
"Aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku minta kamu berhenti mengganggu kehidupanku, menjauhlah dariku!" jawab Nesya lalu memutus sepihak panggilannya, ketiga orang didepannya menatapnya bingung lalu melanjutkan makan lagi setelahnya.
"Siapa kak?" tanya Ratu memberanikan diri bertanya tanpa memandang wajah lawan bicaranya dan asyik menikmati makanan.
"Teman sekolah kakak dulu."
"Siapa?" sahut Micky kepo membuat semua mata memandang kearahnya.
"Aldo." jawab Nesya malas.
"Aldo? Aldo Adijaya? Kawan SMA kita dulu yang sekelas denganku itu?"
"Ya."
"Kamu dekat sama dia, Nes?"
"Kenapa ky? to the poin saja!"
"Nes, dia itu pria pysico! Apa kamu tahu dia hampir membuatku mati, gara-gara aku menang tander yang dia ingin."
"Pysico?" ucap Nesya dan Ratu bersamaan.
"Dia juga pernah berniat buruk pada Nesya!" ucap Ravindra memberi tahu.
"Kamu harus berhati-hati dengannya Nes, dia memiliki banyak orang yang setia bersamanya, meski mereka tahu bosnya seorang pysico sekalipun."
"Apa? Ini tidak bisa dibiarkan! Bahkan kak Micky hampir menjadi korban. Om Rico harus tahu masalah ini. Nyawa kak Nesya dalam bahaya sekarang." ucap Ratu cemas.
"Dia mencintaiku Queen. Dia tidak akan berani melukai orang yang dia cinta bukan?" ucap Nesya PD .
Ravindra hanya geleng-geleng kepala memandang ragu pada gadis yang merupakan bosnya. 'Kepa**t itu bahkan hampir melecehkan kamu, Nesya.' batin Ravindra miris.
"Sudahlah, lebih baik jauhi dan abaikan dia." ucap Micky memberi saran.
"Mantul." sahut Ratu.
"Itu yang juga ingin aku lakukan nanti!" ucap Nesya ragu.
'Dasar gadis bodoh! Harusnya kamu bilang kamu akan menjauhinya bukan ingin, Nesya!' gerutu Ravindra dalam hati kesal.
•••
"Tidak semudah itu menyikirkanku dari kehidupanmu, Nesya! Kamu akan menyesal nanti berani menolakku seperti ini!" teriak Aldo membanting ponselnya dan membuang semua barang yang ada diatas mejanya.
"Apa yang terjadi Bos? Kenapa marah? Dan apa ini berantakan." ucap seseorang.
"Kenapa masuk! Beraninya masuk ruangan bos tanpa permisi? Dimana otakmu? Hah!" teriak Aldo murka.
"Maaf Bos."
"Katakan! Siapa lelaki yang selalu bersamanya!" ucap Aldo melempar beberapa foto Ravindra dan Nesya di wajahnya.
"Bos setelah saya menyelidikinya, ternyata lelaki itu adalah bodyguard nona Nesya, Bos."
"Cih. Jadi, dia hanya seorang bodyguard untuk Nesya-ku? Sama sekali bukan level."
__ADS_1
"Dia bukan bodyguard sembarangan Bos, Jendral Rico sendiri yang sudah mengutusnya."
"Sudah kuduga, pasti si tua bangka itu yang memaksa Nesya membawa lelaki sialan itu kemana-mana. Dia penghalang antara aku dan Nesya. Jika dia tidak melarang putrinya dekat dengan pria, mungkin saat ini aku sudah menjadi menantu dan ayah dari cucu-cucunya." ucap Aldo lirih.
"Terus awasi mereka! Laporkan tiap gerak-geriknya! Cari tahu lebih dalam asal-usul lelaki sialan itu!" teriak Aldo kepada anak buah-nya.
"Nesya kamu hanya akan jadi milikku, sayang!" ucap Aldo mengelus foto Nesya yang ada ditangannya.
•••
Sesampainya dirumah, mereka turun dari mobil, dan Ravindra berniat pulang namun tiba-tiba papa Rico muncul.
