Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Bermalam di Rumah Ravindra


__ADS_3

Setelah Nesya mengantar Ravindra ke Rumah Sakit ia mengantarkannya pulang kerumahnya. Sebenarnya Dokter belum mengizinkannya pulang, tapi karena Ravindra memaksa untuk pulang, Dokter akhirnya luluh.


"Apa benar ini rumahmu? Kenapa sangat gelap sekali?"


"Aku hanya tinggal sendiri. Pembantu hanya akan datang satu minggu tiga kali untuk bersih-bersih. Jadi wajar jika lampu belum ada yang menyala."


"Dimana keluargamu?" Nesya tak mendapat jawaban dari Ravindra.


"Dimana saklarnya? Aku tidak bisa melihatmu. Jangan jauh-jauh dariku, aku takut!" Nesya berteriak saat Ravindra tak berada di sisinya.


"Kenapa berisik sekali? Aku hanya menghidupkan lampu. Sekarang pulanglah ini sudah sangat larut dan bukannya besok kamu ada jadwal pemotretan?" ucap Ravindra mendekat setelah rumahnya terang benderang.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian untuk saat ini."


"Mengapa?"


"Aku harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu sekarang."


"Nesya dengarkan aku! Aku baik-baik saja. Kau sudah mengantarku ke Rumah Sakit dan Dokter juga sudah mengobati lukaku bukan? Lalu, apa lagi yang kamu khawatirkan?"


"Apa kita masih berteman?"


"Tentu." jawab tegas Ravindra.


"Maka biarkan temanmu ini merawatmu. Dan bisakah kau pinjamkan ponselmu padaku?"


"Untuk apa?"


"Menelepon. Untuk apalagi?" jawab Nesya dengan kesal. Ravindra yang telah duduk di sofa tamu merogoh ponsel di sakunya lalu memberikannya pada Nesya.


"Mana nomor papa?"


"The big bos." Nesya dengan tenang menekan nomor papanya.


"Hallo. Ravindra ada apa menelpon? Dimana Nesya? Kenapa kamu belum mengantarnya pulang? Lalu kemana Dodi dan Edo? Kenapa mereka menghilang?" ucap pak Rico panjang lebar.


"Papa?"


"Nesya? Kamu dimana? Kenapa belum kembali? Kamu pulang sekarang! Mamamu terus menanyakanmu dan ponselmu? Mengapa tidak bisa dihubungi?"


"Papa menghawatirkan Nesya? Nesya baik-baik saja. Tapi, Nesya tidak bisa pulang sekarang pa."


"Kenapa tidak?"


"Papa, papa percaya sama Ravindra bukan? Papa juga bisa percaya pada Nesya kan? Nesya akan bermalam dirumah Ravindra untuk malam ini." Ravindra yang mendengar kata Nesya terkejut dan menggelengkan kepala lalu memijat keningnya. Nesya hanya menunduk setelah melihat reaksi bodyguardnya.


"Apa maksud kamu? Papa tidak akan izinkan putri papa tinggal serumah dengan lelaki, meski itu seorang Kenzie Ravindra Adinata sekalipun, papa tetap tidak mengizinkannya. Tunggu sopir papa datang untuk menjemputmu!"

__ADS_1


"Papa. Nesya berhutang nyawa padanya, Nesya tidak bisa meninggalkannya sendirian dirumah ini." ucapan Nesya membuat papanya membisu untuk beberapa menit sebelum akhirnya angkat suara.


"Berikan ponselnya pada Ravindra!" Nesya memberikan ponsel pada Ravindra tanpa berani menatap matanya.


"Selamat malam pak Rico, maaf karena saya lancang membawa putri bapak ke rumah saya."


"Dengar baik-baik! Tetaplah jadi orang kepercayaan saya! Jaga Nesya baik-baik malam ini dan jangan berbuat macam-macam!"


"Siap laksanakan. Baik pak." telpon telah berakhir, Ravindra menatap wajah Nesya yang masih menunduk.


"Gadis bodoh, keras kepala!" ucap Ravindra beranjak dari duduknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Nesya segera ikut bangkit.


"Aku akan pergi tidur!"


"Ravindra. Aku lapar, sedari siang aku belum makan apapun."


'Ya Tuhan, gadis ini bilang ingin tinggal untuk merawatku. Tapi, lihatlah yang terjadi sekarang! Gadis ini malah mengeluh kelaparan padaku.' gerutu Ravindra dalam hati.


"Ambillah ponselku dan pesanlah makanan!"


"A-apa kamu tidak punya sesuatu yang bisa dimakan sekarang juga? Aku sudah sangat lapar."


