan ku dan juga Ratu. Tapi aku mohon jangan seperti ini, kalian berdua adalah saudara. Tidak baik jika saling berdiam seperti ini. Beri kesempatan padanya untuk menjelaskan padamu!"
"Kesempatan? Bahkan saat aku bertanya didepan mata semua orang dia tak menjawab sepatah katapun." ucap Nesya dengan suara meninggi.
"Micky? Apa kamu tau alasan dia memintaku melakukan hal itu? Sebagai pacar seharusnya kamu juga marah, sama seperti aku saat ini! Tapi, apa yang aku lihat? Apa kamu takut dengan pacarmu itu?" tanya Nesya yang melihat Micky berdiri tak jauh darinya dan memperhatikan kemarahan Nesya.
"Nesya, aku . . .."
__ADS_1
"Cukup! Aku lelah ingin istirahat. Aku kecewa dengan sikap kalian." saat Nesya hendak melangkah, ternyata Ratu telah berdiri tak jauh dari mereka bertiga, entah sudah sejak kapan tak ada yang tau dan tak ada yang mau tau. Nesya berjalan Melewatinya.
"Kak Nesya, aku tahu ini semua salah. Aku hanya ingin tahu perasaanmu pada kak Micky. Hanya itu saja." Nesya menghentikan langkah kakinya, ia berdiri didepan Ratu dan menatap matanya.
"Queen, aku tahu kalian berdua saling mencintai? Aku tidak mungkin akan merusak hubungan dan kebahagiaanmu! Jika kamu berfikir aku mencintai Micky, maka kamu salah besar, Queen. Aku tidak pernah mencintainya. Aku tidak pernah mencintai siapapun." 'selain Ravindra'." lanjut Nes ya hanya dalam hati.
"Tapi, malam itu? Kalian berdua membahas tentang perasaanmu pada kak Micky." Nesya teringat akan malam itu saat bersama Destia di kamarnya.
'Jadi, Queen mendengarnya?' ungkap Nesya dalam hati.
"Kamu menguping obrolanku dan membiarkan rasa penasaran menghantui dirimu?" kata Nesya gemas.
"Queen, aku tidak mencintai Micky. Aku hanya mengaguminya. Bukan mencintainya. Karena itu merupakan dua hal yang berbeda." imbuh Nesya.
"Kamu akan memberikan pacarmu padaku?" Nesya menggelengkan kepalanya.
"Tentu, aku akan memberikannya padamu jika benar kamu mencintainya!" jawab Ratu.
"Beruntung kak Nesya tidak sungguh mencintainya, jadi aku tidak perlu melepaskannya. Kak Nesya tau? Setelah mama pergi, aku hanya punya keluarga kak Nesya dan kak Micky. Aku tidak ingin kehilangan kalian. Cukup kedua orangtuaku yang pergi jauh dariku." imbuh Ratu menangis pilu.
__ADS_1
"Ok. Kali ini aku memaafkan kesalahan terbesarmu." Nesya membawa Ratu mendekat pada Micky.
"Micky, aku mungkin memang pernah mengagumimu dulu hingga pada detik ini. Tapi, hati tidak bisa berbohong, aku sangat menyukai orang sepertimu yang baik, pengusaha muda, keren, perhatian dan mungkin masih banyak hal yang belum aku tahu darimu, yang mungkin juga sangat begitu aku kagumi. Tak ada yang tau, jika hatiku akan jatuh pada seorang bodyguard yang baru beberapa jam, hari atau minggu atau mungkin bulan lalu baru aku kenal. Saat kita telah merasa nyaman, saat hati berdegup tak beraturan kala dekat dengannya, saat mata ingin terus saja memandang senyum dan wajah damainya, saat itu pula aku melupakan segalanya. Melupakan jika selama ini aku sangat ingin dicintai oleh orang sepertimu, karena aku sadar hal itu tak cukup kuat untuk hatiku. Maaf aku telah banyak bicara. Intinya, aku hanya ingin kalian selalu bersama dan aku tidak akan membiarkan diriku sendiri menjadi duri atau pun orang ketiga pada satu hubungan. Aku akan membangun kisahku sendiri, dengan pilihan hatiku dan bukan keinginanku. Aku harap kalian berdua akan selalu bahagia." Nesya menyatukan tangan keduanya, lalu meninggalkan keduanya yang tetap diam terpaku pada ucapan Nesya.
"cinta yang sesungguhnya akan tumbuh dari hati, bukan berdasarkan pikiran atau pun kemauan otak kita. Selama ini, aku ingin orang yang seperti ini itu sesuai dengan imajinasiku, tanpa aku sadari dari kenyamanan yang dia berikan membawaku kepada cinta yang sesungguhnya. I love you, bodyguard." ucap Nesya sembari terus melangkah bersama gelang pemberian Ravindra.
.
.
.
...( Babang Ravindra kira-kira lagi dimana dan lagi apa, ya? Beberapa episode tidak muncul. Nesya nya udah klepek-klepek tuh bang )...
.
.
__ADS_1
.
.