"Ravindra, ikut saya!"
"Siap, pak." ucapnya dengan sikap tegap dan lantang, membuat Nesya dan Ratu terbius melihatnya.
"Ada apa lagi?" tanya Ratu pada Nesya.
"Entahlah." jawab Nesya mengangkat kedua bahu, acuh tak mau tahu.
"Loh, gadis-gadis mama baru pada pulang rupanya." ucap mama Renata saat melihat mereka berdua melangkah mendekat padanya.
"Iya tante, maafkan Ratu membawa kak Nesya pulang malam." ucap Ratu, keduanya mulai menyalami tangan mama Renata dan menciumnya.
"Tidak apa nak, lagipula kalian kan pergi bersama Ravindra. Lalu dimana dia? Apa dia sudah pulang?"
"Itu dia tante, kayaknya om Rico marah deh sama kak Ken, soalnya tadi om buru-buru ngajak kak Ken ikut bersamanya."
"Tenanglah Queen! Dia bukan anak kecil yang akan menangis saat papa membentaknya." ucap Nesya asal.
"Itu tidak akan terjadi, papa sangat menyayanginya Queen!
"Sudah-sudah, kalian masuk ke kamar dan istirahat saja!"
"Tapi tante Renata janji harus yakinkan om Rico agar tidak memecat kak Ken." ucap Ratu yang langsung Nesya tarik naik dan masuk kamar.
"Dasar anak jaman now." ucap pelan mama Renata.
•••
Dikamar, Nesya membanting keras tubuh lelahnya diatas kasur, lalu ia teringat pesan Destia yang belum sempat dibalasnya.
"... Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu ..."
Ringtone terdengar dari ponsel Nesya hingga tidak lama setelahnya ia mendengar suara yang sangat dia kenal.
"Hallo sayangku." ucap Destia dari balik telepon.
__ADS_1
"Hallo Des, maaf tadi mengabaikan pesanmu."
"Itu bukan yang pertama kalinya Nesya."
"Iya, tapi tadi aku berniat membalasnya."
"Apa sedang ada masalah?"
"Kenapa selalu bertanya begitu saat sedang berbicara ditelepon?"
"Ya, itu yang biasanya kamu lakukan saat meneleponku, Nes."
"Destia! Kamu sahabatku kan? Lagipula kamu yang meneleponku, Des."
"Tentu, selain sahabat aku adalah asistenmu!" jawab Destia mengingatkan.
"Iya-iya, aku tidak melupakannya."
"Lalu kamu akan berbicara dengan siapa Nesya sayang? Sahabat atau asistenmu?"
"Aku hanya akan berbicara dengan Destia."
"Baik, bicaralah!" jawab Destia.
"Jadi tadi, ............(Skip)............" ucap Nesya, hingga saking asyiknya ngobrol ia sampai terlelap tidur tanpa pamit dan mengakhiri telepon dulu.
"Hallo Nesya? Kenapa terdiam?"
"Hallo! Hallo! Nesya are you ok! Apa kamu masih di sana? Nesya!" teriak Destia khawatir sebelum akhirnya menutup telpon karena menyadari bahwa Nesya mungkin sudah tidur.
•••
"Duduklah!" perintah papa.
"Ada apa papa memanggil Ravindra kemari?"
"Iya nak, untuk beberapa minggu ke depan kamu ditugaskan di luar negeri, jadi papa minta agar kamu memilih beberapa prajuritmu untuk menjaga Nesya dan juga Ratu."
"Baik pa, Ravindra akan memilih yang terbaik untuk Nesya dan juga Ratu. Lalu kapan Ravindra akan berangkat?"
"Baiklah, terimakasih nak. Besok datanglah kekantor untuk info lebih jelasnya!"
"Siap laksanakan. Lalu bagaimana dengan Nesya, pa?"
"Papa yang akan memberitahunya nanti."
"Baik pa, saya mohon undur diri."
'
'
'
'
__ADS_1
'
...Haduh Nesya mau ditinggal babang Ravindra...