"Lilat sendiri di dapur!" Ravindra berjalan menuju kamarnya, sementara Nesya berjalan ke dapur dengan terus mengoceh tak jelas.


•••


"Ma, kemarilah dan ayo pergi tidur!"


"Papa kenapa mengizinkan Nesya bermalam dirumah lelaki dan mereka hanya berdua saja bagaimana papa ini? Nesya putri kita satu-satunya, pa."


"Mama tenang. Mama percaya putri mama kan? Dan papa sangat percaya pada Ravindra. Jadi mama tidak perlu khawatir."


"Papa! Papa tau jika seorang gadis dan pria dewasa tinggal berdua? Mama takut . . .." ucap mama Renata menggantung.


"Mama jangan berpikir yang aneh-aneh dan ngawur begitu. Ravindra orang yang bisa dipercaya."


"Tapi dia juga manusia biasa dan lelaki normal kan, pa?"


"Ya, iya. Ravindra normal, mama. Calon mantu papa adalah pilihan terbaik. Sudahlah kemari! Ayo tidur, ma!" mama Renata membaringkan tubuhnya di samping suaminya dan mencoba memejamkan matanya, memaksa diri untuk lelap.


•••


Nesya membawa piring ditangannya, berjalan menyusuri rumah yang lumayan besar untuk satu penghuni, ia mencari letak kamar Ravindra.


"Akhirnya. Eh, dimana dia?" Nesya tak mendapat Ravindra diruang kamar itu. Tiba-tiba terdengar kenop pintu yang terbuka dan membuat Nesya menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Kamu disini?" tanya Ravindra bingung. Ia keluar kamar mandi dengan hanya bertelanjang dada membuat Nesya harus menutup mata dengan kedua tangannya dan memutar tubuhnya membelakangi Ravindra.


"Aku membawakan Roti selai dan susu untukmu. Pakai bajumu! Kenapa kamu keluar tanpa memakai baju? Memalukan sekali."


"Ini kamarku. Aku bebas melakukan apapun. Aku lupa jika lenganku terluka dan aku malah mengambil kaos. Kamu keluarlah dan tidurlah dikamar sebelah!" Nesya mendekati lemari Ravindra yang ada didepan mata dan mengambil kemeja lengan pendek lalu berjalan mundur memberikan kemeja itu pada Ravindra tanpa membalik tubuhnya.


"Pakailah ini saja, biar mudah saat memakainya." ucap Nesya tanpa mengubah posisinya dan tetap diam ditempat.


Ravindra memakai kemejanya dan mengancingkan kemejanya hanya dengan satu tangan. Lalu memakai arm sling-nya kembali dan mendudukkan diri di sofa kamar, dimana ada segelas susu dan roti selai diatas meja.


"Nesya? Apa kamu akan berdiri di sana sepanjang malam?"


"Tentu tidak. Aku hanya menunggumu selesai memakai pakaianmu." jawabnya membalikan tubuh dan mendekati Ravindra.


"Aku akan menyuapimu." imbuhnya saat telah duduk berdampingan dengan Ravindra.


"Tidak perlu! Aku bukan anak kecil."


"Tapi tangan kananmu terluka. Bagaimana kamu akan makan jika tidak aku suapi? Buka mulutmu! Aaaak!" Ravindra membuka mulutnya dan menggigit potongan roti dari tangan Nesya.


"Pergilah dan tidur dikamar sebelah!"


"Habiskan dulu makananmu dan minum susunya. Aku belum mengantuk. Kenapa sedari tadi kau memintaku terus saja tidur?"


"Karena besok kamu ada pemotretan."


"Aaaak!" Nesya kembali meminta Ravindra membuka mulut dan Nesya menyodorkan roti yang tinggal kecil.


"Awww! Kenapa harus menggigit jariku? Apa kamu masih lapar?" tanya Nesya meniup jarinya.


"Aku sengaja. Cepat tidurlah aku juga mau tidur."


"Baiklah. Pergilah tidur aku akan membereskan ini terlebih dulu."


"Tidak perlu biarkan saja tetap begitu dan cepatlah pergi tidur!" Nesya mengabaikan perkataan Ravindra dan kembali ke dapur untuk mencucinya.


Setelah selesai di dapur, Nesya kembali ke kamar Ravindra dan melihatnya sudah tertidur pulas. Nesya mendekat dan membetulkan selimutnya lalu menatap wajahnya.


"Kamu terlihat sangat menggemaskan! Aku menyukainya. Aku janji tak akan membuatmu terluka kembali karena aku, Ravindra. Terimakasih karena kamu selalu menjagaku."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2