
Hay jumpa lagi kita di novel
BODYGUARD I LOVE YOU ( B I L Y )
Pada episode hari ini thor ingin meminta dukungan para readers semua. Gampang dan gratis kok gak butuh uang dan banyak waktu hanya perlu jempol anda semua.
Buka akun R. Vaghella dan klik ikuti untuk Follow author.
Tekan ❤ untuk masuk dalam daftar Favorit dan kalian akan mendapat notifikasi up episode terbaru.
Jangan lupa bergabung di Grup R. Vaghella untuk tanya jawab atau berbagi ilmu, selanjutnya dukung author dengan vote bintang dan vote poin pada karya yang kalian suka, tenang GRATIS kok. Kecuali vote dengan koin ya.
Thor sebenarnya tidak ambil pusing dan gak masalah dengan semua hal diatas, dengan kalian bersedia menyempatkan diri membaca karya ini saja thor sudah amat sangat senang. Hanya saja, dukungan diatas dan masukan positif itu sangat membuat thor semangat dalam mengetik dan up dengan cepat. Sekian dan terimakasih. Maaf kebanyakan PIDATO.
Happy reading readers setia B I L Y .
..._____________♡♡●♡♡______________...
"Ting! Ting!" bunyi notifikasi pesan masuk ponsel Nesya. Gadis itu segera bangkit dari kasur super nyamannya dan meraih ponsel yang terletak diatas nakas. Ia membelalakkan mata syok melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini. Berlebihan? Mungkin.
💌 My Husband
Selamat pagi honey, cepat bangun dan segera bersihkan tubuhmu! Aku tunggu dimeja makan 😍😘.
Nesya tak membalas pesan Ravindra, gadis itu hanya membacanya lalu tersenyum sinis.
💌 Destia
Nesya sayang, jangan lupa jadwal hari ini.
See you baby.
^^^Ya, aku akan segera bersiap Destia.^^^
📲 Private Number Calling
"Hallo, morning babe. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu." ucap seorang dibalik ponsel Nesya.
"Nesya Adriana Faranisa Arora, mengapa sedari semalam anda terus mendiamkanku saja? Apa kau begitu ingin mendengar suaraku?"
'Semalam? Dia menelponku? Apa aku yang mengangkatnya? Tapi, kenapa aku tidak mengingatnya? OMG! Mungkinkah karena aku terlalu banyak minum hingga mabuk berat semalam dan lupa dengan segalanya.' pikir Nesya dalam hati.
"Babe, jawab aku please!"
"Ok. Tak masalah jika memang kamu tidak ingin bicara padaku, setidaknya kamu bersedia mendengarkan apa saja yang aku katakan. Sampai ketemu di lokasi syuting sore nanti babe. Bye!" panggilan berakhir namun ponsel Nesya masih tertempel di telinganya.
'Dia tahu aku ada jadwal syuting hari ini? Dan dia mau menemuiku disana? Matilah kamu Nesya!' batin Nesya mengerutuki dirinya sendiri.
🎶 This is love story
Ini kisah cinta
that I can’t hide away
Yang tak bisa ku pendam
너의 가슴 속에서
neoui gaseum sogeseo
Di dalam hatiku
깊이 잠들고 싶어
gipi jamdeulgo sipeo
Aku ingin tertidur pulas
이건 사랑이야
igeon sarangiya
Ini cinta
이게 행복이야
ige haengbogiya
Ini kebahagiaan
혹시 꿈 속일까봐
hoksi kkum sogilkkabwa
__ADS_1
Kalau ini sebuah mimpi
눈을 뜰 수가 없어
nuneul tteul suga eopseo
Aku tak bisa membuka mataku 🎶
Lamunan Nesya buyar kala ponselnya berdering keras tepat di telinganya. Bahkan, ponsel dengan logo apel yang telah tergigit itu pun hampir saja lolos dari genggamannya. Dia melihat dan mengerutkan dahi kala melihat siapa si penelpon.
📲 My Husband Calling
"Kenapa aku belum sempat mengganti namanya? Ya Tuhan, kenapa para pria sangat begitu membingungkan!" gerutu Nesya sebelum menggeser icon warna hijau pada layar ponselnya.
"Ada apa?" jawab Nesya bertanya judes.
"Honey, apa kamu baru saja bangun? Tapi, kamu sudah membaca pesanku sedari tadi, kenapa tidak membalas pesanku? Apa kepalamu terasa sakit? Cepatlah turun! Aku merindukanmu, sayang."
