
Nesya dan Ravindra sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Mereka bahagia karena telah mengungkapkan perasaan masing-masing yang ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Apalagi mereka berdua sama-sama tahu bahwa Jendral Rico juga sangat mendukung hubungan mereka berdua.
"Sayang, apa kamu ingin mampir makan diluar?" tanya Ravindra pada calon istrinya.
"Kita makan dirumah saja, lagian papa dan mama pasti juga sudah dirumah sekarang. Kita pergi juga tanpa sepengetahuan mereka."
"Ok." Nesya menyandarkan kepalanya di lengan Ravindra.
"Sayang, kalo kita sudah menikah nanti apa kamu akan tetap menjadi bodyguard untukku?"
DEG
'Bagaimana aku akan mengatakannya padamu, Nesya?' batin Ravindra berucap.
"Tentu. Aku akan menjagamu sampai akhir hidupku." jawabnya kemudian.
"Kenapa begitu?"
"Kenapa? Kamu tidak suka kalau suamimu yang tampan ini terus berada di sisimu?"
"Bukan begitu. Tapi, . . .." Nesya menggantung ucapannya.
"Tapi apa?"
"Apa perlu kamu terus mengawalku? Sampai kapan? Aku ingin seperti mereka yang bebas pergi kemanapun tanpa ada yang mengikutiku. Aku takut jika kita selalu bersama, kamu akan merasa bosan denganku nanti."
"Nesya, setelah semua kondisi aman kehidupanmu juga akan kembali normal. Dengar, meski setiap hari aku berhadapan denganmu 24 jam sekalipun itu akan kurang. Lalu bagaimana aku akan bosan?"
"Benarkah begitu? Lalu kapan semua ini akan berakhir?"
"Sebisa mungkin secepatnya."
•••
Sesampainya dikediaman Jendral Rico, Ravindra membukakan pintu mobil dan mengajak Nesya masuk kedalam rumah. Didepan pintu utama sudah ada sersan Edo dan sersan Dodi. Keduanya tersenyum saat melihat sang Kapten dan majikannya berjalan bergandengan tangan bag anak TK.
"Selamat sore menjelang petang, pak Ravindra." ucap sersan Edo membukakan pintu.
"Kalian berdua sudah kembali? Bagus, setidaknya mataku akan kembali jernih."
"Apa maksudnya?"
"Tentu. Selama kalian semua pergi kamu memberiku pengawal yang membosankan dan mereka juga sudah tua." ujar Nesya pada Ravindra.
"Lalu kenapa kalau mereka tua?" ucap Ravindra berkacak pinggang dihadapan Nesya.
"Jelas apa-apa. Mereka berdua bahkan lebih muda darimu, pak." bisik Nesya ditelinga Ravindra sambil matanya menatap pada sersan Dodi dan sersan Edo.
"Jangan berani macam-macam apalagi bermain api! Ayo masuk! Aku ingin bertemu dengan papa." ujar Ravindra.
__ADS_1
"Aku hanya bermain mata, sayang!" bisik Nesya ditelinga Ravindra. Ravindra segera menghindar setelah mendengarnya.
"Dia papaku." imbuh Nesya berteriak pada Ravindra.
"Iya. Sebentar juga akan jadi papaku." ucap Ravindra melangkah meninggalkan Nesya.
"Nak Ravindra? Nesya! Kalian dari mana?" seru mama Renata.
"Bu Renata, maaf karena saya telah mengajak Nesya keluar tanpa izin." mama Renata hanya memberi senyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Mama, dimana papa?"
"Ada di ruang tengah. Tumben Nesya cari papa? Ada apa?" Nesya hanya tersipu malu.
"Kak Nesya dari mana saja? Aku mencari kakak dari tadi. Kak Ken sudah kembali? Senengnya." ucap Ratu dengan bahagia.
"Ayo masuk dulu kita ngobrol diruang tengah!" ajak mama Renata yang diikuti ketiganya.
•••
"Papa!" teriak Nesya lalu memeluk dan menciumnya dari samping. Merasa mendapat perlakuan istimewa dari putrinya dia hanya bisa menatap tajam pada Ravindra seolah menuntut penjelasan padanya.
"Sayang, ada apa ini?" ucap mama Renata.
"Kak Nesya, kesambet ya?" timpal Ratu.
"Putri papa pasti sedang sangat bahagia. Ada apa? Cerita sama papa!" ucap papa Rico.
"Sedikit?" Nesya hanya mengangguki ucapan mama Renata.
"Pak Rico boleh saya bicara dengan bapak sebentar?" ucap Ravindra membuat semua mata tertuju padanya tak terkecuali Nesya, sang kekasih.
"Ada apa? Apa tidak bisa bicara disini saja?" tanya Nesya dengan raut wajah kecewa.
"Tidak ada apa-apa Nesya? Ini hanya masalah pekerjaan." tutur Ravindra. Jendral Rico segera pergi diikuti langkah Ravindra dibelakangnya.
"Mereka selalu saja membuat privasi, aku sama sekali tidak suka itu!" gerutu Nesya lirih.
•••
Diruang kerja Jendral Rico, Ravindra dan Jendral Rico saling mendudukkan diri diatas sofa dan saling berhadapan. Tak lama kemudian pelayan masuk mengantar dua cangkir teh hijau.