"Rindu? Sayang? Tut." dan Nesya memutuskan panggilannya sepihak. "Dia ada didalam rumah ini bukan? Kenapa harus repot-repot menelpon? Kenapa tidak datang menemuiku langsung saja? What? Didalam kamarku ini? Kamu tidak waras Nesya! Dia bahkan berulang kali masuk kemari." umpat Nesya kesal segera beranjak dari kasur dan pergi mandi.
•••
Dilain tempat, Ravindra duduk diruang tengah menunggu kedatangan papa Rico yang masih bersiap didalam kamarnya. Ia tersenyum bahagia melihat layar ponselnya.
💌 My Beautiful Wife
Selamat pagi honey, cepat bangun dan segera bersihkan tubuhmu! Aku tunggu dimeja makan 😍😘.
Aku sungguh merindukanmu, sayang. Kenapa mematikan panggilanku sepihak? Aku ingin kita bicara setelah sarapan pagi, diruang kerja papa. Ok? Aku mencintaimu.
Ravindra kembali mengirim pesan pada Nesya. Kemudian menyimpan ponselnya disaku karena telah melihat kedatangan papa Rico.
"Selamat pagi pa?"
"Pagi Ravindra, apa hubunganmu dengan putriku sudah lebih baik sekarang?" tanya papa Rico yang melihat senyum manis terukir dibibir calon mantu kesayangannya. Ia mendudukkan diri dan menunggu jawaban Ravindra. Ia berharap agar hubungan keduanya bisa lebih baik lagi kedepannya. Ya, mengingat Nesya putrinya adalah gadis yang keras kepala.
"Sudah pa, papa tenang! Ravindra sedikit mulai mengerti apa sebab Nesya memilih mengakhiri dan memutuskan hubungan kami."
"Itu bagus Ravindra, papa akan selalu mendukungmu. Lalu bagaimana perkembangan kasus James?" ucap papa Rico memelankan suara saat menyebut nama pria itu.
"Maaf pa, akhir-akhir ini Ravindra jarang pergi ke Markas dan menemui pria yang bersangkutan dengannya itu."
"Nak Ravindra, papa, ayo kita pergi sarapan dulu! Makanan sudah siap. Ayo!" pinta mama Renata tiba-tiba mengalihkan perhatian. Mereka melakukan sarapan bersama dan seperti biasa semua berjalan lancar dan terlihat baik-baik saja.
•••
'Apa mereka berdua akan menyidangku?' pikir Nesya terpaku didepan pintu.
"Masuk dan duduklah putriku!"
"Ada apa ini, pa?" tanya Nesya yang telah duduk di single sofa antara Ravindra dan sang papa.
"Jadi, papa dan Nesya. Aku merasa jika ada seorang mata-mata dirumah ini. Dan aku baru menemukan wanita penghianat itu pagi tadi." tutur Ravindra to the poin.
"Apa maksudmu?" Ravindra memutar rekaman cctv yang sempat dicopy pak Eko tadi pagi.
"Dia pelayan baru bukan?" tanya papa Rico, Ravindra mengangguk pelan. Nesya menatap mata Ravindra seolah meminta penjelasan atas apa yang dia lakukan.
"Sayang, aku tahu apa yang sedang coba kamu sembunyikan dan lakukan saat ini padaku dan semua orang."
"Bisa katakan dengan jelas! Apa maksudmu melakukan semua ini Ravindra? Kamu hanya seorang bodyguard disini bukan polisi apalagi detektif! Kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini semua!" teriak Nesya emosi.
"NESYA! Bicaralah yang sopan dan jangan berteriak! Biar Ravindra bodyguard, pacar, atau tunanganmu sekalipun dia tetap lebih tua darimu dan kamu harusnya bisa sedikit menghormatinya." bentak papa Rico membuat Nesya sadar dan tertunduk takut juga malu.
"Pa, Ravindra tidak mempermasalahkan hal itu. Nesya please, listen to me this time. Aku paham seseorang telah menekanmu, aku hanya tidak ingin kamu terluka dan tersiksa karena masalah ini. Aku mengajakmu dan papa kemari untuk mencari jalan keluar dari masalah ini bersama. Dan aku tidak ingin jika dua hati yang saling mencintai harus berakhir konyol dengan alasan berkorban atau apapun itu. Justru, hal itu hanya akan menyakiti hatimu dan juga hatiku, perasaan kita. Papa, Nesya, kita bisa mencari jalan keluar tanpa harus melukai satu sama lain bukan? Pasti ada cari lain yang lebih baik dari pada harus terpaksa mengakhiri sebuah hubungan, bukan?"
"Jika kalian berdua ingin tentu saja BISA." jawab papa Rico tegas.
"Tidak Ravindra! Jangan lakukan hal apapun lagi! Dia akan membunuhmu! Dia tak akan membiarkanmu hidup dengan tenang apalagi bahagia bersamaku. Aku akan mati jika kamu sampai lenyap dari muka bumi ini. Kamu nafasku, Ravindra. Kamu adalah alasan mengapa aku hidup!" ucap Nesya berlinang air mata.
"Jadi, benar adanya jika pria brengsek itu yang telah mengancammu? Coba katakan semuanya padaku dan juga papa, Nesya!"
Hening
"Kamu ingat kejadian saat kita hendak ke rumahmu sebelum kita gagal menjemput Destia?" tanya Nesya sendu menatap pada papa Rico dan Ravindra yang terkesiap mendengarkan pengakuannya.
Flashback On
Sudut Pandang Nesya
Kami sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Ravindra. Kami saling melempar tawa dan bergurau bahagia di dalam mobil mewah tersebut. Namun, untuk beberapa saat berubah menjadi ketegangan. Kala sepeda motor memepet dan ugal-ugalan mengganggu pergerakan mobil yang kami tumpangi.
"Sayang tutup kaca jendelamu!" perintah Ravindra padaku.
"Tapi, siapa orang itu, Rav? Kenapa mereka mengganggu kita?" tanyaku sembari menutup jendelanya.
"Kamu tenang, kita akan berhenti di depan sana. Tapi, aku mohon agar kamu tetap tinggal di dalam dan mengunci pintu mobilnya.
"Tidak, Rav. Kita terus jalan saja dan jangan sampai berhenti! Aku takut mereka akan menghajarmu. Lihatlah dibelakang! Dia tidak sendiri, jumlah mereka sangat banyak dan tidak imbang jika kamu hanya melawannya seorang diri. Mereka akan mengeroyokmu dan aku tak ingin sampai hal buruk terjadi." jelasku memberi pengertian pada Ravindra.
__ADS_1
"Sayang, jika kita tidak berhenti kita berdua justru bisa celaka. Kamu tenang disini! Jika kamu merasa takut kamu pejamkan saja matamu. Aku akan membereskan mereka." tutur Ravindra yang telah menghentikan mobilnya. Ravindra membuka seatbelt-nya kemudian memberikan kunci mobilnya padaku.
"Tutup pintunya dari dalam! Dan berjanjilah, apapun yang terjadi kamu tidak boleh keluar dari mobil! Ingat itu sayang!" ucap Ravindra yang telah keluar dari mobil dan menutup pintu mobil rapat. Nesya menuruti semua perkataan Ravindra.
"Aku mohon lindungilah Ravindra-ku." gumamku menutup paksa kedua matanya.
Aku memberanikan diri untuk membuka kedua bola mataku dan menatap Ravindra yang sedang berdialog dengan beberapa orang itu. Aku hendak menelpon polisi, namun ponselku terlebih dulu berdering. Ku lihat lagi pemandangan dihadapanku yang sudah tak terkendali. Ya, mereka mulai menyerang Ravindra.
"Siapa ini?" tanyaku karena penelpon menyembunyikan nomornya alias private number.
"Nesya Adriana Faranisa Arora. Benar itu namamu babe? Bagaimana pertunjukannya? Apa kamu takut pengawalmu itu terluka? Tidak babe, dia tidak akan terluka jika kamu menginginkan hal itu." ucapnya di sebrang sana.
"KAMU? Apa yang kamu mau?"
"Tunggu! Jangan terburu-buru bertanya hal itu babe. Nikmati dulu pertunjukannya!"
"Jangan berani menyentuhnya! Hentikan mereka!"
"Hey jangan berteriak, aku tak akan menyentuhnya. Tapi, MEREKA AKAN MENGIRIM BODYGUARDMU ITU KE NERAKA! Haha." ucapnya tertawa puas diakhir kalimat.
"Tutup mulut busukmu itu! Aku yakin Ravindra bisa mengatasi semua orang suruhanmu itu!" Aku melihat Ravindra yang tengah melawan orang-orang itu kembali. Rasa khawatir menyelimuti hatiku.
"Babe jangan anggap sepele diriku ini! Aku benar-benar akan melenyapkannya jika kamu mau itu!"