"Ada apa Kapten Ravindra?" tanya Jendral Rico saat pelayan telah keluar dan menutup pintu rapat.
"Pa, Ravindra sudah berhasil menaklukkan putri papa yang keras kepala itu. Dan Nesya juga bersedia menikah dengan Ravindra meski entah kapan itu."
"Itu bagus, nak. Tidak salah bukan papa mengandalkanmu dalam hal ini juga?"
"Tapi, ada hal yang membuat Ravindra tidak tenang, pa. Dan ini selalu mengusik ketenangan Ravindra."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Ravindra takut, jika setelah mengetahui dengan siapa dia menjalin hubungan yang sesungguhnya, karena setahu Nesya hingga detik ini Ravindra hanyalah seorang bodyguard bukan perwira TNI yang selalu ada untuknya saat tugas negara mengharuskan saya untuk pergi meninggalkannya tiba-tiba."
Hening
"Papa yakin jika benar-benar Nesya mencintaimu maka dia akan bisa menerima hal itu dan tidak akan mempermasalahkannya."
"Ravindra takut membuatnya kecewa dan terluka, pa. Ravindra ingin jujur padanya, tapi bagaimana aku akan memulai dan mengatakannya. Papa pernah bilang dia membenci orang seperti kita yang sibuk dengan urusan negara. Sedang aku juga jauh dari kata bisnis man yang selalu dibanggakannya."
"Setelah kamu memenangkan hati putriku apa kamu akan menyerah dengan mudah dan berhenti hanya sampai disini, Kapten Ravindra?"
"Pa, . . .."
"Ravindra, papa percaya padamu sepenuhnya. Papa menyerahkan putri papa padamu karena papa sangat yakin bahwa kamu bisa menjaga dan membahagiakannya. Ya, papa tahu Nesya mungkin akan sangat membencimu jika ia tahu siapa kamu sebenarnya. Papa hanya tidak ingin dia jatuh pada hati lelaki yang salah. Mungkin dia punya kriterianya sendiri selama ini, tapi dia tidak bisa menolakmu jika memang telah sungguh cinta padamu. Ravindra, papa harap kamu bisa mempertahankan Nesya, jangan menyerah! Buatlah putriku merasa bahwa hanya kamu yang pantas untuknya, hingga dia melupakan kebenciannya terhadap latar belakangmu itu!" ucap Jendral Rico yang kini telah berlalu keluar ruangan dan meninggalkan Ravindra yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
•••
"Papa? Dimana Ravindra?" tanya Nesya saat melihat papa Rico kembali hanya seorang diri.
"Mama, ayo kita makan malam sekarang? Papa mendadak jadi lapar!" ucap papa Rico yang segera berlalu bersama mama Renata menuju meja makan.
"Kak Nesya mau kemana?" tanya Ratu yang melihat Nesya telah beranjak dari duduknya.
"Menyusul Ravindra. Kamu pergilah makan! Aku akan menyusulmu segera!" teriak Nesya. Nesya melihat Ravindra yang tengah duduk dengan tubuh yang bersandar pada sandaran sofa dan memejamkan matanya.
"Sayang." ucap Nesya pelan takut jika Ravindra memang sedang tertidur. Ravindra yang mendengar suara Nesya segera membuka mata namun tetap masih pada posisinya, enggan bergerak dan tidak juga memberi jawaban atau senyuman padanya. Nesya mendudukkan dirinya berdampingan dan memutar tubuhnya menghadap pada Ravindra.
"Sayang? Ada apa? Kamu lelah? Ngantuk? Atau papa tadi marah?" tanya Nesya membelai lembut wajah Ravindra. Ravindra merengkuh tubuh Nesya dan memeluk gadisnya begitu erat.
"Nesya! Berjanjilah untuk tidak akan pernah menjauh dan pergi meninggalkanku!" ucap Ravindra tenang namun penuh penekanan. Nesya memandang wajahnya lalu memberikan kecupan singkat di pipi Ravindra.
"Aku tidak bisa berjanji. Tapi, aku bisa mempertimbangkannya nanti, sayang." jawab Nesya yang kini telah memegang kedua pipi Ravindra. Nesya mendekatkan wajahnya, mengikis jarak antara keduanya hingga kini bibir mereka telah menyatu. Nesya begitu agresif pada Ravindra yang pasif.
"Kak Ken, kak- . . .." ucap Ratu menggantung kalimatnya saat melihat perbuatan kakaknya. Ia memutar tubuhnya. Sementara Nesya dan Ravindra segera beranjak dari sofa dan merapikan penampilan mereka.
Sunyi
"Om Rico dan tante Renata memintaku memanggil kalian berdua untuk makan malam!" ucap Ratu dengan nada kesal lalu berjalan terlebih dulu kembali ke meja makan. Nesya dan Ravindra menjadi kikuk setelah kepergok oleh Ratu. Mereka berjalan meninggalkan ruang kerja Jendral Rico dan segera bergegas menyusul Ratu untuk makan malam.
"Nesya, nak Ravindra ayo makan dulu!" perintah mama Renata. Keduanya duduk berhadapan dan saling lempar pandang. Makan malam berjalan dengan lancar. Setelah selesai makan malam Ravindra pamit pulang pada calon mertua. Dan yang paling membuat Ratu bingung adalah saat Nesya dengan senang hati mengantarnya hingga sampai mobil Ravindra benar-benar hilang dari pandangan matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.