'Tidak! Pria ini seorang pysico. Aku tak boleh meremehkannya.' batinku bicara.
"Jangan berani lakukan itu! Dia hanya berusaha untuk melindungiku saja!" Aku mulai hanyut oleh ancamannya.
"Mengapa aku tidak berani? Baik, jika kamu ingin dia selamat dari maut, aku akan kabulkan permintaanmu itu, Tapi- . . .."
"Tapi apa?" tanyaku tak sabar.
"Kamu harus menjauh darinya dan bersedia untuk jadi kekasihku."
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi." sangkalku.
"KAMU INGIN MELIHAT JASADNYA DI HADAPANMU DETIK INI JUGA!" tegasnya mengancamku.
"Tidak! Jangan! Jangan lakukan itu aku janji akan menuruti semua apa katamu."
"Good luck babe. Kamu hanya harus menjauh darinya dan kamu harus mau jadi kekasihku." ucapnya mengutarakan keinginannya lagi.
'Crazy.' batinku mengumpat.
"Ya. Aku akan jadi kekasihmu. Tapi, . . .. Aku tidak bisa menjauhkannya dariku begitu saja. Papa sangat mempercayainya dalam hal menjagaku. Biarkan dia tetap menjadi pengawal dan aku akan jadi kekasihmu." tawarku.
"Ok, itu tidak terlalu buruk. Pria tua itu selalu menghalangi hubunganmu dengan pria lain bukan? Ingat! Jangan berani kamu dekat atau bersentuhan dengannya atau pun pria lain. NESYA-KU HANYA MILIKKU SEORANG!" tegasnya.
'Aku tidak salah dengar? Dia memanggil papaku apa? Pria tua?' umpat Nesya dalam hati.
"Tunggu! Aku punya syarat." ucap Nesya sebelum pria pysico itu mengakhiri panggilan.
"Katakan aku akan coba menimbangnya!"
"Jika kamu melanggar kesepakatan dan berani menyentuh apalagi dengan sengaja mencelakai Ravindra, maka aku akan benar-benar membencimu seumur hidupku! Dan jangan berbuat hal gila pada keluargaku!" pintaku lugas dan tegas.
"Hanya itu saja? Baiklah. Tapi, jika kamu berani main api dengannya di belakangku aku akan benar-benar melenyapkannya di hadapanmu!" ancamnya lagi.
"Baik. Aku pegang janjimu itu. Satu lagi, jangan berbuat semaumu terhadapku atau berusaha memaksaku!" ucapku sebelum mengakhiri telpon karena aku melihat orang-orang itu kabur dan meninggalkan Ravindra begitu saja.
'Apa Dia yang memerintah orang-orang suruhannya itu?' batinku bertanya. Aku segera melepas seatbelt dan membuka pintu, keluar dari mobil dan berdiri bag manekin.
"Sayang, kenapa keluar dari mobil? Aku memintamu menunggu didalam mobil tadi." Aku tak menjawab. Ravindra balas memeluk tubuhku, membawa wajahku pada dada bidangnya dan memberi kecupan menangkan diubun-ubunku. Aku terisak menangis semakin keras. "Sayang, don't cry! Kamu lihat aku baik-baik saja bukan?" Ravindra meraih wajahku dan menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya. "Kamu terlihat sangat buruk saat sedang menangis, dan aku sedih melihatnya. Aku bahagia saat melihat kekasihku tersenyum. Tersenyumlah untukku sayang! Buat hatimu dan hatiku bahagia!" Ravindra mengukir senyumnya sendiri. "Ayo kita ke rumahku sekarang!" ajaknya saat melihatku tak berkutik sama sekali.
'Aku akan melakukan apapun untukmu Ravindra. Apapun itu, termasuk menyerahkan raga dan nyawaku pada pria brengsek yang sama sekali tidak aku cinta. Aku rela berkorban untukmu, untuk hidupmu, dan demi cintaku.'
Flashback Off
Ravindra dan papa Rico begitu terhanyut saat mendengar pengakuan Nesya. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat dan saling memandang random antara satu dengan yang lain.
.
.
.
.
.
.
Hay, gimana menurut kalian episode hari ini?
Happy reading para readers setia B I L Y .
Jangan lupa untuk tekan ❤👍💬 dan untuk yang telah mendukung lewat vote terimakasih banyak meski ranking masih sangat jauh.
Thor coba terus semangat up untuk para readers setia B I L Y semua.
__ADS_1